Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
18.Terimakasih



Jakun milik lelaki itu naik turun ketika meneguk habis susu buatan Emily. Fredy hanya bisa menelan ludah nya kasar, tidak pernah ia melihat Nathan seperti ini sebelum nya. Bahkan kue pai susu juga di lahap habis oleh lelaki itu.


"Terimakasih, besok jangan lupa sediakan lagi untuk ku." ucap Nathan dengan senyum yang mampu menghangatkan hati Emily. Wanita itu sejenak terbayang wajah ayah nya.


Seharian bekerja, sudah tentu membuat semua orang merasa lelah. Emily duduk di kursi pinggir danau tengah kota, netra mata dengan raut wajah datar memandang ke arah air yang tenang itu. Kilauan jingga menambah indah di sore itu, Emily menghembuskan nafas pelan untuk menikmati udara yang sedikit dingin.


"Sampai kapan aku harus berpura-pura seperti ini?" keluh Emily. Wanita itu tiba-tiba di kejutkan dengan kehadiran Carry. "Carry....!" Emily tersentak kaget dengan kehadiran sahabat nya itu. "Dari mana kau tahu jika aku berada di sini?" tanya nya bingung.


Carry menepuk pundak Emily lalu duduk di samping wanita itu. "Aku datang ke apartemen mu tapi kau tidak ada. Aku menelpon mu tapi ponsel mu mati, jadi aku pasti tahu jika kau pasti ada di sini." jawab Carry dengan santai nya. "Apa yang membuat mu bersedih?" tanya Carry karena ia tahu jika Emily sedih ia akan datang ke tempat ini.


Emily memejamkan mata, menikmati sejenak angin yang berhembus di waktu senja. "Sampai kapan aku harus berpura-pura seperti ini?" tanya Emily dengan mata berkaca-kaca.


"Jika kau ingin makan nasi, apa yang harus kau lakukan? selain membeli secara instan!" ujar Carry memberikan sebuah pertanyaan yang membuat Emily mengeryitkan kening nya dalam.


"Menakar beras, mencuci, menanak lalu menunggu nya matang." sahut Emily sembarang.


"Semua butuh proses bukan? Emily,...jika sesuatu di lakukan secara tidak teratur maka tidak akan ada hasil yang baik. Yang kau hadapi sekarang adalah keluarga Alexander, keluarga terkaya nomor dua di negara kita ini. Apa kau punya kekuatan untuk mengaku jika Nathan adalah adik mu? tidak,..mereka pasti akan menyingkirkan mu. Edwin,...tidak selama nya kau bergantung pada pria itu. Berjuanglah Emily, pada saat itu tiba kau akan mendapatkan apa yang kau kejar selama ini." tutur Carry panjang lebar membuat Emily sadar dengan keluh kesah nya selama ini.


"Terimakasih sudah mengingatkan ku.." ucap Emily lalu memeluk sahabat nya.


"Hmm....pulanglah, Edwin sudah menunggu mu sejak tadi." ujar Carry hingga membuat Emily terkejut.


"Dari mana dia tahu jika aku berada di sini?" tanya Emily dengan tatapan tajam nya, jari telunjuk nya menghadap langsung ke wajah Carry.


"Aku datang bersama dia, bahkan Edwin sangat gelisah ketika ponsel mu tidak bisa di hubungi." ujar Carry membuat Emily bergeleng kepala.


Emily memukul kecil lengan Carry, wanita itu kemudian berjalan ke arah mobil Edwin. "Mengkhawatirkan ku?" ujar Emily dengan memutar bola mata nya.


Edwin melepas jas nya lalu menyelimutkan nya pada tubuh Emily, wanita itu tertegun, jika seperti ini bagaimana Emily bisa membuang perasaan nya pada Edwin. Sedangkan Carry, hanya bisa melongo melihat adegan di depan nya.


"Masuklah, kau butuh istirahat." ujar Edwin lalu membukan pintu untuk Emily.


Sepanjang perjalanan pulang, Emily hanya diam. "Apa kau memiliki kekasih?" tanya Edwin tiba-tiba membuyarkan lamunan Emily.


