Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
12.Lucu



"Apa yang kau pandang Em...?" tanya Carry mengejutkan Emily.


"Dia begitu tampan dan berwibawa." ujar Emily ketika melihat Alan yang baru saja keluar dan berjalan ke arah Lift.


"Edwin lagi Edwin lagi...!" gerutu Carry. "Di depan nya kau sok jual mahal, di belakang nya kau seolah tergila-gila dengan dia."


"Kau sendiri yang bilang pada ku, jika mimpi ku untuk memiliki nya terlalu tinggi. Hmmm...Car, dia telah banyak berjasa dalam hidup ku. Bahkan, sampai sekarang pun aku belum bisa membalas semua kebaikan nya." ucap Emily sedih.


Carry menepuk ke dua pundak sahabat nya. "Tidak ada orang baik yang mengharapkan imbalan. Jika pun ada, maka orang itu akan meminta kepada Tuhan nya."gumam Carry membuat Emily terdiam.


"Minggu depan aku akan bekerja di perusahaan Alexander. Aku sedih meninggalkan mu sendiri..!" lirih Emily dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan sedih, kita masih bisa bertemu di luar sana. Ingat tujuan mu Em...Edwin sudah melakukannya sejauh ini, maka jangan kecewakan dia." ucap Carry memberi semangat.


Tiba-tiba ponsel milik Emily berbunyi, ada notifikasi dari Edwin. "Aku harus pergi...!" ujar Emily.


"Mau kemana?" tanya Carry.


"Aku ada janji dengan Edwin." jawab Emily kemudian wanita pergi.


Sesuai janji Edwin, hari ini pria itu akan mengajak Emily pergi berbelanja. Bukan main, Emily hampir menolak semua pakaian yang di pilihan untuk nya. Bukan tak cocok, namun harga nya lah yang membuat Emily mundur.


"Ini terlalu mahal Edw! aku masih bisa membeli di toko kecil yang lebih murah." tolak Emily.


"Kau akan bekerja di perusahaan besar. Penampilan juga perlu untuk mu." ujar Edwin lalu memerintahkan pelayan untuk membungkus semua pakaian.


Puas berbelanja, Edwin mengajak Emily makan di sebuah restoran yang sudah di pesan nya secara khusus. Lagi-lagi Emily menolak dan mengajak Edwin makan di tempat biasa. Namun ada sesuatu yang membuat Emily kesal, ketika semua wanita yang ada di tempat makan itu terus memandang ke arah Edwin dan terus memujinya.


Sebagai lelaki, Edwin bisa merasakan jika wanita yang ada di depan nya ini sedang cemburu.


"Aku bilang juga apa? bukan aku tidak mau makan di tempat seperti ini, tapi kau lihat sendiri kan, mereka sangat terpesona dengan ku!" bisik Edwin dengan penuh rasa bangga menyombongkan ketampanan nya.


"Memang nya aku ini kenapa?" tanya Emily pura-pura tidak tahu arah pembicaraan Edwin.


"Jika cemburu katakan saja! aku senang jika kau merasa cemburu pada ku."


Emily menghentikan aktifitas makannya, tenggorokan nya cekat dan rasa nya sulit untuk menelan makanan ketika Edwin bisa menebak isi hati Emily.


"Cepat habiskan. Aku ingin pulang!" ujar Emily dengan mimik wajah datar.


Edwin hanya bisa menahan tawa nya, pria itu kemudian melanjutkan makan nya sambil menggedo beberapa wanita dan itu sengaja Edwin lakukan untuk membuat Emily semakin cemburu.


Benar saja, sepanjang perjalanan pulang Emily hanya memilih diam. Ada yang sesak di dada namun tak bisa di ungkapkan. Ada hak apa Emily untuk cemburu? tidak, wanita tu langsung keluar dari mobil Edwin dan mengambil barang belanjaannya.


"Terimakasih...!" ucap Emily dengan senyum terpaksa nya.


"Apa kau sakit?" tanya Edwin.


