
JUST MARRIED
Tulisan itu terpasang di belakang mobil mewah berhiaskan bunga-bunga dan tule panjang berwarna putih menjuntai yang melintasi jalanan utama kota menuju ke sebuah rumah besar kediaman mewah tuan Sultan.
Di sepanjang perjalanan, sepasang pengantin baru yang baru selesai mengucap ijab kabul siang tadi duduk di belakang mobil dengan jarak berjauhan.
Sesekali Sara menghela nafas dengan berat. Matanya menatap keluar jendela mobil dengan ekspresi kebosanan Wajahnya tampak terlihat lelah tertutupi riasan pengantin yang cukup tebal.
Malik sesekali mencuri pandang diam-diam lewat kaca spion depan. Mencoba menerka apa isi kepala gadis yang terlihat polos namun hampir membuat dia dan ayahnya kehilangan muka dan martabat akibat pelariannya. Dan pula mencoba mengira-ngira hal apa yang membuat gadis itu betah duduk menatap kaca jendela mobil selama satu jam perjalanan mereka, tanpa suara.
Saat ponsel Sara berbunyi, keduanya terkejut. Malik segera menolehkan pandangannya ke arah jendela mobil sebelahnya.
Sara tersenyum sesaat setelah membaca pesan di ponselnya. Sementara Malik tak mau kalah, ia mengeluarkan ponsel canggih miliknya dan membaca email-email pekerjaannya.
Asisten Romi, yang merupakan asisten di kantor perusahaan S milik tuan Sultan, menyetir mobil sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat situasi yang canggung di belakangnya. Sepasang pengantin baru biasanya akan sibuk berdekatan, memadu kasih, atau apalah. Tapi tidak dengan pasangan ini. Sepasang pengantin ini sibuk dengan dunia mereka masing-masing.
***
Di rumah besar milik tuan Sultan,.
Tuan Sultan yang lebih dulu tiba menyambut Malik dan Sara.
"Aku sangat bahagia pernikahan ini berjalan lancar. Selamat ya, nak." ucap Tuan Sultan seraya memeluk anak kesayangannya.
"Mulai besok perusahaan Dad resmi kuserahkan untukmu, Malik. Kau aturlah banquet untuk mitra bisnis kita. Dad akan menikmati masa pensiun lebih awal", lanjutnya.
Sara melirik tajam ke Malik yang tersenyum, tampak patuh pada ayahnya.
"Oow..sekarang dia sah menjadi Presdir setelah menikah. Jadi itu alasannya. Dia mau menikahiku agar dapat menguasai perusahaan ayahnya. Licik!!!" batin Sara mengumpat pemuda yang memiliki tnggi tiga jengkal melebihi kepalanya
"Anakku Sara, beristirahatlah di kamar Malik di atas. Bibi Mei yang akan mengantarmu ke atas." Tuan Sultan berkata dengan sangat ramah pada Sara.
Sara menjawab dengan anggukan dan senyuman manisnya.
"Lewat sini, nyonya muda Sara.", seorang wanita tua kurus berpenampilan sangat sederhana tersenyum hangat padanya dan menunjukkan jalan menuju tangga.
Sara berjalan mengikuti wanita yang dipanggil bibi Mei itu.
Tuan Sultan menatap Malik, dilihatnya pandangan anaknya itu tidak lepas dari sosok Sara yang menaiki tangga hingga bayangannya hilang di balik dinding.
"Bagaimana, Malik?" tuan Sultan mengagetkannya.
"Apanya? Jika Dad berpikir aku akan menyukainya, itu mustahi. Dia bukan tipe-ku". jawab Malik cepat tanpa berpikir.
"Lalu?", tuan Sultan kembali memancing.
"Kami baru bertemu tadi, dan aku langsung melihat kekurang ajarannya yang sangat parah." elak Malik.
"Apa yang Dad lihat dari dirinya?". Heran Malik.
Sultan tersenyum lalu berkata,
"Aku melihat sosok ibumu dalam dirinya."
Malik tertegun. Ayahnya mengingatkannya akan ibunya yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Dan itu sangat menyakitkan.
"Lalu kenapa bukan Dad saja yang menikahinya.?" ketus Malik dengan nada tenang.
Tuan Sultan tertawa.
