Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
30.Khawatir



"Bee, aku sudah mendengar semua nya dari Carry, apa kau baik-baik saja? apa mereka melukai mu?" Edwin bertanya sambil menatap mata Emily.


Emily tersenyum, cantik sekali. "Aku baik-baik saja honey,...mereka tidak akan bisa menyentuh ku." Emily merebahkan kepala nya di pundak Edwin. Wanita itu juga menceritakan apa yang sudah terjadi di dalam ruangan Nathan hingga membuat gelak tawa Edwin memecah di ruang tamu apartemen Emily.


"Bee,...ini lah alasan kenapa aku suka mempermainkan mereka berdua. Mereka itu lucu Bee,..Darren bahkan suka melihat pertunjukan itu." Edwin memberitahu Emily.


"Kau dan Darren sama saja. Begitu juga dengan Nathan dan Fredy, kalian semua sama saja." ujar Emily bergeleng kepala.


"Terkadang hal seperti itu adalah hiburan di saat pekerjaan yang melelahkan bee." sahut Edwin sambil memainkan anak rambut Emily. "Bee,...bagaimana jika kita menikah saja?" tiba-tiba Edwin membuka penawaran nya.


Emily langsung mengubah posisi duduk nya, menatap Edwin dengan wajah serius. "Sayang ku,..setiap perempuan pasti sangat senang jika ada laki-laki yang serius pada nya. Tapi, aku ingin menuntaskan masalah ku terlebih dahulu sebelum menikah."


Edwin tersenyum, mengusap lembut rambut Emily. "Aku mengerti, secepatnya masalah mu akan segera selesai." kali ini otak Edwin harus benar-benar berpikir jelas.Sehari saja tidak bertemu dengan Emily, Edwin merasakan hati nya kosong. Dirinya sudah mendapatkan lampu hijau dari Theo, membuat lelaki itu berani mengajak Emily untuk menikah.


Malam berganti pagi, pagi ini Emily ada meeting dengan klien dari luar negeri. Nathan dan Fredy sudah berangkat ke hotel tempat di mana klien mereka menginap. Klien tersebut adalah seorang wanita paruh baya dengan keanggunan dan wajah nya tamapk awet muda juga terurus. Dia membawa Asisten pribadi dan Sekretaris pribadi nya.


Nathan dan wanita itu berdiri saling memperkenalkan diri. "Perkenalkan Mrs. nama saya Nathan dan ini Asisten juga Sekretaris pribadi saya."


"Hallo mr. Nathan, nama saya Rosalinda Xiverry dan mereka berdua sama, Asisten dan Sekretaris pribadi saya." wanita itu membuka suara hingga membuat Emily terkejut. Dirinya pernah mendengar nama Rosalinda Xiverry dari Edwin sebelum nya.


"Dia,...dia adalah dalang dari kecelakaan adik ku." Emily berkata dalam hati dengan tingkat kekhawatiran yang tinggi.


"Hei...nona cantik, siapa nama mu?" tanya Rosalinda dengan suara lembut nya.


"Hallo mrs. Linda, nama saya Emily." Emily memperkenalkan diri.


"Kalian sangat mirip, seperti adik kakak!" seru nya membuat Nathan dan Emily saling lirik.


"Aaa...ahaaa...." Nathan sedikit tertawa, "Tidak mrs. Linda, Emily hanya Sekretaris saya." sahut Nathan memperjelas.


"Aku kakak mu adik ku sayang." batin Emily menyahut.


Mereka kemudian mulai membahas kerja sama, sepanjang pembahasan itu Emily benar-benar tidak fokus bahkan diri nya sangat gelisah. Terlihat sekali jika dari gaya bicara Rosalinda ini, ia adalah wanita yang licik.


Meeting selesai, sepanjang perjalanan pulang ke kantor Emily hanya diam termenung. "Kau kenapa Em? apa kau sakit?" tanya Fredy dari kursi kemudi.


"Tidak, aku baik-baik saja." jawab wanita itu mamaksakan senyum nya.


"Sejak meeting tadi, kau terlihat sangat gelisah. Ada apa?" tanya Fredy penasaran sedangkan Nathan hanya mendengar dari kursi belakang.


"Aku merasa jika mrs.Rosalinda bukan orang baik." ucap nya tanpa ragu membuat Nathan dan Fredy kebingungan.


