Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
50.Maaf Bee



Ketika pagi hari, pasangan yang masih bergelar pengantin baru itu masih malu-malu untuk menatap wajah pasangan mereka masing-masing. Edwin bahkan dapat melihat dengan jelas leher Emily yang tercap beberapa tanda kepemilikan.


"Jika keluar, jangan lupa kenakan pakaian yang tertutup. Aku tidak rela jika orang lain melihat nya." ujar Edwin mengingat kan.


"Jangan membuat ku malu." kata Emily sambil menutupi lehernya dengan rambut panjangnya.


"Bee,...setelah ini kita akan pulang. Daddy sudah menunggu kedatangan kita." ujar Edwin sambil mengupaskan kulit jeruk untuk istri nya.


Selesai sarapan, Edwin dan Emily langsung memutuskan untuk pulang. Barang-barang mereka sudah lebih dulu pulang kerumah sebelum tuannya. Sepanjang perjalanan menuju rumah, Edwin tidak melepaskan genggaman tangan istri nya.


Setiba nya di rumah, baru saja Edwin dan Emily turun pasangan suami istri itu langsung mendapatkan sambutan yang kurang menyenangkan. Ada Nadia di sana, wanita itu bicara keras kepada Theo yang sejak tadi mengacuhkan wanita itu.


Edwin geram melihat Nadia yang bersikap sangat tidak sopan kepada Daddy nya. Dengan kasar, Edwin mencengkram leher wanita itu hingga tersudut ke dinding. Theo yang melihat hal itu tidak melarang melainkan mengajak Emily untuk masuk ke dalam rumah.


Emily sebenarnya panik, wanita itu ingin menolong Nadia dari cengkaraman suami nya namun tidak enak hati dengan mertua nya.


"Sudah berapa kali ku bilang, jangan mengganggu ku apalagi keluarga ku. Apa kau mengidahkan ancaman ku?" tanya Edwin dengan sorot mata tajam nya.


"A-aku tidak terima jika kau menikah dengan perempuan jalang itu. Edw,...aku sudah menunggu mu sejak lama." kata Nadia dengan suara terputus-putus.


"Hari ini aku melihat dengan mata kepala ku sendiri jika kau berlaku tidak sopan pada orang tua ku. Kau harus membayar nya nanti." ujar Edwin lalu mendorong kasar tubuh Nadia.


Wanita itu jatuh tersungkur lalu di tarik paksa oleh petugas keamanan. Edwin merapikan pakaian nya, pria itu kemudian masuk mencari istri nya yang ternyata sedang mengobrol dengan Theo.


"Ajak istri mu istirahat." perintah Theo kemudian pasangan suami istri itu pergi ke kamar Edwin.


Kamar yang berdomonasi warna abu-abu dengan jejeran barang-barang mahal juga tersusun rapi membuat Emily mencibir diri nya sendiri. Wanita itu langsung tidak percaya diri dengan kemewahan yang di miliki oleh suami nya itu.


"Bee,...jika kau tidak suka warna kamar ini, aku akan mengganti warna nya sesuai selera mu." kata Edwin langsung di tolak oleh Emily. Bagaimana bisa wanita langsung berkuasa sedangkan diri nya belum ada satu hari tinggal di situ. "Lemari itu isi nya semua pakaian mu dan yang itu pakaian ku. Di meja rias sudah ada segala yang kau perlukan Bee, jika ada yang kurang bicara lah." Edwin menjelaskan.


"Terimakasih sayang, tapi ku rasa ini sangat berlebihan." Emily merasa tidak enak hati.


Edwin paham ketika melihat raut wajah Emily yang berubah murung, pria itu kemudian memeluk istri nya erat. "Jangan pikiran hal apa pun yang akan membuat mu sakit kepala." bisik Edwin di telinga istri nya.


"Istirahat lah, malam ini aku punya kejutan untuk mu." ujar Edwin lalu menarik istri nya ke atas tempat tidur. Tidak, hanya rebahan saja sambil menonton kembali acara pernikahan mereka.


