Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
15.Sebenarnya



Gigitan pertama dari buah apel itu mampu menghangatkan hati Nathan, entah kenapa lelaki itu seperti merasa ada datang setelah sekian lama merasakan kekosongan. Nathan menatap bekas gigitan apel tersebut, mata elang itu lalu melirik pada wanita yang masih sibuk dengan pekerjaan nya.


Ada rasa damai ketika Nathan melihat wajah Emily, wajah yang seakan tidak terasa asing di hati nya. Segelas susu yang masih hangat membuat pria itu tertegun sejenak. Entah kenapa rasa nya pagi ini sungguh beda. Nathan seperti merasakan rangkulan hangat yang tak bisa ia jelaskan.


"Lima menit lagi kita ada meeting." ucap Fredy namun Nathan tidak menggubris pemberitahuan Fredy. "Weeeh....apa kau sakit?" tanya Fredy mengejutkan Nathan.


"Tidak, aku baik-baik saja!" ucap nya dengan wajah bingung. "Ada apa?" tanya suara datar memancing mata Emily untuk menoleh ke arah mereka.


"Kita ada meeting." ulang Fredy heran.


"Kita berangkat sekarang." ujar Nathan lalu beranjak dari kursi emas nya. "Ajak dia...!" perintah Nathan.


Mereka bertiga kemudian pergi ke sebuah restoran ternama karena Nathan akan bertemu dengan Klien dari luar negeri. Emily duduk di meja yang berbeda, wanita itu terus memandang Nathan yang sangat mirip dengan ayah mereka.


Setengah jam, akhirnya meeting selesai. Klien sudah pergi namun tiba-tiba Emily memalingkan wajah nya ketika melihat seorang wanita yang berjalan ke arah Nathan.


"Catrina..." batin Emily terkejut ketika melihat mantan istri Edwin bergelayut mesra di lengan adik nya.


"Kau dan Emily kembali saja dulu, aku akan pergi dengan Catrina." perintah Nathan pada Fredy.


Fredy sebenarnya muak melihat sikap Catrina, Nathan yang tidak memiliki pengalaman tentang cinta sangat mudah di bodohi oleh wanita itu. Sepanjang perjalanan menuju kantor, otak Emily penuh dengan tanda tanya bahkan wanita itu sangat penasaran dengan hubungan Catrina dan adik nya.


Sesampainya di kantor, Emily kembali melakukan pekerjaannya. Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore dan sebentar lagi waktu nya pulang. Wanita itu mulai berkemas.


"Pulang saja, pekerjaan hari ini sudah selesai semua." ujar Fredy memberi tahu.


"Tapi masih setengah jam lagi." ujar Emily merasa tidak enak hati.


"Bos kita tidak akan kembali ke kantor," sahut lelaki itu.


Emily membuang nafas kasar, langkah kaki menyusuri trotoar yang cukup ramai dengan pejalan kaki. Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di samping wanita itu.


"Naik lah..." perintah pria dengan kacamata hitam itu. Sejenak Emily tertegun, mata nya terhipnotis dengan pesona seorang Edwin. "Heiii....ayo naik." ujar Edwin lalu Emily bergegas naik.


"Terimakasih..." ucap wanita itu masih menata hati yang terus berdebar.


"Apa mereka menyulitkan mu?" tanya Edwin khawatir.


"Tidak, semua baik-baik saja." jawab wanita itu lelah.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Edwin ketika melihat raut wajah Emily berubah.


"Sebenarnya, apa hubungan mantan istri mu dengan adik ku?" tanya Emily pelan agar tak menyinggung perasaan pria di samping nya.


"Entahlah, yang aku tahu Catrina terus mencoba masuk dalam keluarga Alexander. Keluarga Andreson memanfaatkan Catrina untuk masuk dalam keluarga itu." tutur Edwin membuat Emily terdiam.


"Jika adik ku kenapa-kenapa, bagaimana?" tanya nya takut.


"Aku akan melindungi adik mu dengan cara ku sendiri. Kau tidak usah memikirkan semua nya." Edwin mencoba menenangkan hati wanita yang ada di samping nya itu.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" ujar Emily.


