Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
46.Menemukan



Tak butuh waktu lama bagi Edwin, pria itu sudah bisa menemukan di mana keberadaan Emily. Berkat Cctv yang ada dia sekitar jalan itu,Edwin bisa menemukan mobil yang sudah menculik Emily. Pria itu, di bantu Darren dan beberapa anak buah mereka pergi ke sebuah bukit yang berada cukup jauh dari pusat kota.


Di sebuah gudang yang pengap, Emily masih mencoba melepaskan diri dari ikatan tali yang cukup erat mengikat nya. Catrina yang baru saja masuk langsung tertawa melihat tingkah konyol yang di buat Emily.


"Kau,...kau sudah menculik ku...!" ujar Emily menoleh ke arah sumber suara. "Lepaskan aku....!" teriak wanita itu.


Catrina langsung menampar wajah Emily yang berani meneriaki nya. "Aku melihat Edwin sangat mencintai mu. Tapi dengan ku dulu dia tidak pernah melakukan nya pada ku seperti dia memperlakukan kau dengan sangat baik." Catrina berkata dengan penuh emosi.


"Sadar Catrina,...kau hanya mantan istri Edwin. Kau sendiri yang menyia-nyiakan suami mu dulu...!" Emily mencibir Catrina. Wanita itu seolah tidak takut dengan apa yang di lakukan oleh Catrina.


Sekali lagi, Catrina menampar wajah Emily dengan sangat keras hingga membuat sudut bibir wanita itu mengeluarkan darah. Catrina dengan kasar menjambak rambut Emily. "Tidak boleh ada satu pun wanita yang boleh hidup bahagia bersama Edwin baik kau maupun Nadia..."


"Kau bukan hakim yang mengatur hidup ku...!" terdengar suara berat itu melengking di telinga Catrina.


"E-Edwin...." Catrina gugup bahkan nampak ketakutan dengan raut wajah Edwin yang sangat menyeramkan.


Darren melepaskan Emily, sedangkan Edwin saat ini sedang mencengkram leher mantan istri nya. "Katakan pada ku, berapa kali kau menampar wajah calon istri ku...?" tanya Edwin dengan sorot mata membunuh nya.


Catrina mencoba berontak, berbicara dengan suara yang terbata-bata. "E-Edwin,...lepaskan aku. Aku bisa mati...!" Catrina memohon.


Edwin menoleh ke arah Emily, melirik tajam ke bibir yang mengeluarkan darah itu. "Bawa Emily keluar...!" perintah Edwin dengan suara dingin nya. Darren memapah Emily keluar, membawa wanita itu ke mobil kemudian memberi nya minum. "Jawab aku, berapa kali kau memukul Emily?" sekali lagi, Edwin bertanya dengan mimik wajah yang tidak bisa di artikan.


"Dua kali,..."jawab Catrina dengan suara tercekik.


"Lalu, kau apakan lagi dia?" tanya Edwin karena tadi pria itu melihat rambut Emily yang acak-cakan.


"A-aku,...aku hanya menjambak Emily." kata Catrina dengan suara bergetar.


Tanpa memandang Catrina sebagai mantan istri nya, Edwin langsung menampar wajah Catrina beberapa kali hingga membuat wanita itu berteriak memohon karena kesakitan. Darah segar mulai mengalir dari sudut bibir juga hidung mancung nya.


Tidak lupa juga Edwin menjambak rambut mantan istri nya hingga rontok. Catrina syok dengan sikap Arogant dari mantan suami nya. Tidak pernah Catrina melihat mantan suami nya seperti orang kesetanan. Catrina sudah tersungkur tidak berdaya, namun Edwin belum puas.


"Selesai wanita ini, jangan meninggalkan jejak apa pun...!" perintah Edwin kepada anak buah nya. Pria itu kemudian menyusul Emily dan Darren yang sudah menunggu di mobil.


Edwin langsung memeluk Emily, mengusap lembut bibir merah jambu yang membengkak itu. Jika melihat wajah Emily yang seperti ini, tidak mungkin jika Catrina hanya memukulnya dua kali.


