Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
19.Aku Serius



Perjalanan memakan waktu satu jam, Emily mulai merasa lelah karena Edwin membawa nya begitu jauh. Namun rasa lelah itu sirna ketika alam menyuguhkan pemandangan yang sangat menakjubkan. Hembusan angin menyapa kulit putih Emily, Senyum nya melengkung indah dari ke dua bibir tipis nya.


"Aku batu tahu jika di kota kita memiliki pemandangan pantai yang indah seperti ini." gumam Emily sambil menyentuh pasir putih.


"Tempat ini milik ku, jika kau suka, lain kali aku akan mengajak mu lagi." sahut Edwin merasa bahagia. Entah kenapa baru sekarang Edwin merasakan jika ini adalah senyum yang mampu membuat hati nya hangat mendalam.


"Sudah lama rasa nya aku tidak pernah menikmati hidup seperti ini. Edwin...terimakasih." ucap tulus Emily. Netra mata dari ke dua nya saling tatap penuh arti. "Jangan menatap ku seperti itu...!" seru Emily gugup. Wanita itu kemudian mengalihkan pandangan nya jauh menatap ke lautan lepas. "Edwin...." panggil Emily dengan suara lembut nya.


"Hmmm...." lelaki itu menjawab tanpa membuka mulut nya.


"Bisakah kau memeluk lautan luas?" tanya wanita itu tidak masuk di akal.


Edwin mengerutkan kening nya dalam, "Tidak, tidak akan ada satu pun manusia yang mampu memeluk lautan." jawab Edwin heran.


"Lalu, bagaimana dengan hati seseorang?" wajah nya muram, rasa yang di miliki Emily saat ini terlalu dalam. Wanita itu telah jauh terpikat pada pesona sang duda itu.


"Apa kau sedang menyukai seseorang?" tanya Edwin balik. Dia bukan lelaki bodoh yang tidak peka terhadap perasaan Emily.


"Apa aku terlihat seperti itu?" Emily bertanya dengan di iringi tawa renyah yang di paksakan.


Edwin menyunggingkan bibir nya, "Apa kau menyukai ku?" tanya Edwin seketika membuat tubuh Emily menjadi kaku. Tenggorokan nya cekat membuat diri nya tak mampu menjawab pertanyaan lelaki itu. Hanya ada bunyi debur ombak juga siul burung yang memecah keheningan di antara ke dua anak manusia.


Emily menggosok-gosok ke dua tangan nya, hembusan angin di musim gugur di tambah kencang nya angin pantai sudah sejauh tadi menusuk kulit nya. "Aku ingin bermain air, sudah lama aku tidak bermain di pantai." Emily mencoba mengalihkan pertanyaan dari Edwin. Wanita itu kemudian sedikit menjauh dari posisi Edwin.


Edwin memasukan ke dua tangan nya ke dalam saku celana. Memandang wanita yang sedang asyik bermain air. Rambut yang tergerai indah di tiup angin membuat ke cantikan Emily semakin memikat hati. "Kau tidak pantai berbohong Emily." gumam lelaki itu dengan senyum hangat nya.


Beberapa waktu mereka bermain air, kemudian Edwin mengajak Emily pergi ke Villa yang jarak satu kilo dari pantai. "Wah......" Emily terperangah. "Jika aku memiliki banyak uang, aku lebih memilih tinggal di sini yang jauh dari keramaian dan bising nya suara kendaraan." wanita itu berujar sambil melihat-lihat sekeliling Villa.


"Berarti kau harus menikah dengan orang kaya!" seru Edwin membuat Emily terdiam. Wajah yang semula ceria kini terlihat lesu tak bertenaga. "Kau kenapa?" tanya Edwin heran.


"Aku tidak mungkin menikah dengan orang kaya. Hidup ku bukan cerita novel." tutur Emily lalu memilih berjalan ke arah kolam renang.


"Kenapa tidak mungkin?" tanya Edwin mulai menyelisik wanita itu.


"Apa kau sedang membicarakan diri mu sendiri?" Edwin mencoba menebak hingga membuat Emily salah tingkah.


"Apa maksud mu?" suara datar wanita itu tiba-tiba mendominasi pertanyaan nya.


"Kau tidak pandai berbohong Emily, aku adalah laki-laki normal dan aku bisa peka setiap kali kau mengutarakan setiap perkataan." Edwin berkata dengan santai nya. Pria itu juga ikut duduk di bangku tepat kolam renang.


Emily menunduk malu, hati wanita itu telah tertangkap basah. Biar bagaimana pun, Emily tidak akan bisa melupakan pesona Edwin. "Jika aku mengatakan aku menyukai mu bagaimana?" tanya Edwin membuat Emily mendongak. Mata elang dan netra mata Emily saling menatap dalam dengan penuh berbagai pertanyaan.


"Jangan bercanda soal Perasaan Edw....!" seru Emily lalu membuang pandangan nya ke dalam kolam renang.


"Aku serius...!" suara tegas itu lagi-lagi membuat Emily tertegun, datak jantung nya berpacu sangat kencang, begitu juga dengan Edwin. "Aku memang pernah menikah dan aku seorang duda, tapi satu hal yang perlu kau ketahui adalah jika aku tidak pernah menyentuh Catrina sedikitpun." timpal pria itu membuat mulut Emily menganga tidak percaya.


"Tapi, gosip yang beredar.....?" suara nya cekat, Emily tidak jadi melanjutkan perkataan nya.


Edwin tertawa renyah, jejeran gigi putih nan rapi menambah pesona dari lelaki itu. "Ah...manis sekali...!" batin Emily bergejolak.


"Catrina pemain, aku sengaja menikahi nya lalu menceraikan nya di hari itu juga agar membuat wanita itu sadar dengan kelakuan kotor nya. Namun, Catrina malah memanfaatkan kebodohan yang aku buat. Aku tidak meniduri nya, aku hanya membuat nya malu ketika aku menemukan semua bukti kebejatan nya." jelas Edwin membuat Emily tidak percaya.


"Lalu, kenapa kau tidak menepis semua tuduhan yang terarah pada mu?" tanya Emily tidak mengerti dengan jalan pikiran lelaki itu.


"Biarkan orang lain berasumsi apa pun tentang ku. Aku sama sekali tidak terpengaruh selagi aku makan tidak mengemis pada mereka. Itang luar hanya tahu bagaimana gambaran hidup kita dari cerita orang tanpa melihat secara langsung." lelaki itu berkata dengan bijak hingga membuat Emily semakin terkagum-kagum pada Edwin. "Emily, soal aku menyukai mu, aku tidak bohong." ucap Edwin dengan tenang nya. Sorot mata itu memberikan sebuah kehangatan, menjelelah di setiap keheningan yang tercipta.


Edwin kemudian melirik jam yang melingkar di tangan nya, " Sudah siang, ayo makan siang. Kau pasti sudah lapar. Aku sudah menyiapkan makan siang untuk kita berdua." ujar Edwin lalu menarik tangan Emily mengajak nya masuk ke dalam Villa.


Tak heran bagi Emily jika Edwin sudah menyiapkan makan siang mewah untuk nya. Lelaki ini memiliki kekuasaan untuk memberi perintah pada pekerja nya.


Makan siang kali ini di temani dengan keheningan, Emily masih mencerna setiap kata-kata yang di lontarkan oleh Edwin. "Menyukai ku" batin Emily. "Apa Edwin sedang membuat lelucon?" beberapa pertanyaan muncul dalam benak Emily. Edwin yang sedari tadi memperhatikan raut wajah wanita di depan nya itu hanya bisa menahan tawa yang sejak tadi ia tahan.


Selesai makan siang, Edwin menyuruh Emily untuk beristirahat sebentar karena sore ini ia akan mengajak Emily melihat matahari terbenam di suatu tempat yang akan membuat Emily takjub.