Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
17.Hanya Iseng



Kharisma Edwin sudah tidak di ragukan, dengan menggunakan setelan jas yang di hatit khusus di tambah kilauan sepatu hitam yang menambah elegan penampilan pria itu. Garis rambut yang di sisir rapi juga aroma parfum maskulin yang menusuk rongga hidung Emily.


Jiwa wanita itu sejenak lepas dari raga nya ketika Edwin membukan pintu mobil untuk diri nya. Di bawah sinar bulan juga bintang yang bertabur seakan menyoraki mereka. Entah kenapa malam ini Edwin tiba-tiba mengajak nya makan malam dan ingin memperkenalkan seseorang pada Emily.


"Masuklah...!" seru Edwin namun Emily masih menikmati aroma yang menghangatkan hati nya. "Emily...masuk lah...!" sekali lagi, Edwin menegur wanita itu. Emily tersentak lalu bergagas masuk, wanita itu seakan kehilangan muka nya saat ini.


Pedal gas di lepas, Edwin mulai melajukan mobil yang hanya memiliki dua kursi itu. Lelaki itu sangat memikat malam ini, entah kenapa aura ketampanan nya naik berkali lipat.


"Apa kau sakit?" tanya suara bingung yang sejak tadi berselisik menatap wajah Emily.


"T-tidak,..." Emily gugup, wanita itu merasakan jika jantung nya saat ini berpacu sangat kencang. "Kita akan ketemu siapa?" tanya nya menstabilkan suasana.


"Papi....!" jawab singkat Edwin masih fokus pada kemudi nya.


Emily tersentak kaget, "A-apa,...." seketika wajah Emily berubah, "Edw,...jangan bercanda!" ujar wanita itu dengan tawa renyah nya.


"Aku serius!" seru Edwin semakin membuat jantung Emily berdetak sangat kencang.


Edwin hanya menyunggingkan senyum nya, lelaki itu tahu jika saat ini Emily sangat gugup bahkan tidak bisa berkata-kata lagi.


"Gandeng tangan ku..." ujar Edwin ketika mereka baru saja keluar dari mobil.


Masih sama, Emily belum sadar dengan permintaan Edwin. Wanita tak merespon, hingga membuat Edwin berinisiatif menggandeng tangan itu hingga membuat Emily semakin syok.


Wajah tegang itu dapat terlihat dengan jelas, Emily tak bisa bersuara saking gugup nya. Karpet merah terbentang panjang ketika Edwin dan Emily melenggang masuk ke dalam hotel itu. Mereka pergi ke restoran utama hotel bahkan Edwin mengajak nya makan malam di ruangan pribadi.


"Selama malam pi...." sapa Edwin pada lelaki paruh baya yang sudah menunggunya sejak tadi.


Theo mendongak, wajah nya seperti mengekspresikan sebuah keterkejutan ketika melihat Wajah Emily. Theo bergumam, seperti menyebut nama seseorang namun Edwin maupun Emily tidak bisa mendengar nya.


"Hallo tuan..." sapa Emily sopan, jantung nya masih berpacu sangat kencang takut jika kehadiran nya di tolak.


"Selamat Malam Emily,..." Theo membalas sapaan Emily. Suara berat namun bersahabat itu membuat Emily menghembuskan nafas lega. "Duduk lah..." perintah Theo.


Sebagai lelaki yang baik,Edwin menarikan kursi untuk Emily. Theo dapat melihat perlakuan putra nya itu, "Seperti nya Emily wanita yang cocok untuk Edwin." batin Theo penuh harap.


Hanya makan malam biasa,obrolan ringan yang tak membuat Emily merasa canggung. Seperti nya Theo cukup menyukai Emily, terlebih lagi ia merasakan ada daya tarik tersendiri dari Emily.Sedangkan Edwin merasa jengah, Emily dan papi nya melupakan diri nya begitu saja.


Malam ini, Edwin baru melihat sisi lain dari seorang Theo, mendengar gelak tawa papi nya membuat Edwin terdiam sejenak. "Aku berpacaran dengan Catrina dua tahun dan aku tidak pernah melihat papi tertawa seperti ini. Emily, kau wanita unik..." batin Edwin semakin terpikat.