"Kau apa kan mantan istri mu itu?" tanya Emily penasaran.


"Tidak ku apa-apa kan. Tidak usah pikirkan wanita itu, dia pantas mendapatkan nya." ujar Edwin membuat Emily menelan ludah nya kasar.


Mobil melaju menuju apartemen milik Emily, semua orang sudah menunggu sejak tadi termasuk Jhon yang sedang menenangkan istri nya. Setiba nya di apartemen Emily langsung beristirahat karena tubuh nya benar-benar sangat lelah. Carry juga ada di sana, sebagai sahabat diri nya ingin menemani Emily.


Nathan dan Grace bernafas lega ketika melihat Emily baik-baik saja meski wajah nya terdapat luka memar. "Aku akan memasak sup untuk Emily...!" kata Grace langsung pergi ke dapur.


"Biar aku temani aunty .." ujar Carry lalu mengikut di belakang Grace. Dengan penuh kasih Edwin tak berniat beranjak dari sisi tenoar tidur Emily, rasa khawatir nya lebih besar sekarang karena seseorang mulai berani menyentuh Emily.


"Sering lah menjenguk kakak mu, kau tahu aku sendiri tidak bisa menjaga nya sepanjang waktu." Edwin berkata dengan sorot mata tajam.


"Semua ini salah ku,...jika aku tidak meminta kakak untuk memasak sarapan untuk ku. Dia tidak akan seperti ini." Nathan berkata dengan penuh sesal.


"Jangan menyalahkan diri, untuk berikutnya belajar lah dari sebuah kesalahan. Hari ini mungkin Catrina, kita tidak pernah tahu hati musuh yang mencari titik kelemahan kita." ujar Edwin menasehati. Jhon yang mendengar hal itu langsung sadar jika mereka harus hati-hati dan selalu waspada.


Di hari berikut nya, dua hari setelah tragedi penculikan Emily. Nadia terperangah ketika melihat keadaan Emily yang baik-baik saja. Bahkan Emily dan Edwin sedang makan siang bersama sekarang.


"Di mana Catrina sialan itu? kenapa Emily baik-baik saja?" Nadia tidak habis pikir dengan apa yang dia lihat sekarang. Nadia mencoba menghuni nomor telpon Catrina namun ponsel wanita itu mati. Beberapa kali Nadia mencoba namun tetap saja ponsel Catrina mati. "Sialan,...!" umpat Nadia, "Apa si Catrina itu sudah di habisi oleh mantan suami nya sendiri?" Nadia mencoba menebak.


Tak mau Edwin dan Emily mengetahui keberadaan nya, Nadia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan makan siang nya begitu saja. Wanita itu langsung menemui Rosalinda di hotel tanpa wanita itu menginap.


"Ternyata, Edwin tidak bisa kira remeh kan. Ayah dan anak tidak akan memiliki sifat yang berbeda." gumam Rosalinda lalu menegak minuman yang berwarna merah itu.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Nadia bingung.


"Kenapa aku yang harus berpikir? aku juga membayar mu mahal seperti teman mu itu...!" Rosalinda meninggikan suara nya. Ya, demi membalas dendam Rosalinda rela membantu perusahaan keluarga Andreson yang di ambang kebangkrutan. "Jangan coba-coba-coba bermain dengan ku. Jika kau tidak bisa mendapatkan Edwin setidak nya kau bisa mendapatkan hati keluarga Alexander." kata Rosalinda memberi ide.


"Nathan adik Emily, sudah pasti Emily akan menentang semua nya." sahut Nadia semakin membuat Rosalinda Emosi.


"Dasar bodoh, tidak berguna...!" umpat perawan tua itu. "Bermain lah secara halus, tidak mungkin kau menunjukkan diri mu jika kau sedang mendekati anak Si Jhon itu."


Nadia langsung paham, wanita itu juga tidak protes karena Edwin dan Nathan sama-sama tampan dan kaya raya.Nadia mulai berpindah ke lain hati sekarang. Tujuan nya adalah mendapatkan hati Nathan dan seluruh keluarga Alexander.