
"Apa dia sekretaris ku yang baru?" tanya Nathan ketika melihat Nadia yang berdiri di depan nya.
"Ya, dia baru saja pulang dari luar negeri." kata Fredy.
"Perkenalkan diri mu!" perintah Nathan dengan suara dingin nya.
"Perkenalkan tuan, nama saya Friska, saya akan menjadi Sekretaris tuan menggantikan Sekretaris lama." Nadia berkata dengan suara yang sangat lemah lembut.
"Sepertinya kita pernah bertemu?" Nathan mencoba mengingat.
Nadia tersenyum, lalu berkata, "Iya tuan, tuan yang menabrak saya di restoran kemarin bahkan tuan juga memberikan saya kartu nama."
"Owh....!" Nathan hanya membulatkan mulut nya membentuk huruf O "Kembali ke pekerjaan mu." perintah Nathan yang merasa tidak suka dengan Friska alias Nadia.
Nadia tersenyum puas, tidak sia-sia usaha nya beberapa bulan ini untuk merubah bentuk wajah nya demi ambisi membalas dendam kepada Edwin dan Emily melalui Nathan. Tanpa Nadia sadar juga diri nya sudah di peralat oleh Rosalinda yang tidak ingin mengotori tangan nya.
"Cari tahu latarbelakang nya!" perintah Nathan pada Fredy.
"Aku merasa tidak asing pada Friska. Suara ini seperti pernah ku dengar." ujar Nathan membuat Fredy heran.
"Mungkin itu hanya perasaan mu saja. Jangan di ambil pusing!" seru Fredy.
"Iya, tapi jangan lupa lakukan apa perintah ku." sahut Nathan.
Ke dua pria itu kemudian fokus pada pekerjaan mereka masing-masing-masing. Nathan masih mengingat suara yang sangat ia kenali ini namun tidak bisa menebak siapa sang pemilik suara.
Di rumah mewah Edwin, pria itu sangat bahagia karena sekarang diri nya bekerja di rumah sambil di temani oleh sang istri juga calon anak mereka. Entah bawaan anak atau apa Theo sendiri sangat pusing melihat Edwin yang terus mengekori istri nya dan tidak mau jauh.
Darren juga pusing sendiri karena setiap hari harus bolak balik rumah perusahaan untuk mengantar berkas. Bahkan, jika ingin meeting Edwin tidak segan-segan untuk mengundang klien nya untuk datang ke rumah.
Untung saja Edwin menaikan gaji Jeff sangat tinggi, Jadi pria itu tidak bisa protes sekarang. Begitu juga dengan Carry yang sekarang sudah di angkat menggantikan posisi Emily. Banyak yang iri melihat keberuntungan Emily dan Carry. Mereka yang dulu hanya tukang sapu dan pel pada akhirnya memiliki kedudukan tinggi di samping Edwin. Bahkan, karyawan yang dulu menolak bekerja di lantai yang sama dengan Edwin terus menggerutuki kebodohan mereka.
"Enak sekali nyonya bos ini, santai menemani suami nya bekerja." kata Carry mengejutkan Emily.
"Suami mu yang pesan, kata nya anak mu harus menjadi sultan saat masih dalam perut." ujar Carry merasa heran.
"Kue apa ini?" tanya Emily bingung.
"Nama kue nya adalah Luster Dust cake, aku heran dengan suami mu itu, rela mengeluarkan uang banyak hanya untuk kue ini." kata Carry membuat Emily bingung.
"Berapa harga nya?" tanya Emily.
"Jangan sebutkan harga nya Carr, jika kau sebutkan aku akan memecat mu!" ancam Edwin membuat Carry langsung mengunci mulut nya rapat.
Carry langsung tertawa cengir sambil berkata pada Emily, "Jika kau sayang pada ku, jangan tanyakan lagi harga nya. Aku tidak ingin jadi pengangguran."
Wajah Emily langsung berubah masam, menyentil hidung suami nya yang selalu berkata irit namun dia sendiri yang boros. Carry mendapatkan kue ini di bantu oleh Darren, mereka berdua kemudian berbagi bonus yang di berikan oleh Edwin.
"Makan lah bee, aku sudah memotong nya untuk mu." ujar Edwin.
"Kenapa memotong nya terlebih dulu?" tanya Emily yang nampak kesal.
Edwin dan Carry terkejut, mereka bingung dengan ucapan Emily, "Kenapa?" tanya Edwin bingung.
"Aku kan belum mengambil gambar nya." kata Emily merengek.
"Maaf bee,...aku tidak tahu. Besok aku akan membeli kan mu kue yang jauh lebih bagus dan mahal lagi." bujuk Edwin membuat Carry menelan ludah nya kasar.
"Ini manusia atau apa? $1,3 juta di buang hanya untuk kue dan dia akan membeli yang lebih mahal lagi?" batin Carry berteriak sangat kencang.
Mau tidak mau Emily memakan kue tersebut, rasa nya enak bahkan sangat enak membuat Emily ingin menambah lagi. "Makanlah Carry, jangan sungkan." kata Edwin.
"Emmm,...hehe,...aku lupa menawari mu." ucap Emily merasa tidak bersalah.
Sebelum makan Carry kembali menelan ludah nya kasar, dia tidak percaya orang miskin seperti nya sekarang bisa makan kue dengan harga yang sangat fantastis. Tidak lupa Carry berterimakasih, wanita ini sangat beruntung bisa berteman dengan Emily.