
"Aku tak akan turun sebelum semua orang pergi!!! Batalkan pernikahan ini!!!". Teriak Sara mengancam dari atas pohon besar yang berada tak jauh dari rumahnya pada kerumunan orang yang mengejarnya dan menungguinya dari bawah pohon untuk turun.
Entah bagaimana caranya dia bisa naik ke atas dengan gaun pernikahan yang panjang, berlapis dan berat itu.
"Jika ada yang memanjat kesini, aku akan terjun dan mati!!", ia kembali mengancam saat ada seseorang datang membawa tangga ke arahnya. Semua terdiam. Tak berani bergerak.
"Sis, Apa yang kau lakukan?! kau membuat malu ayah dan ibu!" teriak Rena.
"Sara, turunlah, sayang.." bujuk perias pengantin utama.
Tuan Sultan berjalan bergegas mendekati kerumunan dan mendapati Sara berjongkok di dahan pohon yg yang cukup tinggi.
"Nona, apa masalahmu?!" Seru tuan Sultan dengan suara berat berwibawa dengan nada emosi.
Melihat tuan Sultan sendiri yang mendatanginya, sikap keras Sara melunak. Ia menaruh simpati dan rasa segan pada sosok pria dewasa yang berdiri di bawahnya. Selain karena ia atasan ayahnya, juga karena sikap ramah dan perhatian tuan Sultan yang memang sangat peduli pada semua orang.
"Tuan Sultan, maafkan aku. Aku sangat tersanjung dan merasa terhormat Anda memilihku menjadi menantu di keluarga Anda. Tapi aku benar-benar tidak siap!", Sara bicara dengan nada sopan pada tuan Sultan.
Mendengar nada bicara Sara yang perlahan, emosi tuan Sultan berkurang.
"Apa yang membuatmu tidak siap?", tanyanya dengan bijak.
"Tuan, aku ingin mandiri dan berkarir. Jika aku menikah sekarang, aku tak akan punya waktu untuk bekerja dan belajar lagi.
Aku sangat berterima kasih pada Anda karena telah membantu kami, tapi pernikahan ini tidak perlu dilanjutkan. Aku akan membayar semua kebaikan tuan pada keluargaku. Saat ini aku punya toko online, dan pemasukannya lumayan.". Sara menjelaskan dan mencoba bernegosiasi.
"Sis, ibu 2 kali pingsan karena ulahmu. Tolong turunlah!". Pinta Rena.
"Ibu..", raut wajah Sara berubah cemas.
"Tapi aku tidak mau menikahi pria cacat yang misterius!"
"Siapa yang kau sebut cacat??!!" terdengar bentakan dengan suara berat seorang pria dari kerumunan.
"Tentu saja putra tuan Sultan!!!", jawab Sara ikut membentak ke arah suara.
Pria yang berteriak membentak tadi terdiam. Matanya menatap Sara tajam dan alis tebalnya membuat raut wajahnya terlihat sangat menyeramkan. Giginya menggeratak mencoba menahan emosi.
"Keterlaluan!!",geramnya.
"Dad, kita pergi dari sini. Aku tidak akan menikahi seekor kera!!" teriaknya keras meminta tuan Sultan untuk pergi dari sana.
"Malik, anakku...tunggu!!". Tuan Sultan mendekati pemuda itu.
"Dad??"
"Anakku??". Rena dan Sara terkejut.
Sara dan Rena mengamati Malik dengan seksama dari atas hingga bawah.
Pemuda tinggi berbadan kekar dan tegap berkulit bersih, wajah tampan terlihat sedikit dewasa dengan rambut-rambut pendek halus di dagu dan rahang kuatnya. Benar-benar bagai pangeran dari kerajaan yang ada di film-film.
"Dia putra tuan Sultan. Dia tidak cacat. Dia normal dan sehat. Saaaangat sehat!!" Pikir Sara.
"Dad, keluarga kita sedang dipermalukan. Aku tidak bisa menerima ini.". Suaranya yang berat berwibawa terdengar santun pada tuan Sultan, ayahnya.
"Malik, tenanglah. Ini cuma salah paham.". tuan Sultan mencoba menjelaskan, lalu ia menoleh ke arah Sara dan bertanya seraya berteriak karena Sara masih nyaman di atas pohon,
"Benarkan, Sara. Ini hanya salah paham, kan? Karena kalian belum pernah bertemu, kan?"
Sara tidak menjawab. Ia malah menyahut,
"Tapi aku bukan kera!!"
