PASSION

PASSION
Tentang Adhitia



Rena menyerngitkan dahi dan memasang wajah masam. Lagi-lagi Sara menanyakan nama pemuda itu, Adhitia. Sejak masuk ke sekolah menengah atas yang merupakan alumni sekolah Sara, kakak perempuannya ini selalu memintanya untuk mencari tahu tentang pemuda itu.


"Adhitia...again?!"


Sara tersenyum, Rena melihat wajah kakak perempuannya yang penuh harap bak seorang gadis kecil mengharap mendapat es krim darinya. Ia menghembuskan nafas dengan berat.


"Sis, aku sudah lelah mencari dan cross check data murid di sekolah lebih dari 3 kali. Tidak Ada seniorku yang bernama Adhitia."


"Bahkan aku juga mencari di datanya tingkatanku. Hasilnya Nihil!!!" Tegas Rena yang tidak ingin Kakaknya terlalu berharap.


"Benarkah?" Sara ragu.


"Sis tahu, aku bahkan mencarinya di tingkatan juniorku. Tidak ada pemuda bernama Adhitia dengan ciri yang Sis gambarkan". Rena menggelengkan kepalanya pelan, meyakinkan Sara.


Wajah Sara berubah serius, senyumnya menghilang. Tiba-tiba ia menimpuk Rena dengan bantal di kursi duduknya,


"Kurang kerjaan! Untuk apa kau mencarinya di tingkat Junior. Kau pikir dia orang bodoh yg harus turun tingkat!"


"Aww! Jangan ngambek!" Rena tertawa sambil menghindari timpukan Sara.


Sara kembali terdiam.


"Apakah dia pindah ke sekolah lain?", lirihnya.


Sara masih ingat betul sosok Adhitia. Wajah imutnya yg manis, bibir yang merah, rambut hitam kemerahan, wajah putih dengan lesung pipi saat pemuda itu tersenyum, tubuh tegap yang atletis untuk ukuran pemuda remaja saat itu...


saat itu...


**


Flashback masa sekolah dulu,


setelah Sara melihat pengumuman kelulusan di papan utama sekolah, ia langsung bergegas pergi, menjauhi keramaian. Sudah jadi tradisi saat kelulusan sekolah, para siswa merayakan kemenangan mereka dengan saling mencorat-coret seragam sekolah satu sama lain. Sara menghindari itu karena baju seragam yang ia kenakan bisa dipakai untuk adiknya yg akan masuk di sekolah itu nanti.


"Senior Sara!", seseorang memanggilnya. Ia menoleh


"Ya?".


Adhitia, berjalan mendekatinya mengejar langkah cepat Sara.


Sara menghentikan langkahnya.


Keduanya saling menatap. Tanpa ada kalimat, sekedar senyum dan gaya kikuk, salah tingkah anak remaja polos yang tak tahu harus memulai percakapan.


"Selamat ya, Senior lulus dengan nilai yang tinggi.", akhirnya Adhitia menyudahi situasi canggung itu


"Peringkat 5 di sekolah ini bukan hal yang mudah,lho!" lanjutnya seraya mengulurkan jabat tangan


"Ah, itu cuma kebetulan." Sara menyambut jabat tangan Adhitia dan tersenyum tersipu dengan pujian itu.


"Lalu, setelah ini senior akan kuliah dimana?"


Sara terdiam.


Kuliah? Iya, ia memang ingin berkuliah. Tetapi orang tuanya tidak punya dana untuk itu.


"Belum punya rencana. Mungkin akan cari kerja dulu sambil menabung untuk kuliah." Sara melepaskan perlahan tangannya dari jemari Adhitia yang besar dan kekar.


"Senior selalu bicara merendah." Adhitia tersenyum menggoda.


DEG!!!


Tiba-tiba jantung Sara berdetak tak karuan dan wajahnya bersemu merah melihat senyuman maut Adhitia. Jika Sara adalah es krim, maka pasti ia langsung meleleh karena silauan hangat senyum itu.


"Kau ini!! Aku selalu bicara apa adanya! Lebih baik berkata jujur kan?", Sara mengendalikan dirinya.


