
Emily berguling-guling di atas tempat tidurnya. Kejadian tadi sore membuat nya benar-benar melayang di udara. Sambil memegang bibir nya, otak Emily terus terbayang dan merasakan bagaimana ciuman lembut dirinya dan Edwin tadi. "Apa itu tadi ciuman pertama ku?" cuman nya malu-malu sendiri.Jantung Emily pun masih berdegub sangat kencang saat ia mengingat nya.
Begitu juga dengan Edwin, meski ini bukan kali pertama diri nya berciuman, namun entah kenapa rasa nya sangat berbeda. Dulu, ketika ia masih bersama Catrina wanita itu lah yang dulu selalu memulai. Catrina rakus, nafsu wanita itu terlalu tinggi hingga membuat Edwin enggan menyentuh nya. Namun berbeda dengan Emily, Edwin seperti merasakan ada sesuatu yang menarik dirinya lebih jauh saat menyentuh Emily.
"Kau belum tidur?" tanya suara di balik pintu kamar Edwin.
"Hmmm...aku belum tidur!" seru Edwin lalu Theo masuk ke dalam kamar anaknya.
"Sepertinya kau sedang bahagia. Apa yang membuat mu bahagia?" tanya Theo penasaran.
"Tidak ada..." bohong Edwin. "Daddy, apa Daddy mengenal seseorang yang bernama Rosalinda Xiverry?" tanya Edwin ketika mengingat nama itu.
Thoe tersentak kaget ketika mendengar pertanyaan dari anak nya. "Dari mana kau tahu nama itu?" tanya balik Theo lalu Edwin menceritakan apa yang sudah terjadi. "Kau harus berhati-hati Edwin, berkat dia hubungan keluarga Egalia dan Alexander menjadi runyam. Ada cerita dari masa lalu saat orang tua kami masih hidup dulu." Theo mulai membuka titik terang tentang Rosalinda Xiverry namun ia tidak bisa menceritakan semua nya pada Edwin. Theo keluar begitu saja dari Kamar anak nya, menyisakan banyak pertanyaan dalam benak Edwin.
Hari telah berganti, tak terasa sudah satu bulan lebih Emily bekerja di perusahaan Alexander. Pekerjaan nya lancar, Emily sekarang jauh lebih bahagia karena bisa dekat dengan adik nya di tambah lagi hubungan nya dengan Edwin semakin dekat bahkan mereka sudah merencanakan sebuah pernikahan.
Namun, tanpa Emily sadari jika Jhon sudah mengetahui latar belakang yang di tutup rapat oleh Edwin. Mungkin ini adalah kecerobohan Edwin dan Emily sendiri yang selama ini tidak sadar jika Emily di mata-matai oleh anak buah Jhon Alexander.
Perusahaan di buat kalang kabut saat Jhon memasuki loby. Begitu juga dengan Emily, perempuan itu tahu jika Jhon menginjakkan kaki ke perusahaan berarti ada yang tidak beres.
"Tuan Jhon meminta nona Emily menemui nya." ujar Lois memberitahu Emily.
"Baik,..." sahut Emily lalu mengekor di belakang Lois. Lois lebih tua lima tahun dari Emily, sikap nya yang dingin dan jarang bicara membuat Emily sedikit takut.
Di balik kursi yang bisa berputar itu, duduk seorang penguasa, Emily berdiri sambil meremas ke dua tangan nya. Entah kenapa ada perasaan yang berbeda ketika Jhon meminta nya untuk bertemu.
"Jelaskan tentang diri mu...!" Jhon memberi perintah hingga membuat Emily syok. "Kenapa? apa kau tidak ingin jujur pada ku?" Jhon memutar kursinya. "Ada hubungan apa kau dengan salah satu penguasa keluarga Egalia?" tanya Jhon Alexander dengan seringai dan tatapan membunuhnya. Emily langsung berkeringat panas dingin, ia tidak menyangka jika Jhon akan mengetahui hubungan nya dengan Edwin. "Kenapa? apa kau mata-mata di perusahaan ku?" tanya Jhon masih dengan wajah santai nya.
"Tidak, aku bukan mata-mata!" seru Emily langsung membantah tuduhan Jhon.
Jhon mengerutkan keningnya, lalu bertanya."Jadi, siapa kau?"
"Aku hanya ingin lebih dekat dengan adik ku, apa itu salah?" Emily memberanikan diri untuk mengeluarkan pernyataan nya. Apa pun hasil nya, itu sudah menjadi konsekuensi Emily ke depan nya.