Malam semakin larut, Edwin mengatar Emily pulang. Ketika sedang berdua seperti ini, hati Emily kembali merasakan desiran aneh yang tak dapat dia ungkapkan.


"Kenapa kau membawa ku bertemu dengan tuan Theo?" tanya Emily memberanikan diri.


"Jangan menempatkan seorang wanita pada posisi ternyaman jika suatu saat kau sendiri yang menghancurkan nya." tiba-tiba bibir tipis itu berucap hingga membuat Edwin menghentikan laju mobil nya.


"Apa aku seperti itu?" tanya Edwin, netra mata milik lelaki itu menatap manik mata lembut penuh kehangatan milik Emily. Tentu saja Emily spontan gugup. "Jawab aku, apa kau merasa nyaman dengan ku?" sekali lagi, Edwin melontarkan pertanyaan yang tak bisa di jawab oleh Emily.


Emily membuang pandangan nya ke luar jendela mobil, "Ayo pulang, sudah malam!" ucap nya pelan.


"Jawab aku dulu!" seru Edwin memaksa.


"A-aku,...aku tadi hanya bercanda." ujar wanita itu gugup.


"Tidak, kau sedang tidak bercanda." sahut Edwin.


Sejenak Emily terdiam, wanita itu kembali ingat nasihat Carry. "Carry benar, aku seharusnya tidak membawa hati ku jauh lebih dalam lagi." wajah Emily seketika berubah kusut, batin nya terus bergejolak pada penolakan.


"Emily..." suara Edwin membuyarkan lamunan Emily,wanita itu kembali sadar. "Kau kenapa?" tanya singkat lelaki itu.


"Aku sangat lelah, bisakah kau mempercepat mobil ini.?" suara pelan itu seakan menyimpan sebuah rahasia.


"Hmmm...baik lah!" Edwin tidak memaksa Emily, sebenarnya lelaki itu tahu jika Emily menyukai diri nya. Edwin hanya ingin tahu isi hati Emily yang sebenarnya, namun wanita itu selalu mengalihkan pembicaraan mereka.


Sesampainya di apartemen, Emily langsung mencuci wajah nya dan mengganti pakaian nya. Wanita itu naik ke atas tempat tidur, tidak lupa memandang foto adik nya yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi.


"Ayah, ibu,...bantu aku untuk bersatu dengan adik ku." doa nya memohon sebelum Emily. benar-benar memejamkan mata.


Hari yang melelahkan seperti biasa, Emily bergegas pergi ke kantor seperti biasa. Menyiapkan susu hangat namun kali ini berpasangan dengan kue pai susu keju yang sengaja ia beli di toko kue.


"Untuk sekarang, kakak tidak bisa memasak untuk mu. Mungkin nanti, setelah hari itu tiba." lirih Emily dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Wanita itu kembali ke meja nya yang berjarak hanya beberapa meter saja. Emily terus melihat jam, sudah pukul sembilan pagi namun Nathan maupun Fredy belum datang juga. Harapan nya hilang, semangat nya melemas, Emily menatap gelas susu itu dengan perasaan yang sangat sedih.


"Kenapa kau belum datang? kakak ingin melihat wajah mu sayang!" Emily mendengus lemas. Namun tiba-tiba Fredy membuka pintu dan Nathan masuk. Emily berdiri, memberi hormat pada Nathan.


"Kau yang membuat susu dan......?" Nathan bertanya sambil menunjuk benda di atas meja nya itu.


"Iya pak...." jawab Emily takut.


"Terimakasih, kau tahu kue kesukaan ku." ucap Nathan dengan senyum tulus nya.


Emily mendadak diam, seulas senyum yang ia tampilkan secara tidak sadar membuat hati Nathan sakit. Ada perasaan berbeda ketika Nathan melihat mata dan Senyum Emily.


"Siapa kau sebenarnya? kenapa aku merasa kita begitu dekat?" batin Nathan penuh dengan pertanyaan.