Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
52.Racun



Setiap orang, yang melihat Kedatangan Emily ke kantor langsung menundukkan kepala memberi hormat. Wanita itu merasa risih, namun Emily tidak dapat protes. Wanita itu, dulu hanya di pandang sebelah mata sebagai karyawan rendahan. Namun sekarang, status sosial wanita itu berubah setelah menikah dengan Edwin.


Emily menghembus nafa lega ketika wanita itu sudah masuk ke dalam lift bersama suami nya. "Kau kenapa bee?" tanya Edwin bingung.


"Aku sangat risih dengan pandangan semua orang." wanita itu berkata jujur. "Sayang, lain kali aku akan menunggu mu di rumah saja." kata Emily membuat Edwin menyunggingkan senyuman nya.


Di lain tempat, Rosalinda terus memandang tajam ke arah Nadia. Wanita paruh baya itu sudah lelah mengeluarkan umpatan nya sejak tadi. "Jika kau berani mundur dari kerjasama ini, aku akan membuat kau dan keluarga mu menjadi gelandang!" kata Rosalinda dengan wajah dingin nya.


"Tidak perlu mengingatkan ku nenek tua. Kau hanya perlu duduk manis dan menunggu hasil nya." Nadia menyahut dengan angkuh.


Rosalinda tertawa renyah, "Sama sekali tidak berhasil. Kau hanya sibuk mengurus diri mu dan aku penampilan mu yang kampungan itu." Rosalinda mencibir.Nadia mengepalkan ke dua tangan nya emosi, namun wanita itu tidak berani melawan karena perusahaan keluarga nya ada di bawah kendali Rosalinda.


Siang ini, Edwin mengajak istri nya pergi makan siang. Pria itu menggandeng tangan istri nya dengan penuh cinta, memasuki restoran mewah dengan sambutan pelayan yang sangat ramah.


"Bukan kah itu Edwin dan Emily...?" Nadia memberitahu Rosalinda. Wanita paruh baya itu langsung menoleh, seringai kebencian mulai menyala di mata nya. Melihat Edwin dan Emily sama saja mengingatkan nya pada Jhon dan Theo. Nadia semakin terbakar cemburu, Edwin memperlakukan Emily layak nya ratu.


"Kau cemburu?" Rosalinda berkata dengan senyum yang anggun.


"Aku telah bersusah payah menyingkirkan Catrina dalam hidup Edwin. Tapi malah perempuan jalan itu yang menikmati nya." wanita itu berkata dengan geram.


Nadia beranjak dari duduk nya, pergi ke ruang masak lalu mengajak seorang pelayan pergi ke tempat sepi. Pikiran wanita itu sudah kacau, di hati nya hanya ingin Emily mati.


"Tapi nona, saya tidak berani melakukan nya." pelayan itu menolak.


"Kau hanya bertugas mencampuri makanan itu dengan racun lalu biarkan pelayan lain nya yang mengantar ke meja mereka." Nadia masih menekan. "Ini bayaran mu jika kau berhasil melakukan nya." kata Nadia sambil mengeluarkan uang dalam tas nya. Sudah tentu pelayan itu tertarik dengan uang sebanyak itu.


"Tapi, dari mana saya mendapatkan racun itu?" pelayan wanita itu bertanya.


"Aku tidak mau tahu, ku rasa restoran semewah ini pasti menyimpan racun. Contoh nya racun tikus." ujar Nadia dengan seringai angkuh nya. "Ingat, hanya di makanan yang di pesan oleh perempuan itu." sekali lagi Nadia mengingatkan.


"Baik nona, saya akan melakukan nya." pelayan itu menerima tugas dari Nadia.


"Kau sudah menerima uang dari ku. Jika kau tidak melakukan nya aku akan mencari mu dan seluruh keluarga mu akan menderita." ancam Nadia hanya di tanggapi anggukan oleh pelayan tersebut.


Nadia berjalan keluar terlebih dahulu dari dalam toilet yang rusak. Kembali ke meje nya yang berjarak cukup jauh dari meja Edwin dan Emily yang masih menunggu makanan mereka datang.


