Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
66. Di Mana Istri Ku



Nadia seketika panik, melihat dua Dokter yang pernah mengubah wajah nya. Nathan sengaja mengumpulkan karyawan perempuan di aula kantor dan mengatakan jika mereka bebas berkonsultasi masalah kecantikan hari ini. Nadia panik, wanita ini hendak pergi dari aula.


"Mau kemana kau?" tanya Nathan membuat Nadia gugup.


"Emmm,... masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan." Nadia membuat alasan.


"Bukankah aku sudah mengatakan jika hari ini adalah hari spesial untuk kalian para perempuan?"


"Saya akan melakukan konsultasi di lain waktu!" jawab nya semakin gugup.


"Ini kesempatan langka Friska. Bos kita ini baru kali ini memanggil Dokter kecantikan khusus untuk kalian para perempuan." ujar Fredy menambah gugup Nadia.


"Duduk dan antri lah, aku tidak ingin mendengar penolakan atau alasan apapun." ujar Nathan menegaskan.


Mau tidak mau Friska alias Nadia duduk dan ikut antri. Nathan dan Fredy saling lirik, mereka tidak menyangka jika Edwin bisa menemukan orang yang sudah mengubah bentuk wajah Nadia.


Di lain tempat, Edwin mengajak istri nya untuk makan di luar karena wanita itu sangat ingin makan siang di restoran korea. Restoran ini sangat ramai, membuat Emily sangat senang melihat orang banyak.


Sedangkan Nadia, mendapat kiriman pesan jika Edwin mengajak Emily keluar tanpa membawa pengawalan. Nadia tersenyum lebar, wanita itu langsung memberi perintah untuk menculik Emily. Sampai di sini, Nadia telah kehilangan kontak dengan Rosalinda karena wanita paruh baya itu tiba-tiba menghilang. Wanita ini sangat yakin, meski tanpa bantuan Rosalinda diri nya bisa menghancurkan Edwin.


"Bee, aku ke toilet sebentar." ujar Emily yang sudah tidak tahan ingin buang air kecil.


"Mau aku antar?" tanya pria itu.


"Tidak usah, aku bisa sendiri." tolak Emily lembut.


"Hati-hati bee, jalan nya yang pelan saja." Edwin mengingatkan.


"Suami ku memang yang terbaik." puji Emily kemudian wanita itu bergegas pergi ke toilet.


Tanpa di sadari oleh Emily, beberapa orang sudah mengintai nya sejak tadi. Nadia sangat yakin, jika Emily mati maka diri nya akan menghancurkan dua orang sekaligus yaitu Edwin dan Nathan.


Baru saja Emily keluar dari toilet, seseorang membekap nya menggunakan sapu tangan hingga membuat wanita itu langsung tidak sadarkan diri. Orang-orang itu bahkan dengan berani nya mengenakan seragam restoran yang entah dari mana mereka dapat.


Lima menit berlalu, Edwin mulai gelisah karena istri nya tak kunjung kembali. Pada akhirnya, lelaki itu memutuskan untuk menyusul Emily yang pergi ke toilet. Di depan toilet wanita, Edwin bingung mau masuk atau bagaimana.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya seorang pengunjung perempuan.


"Tidak, aku hanya menunggu istri ku. Apa ada orang di dalam?" tanya Edwin.


Sejenak wanita itu mengingat lalu mengatakan, "Hanya ada aku, tidak ada orang lain."


Mata Edwin langsung melebar, pria itu langsung menerobos masuk untuk mencari Emily namun benar saja, Emily tidak ada di sana. Edwin mulai panik, mencari istri nya kesana kemari pada akhirnya cctv lah yang akan menjadi petunjuk untuk Edwin.


Edwin menggertakan gigi nya, mengepalkan ke dua tangan pada saat pria itu melihat rekaman cctv yang menunjukkan dua orang sedang menyeret paksa istri nya dari toilet. Pria itu kemudian langsung menghubungi Darren, tidak lupa juga dengan Nathan.


