
"Aku suka lagu ini !!" seru Sara, berlari ke arah kerumunan orang yang asyik berjoget di tengah ruangan.
"Sara, stop!!!" Malik berteriak tapi gagal menghentikan Sara.
Segera Sara membaur dan menari mengikuti alunan musik enerjik. Malik membiarkannya sesaat karena ia begitu menikmati ekspresi ceria dan lepas yang terpancar di wajah Sara. Ia juga tersenyum kecil melihat kelakuan Sara yang dianggapnya seperti anak kecil yang bahagia bermain di bawah rintik hujan.
Sara menari dengan gemulai dan lincah. Semua menyukai gerakannya dan memujinya. Tak lama dia pun menjadi pusat perhatian di tengah kerumunan sana.
Ekspresi Malik berubah menjadi tegang tatkala Sara meliukkan pinggul, menggetarkan bahu, melakukan gerakan sensual yang memperlihatkan kaki panjang indah. Ia berusaha menelan sesuatu yang menganjal tenggorokannya yang terasa kering.
Baginya, Sara sungguh menggoda dan melebihi hasratnya.
"Bro, kakak ipar sangat hot!!" Roy memuji.
"Tutup mulutmu atau kucungkil matamu!!" gertak Malik dengan mata melotot.
"Sorry, bro...." Roy segera menjauhinya karena ia tahu Malik tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Kera nakal ini selalu mempermalukanku!" geram Malik.
Malik segera mendekati Sara lalu memanggul di atas pundak kekarnya dengan paksa.
"Hey, turunkan aku!", Sara meonta dan Malik mengabaikannya.
"Ok, sampai jumpa lagi semuanya!!", Sara pamit, melambaikan tangan pada kerumunan yang memperhatikannya dari tadi.
"Bye..." sahut mereka ramah
"Ada yang ingat siapa gadis itu?"
***
Malik menghentikan mobilnya di tepi jalanan sepi di pinggir kota. Ia menoleh ke Sara yang terkulai dalam keadaan setengah mabuk di sebelahnya.
"Aku tak bisa membawamu kembali ke rumah sekarang. Jam segini Dad belum tidur. Dia pasti akan memarahiku lagi kalau melihatmu mabuk seperti ini." Malik berbicara sendiri.
Lama ia berpikir dengan keras hingga tak sadar kalau Sara mendekatkan wajah ke arahnya.
"Malik..."
"WHAAAT!!", Malik hampir meloncat karena terkejut.
"Aku ingin muntah.." suara Sara terdengar lemah.
"Keluar!!! Jangan disini!!!" bentak Malik.
Sara bergegas keluar, menuju ke sebuah pohon besar yang tak jauh dari mobil itu berhenti. Ia memuntahkan isi perutnya yang tidak nyaman akibat pengaruh alkohol di balik pohon itu.
"Apalagi sekarang!!!" Malik keluar dari mobil dengan gelisah. Digaruk kepalanya dengan kasar sehingga rambutnya berantakan. Ia menunggu Sara sambil bersandar di pintu mobilnya.
Sara kembali dari balik pohon dengan wajah pucat.
"Thank you, bro!" ucapnya lemah seraya mengelap bibir dengan punggung tangan.
"Hmm.." jawab Malik singkat.
Sara ikut bersandar di mobil, bersebelahan dengan Malik.
"Sudah lama aku tak merasa sebahagia tadi. Sejak lulus sekolah, aku tidak pernah berkumpul dengan teman-temanku karena aku tidak punya teman sebanyak tadi, merasakan keceriaan malam ini bersama mereka. Aku senang sekali malam ini." curahan hati Sara dengan nada bahagia dan ceria walau wajahnya masih pucat sehabis muntah tadi.
Malik menatapnya.
"Meski kau tak semanis Adhitia, tapi rasanya aku ingin menciummu." Sara kembali meracau.
"No way!! Kau belum membasuh mulutmu!!" tolak Malik.
Sara tergelak lebar.
"Adhitia itu...pacarmu?" Malik kembali bertanya tentang Adhitia.
"Aku mengenalnya saat sebulan sebelum kelulusanku. Dia juniorku, satu tingkat di bawahku. Di acara perpisahan sekolah, aku mengisi acara tari. Dia menolongku saat ada penjahat yang mencoba menculik dan melecehkanku.".
Malik terkejut mendengar cerita Sara.
"Dia tidak bisa berkelahi, tapi dia berhasil mengusir para penjahat itu..walau dia sendiri terluka parah.". Sara tersenyum dengan keharuan ketika ia mengingat kejadian itu.
