Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
42.Pergi ke Makam



Akhir pekan yang sangat membahagiakan sekaligus meyedihkan. Kakak beradik itu sedang melakukan perjalanan pulang ke kota tempat di mana mereka di lahiran. Sebuah kota pinggiran yang nama nya tidak terlalu di kenal. Nathan mengemudi sesuai dengan petunjuk yang di berikan oleh kakak nya. Mereka hanya berdua, tidak ada Bodyguard bahkan Edwin yang hendak ikut sekali pun harus beradu mulut terlebih dahulu dengan Nathan.


Area pemakaman itu tidak jauh dari jalan besar, mereka tidak perlu bersusah payah mencari jalan. Nathan dan Emily masing-masing membawa satu buket bunga untuk orang tua mereka. Menyusuri jalan setapak dengan jejeran pohon pinus rapi, Nathan masih mengikuti langkah kakak nya.


"Kakak tidak lupa makam mereka?" Nathan bertanya karena pria itu khawatir kakak nya akan lupa.


"Tidak, laki-laki itu akan selalu mengajak kakak ke makam ibu setiap satu bulan sekali tapi tidak dengan makam ayah." jawab Emily membuat Nathan mengernyitkan ke dua alis nya bingung.


"Kenapa begitu?" tanya nya merasa heran.


"Dia sangat mencintai ibu, dia akan datang setiap satu bulan sekali meski dia berada di kota yang jauh. Dia sangat membenci ayah, yang kata nya sudah merebut ibu dari dia." Emily menceritakan sedikit masalalu itu.


"Itu lah resiko, mencintai seseorang terlalu dalam harus bersiap-siap dengan patah hati juga." gumam Nathan dengan bijak nya.


Tak terasa mereka tiba di makam ibu mereka, Emily memejamkan mata seraya menarik nafas dalam ketika membaca ukiran nama ibu nya. "Ibu,...aku datang. Aku datang membawa anak yang kau sangka mati hingga kau juga ikut menyusul nya." kata Emily dengan suara bergetar. Nathan tersentak kaget dengan pernyataan kakak nya, ternyata ibu mereka meninggal ada kaitan nya dengan kepergian Nathan.


"Maafkan aku ibu,...." kali ini Nathan berucap dengan berlutut di makam ibu nya. "Ibu aku kembali,...berbahagia lah kau ibu. Aku sudah menghukum orang yang sudah memisahkan dan menghancurkan keluarga kita." timpal pria itu kembali.


Emily hanya menepuk pundak adik nya untuk memberi kekuatan. Tidak mungkin dia sebagai seorang kakak harus ikut menangis bersama adik nya. Tidak, itu akan memperburuk suasana ujar Emily.


Hembusan angin di musim gugur ini menambah syahdu suasana nya. Kakak beradik itu duduk saling berhadapan sambil menceritakan kehidupan mereka di depan makam ibu nya. Setelah kerinduan itu pudar, Emily kembali mengajak adik nya pergi ke makam sang ayah yang berada di jalur yang berbeda. Kembali menatap miris ke kehidupan mereka yang di besarkan tanpa kasih sayang orang tua. Tak ada di salah satu mereka yang pernah melihat wajah sang ayah atau pun ibu mereka.


"Ayah,...aku datang. Aku datang membawa anak yang tidak pernah kau lihat. Kata anak itu, dia sudah menghukum orang yang telah menghancurkan keluarga kita. Apa kau senang sekarang ayah....!" Emily bergumam seolah dia sedang berbicara dengan ayah nya.


Sampai detik ini, Nathan sudah tak sanggup untuk mengeluarkan suara nya. Hanya ada keheningan di area pemakaman yang luas itu, siul burung gereja yang bertebarngan sana ke mari memecahkan keheningan. Daun-dauh berjatuhan kala di sentuh oleh angin. Bunga yang di bawa mereka bertengger indah di atas pemakaman ayah mereka.