"Tidak tuan, tapi anda harus hati-hati dengan mrs.Rosalinda." Emily mencoba memperingatkan. Nathan dan Fredy tidak mau berprasangka buruk. Mereka hanya menanggapi dengan diam. "Apa tuan Jhon tidak memberitahu Nathan tentang Rosalinda?" batin Emily berkecamuk, banyak pertanyaan dan kekhawatiran menghantui wanita itu.


Sesampainya di kantor, Emily bekerja dengan tidak tenang. Wanita jelas memikirkan keselamatan adik nya. Dan pada akhirnya jam pulang kantor tiba. Emily langsung janjian mengajak Edwin untuk bertemu. Di cafe yang tak jauh dari apartemen, wanita itu mulai menceritakan kegundahan di hati nya.


"Dia mulai bergerak, perempuan itu akan membalas dendam pada Jhon melalui adik mu." ujar Edwin semakin membuat Emily ketakutan. "Tidak usah khawatir, aku akan membantu adik mu. Yang ku perlukan, aku hanya butuh kepercayaan dari mu." ucap Edwin dengan sorot mata serius nya.


"Honey,...aku mengkhawatirkan adik ku!" lirih Emily tak bersemangat.


"Tenang bee...tenang...jika kau tidak tenang, maka aku akan menemani mu tidur malam ini."Edwin menggoda jelas mendapatkan tatapan mematikan dari Emily.


"Coba saja! akan ku hajar kau!" ucap Emily kesal. Edwin tertawa, mencubit manis pipi Emily. "Malu ah..." tegur Emily berbisik pelan.


Namun masih saja Edwin menggoda kekasihnya. Sungguh, bercanda dengan orang yang di cintai di kala tubuh merasakan lelah adalah obat mujarab bagi Edwin. Kekosongan yang selama ini ada di benak nya kini hangat terasa sejak kehadiran Emily.


Pukul delapan malam, selesai makan malam Edwin menemui Theo. Lelaki itu duduk di sofa sudut kamar sang Daddy. "Daddy,...apa Daddy ingin mendengar kabar baru?" Edwin sedikit bercanda.


"Kabar apa?" tanya Theo menanggapi.


"Rosalinda Xiverry sudah mulai masuk ke keluarga Alexander." jawab Edwin membuat Theo tersentak kaget.


"Apa maksud mu Edwin?" tanya Theo lalu mematikan televisi nya.


"Emily melakukan meeting dengan perempuan itu." Edwin memberitahu. "Aku yakin jika dia berhasil masuk ke dalam keluarga Alexander melalui Nathan, dia akan masuk juga ke dalam keluarga Egalia.Dad,...jika kau tidak ingin menceritakan masa lalu mu, tidak apa. Tapi ku harap kau dan uncle Jhon bisa mengatasi ini." Edwin kemudian keluar dari kamar Theo, lelaki itu memutuskan untuk pergi ke suatu tempat.


Bertemu kembali dengan Jhon Alexander, lagi-lagi, Jhon mencibir permintaan Edwin yang mengajak nya untuk bertemu. "Kau bisa mencibir ku sesuka hati uncle, tapi kau akan terkejut dengan kabar yang aku bawa ini."


"Paling juga kau meminta ku dengan hal yang sama seperti waktu itu...!" seru Jhon mencibir.


Edwin tertawa renyah, "Apa uncle tahu jika Nathan sedang melakukan kerja sama dengan Rosalinda Xiverry?" tanya Edwin membuat senyum sombong Jhon memudar. Selama ini Jhon dan Theo memang bermusuhan, namun mereka tidak melibatkan anak-anak mereka.


"Jangan mengada-ngada kau Edwin.." suara berat Jhon mulai menandakan keseriusan.


"Uncle bisa tanya sendiri pada Nathan. Bahkan Emily juga ikut meeting bersama mereka tadi pagi." ucapan Edwin membuat Jhon terdiam.


"Sepertinya kekasih mu itu bisa di andalkan.Bisakah kita bekerjasama?" perkataan Jhon membuat senyum di bibir Edwin melebar.


"Tidak bisakah uncle bekerjasama dengan Daddy? bukankah ini masalah kalian, lalu kenapa harus melibatkan kami?" Jhon langsung terdiam, ke dua bola mata nya menghitam.


"Akan ku pikirkan. Biar bagaimana pun, ini menyangkut keluarga Alexander dan keluarga Egalia." gumam nya. Jhon kemudian memutuskan untuk pulang, tengkuknya terasa sakit sekarang. Benar kata orang, jika masa lalu akan menjadi benalu di masa depan jika tidak di tangani dengan baik.