"Tidak! aku baik-baik saja. Aku ingin istirahat." ujar nya. "Aku masuk dulu...!" pamit Emily tak bersemangat.


Edwin memasukan ke dua tangannya ke dalam saku celana, pria itu teru memandang langkah gontai Emily. "Dia cemburu? apa dia cemburu?" tanya Edwin kepada dirinya sendiri.


"Ada masalah apa?" tanya Edwin pada Darren. Jika di markas, Edwin sangat jarang tersenyum dan ia lebih suka menunjukan wajah dinginnya.


"Anak buah Andreson berulah lagi," jawab Darren.


"Katakan intinya..!"perintah Edwin.


"Mereka melakukan bisnis terlarang lagi. Kali ini hanya dua ratus senjata api, namun harga sangat fantastis. Satu senjata mereka hargai hampir tiga milyar karena semua barang ilegal." terang Darren.


"Gagalkan...!" perintah Edwin.


"Dan satu lagi, mantan istri mu ternyata dekat dengan salah satu anak dari keluarga Alexander." tutur Darren memberi tahu.


Edwin menghentikan permainan tinjunya, "Nathan?" tebak Edwin.


"Hmmm....ku rasa Emily akan sangat sulit berhubungan dengan keluarga mereka."


"Kenapa kau berkesimpulan seperti itu? kau tahu Darr, aku dan Emily memiliki keuntungan masing-masing ketika Emily masuk ke dalam keluarga Alexander." ujar Edwin memberi tahu.


Entahlah, masih ada hal yang di sembunyikan oleh Edwin yang belum Emily ketahui. Namun pria itu belum memberi tahu semua nya kepada Emily.


"Jika Emily tahu dia hanya alat, aku yakin dia akan sangat membenci cara mu." ujar Darren.


Edwin tertawa renyah, "Apa yang harus dia benci? di satu sisi dia akan mendapatkan adiknya, di satu sisi aku juga akan mendapatkan apa yang aku mu."


"Kau yakin tidak menyukai Emily?" tanya Darren kembali.


"Bisnis dan perasaan adalah dua hal yang berbeda."


"Jangan terlalu lama mengungkapkan Edw, jika seseorang telah kecewa biasanya dia tidak akan mudah untuk kembali sama seperti awal mula." ucap Darren mengingatkan.


"Kerjakan saja tugas mu!" ujar Edwin kemudian pergi begitu saja.


Darren hanya bisa menghela nafas dalam, isi hati Edwin tidak bisa di tebak. Sikap nya yang manis akan membuat siapa pun jatuh cinta termasuk Emily.


Edwin hanya pulang ke apartemen nya, pria itu kemudian memilih berendam dengan air hangat. Pria itu sebenarnya sangat menyukai Emily yang sederhana, namun ada misi yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.


Selesai mandi, Edwin duduk di balkon kamar nya sambil membaca beberapa laporan yang baru saja di kirim Darren. Seringai senyum menghiasi wajah pria itu. Edwin menyesap minumannya, tidak di pungkiri jika ia sedang terbayang wajah cemburu Emily.


"Lucu....!" gumam Edwin lalu tertawa sendiri.


Malam berganti pagi, belum juga dapat rezeki namun Emily sudah di suguhkan dengan pemandangan yang membuat ke dua bola mata nya ingin segera keluar dari sarang nya.


Dengan berpakaian sangat sexy, Nadia menunggu Edwin tepat di pintu ruangan kerja nya sambil membawa paper bag. Wanita itu terus bercermin seakan wajahnya cantik saja.


"Apa yang kau lihat?" tanya Carry berbisik.


"Tuh, perempuan kabel...! pagi-pagi udah bikin mata ku sakit." ujar Emily membuat Carry menahan tawa nya.


"Ayo kerja, beberapa hari lagi kau akan meninggalkan ku bekerja sendirian." ajak Carry lalu ke dua wanita itu melakukan tugasnya masing-masing. Sedangkan Nadia masih sibuk bercermin sambil menunggu Edwin datang.