Menjelang sore Emily dan Nathan kembali ke kota mereka. Perjalanan pulang terasa lebih singkat dari pada perjalanan awal. Hal itu masih menjadi teka teki kenapa perjalanan pulang serasa lebih cepat padahal rute yang di lewati sama saja.


Nathan mengantar kakak nya langsung ke apartemen yang ternyata Edwin sudah menunggu di sana. Nathan tidak banyak bicara, bahkan pria itu tidak berniat menyapa calon kakak ipar nya.


"Apa adik mu kerasukan hantu di makam tadi?" tanya Edwin bergurau karena melihat sikap Nathan.


"Hiiss....kau ini. Jangan seperti itu, dia sedang bersedih!" seru Emily sambil mencubit lengan lelaki itu.


"Bee,...besok kita akan bertemu dengan perancang busana untuk pernikahan kita." Edwin memberitahu membuat Emily terkejut.


"Bee,...kau kenapa? apa kau ragu dengan pernikahan kita?" tanya Edwin merasa tidak enak hati.


Emily cepat-cepat tersenyum agar Edwin tidak salah sangka. "Tidak sayang,...aku masih tidak percaya jika aku akan menjadi istri mu."


Edwin bernafas lega, "Ku pikir kau masih mempersoalkan status duda ku ini. Ku pikir kau yang single ini malu dengan keadaan ku ini."


Emily tertawa renyah, "Kata orang duda lebih menggoda, bahkan kau sendiri masih perjaka. Apa aku harus mempersoalkan masalah itu? tidak, yang penting kau sayang dan bisa menerima ku apa adanya aku sudah sangat bersyukur." ujar Emily panjang lebar.


"Terimakasih bee...." ucap Edwin dengan tulus.


"Terimakasih juga sayang. Love you Mr.Duda....!" seru Emily membuat Edwin semakin luluh pada wanita itu.


Edwin merangkul pundak Emily lalu mencubit manis hidung mancung wanita itu. "Jika kau berani selingkuh di belakang ku, awas saja!"


"Hanya wanita bodoh yang menduakan mu." sahut Emily lalu mereka tertawa bersama.


Tanpa sepengetahuan Emily, Edwin sudah menyebar undangan pernikahan mereka. Catrina merobek-robek undangan yang sengaja di kirim oleh mantan suami nya itu. Begitu juga dengan Nadia yang sangat tidak terima ketika seseorang mengantar undangan atas nama Edwin dan Emily.


"Apa yang kau lakukan selama ini? kenapa tiba-tiba Edwin mengirimkan undangan pernikahan nya? siapa perempuan itu?" Andreson bertanya dengan suara tinggi nya.


"Dia, dia adalah mantan karyawan Edwin. Wanita berkasta renda bahkan pekerjaan nya hanya seorang tukang sapu di perusahaan Edwin." Nadia memberitahu papi nya.


"Papi harus segera menyingkirkan perempuan itu sebelum hari pernikahan Edwin. Kau tahu sendiri perusahaan kita sedang di ambang kebangkrutan." Andreson mulai gelisah. Karena selama ini diri nya selalu mengajukan kerjasama dengan perusahaan Edwin namun selalu di tolak.


"Aku tidak peduli dengan perusahan papi, yang aku pedulikan hanya Edwin. Edwin hanya akan menjadi milik ku setelah Catrina..." ucap nya dengan penuh ambisi.


"Kenapa kau tidak meminta bantuan kepada Catrina? papi rasa dia bisa di bodohi...! bahkan sahabat mu itu juga tidak becus menarik perhatian keluarga Alexander." Andreson mencemooh Catrina.


"Dia selalu minta imbalan yang sangat banyak. Aku benci Catrina karena dia mata duitan!" seru Nadia menghina sahabat nya sendiri.


Wajah Nadia memerah, kecintaan nya pada Edwin membuat wanita itu ingin menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pria itu. Di tambah lagi Andreson terus mengompori anak nya perihal pernikahan Edwin.