
"Bee,...bangun bee....jangan tidur seperti ini. Aju kesepian bee...." Edwin berbisik sambil menggenggam tangan Emily. Pria itu mengacuhkan semua pekerjaan nya termasuk meeting penting bagi perusahaan nya. Wajah dengan beberapa goresan luka itu tidak bisa menutupi kecantikan Emily. Edwin sangat menyesal karena pada malam itu diri nya lebih memperdulikan ocehan Catrina.
Nathan masuk, pria itu dapat mendengar setiap bisik demi bisik yang di ucapkan Edwin di telinga Emily. "Puas kau...!" ujar Edwin dengan suara dingin nya. "Kau orang berpendidikan tapi tidak bisa menimbang sesuatu yang terjadi." timpal Edwin kembali.
"Aku minta maaf, kakak ku begitu banyak menanggung penderitaan. Bagaimana bisa aku menjadi begitu bodoh!" kata Nathan.
"Sudahlah, seharusnya sekarang kau bisa menjaga kakak mu dengan baik. Masih ada orang jahat di luar sana yang sedang mengancam kita."
Nathan bingung dengan perkataan Edwin, mungkinkah masih ada orang jahat yang sedang mengincar Emily. "Apa masih ada orang yang berniat jahat pada kakak ku?" tanya Nathan seperti anak kecil.
Edwin kemudian mengajak Nathan berbicara empat mata di ruang khusus tamu namun masih bisa melihat Emily. Edwin mulai menceritakan apa yang sedang mengancam mereka. Nathan syok, karena Jhon tidak memberitahu nya. Awal nya Nathan hendak marah, namun saat mendengar Edwin bercerita kembali emosi nya menurun.
"Aku hanya takut jika Emily akan menjadi alat bagi Rosalinda. Awalnya, aku akan mengumpankan Emily namun aku sadar. Emily tidak pantas untuk di jadikan seperti itu."
"Aku bahkan tidak pernah tahu sebab apa keluarga kita saling membenci." gumam Nathan merasa heran.
Edwin tertawa renyah, lalu berkata. "Jangankan kau, aku saja tidak tahu apa alasannya. Sebenarnya selama ini kita hanya saling bersikap dingin dan tidak saling menyapa saja. Bagaimana jika kita berteman?" Edwin mengambil langkah terlebih dahulu.
"Bagaimana bisa kita akan berteman? kau sendiri nanti nya akan menjadi kakak ipar ku!" seru Nathan membuat Edwin mengbangkan senyum nya.
Nathan dan Edwin tertawa, sedangkan Fredy dan Darren hanya bisa saling pandang tanpa berkomentar ke dua pria itu masuk secara bersamaan tadi. "Mari kita bermain setelah Emily sembuh. Aku sangat penasaran apa yang akan di lakukan wanita itu...!" ujar Edwin.
Nathan menghela nafas dalam, tanpa dia sadar jika dirinya telah menciptakan masalah. "Berpura-pura lah tidak tahu agar kita bisa mengecoh mereka." Nathan mengatakan hal itu pada Edwin agar lelaki itu tidak gegabah.
"Aku bukan anak kecil yang harus kau nasehati...!" ucap Edwin dengan suara dingin nya.
"Aku hanya mengingatkan. Biasa saja wajah nya...!" seru Nathan jengkel. "Bukankah kau duda? lalu kenapa kakak ku sangat tergila-gila pada mu?" pertanyaan Nathan membuat Edwin kesal.
"Kami saling mencintai, apa salah nya?"
"Yang aku tahu seorang Edwin menikahi Catrina kemudian membuang istri nya begitu saja." perkataan Nathan membungkam mulut Edwin. "Apa kau akan melakukan hal yang sama kepada kakak ku?" tanya pria itu langsung di sanggah oleh Edwin.
"Tidak, aku sangat mencintai Emily. Sejak awal aku sudah mengajak kakak mu untuk menikah namun dia selalu menolak sebelum masalah nya tentang mu selesai." jelas Edwin membuat Nathan merasa bersalah dengan kakaknya. Secara tidak langsung jika Edwin mengatakan jika Nathan adalah penghalang bagi pernikahan mereka.
