
Baik Jhon dan Emily, mereka mendapat kabar dari Fredy jika Nathan sedang mabuk di sebuah bar pinggir kota. Fredy tahu kerena lelaki itu di beritahu oleh Catrina. Jhon dan Emily yang khawatir langsung pergi ke tempat itu, Emily datang bersama Edwin begitu juga dengan Jhon yang datang bersama dengan istrinya.
Mereka semua syok ketiak Fredy menceritakan apa yang sudah terjadi. Catrina langsung menampar wajah Emily sesaat wanita itu masuk ke dalam bar. Edwin yang tidak terima langsung mendorong kasar mantan istri nya itu.
"Kenapa kau membela wanita ini? dia adalah penyebab Nathan menjadi seperti ini...!" ujar Catrina sedikit mencari muka kepada Jhon dan Grace yang baru saja datang.
"Jhon...anak kita...!" seru Grace lalu menghampiri Nathan. "Kenapa kau menjadi seperti ini? kau tidak pernah menyentuh minuman seperti ini..." Grace berkata dengan air mata yang membasahi pipi.
"Aunty,...perempuan ini penyebab nya." sahut Catrina. "Nathan sejak tadi menyebut dan mengumpat nama Emily..." ujar nya memberitahu.
"Diam kau...!" bentak Jhon membuat Catrina langsung terdiam. "Fredy,...bawa Nathan pulang..." perintah Jhon namun tubuh Fredy langsung di dorong oleh Nathan. Edwin hanya melihat sambil memberi semangat pada Emily.
"Apa pun yang terjadi, kau harus sabar." ucap Edwin berbisik.
"Kalian semua pembohong...!" teriak Nathan membuka suara. Emily langsung membeku, wanita itu yakin jika Frans sudah bercerita yang bukan-bukan pada adik nya. "Kalian....!" tunjuk Nathan kepada Jhon dan Grace. "Kalian bukan orang tua ku..." Nathan berkata dengan keadaan setengah sadar.
Grace menangis, sedangkan Jhon mulai meratapi penyesalan nya. Lelaki itu sudah tidak mengikuti anjuran Edwin. "Sampai kapan pun kamu tetap anak kami Nathan..." ujar Grace menyakinkan.
Catrina yang mendengar hal itu hanya tercengang, wanita itu menoleh ke semua orang. "Seperti nya mereka sudah tahu termasuk Edwin." batin Catrina.
"Dan kau......!" tunjuk Nathan pada Emily "Kau bekerjasama dengan mereka untuk membohongi ku." teriak Nathan keras.
"Tidak, aku tidak bermaksud membohongi mu." ujar Emily menyanggah tuduhan adik nya.
"Wah...wah...kau mencari uang dengan cara yng tidak benar." cibir Catrina.
"Diam kau Catrina...!" bentak Edwin. "Jika tidak tahu apa-apa sebaiknya kau diam!"
Emily mencoba meraih tangan Nathan namun dengan cepat Nathan menepis tangan Emily bahkan mendorong Emily hingga terjatuh. Edwin yang melihat hal itu langsung membantu Emily.
"Jika kau punya masalah, sebaiknya kau selesaikan secara baik-baik." tegur Edwin tidak suka sikap kasar Nathan.
"Siapa kau hah....? kau bahkan juga ikut ambil peran dalam membohongi ku!" seru Nathan.
"Nathan,...sebaiknya kita pulang. Kami akan menjelaskan nya." ujar Jhon namun langsung di tolak oleh Nathan.
Catrina yang sok membela Nathan terus menyalahkan Emily hingga membuat Edwin geram lalu menampar wajah mantan istrinya. "Jika ku bilang jangan ikut campur, jangan ikut campur!"
Di bantu oleh beberapa anak buah Alexander, Nathan di bawa paksa untuk pulang. Grace terus menangis, wanita itu tidak bisa menjelaskan apa pun. Sedangkan Emily juga di ajak oleh Edwin untuk pergi dari tempat itu. Catrina mengepalkan ke dua tangan nya ketika melihat Edwin sangat membela Emily. Wanita itu mulai berniat untuk membalas dendam.
Di apartemen, Emily menangis sejadinya dalam pelukan Edwin. Jika di lihat dari sikap Nathan saat ini, Nathan beluk bisa menerima kenyataan yang ada. "Bagaimana ini?" tanya Emily.
"Kau tenang saja, aku yakin jika uncle Jhon bisa menjelaskan semua nya pada adik mu. Untuk ayah tiri mu, anak buah ku sedang mencari nya." ujar Edwin namun tetap saja Emily tidak bisa tenang.
Nathan tidur hingga malam, pria itu bangun tepat tengah malam. Kepala nya masih sakit, ini adalah kali pertama Nathan menyentuh minuman keras. Nathan memegang kepala nya yang sakit, mengingat kembali apa yang sudah terjadi. Nathan kemudian mengambil air minum yang sudah terhidang di atas nakas itu. Pria itu kemudian pergi, tanpa sepengetahuan orang rumah.
Nathan pergi menemui Frans kembali, dan sudah tentu Frans menambah bumbu kebohongan pada Nathan. Benar saja, Nathan langsung termakan oleh omongan Frans. Lekai itu pergi dari tempat bersembunyian Frans dan kembali ke club malam.
Edwin yang di beritahu oleh anak buah nya jika Nathan sedang berada di club milik nya langsung menghubungi Emily untuk mengajak wanita itu pergi ke sana. Meski jam sudah menunjukan pukul satu malam, Emily tidak peduli.
