
Kilauan jingga mulai menghias di cakrawala, hembusan angin menambah pelengkap bagi bunyi deburan ombak. Air laut silih berganti menuju tepi. Pasir putih lembut menjadi pijakan untuk Emily dan Edwin. Rambut panjang itu berkibar indah menambah cantik senja sore ini.
Biasa nya Emily yang akan terpesona dengan Edwin, namun kali ini kenyataan berkata lain. Netra mata milik lelaki itu memandang lekat wajah cantik yang ada di sampingnya itu. Sekilas senyum tipis terpancar dari wajah tampan nya.
"Jangan menatap ku seperti itu..." gumam Emily membuat Edwin sadar akan lamunan nya. "Edwin, kau kenapa?" tanya Emily merasa bingung.
"Aku sedang menikmati indah nya ciptaan Tuhan." jawab Edwin tanpa memalingkan pandangan nya.
"Ya, senja di sore ini sangat indah." sahut Emily, "Meski senja datang hanya sesaat, namun ia akan kembali lagi besok." timpal nya kembali.
"Dan aku mau senja kali ini menjadi saksi atas apa yang ingin aku utarakan...!" seru Edwin membuat Emily terhenyak. Ada desiran mencurigakan dalam benak Emily. Wajah gugup itu tak bisa di bohongi.
"Apa maksud mu?" tanya wanita itu mencoba membuang pandangan nya. Belum sempat Emily membuang pandangan nya, Edwin sudah memegang ke dua pipi wanita itu.
"Jika sedang bersama ku, jangan sesekali mengalihkan pandangan mu." ucap nya dengan suara lembut. Emily dapat merasakan aroma mint dari setiap hembusan nafas lelaki itu. Wajah mereka bahkan hanya berjarak berapa senti saja. "Jika aku menyukai mu bagaimana?" pertanyaan yang belum di jawab Emily kini di pertanyaan kembali oleh lelaki itu.
"A-aku........" Emily semakin gugup, irama jantung nya bahkan sudah tidak beraturan lagi.
Apa ini, ingin sekali Edwin meraup bibir merah jambu yang sedang muncung akibat dekapan kedua pipi Emily. "Lepaskan aku, aku tidak bisa bicara." Emily mencoba melepaskan diri dari Edwin.
Ya, Edwin memang melepaskan wajah Emily namun berpindah ke tangan nya. Tangan kekar itu malah menggenggam erat tangan Emily. Memberi kehangatan yang mampu mebembus hati wanita itu. "Aku menyukai mu sejak pertama kali aku melihat mu." Edwin mengungkapkan perasaan nya yang selama ini bergejolak dalam hati nya.
"Itu kah sebab nya kau bersikap baik pada ku?" tanya Emily penuh selidik.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu jawabannya. Hati ku berkata jika aku harus menolong mu." jawab Edwin membuat Emily semakin bingung. "Apa kau menyukai ku?" tanya lelaki itu memastikan agar cinta nya tidak bertepuk sebelah tangan.
Sejenak Emily terdiam, melepas genggaman tangannya dari Edwin. Wanita itu duduk di atas pasir putih yang berwarna keemasan akibat pantulan warna jingga. "Kau dan aku bagai langit dan bumi. Hati mu mungkin bisa aku sentuh, tapi derajat kita tidak akan pernah bisa aku gapai. Seharusnya kau bisa mencari seseorang yang sebanding dengan keluarga mu." terdengar sekali nada sedih yang menusuk kuping Edwin.
"Cinta tidak pernah memandang kepada siapa ia akan jatuh, aku menyukai mu apa ada nya." tutur Edwin membuat Emily semakin merasa jarak diri nya dan Edwin semakin jauh. Perkataan Carry kembali terngiang di otak Emily. "Emily, senja akan menjadi saksi pernyataan cinta ku pada mu. Sekarang hanya ada kau dan aku tanpa derajat yang ada di belakang kita. Jujur, kau adalah wanita pertama yang ku ajak ke tempat ini." lelaki itu berkata dengan sorot kejujuran. Semakin dalam Emily melihat kedalam netra mata itu,tak sedikit pun ia menemukan kebohongan.