"Kau bertanya pada ku?" tanya Emily balik membuat Edwin tertawa garing.


"Menurut mu, apa ada orang selain kita berdua di mobil ini?" ujar Edwin lalu kembali tertawa.


"Tidak ada!" jawab nya singkat.


!" Edwin masih mencoba memancing agar Emily bersuara.


"Ada.....!" seru nya tegas. "Aku tidak kelainan!" ucap nya kesal.


"Bisa aku tahu, siapa orang yang beruntung itu?" semakin penasaran, Edwin masih mencoba mengulik jauh lebih dalam lagi.


"Setiap orang pasti memiliki orang yang mereka suka termasuk aku. Tapi, sulit bagi ku untuk menggapai bulan yang berada jauh lebih tinggi dari pegunungan. Lagi-lagi, derajat adalah penghalang. Hati nya mungkin mudah untuk di sentuh, tapi keluarga? tidak, aku tidak ingin sejahat itu, hanya karena keagungan cinta aku tidak ingin merusak kenyamanan orang lain." kali ini, Emily berkata dari lubuk hati nya.


"Siapa yang kau suka?" suara Edwin berubah intonasi, seakan peka pada perkataan Emily.


Emily hanya tersenyum cengir, menatap wajah pria itu dari samping. Meski mobil sudah berhenti, namun ke dua nya masih enggan untuk turun.


"Maaf, aku tidak bisa mengatakan nya." ujar Emily lalu wanita itu memutuskan untuk turun. "Terimakasih...!" ucap Emily sambil melebarkan senyumnya.


"Besok akhir pekan, aku akan mengajak mu pergi ke suatu tempat." ujar Edwin.


"Baiklah, aku menunggu." sahut Emily. Mobil mulai menjauh pergi, Emily menghela nafas dalam lalu berjalan masuk ke dalam apartemen milik nya.


Di suatu tempat, ruangan kerja milik Jhon Alexander. Lelaki setengah umur itu bertepuk tangan bangga atas kinerja Nathan, meski Nathan bukan anak kandunya tapi Jhon Alexander dan Elisa Alexander sangat menyayangi Nathan. Namun, ada satu hal yang meraka rahasiakan adalah identitas asli siapa Nathan sebenarnya.


Menjadi satu-satunya penerus keluarga Alexander, sudah tentu Nathan mengemban tugas yang begitu berat.


"Kau butuh istirahat Nathan, Mommy dan Daddy tidak ingin kau jatuh sakit." nasihat Elisa pada anak semata wayang nya.


"Pekerjaan sangat banyak Mom, bagaimana bisa aku pergi istirahat?"


Elisa membuang nafas kasar, sejak Nathan menjabat sebagai CEO, anak lelaki nya itu mulai jarang berada di rumah. "Semua ini salah Daddy mu, dia membiarkan mu bekerja keras!" Elisa berkata dengan nada sedikit merajuk.


"Daddy tidak salah Mom, beliau sudah meminta ku untuk istirahat. Tapi aku menolak!" tegas Nathan sekali lagi.


"Bulan depan Mommy sudah mengatur rencana untuk liburan kita. Kau boleh membawa Fredy atau sekretaris mu." ucap Elisa tak mau di bantah. Jika sudah begitu, Nathan dan Jhon hanya bisa mengikuti kemauan Elisa.


Elisa keluar kamar, lalu kembali lagi dengan membawakan segelas susu untuk Nathan. "Minum lah, biar tidur mu nyaman." ujar Elisa kemudian wanita keluar dari kamar Nathan.


Nathan kemudian meneguk susu hangat itu, namun entah kenapa rasa nya sangat berbeda. Ingatannya kembali pada segelas susu buatan Emily. Rasa nya nikmat seperti ada mantra yang menarik daya pikat. Nathan merasakan kehangatan yang selama ini ia cari, namun entah kenapa semua nya sulit untuk di ungkapkan. Tak mau berpikir panjang, Nathan memutuskan untuk pergi tidur.