
"Ehem...ehem...." suara seorang wanita tiba-tiba menghancurkan kemesraan Edwin dan Emily. "Wow....kau sangat tidak adil pada ku Edw,...kau mengajak perempuan itu makan malam tapi kau selalu menolak ajakan ku..." jelas terdengar jika suara Nadia saat ini sedang garam melihat ke arah Emily.
"Apa hak mu mengatur ku? kau bukan siapa-siapa!" ujar Edwin dengan nada dingin nya. Bahkan lelaki itu masih fokus pada makan malamnya tanpa menghiraukan kehadiran Nadia.
"Jika aku bukan siapa-siapa, lalu siapa dia bagi mu? bukankah dia karyawan rendahan mu di kantor?" Nadia mecibir pekerjaan Emily. Emily tak mau ambil pusing dengan perkataan Nadia, wanita itu juga sibuk dengan makanan.
"Sekali lagi kau menghina pekerjaan calon istri ku, akan ku robek mulut mu...!" ancam Edwin membuat Nadia menelan ludah nya kasar. Semua orang sudah memandang kearah nya, Nadia yang merasa malu akhirnya memilih pergi.
"Kejam sekali kau,...!" seru Emily bergeleng kepala.
Edwin mengernyitkan keningnya lalu berkata, "Kejam kenapa?" tanya pria itu bingung.
"Ingin merobek mulut Nadia, dia kan sahabat mantan istri mu." ujar Emily mengingatkan namun wanita itu langsung mendapatkan tatapan tidak suka dari Edwin.
"Jangan menyebut namanya lagi, aku tidak suka. Sekarang, ada hati yang harus aku jaga." ucap lembut lelaki itu. Netra mata nya menunjukan sebuah kejujuran di sana.
Emily mulai gugup, wanita kembali menunduk dan menyantap makan malam nya. Masih terlalu dini jika untuk pulang sekarang, Edwin mengajak Emily pergi ke kantor nya hingga membuat wanita itu kebingungan. "Mau apa kita di sini?" tanya Emily ketika Edwin memencet tombol lift menuju gedung yang paling akhir. "Edwin,...jika kau mengajak ku untuk bunuh diri, aku menolak dengan keras!" wanita itu mulai ketakutan terlebih lagi Edwin hanya diam tak menanggapi pertanyaan Emily. "Aku baru saja makan enak, dan baru saja merasakan kenyang beberapa saat. Selamat tinggal kehidupan." gumam nya degan wajah sedih membuat Edwin sejak tadi menahan tawanya.
Sesampainya di atas, wajah takut dan sedih Emily berubah menjadi wajah bahagia. Wanita itu sekarang sedang menyaksikan pemandangan kota yang indah dari atas atap gedung ini.
"Aku belum merasakan nikmat nya dunia, lalu untuk apa aku mati?" lelaki itu mengeluarkan suara.
Emily mengerucutkan bibir nya meminta maaf, "Ya kali,...lalu kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku tadi?" Emily merajuk.
"Jika ku beri tahu ini bukan kejutan nama nya." sahut Edwin dengan santai nya. Lelaki itu menarik tangan Emily lalu menuju pinggir pembatas yang tingginya setengah dada Emily. Edwin tiba-tiba memeluk wanita itu dari belakang. Rasa hangat mulai menjalar ke setiap bagian tubuh Emily, aroma woody tercium menembus rongga hidung Emily. Deru nafas beraroma mint menambah dalam rasa hangat yang di rasakan oleh Emily sekarang.
Sebenarnya Emily masih sedikit risih di peluk oleh laki-laki, namun entah kenapa ia tidak bisa menolak pelukan dari Edwin. Edwin membenamkan wajah nya di ceruk leher Emily, hingga hembusan nafas pria itu terasa jelas di kulit leher Emily.
"Jika suatu saat aku memiliki salah pada mu, ku mohon maafkan aku dan jangan membenci ku." tiba-tiba saja Edwin mengucapkan kata-kata yang tidak bisa di mengerti oleh Emily.
"Apa maksud mu Edw...?" tanya Emily heran.
"Jangan memanggil nama ku. Bukankah kita sudah sepakat tadi?" lelaki itu mencoba mengingatkan nama panggilan mereka.
"Ekhem...maksud ku, tolong jelaskan arti dari kata-kata yang kau ucapkan tadi sa-sayang...!" nada terputus saat Emily mengucapkan kata sayang.
"Tidak ada Bee, aku hanya memberitahu mu saja." kilah Edwin lalu tertawa renyah. "Biarkan aku memeluk mu, malam ini begitu dingin." ujar pria itu lalu mengeratkan pelukan nya.
Tentu saja dingin, Edwin dan Emily sedang berada di ujung gedung. Hembusan angin malam sangat terasa meski Emily sudah memakai baju tiga lapis.
"Pemandangan malam ini sangat indah, sayang ku, terimakasih." ucap Emily sambil menggenggam tangan Edwin.
"Suatu hari, aku akan membawa mu ketempat yang jauh lebih indah dari pantai itu dan atas gedung ini. Tetap berada di samping ku apa pun yang terjadi," lagi-lagi, kata-kata yang terlontar dari mulut Edwin membuat Emily bingung.
Malam semakin larut, Edwin mengantar Emily pulang ke apartemen nya. "Besok, aku tidak bisa menjemput mu. Akan ada supir yang menjemput mu." ujar Edwin memberitahukan karena ia akan ada meeting besok pagi.
