
"Maaf pak, bapak mau kemana?" tanya Friska pada Nathan ketika pria itu baru saja keluar dari ruang kerja nya.
"Aku akan menjenguk kakak ku, ada apa?" tanya Nathan dengan suara dingin nya.
"Apa saya boleh ikut pak?" tanya Friska hati-hati.
"Kau tidak ada hubungan nya dengan kakak ku, kenapa kau ingin ikut?" tanya Nathan balik membuat Nadia alias Friska menjadi gugup.
"S-saya,...saya hanya ingin ikut menjenguk." jawab Nadia dengan wajah gugup nya.
"Urus saja pekerjaan kantor, jangan ikut campur perihal keluarga ku!" seru Nathan menatap tidak suka pada Nadia.
Nathan kemudian pergi begitu saja, membuat Nadia langsung mengepalkan tinju nya marah. "Awas saja, aku akan membayar penghinaan kalian ini...!" ucap Nadia kesal.
Meski pun Nadia bekerja sebagai Sekretaris Nathan, namun wanita ini tidak bisa seenak nya mengakses perusahaan ini. Bahkan, Nadia belum pernah masuk ke dalam ruangan Nathan.
Melihat ruangan kosong, Nadia terpancing untuk mencari data perusahaan atas perintah Rosalinda. Namun wanita itu langsung mengeluarkan sumpah serapah nya karena ruangan Nathan di kunci otomatis. Sebenarnya, Nathan tidak menjenguk Emily melainkan pulang karena Grace akan mengajak nya makan siang. Semua itu hanya pancingan Nathan saja untuk melihat ekspresi wanita itu.
"Brengsek! dasar pelit...!" umpat Nadia.
Di rumah Edwin, pria itu sedang bermain catur dengan Daddy nya. Sedangkan Emily hanya menjadi juri saja. Ayah dan anak ini memiliki sifat yang berbeda, Theo lebih senang bercanda namun Edwin yang dingin sama sekali tidak menggubris candaan Theo.
"Aku harap jika cucu ku lahir nanti, semoga sifat nya tidak menurun dari sifat ayah nya." singgung Theo sambil memainkan catur nya.
"Kau pikir Daddy ini tidak subur? salahkah almarhum mommy mu yang tidak mau memberi mu adik!" sahut Theo namun Edwin masih bersikap biasa saja.
"Dasar lelaki egois. Mau menang sendiri." ejek Edwin.
"Wuaaah, suami ku ini sedang mengatai diri nya sekarang." sahut Emily langsung membuat Edwin sadar dengan kata-katanya. Theo yang mendengar hal itu langsung tertawa.
"Kau seharusnya membela ku bee!" kata Edwin sambil mengusap perut istri nya.
"Jika aku membela mu, aku akan dapat apa wahai suami ku?" tanya Emily yang tidak berhenti ngemil sejak tadi.
"Akan ku berikan segala nya termasuk cinta ku ini." kata Edwin merayu.
"Jangan mudah terbujuk mulut lelaki Emily, hidup tidak akan kenyang hanya karena makan cinta." sambung Theo. "Mintalah seluruh harta suami mu ini, jadi dia tidak akan berani main belakang jika seluruh harta nya atas nama mu." bukan nya memuji atau membanggakan anak nya, Theo justru menyarankan hal yang masuk di akal.
"Jika seluruh harta atas nama ku, jika aku yang bermain belakang bagaimana?" tanya Emily membuat sorot tajam mata suami nya langsung mengintimidasi wanita itu.
"Coba saja kalau kau berani bee!" kata Edwin dengan suara dingin nya. "Jangan dengarkan apa kata Daddy, dia tipe lelaki yang setia nya kelewatan."
"Dan aku suka cara Daddy." kata Emily memuji mertua nya.
Edwin menaikan bibir atas nya kesal, sejak Emily masuk ke rumah ini, Edwin adalah target bagi Emily dan Theo untuk saling sindir. Namun, pria yang cuek itu tidak mau ambil pusing dengan tingkah istri dan Daddynya. Rumah ini seakan hidup setelah Edwin menikah, Theo seakan memiliki dua anak yang terkadang seperti anak kecil. Hal sekecil apa pun Edwin dan Emily akan bertengkar untuk memperebutkan nya.