"Seandainya usiaku 10 tahun lebih muda, aku yang akan merebutnya dari tanganmu.", Tuan Sultan berkelakar.
"Keep dreaming, Dad. Jaga saja kesehatan jantungmu, Dad.", sahut Malik.
"Aku ingin beristirahat " ujar Malik segera meninggalkan ayahnya untuk menyusul Sara di atas.
***
Sementara di kamar Malik, Sara tengah asyik mengobrol dengan seseorang dengan ponselnya sambil tidur-tiduran di sofa besar empuk yang ada di ruangan itu.
Ia terkejut saat Malik memasuki kamar, lalu segera membetulkan posisi duduk manisnya.
"Ng...aku harap paket-paket itu bisa dikirim besok. Akan dikirim alamat para customernya malam nanti. Bye...". Sara memutus hubungan panggilan di ponselnya.
Malik menyerahkan sebuah dokumen dan pena pada Sara.
"Tanda tangani kontrak ini.". perintah Malik.
Sara mengambil dokumen itu dan langsung menandatanganinya.
"Sesuai kontrak yang tertulis disitu, pernikahan ini hanya untuk 1 tahun. Tidak ada yang akan merugi. Tidak ada hubungan se*s, atau sejenisnya. Dan aku tidak akan melakukan apa pun padamu karena aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita bar-bar yang suka berteriak dan memanjat pohon.". Jelas Malik.
Sara mengembalikan dokumen yang sudah ditanda tanganinya.
"Aku tidak akan mengurusi urusan pribadimu, dan kau juga harus begitu. Ingat, jaga batasanmu!". Sara memperingati Malik.
"Dasar Kera!!", batin Malik mengumpat.
"Deal!", Malik mengambil dokumen dari tangan Sara. Sara mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Malik menerima uluran tangan Sara yang masih terbalut sarung tangan putih
"Apa kau tidak membaca terlebih dahulu sebelum menandatangani ini?", Malik bertanya.
"Tidak perlu! Kau sudah menjelaskan intinya, dan aku sudah memahaminya." jawab Sara cuek.
"Kau yakin?" Malik bertanya sekali lagi karena baru kali ini ia bertemu dengan orang yang mudah sekali percaya dengan ucapannya, bahkan untuk urusan kehidupan seperti sekarang ini.
Padahal mereka bertemu baru beberapa jam saja.
Sara mengangguk penuh keyakinan.
Malik menyimpan dokumen itu di sebuah laci lemari pakaiannya.
"Aku ingin ke kamar mandi. Hiasan ini begitu menyiksaku. Wajahku terasa kaku dan gatal!" keluh Sara.
"Di sana!" Malik menunjuk sebuah pintu diujung ruangan itu tanpa menoleh.
Sara segera menuju kamar mandi.
Saat Malik melepas jas dan mengendurkan dasinya, pintu kamarnya berbunyi.
Tok! Tok! Tok!
"Tuan Muda Malik, ini bibi Mei."
Malik membuka pintu, "Ada apa,bi?"
"Tuan besar mengirimkan ini untuk tuan muda." Mei menyodorkan nampan berisi gelas berisi minuman.
Malik menerimanya dan mengucapkan terimakasih.
Bibi Mei terkejut saat Malik menutup pintu kamar dengan cepat tanpa ucapan lain. Tersenyum pun tidak. Lalu wanita tua itu menoleh ke belakang dan memberikan tanda 'OK' dengan jarinya pada tuan Sultan yang mengintip dari jauh.
Di dalam kamar, Malik mengamati minuman pemberian bibi Mei tadi. Dibauinya, lalu ia tersenyum sinis.
"Dad, apa-apaan ini!". Ia menggelengkan kepalanya seolah ia tahu apa maksud ayahnya memberikannya minuman itu.
Pintu kamar mandi berderit dan terbuka, Sara keluar dari sana. Malik menoleh.
Laksana memandang langit cerah dari atas pegunungan, pemudaitu terpana dengan penampilan Sara yang segar alami tanpa make up tebal, rambut ikal panjang yang dicepol ke atas, dan piyama panjang putih bermotif bunga kecil berwarna merah muda membalut kulit putih bening nan seksi.
"My God! Seandainya dia belum menandatangani kontrak tadi. Apa harus kusobek saja dokumen itu!" batin Malik menyesal.
*****
Tuan Muda Malik