
"Apa kau sudah gila Edw...? sama saja kau mempertaruhkan nyawa Emily pada keluarga Alexander...!" ujar Darren sangat terkejut ketika mendengar Edwin memberi tahu rencananya.
"Coba kau katakan pada ku, rencana apa yang harus aku lakukan untuk mempertemukan Emily dan adik nya?" tanya Edwin dengan mata tajamnya.
Darren tertawa garing, "Hehe...tidak ada!" ucap nya membuat Edwin memutar bola mata jengah. "Kau menyulai Emily?" tebak Darren. "Jika kau menyukai dia, aku sangat bersyukur karena pada akhirnya kau bisa membuka hati mu...!" timpal Darren kembali.
"Berhenti berbua...! pergi kerja sana..." usir Edwin namun Darren terus menggoda pria itu. Hanya dengan lirikan tajam dari mata elang Edwin yang mampu mengusir pria itu.
Edwin menarik nafas dalam, lalaki itu fokus kembali pada pekerjaan nya. Sedangkan Emily, seperti biasa jika wanita itu akan melakukan pekerjaannya namun akhir-akhir ini pekerjaan nya sangat santai.
Namun tiba-tiba sorot mata Emily memandang seorang wanita cantik yang masuk ke dalam ruangan Edwin. Emily tersenyum hambar karena ia pernah melihat wanita yang barusan masuk ke dalam ruangan Edwin.
"Haiii...Edw....!" sapa Nadia dengan suara manja nya.
Edwin mendelik menatap tajam ke arah wanita yang baru saja masuk itu. "Kemana sopan santun mu? kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu?" tegur Edwin dengan suara dingin nya.
"Aku merindukan mu Edw...!" lirih Nadia mencari perhatian.
"Keluar...! aku tidak suka kau mengganggu pekerjaan ku." usir Edwin geram.
"Ayo kita makan siang Edw...!" ajak Nadia tanpa mengindahkan ucapan lelaki itu.
Tiba-tiba Emily masuk dengan membawa seperangkat alat bersih-bersihnya.
"Permisi pak...banyak debu..." ucap Emily kesal.
Edwin hanya menahan senyumnya, lelaki itu paham kenapa Emily masuk tiba-tiba ke dalam ruangan nya. Begitu geramnya Emily hingga ia menyapu hingga ke kolong-kolong meja dan kursi.
"Heii...apa mata mu buta? kenapa kau tidak melihat jika disini ada orang...?" tegur Nadia kesal.
"Owh...maaf nona...saya terlalu fokus...!" balas Emily. Sebegitu jahilnya Emily, ia menyapu hingga mengenai kaki Nadia.
Nadia yang mulai kesal langsung berdiri. "Dasar tidak sopan! kau mengotori kaki ku...!" ucap Nadia geram hingga wanita itu memutuskan untuk keluar dari ruangan Edwin.
Setelah Nadia keluar, Edwin tertawa puas melihat kelakuan Emily. Lelaki itu pada akhirnya mengucapkan terimakasih pada Emily.
"Apa kau mengenal Nadia?" tanya Edwin.
"Tidak, aku pernah melihat nya saat aku bekerja di cafe. Setelah kau pergi,aku melihat dia di jemput oleh laki-laki lain." papar Emily membuat Edwin ingat kejadian malam itu.
"Dia sahabat mantan istri ku...!" ucap Edwin memberi tahu. "Anak pertama dari keluarga Andreson." timpal nya kembali.
"Lalu kenapa kau memberi tahu ku?" tanya Emily namun sebenarnya ia juga ingin tahu lebih dalam kehidupan Edwin. "Hebat sekali kau ini, bisa dekat dengan sahabat mantan istri mu..." ujar Emily.
"Tidak! mereka hanya mengincar nama besar keluarga ku saja." ucap Edwin begitu sombong nya.
"Sombong!! dari mana kau tahu? jangan menuduh tanpa bukti...!"
"Kau ini, di beri tahu tapi malah mengatai ku. Keluar sana...!" usir Edwin kesal.
"Memang aku mau keluar...bleeee...." cibir Emily sambil menjurukan lidah nya.