Di lain tempat, Andreson sedang kalang kabut karena bingung tiba-tiba saham perusahaan nya limit. Pria itu mencoba meminta tolong pada Rosalinda namun Linda bukan wanita yang mudah untuk menolong orang lain tanpa imbal balik nya.


"Aku ada urusan pekerjaan. Bee,...aku tinggal sebentar tidak apa-apa kan?" tanya Edwin yang sangat enggan untuk meninggalkan belahan jiwa nya.


"Tidak apa-apa sayang, pekerjaan mu pasti sedang membutuhkan mu." kata Emily pengertian.


"Jika kau butuh sesuatu, kau bisa gunakan remot ini untuk memanggil pelayan. Jangan menyusahkan diri mu hanya karena kau merasa tidak enak hati. Aku tidak suka itu." ujar Edwin hanya di tanggapi senyuman menggoda dari istri nya. sekarang, hidup Edwin jauh lebih bersemangat. Jika ingin pergi pria itu haris mencium istri nya sebagai tanda pamit.


Setiba nya kantor, Edwin langsung mendapatkan penjelasan dari Darren yang sudah menyelidiki semua nya. "Sejak kapan mereka bekerjasama seperti ini?" tanya Edwin kecolongan.


"Dua kali,...!" sahut Darren.


"Katakan pada calon kekasih mu itu untuk terus mencari tahu tentang mereka. Aku bingung sendiri apa tujuan Mrs.Rosalinda melakukan ini semua."


"Adik Carry terus memantau mereka. Bocah itu bisa kita andalkan." kata Darren sangat yakin.


Ya, Edwin melempar adik laki-laki Carry untuk bekerja di perusahaan Andreson. Bahkan adik Carry itu menjabat dengan jabatan yang cukup penting di perusahaan Andreson. Bukan Edwin nama nya jika pria itu tidak bisa memalsukan semua identitas adik Carry.


Setelah urusan kantor beres, Edwin dan Darren pegi ke restoran milik Nathan untuk membicarakan kerjasama mereka. "Di mana kakak ku, kenapa dia tidak ikut?" tanya Nathan celingukan.


"Ada di rumah. Jika kau mau pergi saja ke rumah ku atau tinggal di sana sekalian. Aku tidak melarang mu." kata Edwin bicara santai.


"Baik sekali kakak ipar ku ini. Ngomong-ngomong, aku belum terbiasa memanggil mu kakak ipar mengingat dulu keluarga kita saling bermusuhan." ujar Nathan sambil menyeruput es susu nya.


"Di mana Carry?" tanya Freddy pada Darren.


"Kenapa kau mencari nya? kenapa kau tidak mencari ku saja?" Darren bertanya dengan wajah dingin. Edwin dan Nathan langsung diam mendengarkan Asisten mereka.


"Nathan,...kenapa Daddy mu tidak ingin menyingkirkan Mrs.Rosalinda?" tanya Edwin geram.


"Aku tidak tahu, itu masalah mereka. Tapi, saat kau memberi kabar itu aku semakin ingin bermain-main dengan wanita yang kau sebut di telpon tadi." sahut Nathan tertarik.


"Jangan membuat kakak mu kepikiran." pesan Edwin. "Dua hari lagi, aku akan mengajak kakak mu pergi berlibur. Jika kau ingin ikut tidak masalah bagi ku." ajak Edwin, sebagai kakak ipar yang hati sudah pasti pria itu sedikit berbasa basi pada adik ipar nya.


"Tidak, aku tidak ingin mengganggu waktu kalian. Cukup cetakan saja aku keponakan yang lucu nanti." ujar Nathan membuat mereka semua tertawa. Jika Edwin dan Nathan saling mengobrol santai, maka tidak dengan Darren dan Fredy yang saling menatap tajam.


Edwin pulang ke rumah, sudah mendapati istri nya yang tertidur. Jam masih menunjukkan pukul dua siang, pria itu memutuskan untuk naik ke atas tempat tidur dengan pelan agar tak membangunkan istri nya. "Maaf bee,...hari pertama mu di rumah ini ssngat tidak mengenakan." batin Edwin lalu merangkul pinggang Emily, kemudian ikut terlelap menyusul istri nya.