
"Sebaiknya kau sedikit menjaga jarak dengan keluarga Alexander!" peringatan Catrina membuat Emily tertawa masam.
"Siapa kau berani melarang ku?" tanya nya dengan nada sinis.
"Aku adalah calon istri Nathan!" seru nya membuat Emily tertawa terbahak-bahak. Catrina tidak suka, wanita itu seakan terhina dengan sikap Emily. "Jika aku sudah menjadi nyonya muda di keluarga Alexander, aku akan memecat mu bahkan kau sendiri tidak akan mendapatkan pekerjaan di mana pun..." Catrina berkata dengan penuh ancaman, namun tetap saja Emily hanya menganggap nya dengan tawa.
"Dan kau tidak tahu siapa aku. Aku adalah orang pertama yang akan menolak pernikahan kalian!" ucapan Emily membuat Catrina tertawa mengejek.
"Siapa kau? berani sekali kau berbicara sombong seperti itu...!"
"Siapa pun aku, itu tidak penting...!" sahut Emily kemudian pergi meninggalkan Catrina yang masih berdiri mematung di parkiran.
Catrina mengepalkan ke dua tinjunya, baru kali ini diri nya mendapatkan perlawanan dari seorang Sekretaris rendahan seperti Emily. Catrina memilih pergi karena Nathan belum masuk kantor.
Sedangkan Emily, pergi makan siang bersama Edwin yang sudah menunggu nya di restoran tempat biasa. Emily membuang nafas kasar ketika ia baru saja mendaratkan tubuh nya di kursi depan Edwin. Edwin yang melihat wajah kesal dari Emily langsung mengerutkan keningnya.
"Siapa yang membuat mu kesal?" tanya Edwin penuh selidik.
"Mantan istri mu...!" jawab Emily dengan memutar bola mata nya jengah.
"Ada apa? apa dia mengganggu mu?" kini intonasi suara Edwin berubah tidak suka.
"Ya, dia memperingati ku agar menjauhi keluarga Alexander." Emily berkata jujur dan apa ada nya. "Sayang,...aku tidak ingin adik ku masuk dalam perangkap mantan istri mu." kali ini wajah Emily terlihat seperti memohon bantuan.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan keluarga Andreson memanfaatkan adik mu." ujar Edwin membuat senyum Emily mengembangkan. Namun senyum itu tiba-tiba redup ketika dua orang wanita datang menghampiri Edwin.
"Aku heran, sebenarnya kalian berdua ini ada hubungan apa?" tanya Nadia menahan emosi nya.
Emily kembali memutar bola mata, wanita itu sangat kesal pada Nadia. "Dia calon suami ku.!" seru nya membuat gelak tawa Nadia keluar begitu saja.
"Ckck...jangan bercanda kau? bukan kah kau hanya seorang tukang pel di kantor Edwin?" Nadia kembali mengejek pekerjaan Emily.
"Emily benar, aku calon suami nya. Jadi, ku harap kau sadar diri dan jangan datang mencari ku!" ucapan yang keluar dari mulut Edwin membuat Nadia terdiam sambil mengepalkan ke dua tangan nya menahan emosi.
"Edwin, dulu aku pasrah ketika kau menikah dengan Catrina, kali ini aku akan benar-benar memperjuangkan mu!" ucap nya penuh penekanan lalu meninggalkan Edwin dan Emily.
"Seperti nya dia serius dengan ucapan nya!" gumam Emily sambil melirik Edwin.
"Bee,...aku adalah orang yang sulit untuk jatuh cinta. Tapi, jika orang itu berani mempermainkan ku, aku akan mempermainkan orang itu seperti boneka." sorot tajam yang terpancar dari mata Edwin membuat Emily tak bisa menelan makanannya.
"Sayang,.mata mu." tegur Emily takut.
"Kenapa dengan mata ku?" Edwin bertanya bingung.
"Bee,..bukankah kau hanya berkerja setengah hari?"
"Ya sayang ku, ada apa?" tanya Emily penasaran.
"Aku lelah dengan pekerjaan ku akhir-akhir ini, bisakah kau ikut ku pergi ke suatu tempat?" ajak Edwin langsung di iya kan oleh Emily.
Edwin dan Emily kemudian pergi, perjalanan kurang lebih memakan waktu satu jam lebih. Emily sedikit kelelahan namun iya tahu jika Edwin jauh lebih lelah. "Bee,..apa kau lelah?" tanya Edwin merasa tidak enak hati.