"Aku juga tidak cacat!!!!", balas Malik cepat. Sara kembali terdiam.
"Baiklah, baiklah! Seseorang, tolong ambilkan matras atau kasur tebal agar Sara bisa turun dan tidak terjatuh atau terluka...", pinta tuan Sultan pada orang-orang di sana.
"Kenapa repot, Dad. Gadis kasar dan bo**h seperti dia tidak perlu diberi perlakuan istimewa." ketus Malik.
"Kau!! Kau yang kasar dan bo**h!!!!", sahut Sara tidak terima disebut seperti itu.
Malik memanggil asistennya,
"Dimana mesinnya??" tanyanya.
"Baik, tuan Malik." Asisten yang dipanggil segera mendekat dengan sebuah gergaji mesin besar.
Malik menyalakan gergaji mesin itu dengan gagahnya sambil berteriak ke arah Sara,
"Kau bisa memanjat, tapi tak bisa turun sendiri, kan? Kita lihat dimana kau akan jatuh!!!". Malik berjalan mendekati pohon tempat Sara bertengger.
"Oh My GOD!!!!" seru Sara panik dan langsung berdiri.
Pohon besar itu berguncang hebat ketika Malik benar-benar menempelkan gergaji mesinnya ke batang.
"Malik, jangan!!". Tuan Sultan berteriak.
"AAAAAAHHHHHH!!!"
Sara menjerit ketakutan, tubuhnya oleng dan dia jatuh melayang dengan rok gaun pengantinnya mengembang tertiup angin yang mendesak dari bawah.
"Sis!!!!!!" pekik Rena.
"Dia jatuh!!!"
"Awasss!!!"
"Saraaaa!!!!!". Semua ikut berteriak panik.
"Mati aku!", pikir Sara.
Malik melempar gergaji mesin dari tangannya dan dengan sigap menangkap tubuh Sara lalu mendekapnya erat sehingga Sara tidak jatuh ke tanah.
Semua menahan nafas.
Sara menutup matanya kuat-kuat. Dia sudah siap menerima rasa sakit akibat jatuh dari pohon. Tapi setelah lama ia menunggu, rasa sakit itu tidak muncul. Yang ada hanya suara detakan jantung yang kuat dan tak beraturan.
Matanya terbuka perlahan. Pemandangan indah berjarak 10 inchi memenuhi pelupuk matanya. Wajah pangeran Malik, putra tuan Sultan. Sara pun tak sadar kalau kedua tangannya melingkar kuat di leher pemuda itu. Keduanya saling pandang dengan pose seperti itu cukup lama.
"Mainkan musik pernikahannya!!" teriak seseorang dari kerumunan. Musik lagu pernikahan pun terdengar. Semua berseru senang.
"Hentikan musiknya!!!!", teriak Sara dan Malik bersamaan ke arah kerumunan.
Suasana kembali hening.
"Kau ikut aku. Kita harus bicara 4 mata!", ucap Malik datar sambil berjalan dan membawa Sara di gendongannya.
"Setidaknya turunkan aku dulu. Aku bisa berjalan sendiri!". Sara meronta.
"Bagaimana kalau kau kabur lagi? Aku tak punya waktu untuk bermain-main seperti tadi!!" Tegas Malik. Ia berjalan menuju rumah Imran kembali.
Rena berjalan santai berdampingan dengan tuan Sultan mengikuti mereka dari jauh.
"Lihat...mereka sangat cocok, kan?" kata tuan Malik setengah berbisik pada Rena.
"Anda benar, tuan. Sis dan bro Malik adalah pasangan yang sempurna." sahut Rena ikut berbisik.
Kerumunan perlahan bubar, beralih tempat ke arah rumah Imran, sang orang tua pengantin.
***
Malik bergegas membawa Sara menuju kamar yang sudah dihias di rumah Imran dengan menggendongnya.
"Aauww!!!". Pekik Sara karena Malik dengan kesal menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
Malik segera mengunci kamar itu.
"Kera Betina, aku harus memberimu pelajaran!", Malik berbalik dan mendekati Sara.
"Stop!!! Jangan mendekat!! Kalau kau ingin bicara, tetaplah disitu!! Aku tak suka dekat-dekat dengan orang asing!!!". Teriak Sara.
Malik tak mendengarkannya. Ia tetap mendekati Sara.
"Demi semua kebaikan yang telah diberikan Dad pada keluargamu, ikutilah kemauanku!!!".
ucapan Malik bernada menekan dan pandangan tajamnya itu membuat Sara diam tak berkutik.
**********
MALIK