Sesampainya di club, Emily langsung masuk dan menerobos kumpulan manusia yang sedang asyik berjoget menikmati lagu mereka. "Nathan, pulang lah..." pinta Emily terdengar jelas di Nathan. Nathan dan Catrina langsung menoleh ke arah Emily dan Edwin.
"Jika Emily meminta mu untuk pulang, maka pulang lah." Edwin menimpali kata-kata Emily.
Nathan menyunggingkan bibir nya lalu bertanya dengan suara sinis nya, "Siapa kalian berani melarang ku?" Nathan dan Catrina tidak tahu jika club ini adalah milik Edwin.
"Kau sangat hebat Emily, kau bisa membuat Edwin tunduk pada mu. Jika aku tidak salah ingat, kau dulu adalah tukang sapu di perusahaan mantan suami ku ini bukan?" kata-kata Catrina membuat Nathan mengernyitkan kening nya dalam.
"Apa itu benar?" tanya Nathan, "Wah....kau sudah merencanakan nya dari jauh hari." ucap Nathan dengan bertepuk tangan. Edwin masih terlihat sangat santai sedangkan Emily sudah bingung ingin berkata apa.
"Aku bisa menjelaskan nya." sahut Emily "Dan kau Catrina, bisakah jangan ikut campur masalah kami?"
Catrina tertawa sinis, "Aku akan selalu ikut campur karena aku sangat membenci mu."
"Sebaiknya kau pergi...!" bentak Edwin namun tidak di idahkan oleh wanita itu.
"Kau selalu membela dia, apa perempuan kekasih mu?" tanya Catrina dengan sorot mata tajam.
"Dia calon istri ku...!" jawab Edwin membuat bara di hati Catrina tersulut. "Pulanglah Nathan, kami akan menjelaskan nya besok." ujar Edwin namun di tolak oleh Nathan.
Emily mencoba meraih tangan adik nya, "Nathan, kakak akan menjelaskan nya." lirih Emily yang hanya Nathan saja bisa mendengar nya.
Suara musik begitu nyaring, Catrina tidak mendengar kata kakak yang di ucapkan oleh Emily. "Bawa calon istri mu ini pergi...!" usir Catrina.
"Siapa kau berani mengusir kami?" tanya Edwin emosi. "Tempat ini milik ku, yang seharusnya pergi adalah kau!" teriak Edwin keras.
Catrina tercengang, tiba-tiba suara musik berhenti. Semua orang memandang ke arah mereka. "Pergi......!" usir Edwin lalu mendorong kasar Catrina. Sedangkan Nathan yang mendengar jika tempat ini adalah milik Edwin langsung beranjak begitu saja tanpa menghiraukan Emily dan Edwin.
Emily mencoba mengejar Nathan, meraih tangan itu namun selalu di tepis. Emily berusaha menjelaskan, namun Nathan menutup telinga dan pura-pura tidak mendengar. Edwin masih beradu debat dengan mantan istri nya, hingga membuat suasana club menjadi tegang. Sebagian orang memilih pergi.
Sedangkan Emily masih berusaha mengejar adik nya yang sudah masuk ke dalam mobil. Emily mengejar mobil Nathan, menjelaskan sambil berteriak, air mata nya sudah tidak bisa ia kondisikan lagi. Namun, tiba-tiba sebuah mobil mengahantam tubuh Emily ketika wanita itu mengejar mobil adik nya yang belok di tikungan tak jauh dari club. Mobil itu sangat laju tak terkendali, karena pengemudi nya sedang mabuk.
Tubuh Emily terpental jauh, menghantam pembatas jalan lalu terguling-guling di aspal sedangkan mobil yang menabrak Emily juga menabrak mobil lain nya. Nathan yang mendengar benturan keras langsung menghentikan mobil nya, melihat ke arah kaca spion dan mendapati kakak nya sudah tergeletak tak berdaya di aspal ujung jalan.
Orang-orang yang baru saja keluar dari club langsung berhamburan menghampiri Emily. Edwin yang beri tahu jika Emily mengalami kecelakaan langsung mendorong tubuh Catrina yang masih terus mengoceh tidak jelas.
Nathan hanya terpaku, memberanikan diri menghampiri kakak nya. Emily sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya penuh luka.
"Emily............!" teriak Edwin panik dan langsung membopong tubuh wanita itu. "Bee....bertahan lah beee.....!" mohon Edwin dengan air mata nya yang sudah mengalir begitu saja. Edwin membawa Emily pergi ke rumah sakit setalah anak buah nya datang membawa mobil. Mengacuhkan Nathan yang masih terdiam mematung.
"Bee....maafkan aku bee...jika aku tidak meladeni perempuan itu, kau tidak akan seperti ini bee...maafkan aku beee..." Edwin terus memohon, kali ini air mata nya mengalir tanpa henti."Bertahanlah Bee,...jangan tinggalkan aku bee..." tangan Edwin menggenggam erat tangan dingin Emily.
Jarak antara rumah sakit milik keluarga Alexander lebih dekat daripada ke rumah sakit keluarga Egalia. Edwin sudah tidak peduli dan langsung membawa Emily ke rumah sakit Alexander. Darren yang sedang tidur nyenyak terbangun ketika mendapat kabar dari beberapa anak buah nya. Darren langsung pergi menuju rumah sakit Alexander dan mendapati Edwin yang sedang duduk dengan panik dan gelisah di depan ruang UGD.