"Senior, aku...", Adhitia melangkah lebih dekat ke arah Sara, "..Aku juga bicara jujur. Aku mengagumimu, senior!"


Sara gelagapan. Ia mundur teratur, tak baik terlalu dekat dengan pesona mematikan seperti itu


"Senior orang yang ramah, baik, low-key, cerdas...", Adhitia mengatakan itu dengan nada perlahan diikuti langkah pendekatan.


Sara tidak dapat mundur lagi karena bahunya telah menempel di dinding pembatas area sekolah.


Tiba-tiba Adhitia menggenggam kedua tangan Sara dan wajah keduanya menjadi sangat dekat.


" Aku mohon doakan aku agar nanti aku bisa lulus dengan nilai baik seperti senior!" ucapnya bersemangat


"HHHAAA???", Sara bengong. Ia jadi malu dengan prasangka liarnya yang mengira kalau pemuda jangkung dengan tinggi 180cm itu memberinya sebuah ciuman pertama.


"Bodoh!!! Bisakah kau ngobrol dengan cara yang normal! Kau hampir membuatku jantungan!", seru Sara.


Adhitia tertawa gelak. Genggamannya terlepas.


"Maaf! Maafkan aku!", ucapnya sambil menggaruk belakang kepala yang tak gatal. Dan lagi-lagi ia tersenyum, senyumannya kali ini dengan rona merah jambu di pipinya. Benar-benar manis!!


Senyuman terakhir yang dilihat Sara, karena setelah hari kelulusan itu dia dan Adhitia tidak pernah bertemu kembali. Dan keduanya juga tidak memiliki nomor kontak masing-masing.


Keduanya tidak pernah ngobrol panjang. Saat bertemu, mereka seperti hilang akal dan kesadaran. Bingung dan kaku, sampai tidak ingat untuk menanyakan nomor telepon atau semacamnya.


**


Sara kembali dari lamunan masa itu, ia menutup matanya dengan erat! Seperti ada yang menyanyikan lagu sendu dan kerinduan tentang pemuda asing di telinganya.


My foreign lover, it's true


That everyone says I've given my heart to you


My foreign lover, it's true


That everyone says I've given my heart to you


And I'm saying that you've taking my heart away


In the flowers, in the buds, ini the street of the town


We both have started to get defamed


On the river bank, on the terrace, on the intersections


We've started to meet to smile and cry together


Beloved, listening to this my heart beats fast


everyone says I've given my heart to you


And I'm saying that you've taking my heart away


"Rasanya aku kehilangan sesuatu." gumamnya meracau.


Rena mendekati Sara dan menatap wajah lusuh kakak perempuan satu-satunya yang sangat ia sayangi sambil tersenyum nakal karena melihat tingkah kakaknya itu. Tiba-tiba ia sengaja berteriak sangat keras di dekat telinga Sara,


"Ibu!!! Kurasa Sis Sara sedang jatuh cinta. Ibu harus segera menikahkannya!!!"


Sara terkejut dan terbelalak!


"Benarkah? Siapa pemuda itu, Sara? Apa ibu mengenalnya? Dimana rumahnya? Ibu ingin berkenalan dengan keluarganya?", Ibu mereka, dengan rambut tergelung rendah di belakang kepala sekonyong-konyong keluar dari dapur sambil membawa spatula panas dan langsung memburu Sara dengan pertanyaan yg Sara sendiri pun tak tahu jawabannya.


Rena tertawa terbahak-bahak


"Tidak,ibu!! Tidak ada siapa pun. Ibu tahu kan aku ingin bekerja dan hidup mandiri dulu. "


Sara mencari alasan.


"Sudahlah, sis. Kau tertangkap basah melamunkannya tadi. " Rena memainkan alisnya turun-naik, menggoda kakaknya itu.


"Rena!!! Awas kau, ya!!!" Sara tak dapat menahan diri untuk mengejar dan memberi pelajaran pada adiknya yang selalu usil padanya.


"Ibu! Help Me!!! Orang kasmaran selalu menakutkan!" . Rena berlari meminta perlindungan di balik tubuh mungil ibu mereka menghindari kejaran Sara sambil tertawa tergelak dan terus-terusan meledek kakak perempuannya itu.


*****


Adhitia