Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
48.Tidak Ada Malam Pertama



Tidak ada malam pertama, pesta selesai tepat di pukul dua belas malam karena tamu sangat menikmati acara pernikahan Edwin dan Emily. Di bantu Carry, wanita itu sudah tidak kuat membawa gaun pengantin nya yang cukup panjang itu.


"Wuaaah....Edwin adalah duda berpengalaman. Lelaki itu tahu bagaimana memilih kamar pengantin yang luar biasa indah ini." Carry sangat kagum dengan desain kamar pengantin Edwin dan Emily.


"Aku tidak peduli, aku hanya ingin istirahat sekarang." ujar Emily sambil memijat pelan betis nya yang sakit.


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi ke kamar ku. Jangan lupa nikmati malam pertama mu. Jangan lupa juga kunci kamar mu!" bisik Carry membuat ke dua mata Emily terbelalak. Carry tertawa mengejek sahabat nya. Bahkan ketika wanita itu keluar dari kamar Emily, Carry terus saja mengejek nya.


Emily mulai panik sekarang, jika ada pernikahan sudah tentu ada malam pertama. Wanita itu gelisah, meremas tangan nya yang sudah panas dingin. Tiba-tiba saja Edwin masuk ke dalam kamar, membuat wanita terkejut bukan main.


"Ngapain di sini?" tanya Emily bingung membuat Edwin mengerutkan dahi nya dalam.


"Kita suami istri, sudah sewajarnya kita satu kamar." kata Edwin sambil melepas jas nya.


"Aku akan pergi mandi, jangan mengintip ku!"


"Bee,...ini sudah tengah malam. Jangan mandi, bersihkan saja riasan mu." ujar Edwin.


"Aku tidak bisa tidur jika tubuh lengket seperti ini." Kata Emily kemudian wanita itu bergegas pergi ke kamar mandi. Ketika diri nya hendak melepas resleting panjang yang berada di gaun bagian belakang tangan Emily tidak sampai.


Cukup lama wanita itu berada di dalam kamar mandi, membuat Edwin gelisah dan khawatir. "Bee,...apa yang kau lakukan di dalam sana? kenapa lama sekali?" tanya Edwin dari balik pintu.


Emily membuka pintu kamar mandi pelan, mendongakan kepala ke luar, "Apa aku bisa meminta tolong?" tanya wanita itu dengan senyum cengir nya.


Edwin mengerutkan ke dua alis nya, "Minta tolong apa? lalu kenapa wajah mu masih menggunakan riasan?" tanya Edwin bingung.


"Tolong bantu aku untuk membuka resleting gaun ini." kata Emily tanpa malu lagi.


Edwin langsung menghembuskan nafas panjang, ikut masuk ke dalam kamar mandi. "Kenapa tidak dari tadi sih bee....?" ujar Edwin sambil membuka resleting tersebut. "Sudah...!" seru pria itu.


"Kalau begitu cepat keluar!" Emily mengusir suami nya.


Beberapa menit kemudian Emily sudah bersih dan juga sudah mengenakan piyama tidur nya. Kali ini gantian Edwin yang hanya sekedar mencuci wajah nya juga mengganti pakaian yang sama dengan istri nya.


"Bukan kah kau sangat lelah bee? lalu kenapa kau masih duduk di situ?" tanya Edwin sambil naik ke atas tempat tidur.


"A-aku,......!" wanita itu gugup.


"Cepat kemari bee,..." ujar Edwin sambil mengulurkan tangan nya. "Cepat beee....!" sekali lagi Edwin memanggil istri nya. Dengan ragu Emily naik keatas tempat tidur, merebahkan diri kemudian langsung di peluk oleh Edwin. "Malam ini kita akan beristirahat, tidur lah bee, aku tidak akan berbuat macam-macam. Tapi, jangan salahkan aku untuk malam selanjutnya!" bisik Edwin di telinga istri nya hingga membuat bulu kuduk wanita itu berdiri.


Secepatnya, Emily memejamkan mata dalam pelukan suami nya. Tak butuh waktu lama, bunyi dengkuran halus keluar dari bibir tipis itu. Edwin tersenyum, pria itu kemudian memejamkan mata menyusul istri nya yang sudah pergi ke alam mimpi.


Di pagi hari nya, semua orang mulai sibuk berkemas untuk kembali ke rumah masing-masing. Hanya tinggal Edwin dan Emily yang sampai sekarang belum bangun juga.


Sudah pukul sembilan pagi, namun pasangan pengantin baru itu belum bangun juga. Kepala Emily terasa pusing, wanita itu mulai mengejapkan mata nya saat nafas nya terasa sesak. Ternyata, tangan kekar Edwin melingkar di perut wanita itu. Emily mencoba memindahkan tangan suami nya, namun tiba-tiba Edwin terbangun.


"Selamat pagi istri ku..." ucap nya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Pa-pagi juga suami ku...!" balas Emily terasa menggelitik di telinga Edwin. Bukan nya bangun, Edwin malah memeluk istri nya dengan sangat erat. Membuat wanita itu hanya pasrah dengan apa yang di buat lelaki yang sudah resmi menjadi suami nya itu. "Aku ingin mandi sayang, aku juga lapar!" keluh Emily sambil memegang perut nya.


Sebagai suami yang baik, Edwin langsung melepaskan pelukan nya dan menyuruh istri pergi mandi. Sungguh, aura pengantin baru serasa sangar berbeda. Edwin di buat terpesona dengan istri nya sendiri.


Kali ini, pasangan pengantin itu sudah rapi dan bersiap untuk sarapan. Hanya sarapan di kamar, dengan hidangan berkelas tapi itu sangat berlebihan kata Emily. Pasangan suami istri itu akhirnya sarapan bersama, sambil menikmati indahnya hamparan lautan luas.


"Kita akan pulang besok bee,...aku ingin menghabiskan waktu bersama mu hari ini sebelum kau pindah ke rumah utama." ujar Edwin membuat Emily menghentikan aktifitas makan nya.


"Pindah....!" Emily mengulangi kata pindah.


"Ya,...semua barang-barang mu sudah di pindahkan ke rumah utama sejak kemarin. Daddy meminta kita untuk tinggal bersama nya. Apa kau keberatan?" tanya Edwin.


"Tidak, aku tidak keberatan sama sekali. Daddy sangat kesepian. Sudah selayaknya kita sebagai anak menemani orang tua kita di masa tua nya." kata Emily membuat Edwin merasa terharu. Edwin menarik tangan istrinya, tersenyum hangat seolah pria itu beruntung memiliki istri yang tepat.