"Tidak sayang ku, kau jauh lebih lelah." ucap Emily dengan senyum manis nya.
Mata Emily cerah ketika mobil mereka memasuki kawasan bukit yang memiliki pemandangan yang sangat luar biasa. Bahkan wanita itu membuka kaca mobil sambil menikmati hembusan angin segar. Edwin mencari parkiran, kemudian keluar mengajak Emily duduk di puncak bukit.
"Kau selalu tahu tempat indah sayang." puji Emily.
"Segala nya untuk mu!" seru Edwin.
"Ku harap keindahan ini selalu menghiasi hari-hari kita. Aku sudah banyak menelan pahitnya kehidupan, apa aku egois jika meminta yang lebih sedikit?" Emily kembali menerawang masa lalu nya.
Tanpa sadar kepala Emily bersandar di pundak Edwin. Ada rasa nyaman ketika ia mendaratkan kepalanya di bahu lelaki itu. Emily memejamkan mata nya, membiarkan hembusan angin masuk menembus kulit mulus nya.
"Kau berhak bahagia bee,.." ucap Edwin begitu menghangatkan hati Emily.
"Sayang, tolong jangan patahkan hati ku. Aku sudah sering di patahkan oleh takdir dan nasib. Aku selalu berdoa jika kau adalah takdir kebahagiaan ku." ucap Emily membuat Edwin terdiam, lelaki itu dapat merasakan cinta terdalam dari Emily.
"Kita jalani saja dulu, sebagai manusia biasa aku tidak bisa menebak apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi, ku harap kau bisa mengerti dan menerima jika suatu saat aku terlihat salah di depan mu." lagi-lagi, perkataan Edwin membuat benak Emily bertanya-tanya.
Senja kali ini menghangatkan, angin musim gugur menambah syahdu suasana di atas bukit itu. Edwin memeluk erat Emily, saling memberikan kehangatan yang selama ini belum pernah mereka rasakan.
"Waktu, tolong berhenti sejenak, aku ingin menikmati kehangatan ini sedikit lebih lama." batin Emily yang tak terasa cairan bening itu mengalir begitu saja. Punggung tangan Edwin dapat merasakan air mata yang jatuh membasahi tangan Edwin.
"Bee, apa kau menangis?" tanya Edwin lalu menatap wajah Emily.
Emily menarik nafas dalam, lalu berkata. "Aku bahagia memiliki mu honey.." ucap Emily lalu wanita itu memberanikan diri untuk mencium pipi Edwin. Emily langsung membuang mukanya, menahan malu karena telah mencuri pipi Edwin. Jantung ke dua nya berdetak begitu hebat, Edwin yang sudah mabuk kepayang langsung menarik wajah Emily lalu meraup bibir merah jambu itu. Sejenak Emily terdiam, tubuh nya mati rasa sedangkan hati nya gugup tak terkira.
Nafas Emily tersengal-sengal ketika wanita itu tak bisa membalas ciuman Edwin. "Bernafas bee, kau akan mati..." tegur Edwin, Emily hanya menatap netra mata milik Edwin. Jantung nya masih berpacu sangat kencang, Emily tidak menyangka jika cium yang ia berikan diri pipi Edwin di balas lebih dalam oleh lelaki itu.
"Aku tidak pernah bercium!" ucap Emily dengan polosnya. Rona merah di pipinya tak dapat ia sembunyikan.
Edwin tersenyum senang, baru kali ini ia mendapatkan seorang perempuan yang sangat polos seperti ini. "Aku akan mengajari mu." kata-kata Edwin membuat tubuh Emily kembali kaku. Edwin meraup kembali bibir merah jambu yang pemilik nya masih sibuk menata hati dan jantung yang tak karuan.
Detik selanjutnya, Emily mulai menerima permainan Edwin Yang bergrilya membuat sensasi aneh yang dirasakan oleh Emily. Wanita itu mulai membalas ciuman Edwin, membuat Edwin semakin bersemangat mencumbu wanita itu. Dengan di suguhi oleh langit jingga saat senja, di tambah hembusan angin membuat syahdu saat itu. Ciuman hangat membuat ke dua nya sejenak melupakan rasa segala beban pikiran mereka.