"Bertanya lah!"


"Kenapa kau sangat baik pada ku?" tanya Emily dengan gurat serius.


Edwin membenarkan jas nya, lelaki itu sudah bisa menebak apa yang akan di pertanyaan oleh Emily. "Apa aku harus menjawab nya?" tanya Edwin balik membuat wanita itu mengernyitkan kening nya dalam.


"Jangan membuat seorang wanita terlalu nyaman jika pada akhirnya akan di acuhkan." ucapan Emily mampu membuat Edwin mati diam. Mata elang itu lekat mengunci manik mata dengan bulu lentik melambai.


"Jika ku katakan aku nyaman dengan mu bagaimana?" suara hangat itu mampu membuat seluruh tubuh Emly beku.


"Jangan bercanda perihal perasaan, aku telah banyak di kecewakan oleh kehidupan." sahut wanita itu. "Kebaikan mu selama ini belum bisa aku artikan, standar hidup kita berbeda dan aku yakin jika kau memiliki hal lain yang kau sembunyiin dari ku." timpal Emily dengan suara dingin nya.


Edwin menyeruput minumannya. "Kau terlalu pintar menebak." kekehan kecil itu memuat Emily bingung.


"Apa maksud mu?" tanya Emily heran.


"Di satu sisi, aku nyaman ketika bersama mu. Di sisi lain aku belum bisa menceritakan apa yang sedang aku rencanakan. Percayalah Emily, aku tidak akan membuat mu celaka atau pun kecewa. Meski aku tahu suatu hari nanti kau tidak bisa menelan penjelasan ku begitu saja." mata hitam itu memandang dengan serius bola mata cantik yang penuh dengan kebingungan.


"Kau orang baik, tapi aku tidak bisa menyelam lebih dalam pada kehidupan mu." ucap Emily pelan namun Edwin masih bisa mendengar nya dengan jelas.


"Makan lah, kau pasti lapar." Edwin mengalihkan obrolan mereka.


"Tidak, apa kau tahu Edw...Nathan dan Fredy seperti nya sedang menyelidiki ku." ucap wanita itu mulai gelisah mengingat kejadian tadi pagi.


"Kau tenang saja, mereka tidak akan menemukan masa lalu mu. Aku hanya membuka tempat di mana kau di lahirkan saja." ujar Edwin menenangkan hati Emily.


"Terimakasih..." ucap Emily.


"Di masa depan, jika terjadi sesuatu yang tidak bisa kau tangani, aku berjanji akan selalu ada untuk mu." ucapan itu terdengar sungguh-sungguh. Entah dorongan dari mana Edwin bisa mengucapkan janji itu.


Jingga mulai melukis di langit, selesai makan Edwin mengantar Emily pulang. Pria itu bahkan menyuruh dua orang untuk tinggal di apartemen dan lantai yang sama hanya untuk menjaga Emily.


Edwin tidak pulang, pria itu memilih menemui Darren yang sudah menunggu nya sejak tadi di tempat biasa mereka bertemu.


"Ada apa?" tanya singat lelaki yang lebih tua satu tahun dari Edwin.


"Aku dapat merasakan jika Emily sedang mengalami tekanan. Harapan nya untuk di akui sebagai kakak cukup besar. Katakan, bagaimana aku bisa tutup mata tidak untuk membantu nya?" ujar Edwin lalu menenggak anggur merah itu sedikit demi sedikit.


"Sikap mu yang seperti ini, apakah bisa ku katakan sebagai cinta?" tanya Darren balik.


"Apa yang sedang kau bicara kan?" suara dingin itu sudah biasa di dengar Darren.


"Aku bicara tentang ketertarikan mu pada Emily. Dulu, kau tidak memperlakukan Catrina seperti kau memperlakukan Emily. Jika ku tebak, kau sudah menemukan orang yang cocok sekarang." Darren bergumam hingga membuat Edwin terdiam. Pria itu sedang merasakan alunan nada hati yang hampir setiap saat memanggil nama Emily. Edwin tak menjawab, lelaki itu memilih pulang meninggalkan Darren sorang diri di tempat itu.