"Dari mana kau? dasar tidak sopan!" Rosalinda menggertak wanita itu.


"Mari kita melihat pertunjukan sebentar lagi." kata Nadia dengan tawa jahat nya.


"Diam saja...!" seru Nadia kemudian mengubah posisi duduk nya di saat diri nya melihat pelayan yang berbeda mengantar makanan ke meja Edwin.


"Terimakasih..." ujar Emily.


"Ayo makan bee,...aku sudah sangat lapar." kata Edwin.


Sepasang suami istri itu kemudian makan bersama-sama di iringi dengan canda dan tawa. Nadia yang sedari tadi memperhatikan mereka rasa nya sudah tidak sabar untuk melihat kematian Emily.


"Apa yang sebenarnya kau rencanakan? kenapa kita melihat mereka makan?'' tanya Rosalinda tidak mengerti.


"Di dalam makanan yang di makan Emily, ada racun nya. Mungkin racun itu akan bekerja setelah perempuan jahanam itu pulang kerumah." kata Nadia dengan wajah geram nya.


"Dasar bodoh! kenapa kau melakukan nya dengan ceroboh seperti ini?" Rosalinda membentak Nadia dengan suara pelan.


"Pelayan itu tidak bisa mengenali ku, kau lihat wanita tua. Kita tidak berada di dalam jangkauan Cctv, dan aku menggunakan masker untuk mengajak pelayan itu bekerjasama." jelas Nadia membuat Rosalinda puas. Benar saja, mereka tidak berada dalam jangkauan cctv sekarang. "Gunakan masker ini, mari kita keluar dari Restoran ini." ujar Nadia langsung di setujui oleh Rosalinda.


Mereka keluar dengan santai nya, berjalan dengan sikap yang biasa saja. Restoran itu sangat ramai karena sekarang jam makan siang. Mungkin pelayan yang bodoh itu akan kebingungan jika diri nya di tangkap nanti.


Selesai makan siang, Edwin mengajak Emily untuk pulang. Wanita itu, mulai merasa pusing dan mual di tubuhnya. Sungguh, rencana Nadia kali ini tepat sasaran. Sebisa mungkin Emily bersikap biasa saja di depan suami nya karena tidak ingin melihat Edwin khawatir. Keringat mulai membasahi wajah nya, Emily benar-benar mual sekarang.


"Bee,...kau kenapa?" tanya Edwin.


"Aku baik-baik saja." kata wanita itu seraya mengumbar senyum nya.


Namun, baru saja mobil berhenti di depan rumah, Emily langsung turun dari dalam mobil dan langsung muntah-muntah. Edwin panik, apalagi sekarang istri nya sudah jatuh terkulai lemas di tanah. Edwin memanggil semua orang, Theo yang melihat menantu nya langsung syok.


"Pergi ke rumah sakit sekarang." perintah Edwin lalu memasukan kembali istri nya ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan, di dalam mulut Emily terus keluar cairan bercampur busa hingga membuat wajah wanita itu menjadi pucat. Edwin semakin panik, lelaki itu terus memerintahkan agar melajukan mobil nya secepat mungkin.


"Kau kenapa bee...? apa yang sudah terjadi?" pria itu bertanya dalam kegelisahan.


Untung saja jarak rumah utama dan rumah sakit milik Edwin tidak terlalu jauh. Emily langsung mendapatkan penanganan dari beberapa Dokter. Kali ini, Edwin mengepalkan tinju nya erat, pria itu tidak terima ketika Dokter mengatakan jika Emily keracunan bahkan racun yang bersarang dalam tubuh Emily adalah racun tikus yang sengaja di bubuhkan dalam makanan wanita itu.


Restoran itu, adalah tempat terakhir Emily makan bersama Edwin. Restoran itu langsung di boikot untuk penyelidikan, semua orang yang sedang makan di restoran tersebut langsung memutuskan untuk pergi dengan memuntahkan makanan yang sudah mereka makan.


Di lain tempat, Nadia dan Rosalinda merasa sangat puas karena telah membuat kekacauan. Namun tidak begitu puas setelah mendengar kabar jika Emily selamat dari racun yang menghantam tubuh nya itu.