"Saat hari kelulusanku, ia menggenggam tanganku. Jantungku seolah meloncat. Tubuhku bagai disetrum. Lalu kami terpisah cukup lama. Dia tak terlihat dari di sekolahan, dan aku tidak tahu harus menghubunginya kemana.".
Malik masih mendengarkan cerita Sara dengan seksama.
"Seminggu lalu kami bertemu kembali secara kebetulan. Lalu ia mengajakku berkencan. Dia menciummu. ciuman pertamaku di bibir, dan dihari itu juga Rena datang mengabarkan kalau besoknya kita harus menikah. Dia pun pergi meninggalkanku tanpa bicara apa-apa...." Suara Sara tercekat. Air matanya meluncur membasahi pipi mulusnya.
"HUAAA..." Sara menangis dengan penuh emosi.
"Aku merasa sesak di sini!" ia memukuli jantungnya.
"Takdir mempertemukan kami lalu dengan cepat memisahkan kami kembali. Ini sangat tidak adil!!" jerit Sara seperti orang kesurupan.
Malik segera merangkulnya dan menenangkannya.
"Sshhh... I'm sorry", bisik Malik.
"Tidak tahu apa bisa bertemu lagi. Aku tak mungkin menghubunginya duluan. Dan dia juga pasti berpikir kalau aku benar-benar menikah denganmu." Sara merendahkan suaranya.
'Dengar,! Aku, Maliknya Sultan, berjanji: Jika kalian bertemu kembali, aku tak akan menghalangi kalian bersama lagi. Sama seperti kau yang mendukung hubunganku dengan Sara, aku pun akan mendukung hubungan kalian." ucap Malik.
"Janji??" Sara menatapnya dan bertanya dengan serius.
"Aku berjanji!" Malik menyanggupinya.
Sara memeluk Malik dengan erat.
"Kau memang pemuda yang sangat baik. Luna pasti bahagia memiliki pacar sepertimu." puji Sara.
Malik terdiam, tidak mau menanggapi pujian Sara. Beberapa hari ini ia berpikir kalau Sara dan keluarganya hanya memanfaatkan kebaikan ayahnya untuk keuntungan mereka. Ia tidak pernah menyangka jika hati gadis itu lebih terluka dibandingnya. Dan pengorbanan gadis ini jauh lebih besar dari pengorbanannya. Ia sangat menyesali keputusannya menyanggupi pernikahan ini.
***
Lepas tengah malam, saat rumah keluarga tuan Sultan telah sepi dan gelap, Malik diam-diam memasuki rumah sambil membopong Sara yang tertidur lelah setelah menangis semalaman.
Sesampainya di kamar, ia meletakkan Sara di atas ranjang dengan sangat hati-hati.
"Sara, kita sudah sampai di kamar, turunkan tanganmu.", pinta Malik yang merasa tak nyaman karena lengan Sara masih melingkar di lehernya.
"Jangan pergi. Aku merasa nyaman begini." rengek Sara yang malah makin menguatkan lingkaran tangannya.
Wajah mereka menjadi begitu dekat. Malik mengamati wajah Sara yang masih terpejam, wajah polos yang tanpa cela baginya. Ia juga merasakan nafas Sara yang berat. Hasratnya mulai bergejolak saat melihat bibir Sara yang merekah. Perlahan dia mengecup bibir merah nan lembut itu.
Sara menggeliat dan menolak ciuman itu. Namun Malik yang mulai kalap, mendengarnya seperti desahan yang makin membutakan akalnya.
"Aku hanya pria normal. Aku tak bisa menahannya lebih lama." batin Malik.
Kepalanya dibenamkan di leher Sara yang terbuka, ia mencumbunya dan menggigit pundak Sara dengan gemas.
Sara menjerit tertahan. Mendengar jeritan itu Malik makin menjadi gila. Ia mendekatkan tubuhnya dan membawa kepalanya lebih ke bawah lagi.
"Malik, Jangan!! Ingat janjimu tadi." Sara memohon dalam kelemahan.
Malik terperanjat. Ia tersadar. Akal sehatnya kembali hadir. Dilepaskannya tangannya dari tubuh Sara. Sara langsung meringkuk dan menutupi dadanya, ia terdengar seperti menangis terisak.
"Sorry!! I'm sorry!!". Malik segera meninggalkan Sara dan bergegas menuju kamar mandi.
Malik membasahi tubuhnya dengan pancuran air deras. Tangannya meninju dinding dengan keras. Ia membenci pertahanannya yang begitu lemah terhadap wanita.
*******