"Seperti tangan Emily bergerak...!" seru Darren membuat Edwin langsung menghampiri kekasih hati nya. Dokter langsung bergerak cepat saat mendapatkan lirikan dari Edwin. Emily sadar, namun wanita itu belum mengeluarkan suara. Hanya mata nya yang berkedip kebingungan. "Bagaimana kondisi nya?" tanya Edwin tidak sabar.
"Kita tunggu sebentar lagi, efek obatnya masih ada." jawab Dokter.
Nathan maju, menggenggam tangan kakak nya dengan mata yang juga berkaca-kaca. "Iya, aku Nathan. Aku Nathan adik kakak!" seru nya dengar suara bergetar. Emily sudah tidak bisa berkata-kata lagi, wanita itu mulai menumpahkan air mata nya.
Ke dua kakak adik itu akhirnya berpelukan, saling menumpahkan kerinduan dan juga kasih sayang. Edwin yang melihat hal langka itu merasa terharu. Sedangkan Grace dan Jhon yang baru saja datang hanya bisa meneteskan air mata. Baru sekarang mereka melihat wajah bahagia dari Nathan.
"Emily.......!" sapa Grace menghampiri ke brankar. Grace sangat bahagia, wanita paruh baya yang nampak awet muda itu langsung memeluk Emily. "Kau akan menjadi anak perempuan satu-satunya di keluarga Alexander. Kau tidak boleh menolak!" Grace berkata dengan spontan membuat Edwin dan Emily saling tukar pandang.
"Jangan membuat calon istri ku berpikir terlalu keras." tegur Edwin tidak suka.
"Pasien butuh istirahat, sebaiknya di bicarakan lain waktu saja!" Dokter berkata demikian karena Dokter tersebut merasakan hawa lain dari ekspresi Edwin.
"Baiklah, kami akan datang lagi besok. Mommy akan memaksakan mu masakan spesial." Grace berkata dengan penuh kebahagiaan.
"Cepat sembuh Emily..." Jhon memberi semangat.
Baik Nathan maupun Emily, mereka masih bingung dengan sikap Jhon dan Grace. "Apa mereka sudah gila? kenapa menginginkan Emily untuk jadi anak nya juga?" tanya Edwin tidak terima.
"Mommy memang sangat menginginkan anak perempuan. Aku tidak heran jika sikap nya seperti itu." sahut Nathan. Kali ini di dalam ruangan hanya ada Edwin dan Nathan yang menjaga Emily. Edwin dan Nathan saling bertukar cerita di saat Emily istirahat. Seperti tidak ada permusuhan di antar mereka berdua. Jhon juga terlihat biasa saja dengan Edwin namun entah jika Jhon bertemu dengan Theo.
Setahu Edwin, Daddy nya itu tidak pernah bertemu Jhon apa lagi saling bicara. Entah kesalahpahaman apa yang membuat mereka saling bersikap dingin seperti itu. Nathan kemudian memutuskan untuk pergi karena idir nya harus menangani Rosalinda sesuai kesepakatan bersama.
Menjelang sore,Emily bangun dari tidur nya. Efek obat membuat mata nya selalu mengantuk. "Aku haus....!" gumam wanita itu.
Bergegas Edwin menuangkan air minum untuk Emily. "Apa kau lapar?" tanya Edwin.
"Tidak, tubuh ku hanya terasa sangat lelah saja." ucap nya sambil meringis kesakitan. " Maaf telah membuat mu susah dan khawatir." lirih wanita itu.
"Jangan berkata seperti itu, aku hanya ingin kau cepat sembuh dan sehat." Edwin berkata sambil mengusap lembut rambut Emily.
"Kecelakaan ini membawa berkah untuk ku. Aku bisa memeluk adik ku sekaligus mendapatkan orang tua baru." kata Emily dengan mata berbinar.
"Dan kau juga sudah mempersatukan ke dua keluarga yang dulu tidak pernah saling tegur sapa." timpal Edwin.
Edwin kemudian memijat pelan kaki dan tangan Emily yang terasa lelah. Wanita itu sudah menolak namun Edwin yang keras kepala tidak terima penolakan. Emily sangat merasa bersyukur karena mendapatkan banyak cinta sekarang.