
"Informasi apa yang kau dapat?" tanya Nathan yang cukup penasaran.
"Tidak ada!" jawab singkat Fredy sambil menyerahkan selembar kertas yang berisi daftar riwayat hidup Emily.
Nathan menghela nafas dalam, entah kenapa ia sangat tertarik pada Emily. Bukan ketertarikan rasa suka, tapi sebuah ketertarikan yang tak bisa di jelaskan oleh Nathan sendiri.
"Tuan Jhon Alexander ada di sini." ujar Fredy memberi tahu.
Nathan bergegas mengajak Fredy dan Emily keluar untuk menyambut kedatangan Jhon Alexander. Emily sangat penasaran seperti apa wajah orang yang telah membeli adik nya dulu. Semua karyawan berjejer rapi, para bodyguard dengan serempak mengenakan jas hitam dan kacamata hitam dan menampakan wajah dingin mereka.
Tangan Emily berkeringat ketika melihat wajah arogant dari seorang yang bernama Jhon Alexander. Lelaki paruh baya itu kemudian masuk bersama Nathan dan Emily hanya bisa menunggu di luar. Hanya sepuluh menit, Jhon Alexander langsung meninggal perusahaan.
Emily tak punya teman, di perusahaan ini tidak ada waktu untuk saling mengobrol satu sama lain. Nathan dan Fredy tak kunjung kembali ke ruangan. Emily melirik jam yang melingkar di tangan nya. "Masih dua jam lagi untuk pulang." keluh Emily membuang nafas kasar. Wanita itu kembali melanjutkan pekerjaan nya.
Di lain tempat, ketika Edwin dan Darren mengadakan pertemuan dengan klien mereka di sebuah restoran ternama, Edwin merasa risih dengan tatapan nakal dari beberapa orang wanita.
Setelah klien nya pergi, Edwin dan Darren tak kunjung pergi karena sejak tadi mereka belum makan siang. "Emily mengirimi ku pesan," ucap Edwin ketika membuka ponsel nya.
"Pesan apa?" tanya singkat Darren yang penasaran.
"Dia sudah melihat Jhon Alexander...!" ujar Edwin memberi tahu.
ada sesuatu yang sedang Edwin rencanakan, bahkan Darren sendiri tak bisa menebak nya. Ada hubungan apa keluarga Egalia dan Alexander? Darren tak berani bertanya lebih dalam lagi.
"Aku begitu jijik dengan tatapan kelaparan dari perempuan-perempuan itu....!" Edwin sangat kesal, mau di mana pun dia berada pasti ada saja mata gatal yang menatap nya.
Seorang wanita dengan berani berjalan maju menunu arah meja mereka. Edwin terus memandang dengan sorot mata tajam bahkan wajah dingin nya menampakan kilau menakutkan.
"Boleh aku duduk?" ucap wanita itu dengan suara menggoda nya. Tato burung terpampang nyata di bagian atas dadanya.
Darren membuang pandangan nya, lelaki itu malah mengangkat gelas dan meminum nya.
"Siapa kau berani duduk dengan ku?" suara dingin itu mampu membuat tulang wanita itu sedikit bergetar.
"Aku akan memberikan servis yang memuaskan!" ucap nya tidak sopan hingga membuat telinga Edwin gatal.
Seringai mencibir tampak dari wajah tampan Edwin. "Berapa harga mu?" pertanyaan Edwin membuat wanita itu senang, bahkan wanita itu memberanikan diri untuk duduk tanpa perintah di samping Edwin. "Aku tidak memberi mu perintah untuk duduk di kursi ku! harga kursi ini jauh lebih tinggi dari pada harga diri mu...!" cibir Edwin membuat wanita itu menatap tidak suka pada Edwin. "Berdiri....!" bentak Edwin dengan suara tinggi nya hingga membuat semua orang menoleh ke arah mereka.
mampu menusuk mata wanita itu dalam. Darren hanya menonton dan mendengar pertunjukan gratis yang ada di depan nya ini.