"Siapa adik mu? apa hubungannya dengan Egalia?" tanya Jhon penuh selidik.
"Nathan, dia adalah adik ku yang di jual oleh ayah tiri ku kepada anda dan istri anda. Saat itu aku masih berumur dua tahun jadi aku tidak tahu jika aku memiliki seorang adik." jelas Emily membuat Jhon terdiam. "Ku mohon tuan, jangan sakiti aku, aku hanya ingin melihat adik ku hidup bahagia meski aku tidak mendapatkan pengakuan nya. Anda orang baik, nyata nya tuan telah merawat dan membesarkan adik ku juga memberinya limpahan kasih sayang." kali ini Emily memohon dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Ayah tiri ku..." jawab Emily jujur. "Edwin yang membantu ku!" seru Emily membuat Jhon terperangah.
"Jika kau ingin tetap hidup, jauhi Nathan!" pinta Jhon membuat Emily mendongak tidak percaya.
"Ku mohon tuan..." wanita itu langsung berlurit dengan harapan Jhon.
"Jika bukan Edwin yang berada di belakang mu, aku masih bisa memberi mu toleransi." sekali lagi, perkataan Jhon membuat hati Emily patah hingga ke dasar palung hati nya.
"Tuan.....!" tenggorokan Emily cekat, rasa sesak di dada nya membuat ia sudah tidak berkata-kata lagi.
"Selagi aku bermurah hati, silahkan angkat kaki dari kantor dan juga kehidupan anak ku." bagai sambaran petir, hati Emily sudah remuk redam. "Pergilah, jika kau ingin melihat adik mu hidup bahagia maka jangan mengganggu nya."
Emily menghapus air mata nya kasar, kemudian bangkit dari berlutut nya. "Baik, terimakasih sudah merawat Nathan, ayah dan ibu ku akan sangat bahagia melihat adik ku bahagia." ucap nya dengan menguatkan diri sendiri.
Dengan langkah lesu Emily keluar dari ruangan itu, wanita itu pergi ke toilet untuk menyamarkan wajah sembab nya. Mengambil barang-barang nya, memandang inci demi inci ruangan yang selama ini menjadi tempat ia melihat keseharian Nathan. Gelas kosong yang biasa nya ia hidangkan kali ini adalah gelas susu yang terakhir.
Emily tak mau berlarut, wanita itu bergegas pergi sebelum Nathan dan Fredy kembali. Wanita itu memilih pergi ke kantor Edwin, kali ini ia sangat membutuhkan Edwin sebagai sandaran kesedihan nya.
Untung saja, saat di loby Emily melihat Edwin dan Darren berjalan ke arah loby. "Bee,...kau kenapa?" tanya Edwin khawatir ketika melihat wajah sedih kekasih nya.
"Bisa kita bicara berdua." pintanya dengan suara serak habis menangis.
"Batalkan meeting nya." perintah Edwin pada Darren. Edwin langsung mengajak Emily masuk ke dalam mobil nya, pria itu mangajak Emily pergi ke tempat yang bisa menenangkan wanita itu. Tak terasa, tangis pilu yang tak pernah di dengar Edwin kini terdengar jelas di telinga lelaki itu. Hati Edwin perih mendengar nya, ingin rasanya memeluk Emily namun lelaki itu sedang mengemudi.
Sesampainya di pantai yang tak jauh dari markas Edwin, Emily langsung menumpahkan semua kesedihan nya dalam pelukan Edwin. "Bee, ...kau kenapa?" tanya Edwin semakin khawatir. "Apa yang telah terjadi?" sekali lagi, lelaki itu mencoba bertanya.Emily langsung menceritakan apa yang sudah terjadi, hingga membuat Edwin terdiam.
"Mereka memang seharusnya mengetahui nya." ucap Edwin.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Emily bingung.
"Aku akan memikirkan nya." sahut Edwin lalu mencoba menenangkan wanita nya.
Emily bahkan enggan beranjak dari pelukan Edwin, hidup sebatang kara membuat ia butuh sandaran hidup. Menjelang sore, Edwin mengajak Emily pulang. Setelah mengantar Emily pulang, Edwin langsung pergi ke tempat yang sebelum nya ia sudah membuat janji dengan seseorang. "Aku harus meluruskan segala kesalahan pahaman ini." gumam Edwin lalu menghela nafas dalam.