Perfect'S My Husband

Perfect'S My Husband
63.Siapa



"Siapa yang sedang kau sumpahi itu?" tanya Fredy yang tiba-tiba ada di belakang wanita itu.


Nadia langsung syok, wajah nya sangat gugup, "Astaga, aku ketahuan!" batin Nadia.


"Jawab, siapa?" tanya Fredy penuh penekanan.


"Kecoa...!" seru nya Nadia " Ya, tadi ada kecoa maka nya aku berdiri di sini sekarang." ujar nya mencari alasan.


"Benarkah yang kau katakan itu?" tanya Fredy dengan mengangkat sebelah alis nya.


"Ya, aku tidak bohong." kata Nadia berhasil menyakinkan Fredy.


Fredy kemudian masuk ke dalam ruangan, Nadia mencoba mengintip kata sandi namun tetap saja wanita itu tidak berhasil mendapatkan nya. Fredy menyunggingkan bibir atas nya, pria itu tahu apa yang baru saja di lakukan oleh Nadia.


Ternyata, Rosalinda kembali datang untuk membantu rencana Nadia. Wanita ini masih di buta kan oleh dendam, namun tetap saja diri nya tak sanggup untuk membalasnya karena yang di balas bukan lah orang-orang bodoh.


"Mrs. Rosalinda menginap di hotel xxx." Darren memberitahu Edwin.


"Tetap awasi mereka, jangan sampai mereka menyentuh istri ku." perintah Edwin.


"Kenapa uncle Theo dan Uncle Jhon tidak melakukan sesuatu pada nya?" tanya Darren cukup penasaran.


"Karena mereka berteman sangat lama, Daddy masih berharap jika Mrs.Rosalinda mau berubah dan menyadari kesalahan nya." jawab Edwin. "Tapi, aku tidak akan mengampuni mereka jika mereka melakukan sesuatu yang berlebihan." kata Edwin.


Tanpa sepengetahuan Edwin dan Darren, Emily mendengar semua percakapan mereka. Wanita itu sontak saja khawatir dengan keadaan semua orang yang berhubungan Dengan Rosalinda. Emily kembali ke kamar, sebisa mungkin Emily bersikap pura-pura tidak tahu.


Edwin masuk ke dalam kamar, menyuruh istri untuk segera mandi. Entah kenapa akhir-akhir ini Emily lebih senang mandi menggunakan sabun bayi. Bau nya yang lembut membuat Emily betah berlama-lama berada di kamar mandi.


Tak berapa Emily keluar menggunakan handuk setengah badan, rambut nya yang basah di biarkan tergerai membuat Edwin memandang nya penuh nafsu.


"Kau memancing ku bee?" tanya Edwin.


"Siapa yang memancing mu? aku kan baru selesai mandi." kata Emily dengan santai nya.


"Kalau begitu, cepat lah sedikit. Kita akan terlambat nanti." ujar Edwin melirik jam yang melingkar di tangan nya.


Mobil melaju dengan kecapatan sedang, menuju tempat di mana acara yang akan di hadiri oleh Edwin. Sekian bulan Emily hamil, baru sekarang lelaki itu mengajak istrinya untuk hadir. Banyak kamera yang menyoroti mereka, terutama bagian perut Emily yang kini sudah mulai terlihat.


Emily merasa risih, wanita itu tidak terbiasa seperti ini. Edwin yang paham langsung mencari tempat agar istri nya tidak di sorot kamera.


"Ayo pulang, aku tidak suka berada di sini." ajak Emily.


"Iya bee, ayo kita pulang." ujar Edwin yang mengerti dengan keadaan istri nya.


Mereka pulang, dari pada menghadiri acara pesta seperti itu Emily lebih senang memutari jalanan yang terlihat sangat ramai orang yang lalu lalang.


"Aku ingin makan itu." tunjuk Emily pada kedai yang menjual aneka jajan.


"Tapi bee, itu makanan pinggiran." Edwin menolak.


"Inti nya aku mau makan itu...!" rajuk Emily.


Edwin menghela nafas, lelaki itu mengalah dan mau menuruti kemauan istri nya. Edwin langsung memesan apa yang mau di makan oleh istrinya, lelaki itu sangat senang melihat Emily makan dengan begitu lahap nya. Namun, tanpa mereka sadar ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.