Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
54.Benarkah?



"Bee,...kau sudah sadar?" Edwin sangat senang sekali ketika istri nya mulai membuka mata. "Apa yang sakit bee? katakan pada ku?" tanya Edwin yang masih khawatir dengan keadaan istri nya.


"Kepala ku masih sedikit pusing." jawab Emily.


"Istirahat lah,aku akan menjaga mu." kata Edwin.


"Kak, jika butuh sesuatu bilang saja." timpal Nathan.


"Kakak baik-baik saja Nathan. Kau tidak usah khawatir." ucap Emily pelan.


"Tadi ada Carry di sini, tapi di sudah pulang di antar Darren tadi." ujar Edwin memberitahu.


"benarkah? aku senang jika mereka semakin dekat." kata Emily membuat Fredy yang sejak tadi menguping langsung memayunkan wajah nya.


Wajah Emily masih terlihat pucat, sudah tentu itu membuat Edwin khawatir. Malam ini, Edwin dan Nathan menjaga Emily bersama-sama. Wanita itu kembali tidur setelah minum obat.


"Bagaimana, apa kau sudah mendapat kabar di mana Nadia berada sekarang?" tanya Edwin pada Nathan.


"Belum ada kabar. Aku yakin jika wanita itu memiliki orang dalam yang membantu nya untuk melarikan diri." kata Nathan begitu yakin.


"Iya,...tiba-tiba saja Nadia dan ayah nya menghilang begitu saja." timpal Edwin.


"Apa Mrs. Rosalinda yang mendalangi ini semua?" tebak Nathan.


Semalaman, hanya di habiskan Edwin dan Nathan saling mengobrol. Mereka tidur pukul tiga dini hari dan terbangun di saat Emily mencari mereka. Pagi ini, Emily merengek minta pulang meski Edwin sudah melarang nya namun tetap saja Edwin menuruti kemauan istri nya.


Di rumah, Edwin terus berada di samping Emily, lelaki itu bahkan rela meninggalkan pekerjaan yang menumpuk hanya demi menemani sang istri. "Apa kau tahu bee,...aku yang dulu tidak betah di rumah sekarang menjadi betah di rumah." kata Edwin sambil mengusap rambut istri nya yang sedang berbaring di lengan kekarnya.


"Benarkah? apa semua laki-laki akan seperti ini?" tanya Emily.


"Emmm,...aku rasa begitu bee. Bee,...kita jangan menunda lagi ya, aku ingin cepat memiliki anak." ujar lelaki itu penuh harap.


"Setiap pernikahan, setiap rumah tangga dan setiap perempuan pasti sangat menginginkan hal itu sayang. Hanya saja kita harus bersabar untuk menunggu anugerah itu." kata Emily.


"Bee,...apa perut mu masih sakit?" tanya Edwin tiba-tiba khawatir.


"Sedikit mual terkadang.Tidak usah khawatir, aku sedih jika melihat mu terlalu khawatir pada ku."


"Jangan begitu bee,...kau istri ku yang sudah sepantutnya ku jadikan ratu dalam rumah tangga ini." ujar Edwin.


Bahkan, untuk makan siang saja Edwin menyiapkan sendiri untuk istri nya. Di mulai dari memasak hingga menyuapi Emily. Sungguh, wanita ini sangat beruntung sekali memiliki suami yang begitu memanjakan diri nya.


Theo yang melihat sikap anak seperti ini hanya bisa tersenyum bangga. Karena menurut Theo laki-laki sejati adalah laki-laki yang bisa menjunjung harga diri seorang istri. Bagaimana cara memperlakukan seorang istri dan bagaimana membawa seorang istri ke jalan yang lebih baik. Menurut Theo semua itu adalah tugas seorang suami sebagai panutan dalam kehidupan berumah tangga. Emily juga merasa jika diri nya benar-benar jatuh di tangan orang yang tepat meski suami nya ini terkenal dingin dan jarang bicara atau pun bercanda.