PASSION

PASSION
25. Tidak Pantas



Sara sangat bersemangat saat Bibi Mei mengatakan kalau tuan Sultan dan Malik ingin makan malam buatannya. Matanya penuh berbinar.


"Benarkah?"


Bibi Mei mengangguk dengan senyuman geli melihat ekspresi wajah Sara.


"Benar, nyonya." jawabnya ramah.


"Ok. Aku akan ke dapur sebentar lagi. Aku ganti baju dulu." Sara segera berbalik untuk menuju kamar mandi.


Bibi Mei melihat noda kotor di pakaian Sara, tepatnya di dekat bahu kanannya.


"Nyonya? Nyonya yakin anda baik-baik saja?", tanyanya cemas.


"Iya. Aku baik-baik saja!" Sara menjawab cepat lalu buru-buru masuk kamar mandi.


****


Sore beranjak gelap, saat Sara dan seorang asisten rumah tangga sibuk di dapur. Dengan cekatan ia mempersiapkan segala keperluan masak memasak


Saat Malik masuk ke rumah dan akan menuju tangga, ia mencium aroma yang menggelitik dari arah dapur. Harum aroma ikan yang digoreng dengan bumbu marinase lengkap mencolek dan menuntunnya ke arah dapur.


"Wah, sayang! Ternyata bibi Mei tidak bercanda. Memang kau yang memasak untuk hari ini." Suara Malik yang tiba-tiba ada di ruang dapur mengagetkan Sara dan asisten rumah tangganya.


"Malik, kau pulang cepat? Bukankah kau masih ada meeting sore ini?" tanya Sara


Malik melangkah mendekati Sara dan memperhatikan tangan-tangan Sara yang gesit membalikkan ikan yang terendam minyak panas di wajan.


"Memang seharusnya masih ada meeting sore ini. Tapi aku tunda untuk besok. Kepalaku pusing mendengar laporan-laporan pincang para karyawan." keluhnya.


"Jika kau lelah, seharusnya kau pergi ke kamar, mandi air hangat dan beristirahatlah. Aku akan membuatkanmu secangkir kopi." saran Sara.


Malik menatap wajah Sara lekat-lekat. