Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
07.Pundak Edwin



"Masuk keruangan ku. Aku ingin bicara!" perintah Edwin pada Emily.


Emily dan Carry saling pandang lalu Carry mendorong Emily agar cepat masuk ke dalam ruangan Edwin. Dengan perasaan ragu Emily masuk ke dalam ruangan Edwin.


"Aku ingin bertanya satu hal pada mu..." ujar Edwin membuka suara.


Emily mengerutkan kening nya dalam, "Apa itu?" tanya Emily penasaran.


"Apa kau memiliki seorang adik?" tanya Edwin penasaran.


"Adik? tidak ada, aku anak tunggal." gumam Emily.


"Ayah tiri mu bilang jika kau memiliki seorang adik." ujar Edwin membuat Emily terlonjak kaget.


"Apa maksud mu?" tanya Emily bingung.


"Ganti pakaian mu, aku akan mengajak mu bertemu dengan manusia laknat itu." perintah Edwin namun wajah Emily mulai menampakan raut takut."Jangan takut, ada aku..." ucap Edwin menenangkan.


Emily bergegas keluar untuk mengganti pakaian nya. Bahkan pertanyaan dari Carry pun sudah tidak bisa ia jawab karena wanita itu hampir mati penasaran. "Carr, jika urusan nya sudah selesai, aku akan menceritakan semua nya." ujar Emily kemudian ikut bersama Edwin yang sudah menunggu nya sejak tadi.


Lagi-lagi, gosip tentang Emily menyebar secepat kereta api. Namun wanita itu bersikap masa bodoh. Edwin yang tak sengaja mendengar beberapa karyawan yang menggosipi mereka langsung memberi perintah kepada Derren untuk memecat mereka.


"Pecat mereka semua! aku menggaji mereka untuk bekerja bukan untuk bergosip...!" perintah Edwin dengan wajah dingin nya.


Apa hendak di kata, ketiga karyawan itu akhirnya resmi di pecat secara tidak terhormat. Emily yang melihat kejadian itu hanya bisa menelan saliva nya kasar. Wanita itu hanya diam ketika mobil Edwin melaju dengan kencang nya.


Butuh waktu dua puluh menit untuk mereka tiba di markas Edwin. Emily yang takut melihat banyak orang dengan tubuh besar dan kekar hanya bisa meremas ujung kemeja nya.


"Jangan takut..." ucap Edwin lalu meraih tangan Emily. Sungguh, bolehkah Emily melayang ke udara ketika tangan itu menggenggam erat tangan nya.


Mereka menyusuri lorong yang sedikit gelap dan akhirnya tiba di sebuah ruangan hampa dan kedap suara yang hanya ada lampu pijar menjadi penerangnya.


"Om Frans...." lirih Emily lalu menyembunyikan wajah nya di balik tubuh kekar itu.


"Cepat, katakan semua kebenarannya pada Emily." pinta Edwin dengan nada tinggi nya. Lelaki itu dapat merasakan jika sekarang Emily sedang menahan rasa takut nya bahkan wanita itu tidak mau menunjukkan wajah nya erat genggam tangan nya pun tak ia lepaskan.


Frans berdecih, pria itu tertawa garing dengan wajah yang penuh dengan luka. "Apa yang harus aku katakan? tidak ada!" ucap nya membuat Edwin semakin kesal.


"Jangan bermain dengan ku, aku tahu kau memiliki dua anak dari pernikahan mu sebelumnya. Cepat katakan!" bentak Edwin.


Frans terkejut ketika Edwin mengatakan nama ke dua anak nya. Lelaki itu mencoba berontak namun sayang ia sudah terikat kuat di kursi tua itu. "Jangan menyentuh mereka brengsek!" pinta Frans.


Jangankan Frans, Emily saja terkejut jika Edwin banyak mengetahui latar belakang diri nya dan juga ayah tiri nya.


"Apa maksud semua ini?" tanya Emily memberanikan diri.


"Anak bodoh! sebenarnya kau memiliki adik laki-laki. Dia sudah aku jual ketika ayah mu sudah mati. Umur kalian hanya selisih satu tahun." papar Frans.


"Katakan, di mana adik ku. Om, kau sudah tega membunuh ayah ku. Lalu kenapa kau tega menjual adik ku?" tanya Emily dengan isak tangis nya.


Tanpa melepaskan genggaman tangan nya, Edwin hanya bisa menguatkan wanita itu. "Katakan, di keluarga siapa kau menjual nya?" tanya Edwin.