"Dalam hitungan ke tiga, Nathan akan panik mendengar kabar kakak nya." batin Nadia tertawa senang.


"Ada pekerjaan mendadak, ikut aku!" perintah Nathan semakin membuat Nadia bingung.


"B-baik....!" jawab Nadia heran.


Ternyata, Nathan membawa Nadia kerumah Edwin. Membuat Nadia semakin ketakutan. Edwin menatap Nadia dengan wajah dingin penuh amarah. Edwin langsung mencengkram leher Nadia hingga membuat Wanita itu kesulitan untuk bernafas.


"Katakan, di mana istri ku?" tanya Edwin dengan nada tinggi nya.


"Istri, apa maksud nya istri?" tanya Nadia pura-pura tidak mengerti.


Semakin keras Edwin mencengkram, "Jika kau tidak mengatakan di mana istri ku. Akan ku bunuh orang tua mu....!" Edwin sudah habis kesabaran. "Keluar kan bajiangn itu....!" perintah Edwin lalu salah seorang anak buah nya membawa keluar seorang pria yang duduk di kursi roda.


Mata Nadia melotot, melihat ayah nya menjadi tawanan Edwin. Namun, wanita ini masih berkilah dan tidak mengakui Andreson adalah ayah nya.


"Katakan di mana istri ku Nadia....?" sekali lagi Edwin meninggi kan suaranya.


"Jika kau tidak mengatakan di mana kakak ku, akan ku pastikan kau akan membayarnya dengan nyawa ayah mu." Nathan angkat bicara.


"Nadia tolong papi,....!" Andreson memohon dengan nada ketakutan.


"Lepaskan papi, maka aku akan memberitahu di mana Emily!" wanita itu meminta terlebih dahulu.


"Jika kau menyerahkan istri ku, maka aku akan menyerhakan ayah mu. Mari kita buat kesepakatan yang imbang." Edwin melepaskan cengkraman nya.


Mereka kemudian pergi ke suatu tempat, gedung tinggi yang masih setengah jadi. Di sana Emily yang baru saja sadar di ikat lalu di tempat kan di pinggir. Edwin yang melihat istrinya di ambang kematian, segara maju namun seorang pria menghalangi nya.


"Mundur atau ku dorong istri mu." ancaman orang tersebut.


Nadia menaikan bibir nya, tersenyum sinis melihat ke arah Emily. "Lepaskan papi ku dulu...!" pinta wanita gila itu.


"Jauhkan istri ku dari situ, mari kita saling melambaikan tangan." Edwin sedikit melunak agar istri nya tetap merasa aman.


Nathan yang hendak maju juga langsung di hadang oleh Darren, karena pria itu tidak ingin Nathan merusak rencana Edwin.


"Tidak, lepaskan dulu!" Nadia meminta dengan nada tinggi.


"Selangkah Emily maju, maka selangkah juga papu bisa mendorong kursi roda nya." ujar Edwin masih bernego.


"Baiklah...!" Nadia menerima tawaran Edwin "Suruh perempuan itu maju selangkah." perintah Nadia. Wanita bodoh yang hanya berdua dengan anak buah nya itu.


Begitu seterusnya nya hingga Emily berhasil melewati lima langkah bergegas Edwin menarik istrinya ke dalam pelukan nya. Sedangkan Nathan berhasil menarik kembali kursi roda yang membawa Andreson. Nadia dan seorang pria itu mendadak panik, wanita ini bingung ingin melakukan apa sekarang.


"Tangkap mereka!" perintah Edwin lalu Darren dan Fredy langsung menangkap Nadia dan pria itu. Untung saja polisi tepat waktu, jadi bisa meringankan pekerjaan Edwin.


Edwin memeluk Emily, untung saja mereka tidak melukai Emily. Theo dan Jhon juga Grace yang menunggu di rumah bisa bernafas lega sekarang. Mereka juga langsung pergi ke rumah sakit karena Emily mengalami keram perut dan tertekan atas kejadian hari ini. kini, rahasia Nadia sudah terbongkar yang sebenarnya sudah di ketahui sejak lama.