Menjelang sore, semua orang sibuk mengakhiri pekerjaan mereka termasuk Emily. Wanita itu sudah pulang sejak tadi, dengan menggunakan taxi ia pergi ke restoran Alexander berharap bisa melihat adik nya.
"Di mana Emily?" tanya Edwin pada Carry.
"Baru saja pulang...!" jawab Carry dengan mimik wajah takut.
"Katakan, ke mana dia pergi?" tanya Edwin.
"Anu pak...Emily pergi melihat adik nya..." jawab Carry dengan wajah tertunduk. Edwin kemudian pergi begitu saja, pria itu cukup khawatir sekarang.
Cukup lama Emily menunggu di pinggir jalan masuk ke dalam cafe. Awan mendung mulai memancarkan kilatan nya namun Emily masih betah berlama-lama untuk melihat wajah adik nya. Gerimis mulai membasahi bumi, Emily menangkupkan ke dua tangan untuk sekedar menghangatkan diri. Tak berapa lama, mobil Edwin berhenti tepat di samping wanita itu.
"Masuk....!" perintah Edwin.
Dengan perasaan bimbang, Emily masuk ke dalam mobil Edwin. Lelaki itu kemudian melajukan mobil nya hingga mereka akhirnya tiba di apartemen. Edwin membuatkan teh hangat untuk wanita yang sejak tadi masih belum membuka suara itu.
"Kenapa kau bersikap bodoh! mereka bukan orang sembarangan Em...jika mereka menangkap dan menginterogasi mu bagaimana? kau bisa saja di fitnah sebagai mata-mata ku...!" omel Edwin.
"Aku hanya ingin melihat adik ku..." lirih Emily.
"Bisakah kau bersabar sebentar saja...!" ujar Edwin "Aku pasti akan membantu mu..." timpalnya kembali. "Ganti pakaian mu," perintah Edwin lalu Emily masuk ke dalam kamarnya.
Lelaki itu membuang nafas kasar, tiba-tiba mata nya tertuju pada figura yang tergantung di depan pintu kamar Emily. "Aku seperti pernah melihat orang ini..! tapi di mana?" batin Edwin.
Kreeeekkk....Emily membuka pintu hingga membuat Edwin terkejut. Wanita itu sedikit mundur ketakutan. "Mau apa kau?" tanya Emily gugup.
"Siapa yang ada di foto ini?" tanya Edwin sambil menujuk.
"Dia ayah dan ibu ku..." jawab Emily lalu kembali ke sofa sambil menyeruput teh nya.
"Gambar ayah mu seperti tidak asing bagi ku..." ujar Edwin.
"Ayah ku meninggal sudah lama. Itu foto di ambil saat ayah dan ibu masih muda dulu..." tutur Emily. "Kau tidak pulang?" tanya Emily.
"Kau mengusir ku?" tanya Edwin balik.
"Apa kau tidak lelah? aku baik-baik saja Edw...!" ucap Emily.
Edwin hanya membuang nafas kasar, pria itu akhirnya memutuskan untuk pulang. Sepulangnya Edwin, Emily mulai membaca buku untuk materi nya. Jangka waktu yang di berikan oleh Edwin membuat Emily harus bekerja lebih keras lagi.
Edwin, saat ia tiba di rumah sikap nya langsung berubah dingin dan datar ketika melihat Nadia dan Catrina duduk makan malam bersama papi nya. Theo hanya bisa menderlingkan mata nya karena ia pun sebenarnya sangat muak duduk di antara ke dua wanita itu.
"Apa kalian tidak punya rumah? kenapa harus menumpang makan di rumah ku..?" ujar Edwin dengan ke dua tangan berada di dalam saku celana nya.
"Edwin...apa kabar...?" sapa Catrina tanpa rasa malu nya.
"Keluar....!" bentak Edwin membuat ke dua wanita itu ketakutan. Edwin langsung memanggil para penjaga untuk menyeret ke dua wanita itu keluar, Catrina dan Nadia yang tidak terima terus berteriak histeris.
Edwin tidak berniat untuk makan malam, pria langsung pergi ke kamar nya sedangkan Theo masih melanjutkan makan malam nya agar tak mubazir kata nya. Sudah sering Edwin bersikap seperti itu, hanya ke dua wanita itu saja yang tak punya rasa malu untuk masuk ke dalam rumah Edwin.