"Tergantung bagaimana cara kau bekerja sama dengan ku." tukas Edwin lalu Frans memberi tahu tentang keluarga itu.


Setelah mendapatkan informasi dari Frans, Edwin langsung membawa Emily keluar dari tempat pengap itu. Markas Edwin ada di pelabuhan yang sepanjang garis pantai itu adalah milik nya semua nya.


Emily duduk di tepi pantai beralas pasir putih, isak tangis nya sendu. Kenyataan pahit macam apa ini? kenapa kesedihan selalu datang berkunjung dalam hidup nya.


"Menangislah, akan ku pinjamkan pundak ku untuk mu." ucap Edwin lalu meraih lembut kepala Emily. Entah kenapa ada perasaan yang berbeda dalam benak Edwin, melihat Emily menangis seperti ini membuat hati nya perih. "Aku janji akan membantu mu menemukan adik mu.Keluarga yang di sebutkan oleh ayah tiri mu adalah salah satu keluarga pesaing dalam bisnis ku." ucap Edwin membuat Emily semakin takut.


Ketika jingga menyapa senja, namun Emily enggan beranjak dari bibir pantai itu. Bunyi debur ombak mampu meredam kesusahan hati nya sekarang. Emily sangat iri pada empat burung yang terbang rendah sambil mematuk ikan yang muncul di permukaan laut.


"Ayo pulang, sudah hampir malam..." ajak Edwin.


Tanpa berkata sepatah kata pun Emily mengikuti langkah lelaki dengan tubuh jangkung itu. Dari belakang saja Emily sangat terkagum dengan bentuk perawakan lelaki itu.


Wanita itu hanya bisa membuang nafas kasar, ucapan Carry kembali terngiang di benak nya sekarang. "Tidak boleh jatuh cinta..!" batin Emily.


"Kau ingin makan dulu?" tawar Edwin.


"Tidak, aku ingin pulang saja." tolak Emily.


"Tapi kau belum makan sejak siang!" ucap Edwin khawatir.


"Jangan bersikap terlalu baik pada ku. Kau laki-laki dan aku perempuan." ucap Emily membuat Edwin bingung.


"Lalu, apa hubungannya?" tanya Edwin tak mengerti.


Emily menghela nafas dalam, "Perempuan akan mudah luluh ketika mereka mendapatkan perlakuan lembut dari seorang lelaki. Jadi, sebaiknya kau bersikap kasar saja pada ku." ucap Arumi lalu keluar begitu saja dari mobil Edwin. Wanita itu tidak bisa mengontrol hati nya sekarang, sudah lama ia memendam perasaan suka kepada duda itu.


Edwin yang paham dengan perkataan Emily hanya bisa diam. Perlakuan nya pada Emily memang akan menimbulkan perasaan yang berbeda.


Sebenarnya Edwin ingin mengajak Emily untuk makan malam, namun lelaki itu mengurungkan niat nya. Emily butuh waktu untuk sendiri, kenyataan yang tidak pernah terbayang dalam hidup Emily adalah pukulan terberat bagi Emily.


Malam ini Emily hanya menangis untuk melegakan hati nya. Foto usang milik ibu nya di peluk erat oleh Emily. Wanita itu tidur dengan keadaan perut kosong. Emily yang tidur nyenyak namun Edwin yang pusing memikirkan nya. Lelaki itu tak bisa tidur karena memikirkan keadaan Emily yang belum makan sejak siang.


"Apa yang kau pikirkan Ed,...?" tanya Theo yang tiba-tiba berada di ambang pintu kamar Edwin.


"Papi ini kebiasaan, masuk tidak mengetuk pintu...!" ucap Edwin kesal.


"Apa benar berita yang menyebar itu?" tanya Theo kembali.


"Sebagian benar sebagin tidak." jawab Edwin.


"Sejak kapan kau peduli dengan seorang wanita Edw?"


"Entahlah Pi, aku merasa jika dia wanita baik dan tidak seperti kebanyakan. Papi keluarlah, kapan-kapan aku akan menceritakan semua nya pada papi."


"Jika kau merasa nyaman dengan wanita itu,kejarlah. Papi tidak melarang mu akan berjodoh dengan siapa." gumam Theo kemudian keluar dari kamar Edwin.


Edwin hanya tersenyum menanggapi perkataan papi nya, seakan mendapat lampu hijau, Edwin tersenyum-senyum sendiri di atas tempat tidur nya.