Tiba-tiba, Emily datang dan langsung menyapa Edwin dan Fredy. Wanita itu terkejut, ia memandang tidak suka pada wanita yang masih mengenakan pakaian kerja itu.
Edwin berdiri, menarikan kursi untuk Emily. "Terimakasih..." ucap Emily dengan senyum termanis nya.
"Hah...! selera kau sungguh rendahan!" ucap wanita itu menatap jijik ke arah Emily.
"Siapa yang kau bilang rendahan?" tanya suara dingin itu bahkan ke dua tangan nya mengepal erat.
"Edwin, ada apa ini?" tanya Emily kebingungan.
"Sudah, kau diam saja." tegur Darren "Kita sebaiknya menjadi penonton yang baik...!" tukas pria itu kembali.
Mulut wanita itu menganga, mata nya melotot tidak percaya ketika mendengar Emily menyebut nama Edwin. "A-anda...tuan Edwin Egalia....?" tanya nya dengan suara bergetar. Seketika wanita itu berlutut di bawah kaki Edwin, ia sudah salah menangkap mangsa.
"Kau salah satu anak mamy brid, aku akan membuat semua anak-anak mamy bird berlutut sama seperti mu!" ujar Edwin lalu menarik tangan Emily kemudian pergi. Darren langsung mengejar ke dua manusia itu, sedangkan wanita itu merasa tubuh nya lemas tak berdaya.
Benar saja, tak sampai satu jam bar Casa de Egalia sudah di penuhi oleh anak-anak mamy bird. Semua orang mengutuk keras pada orang yang telah menyinggung salah satu petinggi Egalia. Bahkan mamy bird yang tidak pernah keluar kandang harus di buat kalang kabut akibat ulah salah satu anak asuh nya.
"Kenapa kau mengajak ku ke sini?" tanya Emily bingung.
"Lihat lah,..." ujar Edwin, "Satu orang yang berbuat semua yang akan bertanggung jawab." timpal pria itu senang. Hari ini secara tidak langsung Edwin mendapatkan mainan yang mengasyikkan.
"Apa mereka semua perempuan........?" Emily tak kuasa melanjutkan perkataan nya. Wanita itu seakan geli melihat sejenis dia yang tanpa punya malu dan harga diri mengemis seperti ini.
"Mereka semua akan akan memiliki tato burung di bagain atas dada mereka. Mereka tidak akan bisa keluar dengan mudah. Jika mereka kabur, maka nyawa adalah taruhan nya." Edwin menjelaskan sekelompok manusia yang ada di depan nya. "Ayo pergi,...mata mu akan ternodai nanti..." ajak Edwin, sedangkan Darren akan membersihkan sisa nya. Edwin hanya menggertak mereka, membuat takut sebagai permainan nya.
Jangan di tanya nasib wanita yang menganggu Edwin, wanita itu telah di hajar secara sadis dan tak di beri ampun. Nathan mendengar kehebohan yang terjadi sore ini, sebagai salah satu keluarga penguasa, tak heran bagi mereka mendengar kabar seperti itu.
Edwin mengantar Emily kembali ke apartemen nya, sudah cukup bagi Emily melihat kekuasaan yang di miliki Edwin. Wanita itu mengguyur tubuh nya dengan air dingin, ingatan nya kembali pada adik nya.
"Jika suatu hari Nathan mengetahui aku adalah kakaknya, apa dia akan menerima ku?" batin Emily sambil merasakan dingin nya air menusuk kulit putih nya. Melihat wajah arogant Jhon Alexander, nyali Emily seakan menciut.
"Mereka tidak ada mirip nya, apa Nathan tahu jika dia bukan anak kandung dari Jhon Alexander?" sambil mengenakan kimono nya, Emily terus bergumam pada diri nya sendiri. Rasa penasaran kini mencuat di benak wanita itu. Emily mengambil air hangat, meneguk nya sedikit-sedikit sambil menerawang rencana apa yang akan ia lakukan.