"Tidak, aku tidak mengizinkan nya." Edwin bersikeras.
"Sayang ku, jika salah satu dari mereka melihat ku selalu bersama dengan ku bagaimana? pasti aku akan di mangsa terlebih dahulu sebelum diri mu." Emily mencoba memberi pengertian. Sejenak Edwin terdiam, pria itu melapukan hal kecil yang bisa membahayakan posisi Emily.
Edwin menghela nafas pasrah, lalu ia berkata. "Kau benar Bee, maafkan aku yang ceroboh ini. Masuklah, udara semakin dingin." perintah Edwin lalu Emily langsung masuk ke dalam apartemen. Edwin melajukan mobil nya ketika punggung Emily sudah tidak lagi kelihatan.
Lelaki itu pergi ke markas nya karena sudah lama ia tidak mampir ke tempat itu. Edwin pergi ke ruangan Frans, entah kenapa ia belum mau membunuh Frans sekarang.
"Katakan dengan jelas, apa kau tahu siapa saja musuh dari keluarga Alexander?" tanya Edwin dengan sorot mata tajam nya.
"Jika aku mengatakan nya, apa yang akan kau berikan pada ku?" Frans mencoba membuat penawaran.
"Akan ku biarkan anak-anak mu hidup dngan damai dan tentram...!" seru Edwin seketika membuat nyali Frans menciut.
"Rosalinda,...!" ucap Frans ambigu.
Edwin mengerutkan dahi nya dalam, lalu bertanya pada Frans, "Kenapa dengan Rosalinda? bicara yang jelas." kali ini nada bicara Edwin sedikit meninggi.
"Rosalinda Xiverry, anak pertama dari keluarga Xiverry sangat membenci keluarga Alexander. " kali ini Frans bicara dengan suara jelas.
"Wah,...seperti kau tahu banyak tentang keluarga Alexander." gumam Edwin suka.
"Tidak juga, yang ku tahu hanya itu. Sebenarnya ada satu keluarga lagi yang paling di benci oleh keluarga Alexander, tapi aku tidak tahu siapa?"
Edwin menarik nafas dalam, menghidupkan sebatang rokok lalu memberikan nya kepada Frans. "Emily sudah memiliki kehidupan yang layak, dia bekerja di perusahaan Alexander." ujar Edwin memberitahu.
"Apa maksud mu?" tanya Frans tidak percaya.
"Ya,...dia akan merebut sendiri adik nya." sekali lagi, Frans di buat terkejut dengan ucapan Edwin. "Sepertinya kau sangat membenci Emily dan adik nya, kenapa?" tanya Edwin cukup penasaran.
Wajah Frans menggelap, lelaki itu seperti menghidupkan kembali dendam lama nya. "Aku mencintai ibu Emily sejak kami sekolah menengah atas, tapi ibu Emily lebih memilih menikah dengan bajingan itu hingga lahir Emily. Aku depresi saat itu, lalu orang tua ku menjodohkan ku dengan seorang wanita yang tidak ku kenal. Kami menikah, aku hanya menyentuh istri ku ketika aku sedang mabuk saja. Anak pertama ku lahir, selang beberapa bulan kelahiran Emily. Meski aku sudah memiliki anak, aku belum bisa melupakan ibu Emily. Hanya berjarak satu tahun, ku dengar ibu Emily hamil anak ke dua begitu juga dengan istri ku. Aku kalap, aku marah dan aku benci dengan ayah Emily. Aku membunuh ayah Emily dengan cara memberi nya racun. Ayah Emily meninggal, di situ aku mendapatkan kesempatan untuk dekat kembali dengan ibu Emily. Tapi, aku marah setiap kali aku melihat Emily dan perut besar ibu nya. Aku memaksa ibu Emily mau menikah dengan ku dan akhirnya dia setuju. Aku bahkan melupakan anak dan istri ku, saat ibu Emily akan melahirkan, aku mengatakan jika anak nya meninggal padahal aku telah menjualnya kepada Jhon Alexander." Frans menceritakan segala sakit hati nya pada Edwin.
"Di mana kau mengenal jhon Alexander?" tanya Edwin.
"Di rumah sakit ketika sepasang suami istri itu berjelajah ke rumah sakit kecil untuk mencari bayi yang tidak di inginkan." sahut dengan enteng.
"Teruskan cerita mu?" perintah Edwin.
"Ya, ketiak ibu Emily tahu anak nya meninggal, perempuan itu menjadi stres dan depresi. Ibu Emily meninggal dan aku yang sial ini harus mengasuh Emily. Cukup lama dia sakit, tapi aku masih setia mengurus dan merawat nya karena aku mencintai ibu Emily."
Edwin benar-benar di buat bergeleng kepala dengan kejahatan Frans, seorang bajingan yang tega menelantarkan anak istri nya hanya demi wanita lain. Tapi, Frans tidak lupa memberi nafkah materi untuk ke dua anak nya meski ia tidak pernah mencintai istri nya. Lelaki itu akan datang menemui ke dua anaknya untuk sekedar memberi mereka uang.
Setelah mengobrol cukup lama dengan Frans, Edwin memutuskan untuk pulang. Lelaki itu berpikir keras sepanjang perjalanan pulang. Akankah kecelakaan yang di alami Nathan ada hubungannya dengan keluarga Xiverry karena Edwin tidak pernah memberi perintah kepada anak buah nya untuk mencelakai Nathan.