"Aku bahkan tahu siapa kau dan latar belakang ku. Apa yang kau takutkan?" lelaki itu mulai menekan setiap kata-kata nya. Entah apa yang membuat Emily ragu namun jika di lihat dari wajahnya ia menyimpan sebuah ketakutan. "Sekali lagi aku bertanya, apa kau menyukai ku? Apa kau memiliki perasaan yang sama seperti yang ku rasakan?"
Emily menarik nafas dalam, bohong jika ia tidak menyukai pria yang ada di sampingnya sekarang. "Jujur, sejak pertama kali aku bekerja di kantor mu,aku sudah menyukai mu." akhirnya Emily mengutarakan isi hati nya.
"Benarkah?" tanya Edwin bangga. "Kenapa?" tanya nya singkat.
"Karena kau sangat memikat dan setiap kali aku melihat mu,aku sangat terpesona." Emily berkata dengan malu-malu. Bahkan,wanita itu tidak mau mengangkat wajah nya.
"Apakah aku terlihat seperti itu? hmmm....sekarang aku tahu alasannya." ujar Edwin seperti berpikir.
"Alasan apa?" tanya Emily bingung.
"Alasan kenapa setiap kali aku bertemu dengan para wanita mereka selalu mengejar ku...!" jawab Edwin membuat Emily mengerucutkan bibir nya. "Jangan cemburu, aku hanya mencintaimu!" seru pria itu membuat Jantung Emily hampir bergeser dari tempat nya.
Tiba-tiba, Edwin mengeluarkan sebuah kalung bermata permata bahkan kilau nya terpancar dengan keindahan senja. "Jika kau menerima cinta ku, berbaliklah lalu aku akan memasangkan nya. Jika kau menolak ku, ambil dan buang lah kalung ini ke laut sana." permintaan Edwin semakin membuat Emily dilema. wajah tampan Edwin membuat Emily tak kuasa menolak pria itu.
Emily memejamkan mata nya, menata detak jantung yang tak terdengar karena riuh nya bunyi ombak. Pantai ini sangat indah, lebih indah dari pada pantai yang di datangi Emily dan Edwin tadi. Hanya butuh berjalan beberapa menit dari Villa maka pantai itu akan terlihat.
Dengan penuh keyakinan,Emily memutar tubuh nya. Edwin tersenyum dan langsung memasangkan kalung bermata biru laut itu. Setelah terpasang, tiba-tiba Edwin memeluk Emily dari belakang. Sekujur tubuh Emily beku, ini adalah kali pertama ia di peluk oleh lawan jenisnya. Rasa nya hangat, menusuk hati memberi kedamaian. Baik Emily atau Edwin,mereka dapat merasakan dengan jelas bahwa pelukan ini membuat hati damai.
"Biarkan aku memeluk mu sebentar saja." ujar Edwin dengan nada memohon. Lelaki itu membenam kan wajah nya di ceruk leher Emily. Wanita itu sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Di bawah langit jingga tepat di mana matahari hampir terbenam,di saksikan oleh senja dan hamparan laut luas, juga siul burung dan hembusan angin dan tidak lupa hempasan ombak yang memberikan ucapan selamat kepada sepasang kekasih yang masih hangat.
Tak ada yang bersuara, rasa canggung mulai menggerayangi hati mereka.
Hari yang indah yang tak pernah terpikirkan oleh Emily. Cinta nya tidak bertepuk sebelah tangan, membuat wanita itu menahan haru sejak tadi. Apakah ini awal dari sebuah kebahagiaan? entahlah,hanya ada doa penuh harap yang selalu di panjatkan oleh Emily.
Hari mulai gelap, Edwin menggandeng tangan kekasih hati nya untuk pergi meninggalkan pantai. Mereka memutuskan untuk pulang malam ini juga karena besok harus kembali bekerja. Hanya ada keheningan sepanjang perjalanan. Edwin dan Emily bingung ingin bicara apa. Meski mengantuk, Emily berusaha terjaga untuk menemani lelaki itu agar tak kesepian saat mengemudi.