
Hari ini, sudah lama rasa nya Emily tidak bertemu dengan Carry. Mereka berjanjian unyul makan siang bersama di cafe langganan mereka. Carry yang sudah bekerja di bagian keuangan karena Edwin juga memberi kesempatan kepada wanita itu untuk mengejar kuliah nya yang sempat terhenti.
Apa pun, dengan kekuasan yang di miliki oleh Edwin, segala nya menjadi mungkin. Sungguh, Emily semakin menaruh perasaan yang dalam pada pria itu ketika mendengar cerita sahabatnya. Sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja Emily melihat seseorang yang sangat ia kenali berjalan menghampiri meja nya.
"Perempuan laknat!" umpat Catrina membuat Carry tidak terima atas penghinaan itu.
Emily menanggapi dengan santai lalu berkata, "Kau atau aku?" tanya nya dengan nada meledek "Kau bahkan mengemis kepada para lelaki kaya untuk menaikan derajat mu. Kau atau aku yang laknat?" Emily mengembalikan penghinaan Catrina membuat Carry tertawa mendukung.
"Sialan kau!" umpat Catrina, "Kau berani mengatai ku seperti itu. Lihat saja, aku akan mengadukan penghinaan mu kepada Nathan agar kau di tendang jadi Sekretaris nya." Catrina mengancam Emily namun hanya di tanggapi dengan gelak tawa dari wanita itu.
"Coba saja,...!" tantang Emily, "kau bisa lihat kejadian tadi pagi. Nathan lebih membela aku di banding diri mu. Kau pikir kau siapa?" kali ini ke dua mata Emily memancarkan tatapan tajam mengintimidasi. Niat hati ingin mempermalukan Emily malah diri nya sendiri yang malu. Catrina memutuskan untuk pergi, wanita itu mengeluarkan sumpah serapah juga hinaannya pada Emily.
"Bukankah dia mantan istri Edwin?" tanya Carry memastikan.
"Ya, dia mantan istri Edwin.Tapi lihat lah, tidak ada sopan santun nya." Emily kesal sekali. Batu saja diri nya ingin menyuap makanan, terdengar lagi suara mencibir yang sangat di kenal jelas oleh Emily.
Emily mendengus kesal, lalu bertanya. "Kau ini kenapa? apa aku membuat masalah dengan mu?" tanya nya dengan nada datar.
"Ya,...seharusnya kau menjauh dari Edwin. Edwin hanya milik ku!" seru Nadia dengan sombong nya.
Emily memutar bola mata nya jengah, "Ambil saja jika dia mau dengan mu." ucap Emily kesal.
"Seperti laki-laki di dunia ini sudah habis." ucap Carry juga kesal.
"Heiii kau....dasar tukang sapu tidak tahu diri." ejek Nadia membuat Carry naik pitam Wanita itu langsung menyiram wajah Nadia dengan jus stroberi milik nya.
"Aaa....aaa....apa yang kau lakukan?" Teriak Nadia tidak terima. Wajah wanita itu basah, semua orang yang melihat hanya mentertawakan Nadia. "Aku akan mengadukan mu pada Edwin. Kau akan di pecat!" ucap Nadia sebelum pergi.
"Apa kau sedang takur sekarang Carry?" tanya Emily pada sahabat nya.
"Tidak, Edwin tidak akan memecat ku. Kau pacar nya, mana mungkin Edwin memecat sahabat pacarnya." Carry berkata dengan bangga namun membuat Emily terkejut bahkan tidak enak hati.
"Kau, tahu dari mana jika aku dan Edwin berpacaran?" tanya Emily tidak enak hati.
"Edwin sendiri yang bilang pada ku. Awal nya aku menentang, tapi kekasih mu itu mencoba meyakinkan diri ku." jawab Carry membuat Emily semakin tidak enak hati.
"Carr,...maafkan aku. Aku tidak bermaksud menutupi semua nya." wajah Emily berubah sedih.
Carry tersenyum lalu berkata, "Tidak apa-apa, aku mengerti."
Makan siang di lanjutkan, meski sempat terganggu namun Emily dan Carry tidak mau ambil pusing. Benar saja, ketika Emily memasuki ruangan, diri nya melihat Catrina yang sedang mengadu pada Nathan dengan emosi yang menggebu-gebu.
Nathan yang sejak tadi diam langsung menoleh ke arah Emily. Entah kenapa dalam benak Nathan selalu berkata untuk membela Emily.
"Apa sudah selesai?" tanya Nathan datar.
"Siapa kau berani memberi ku perintah?" tanya Nathan dengan raut wajah marah.
Catrina mulai gugup, "A-aku,...aku adalah calon istri mu." ucap nya terbata-bata membuat Nathan, Emily dan Fredy langsung tertawa lucu.
"Apa kau bilang? calon istri? istri dari mana? dari langit?" kali ini Nathan benar-benar tidak bisa menahan tawa nya.
"Kau seharusnya bercermin Catrina!" tambah Fredy semakin membuat Catrina emosi.
"Diam kau...!" bentaknya pada Fredy. "Jika aku sudah menikah dengan Nathan nanti, aku akan memecat kau dan perempuan itu." kehaluan Catrina semakin membuat perut ketiga orang geli menahan tawa.
"Sebaiknya kau keluar, sudahi lelucon ini, aku sudah tidak bisa tertawa lagi." usir Nathan dengan mengibaskan tangan nya.
"Nathan, kau menghina ku!" kali ini nada bicara Catrina sudah terdengar berat.
"Kenapa jika aku menghina mu? apa kau marah atau tidak terima? seharusnya kau bisa berkaca, kau sendiri yang mempermalukan diri mu di sini." sahut Nathan dengan raut wajah dingin nya.
Catrina mengepalkan ke dua tangan nya, penghinaan yang di berikan Nathan sudah menjatuhkan harga diri nya. Catrina kemudian pergi, menghentak ke dua kaki lalu membanting pintu dengan kasar.
"Pantas saja di di buang oleh Edwin Egalia, ternyata sifat kekanakan nya melebihi sifat bayi." ucap Nathan membuat Emily termenung.
"Jadi, Nathan juga mengetahui hal itu. Ah...syukurlah, dia tidak mungkin salah langkah." batin Emily membuang nafas pelan.
Wanita itu kembali melanjutkan pekerjaan nya, begitu juga dengan Nathan dan Fredy.
Di sebuah gedung menjulang tinggi, seorang wanita sedang mengekor di belakang Edwin sambil mengadu juga menunjukan gaun yang kotor akibat siraman jus tadi. Ketika melihat Carry, Nadia langsung menghentikan langkah Edwin.
"Dia, ...Edw...pecat perempuan tidak tahu diri ini." pinta Nadia dengan suara nyaring agar semua orang membela nya. "Dia sudah menyiram wajah ku dengan minuman nya. Aku tidak terima!" seru nya kembali hingga membuat semua karyawan bisa mendengar ucapan wanita itu.
Edwin menoleh ke arah Carry begitu juga dengan Darren. "Betul begitu Carry?" tanya Edwin menanggapi membuat senyum terpancar dari wajah Nadia.
"Iya, saya sudah menyiram wajah nona Nadia dengan minuman saya. Tapi, hal itu tidak sebanding dengan perkataan hina yang di keluarkan dari mulut nona Nadia." Nadia tidak menyangka jika Carry berani membuka suara.
Wajah nya menjadi panik, "T-tidak, dia bohong Edw. Dia dan teman kampung nya itu sudah membully ku." adu nya dengan suara terdengar sedih.
Edwin mengerutkan kening nya lalu bertanya dengan Carry, "Siapa teman mu?"
"Emily..." jawab Carry begitu santai nya lalu Edwin menoleh ke arah Nadia. "Bisa kah kau angkat kaki dari kantor ku. Pertunjukan yang kau buat ini sudah sangat menghibur semua karyawan ku." ucap Edwin membuat Nadia melongo tidak percaya.
"Ed,...kau membela nya?" tanya Nadia tidak percaya.
"Dia karyawan ku, sudah sewajarnya aku membela dia." sahut Edwin membuat Nadia semakin syok. Darren yang sudah tidak tahan dengan tawa nya, langsung berbalik ke belakang tertawa. Nadia tidak terima, wanita itu cukup malu sekarang. Tanpa berkata sepatah kata pun, Nadia memutuskan untuk pergi. Carry kembali ke ruangannya, begitu juga dengan Edwin dan Darren. Darren yang sejak tadi menahan tawa langsung menumpahkan tawa keras nya di dalam lift.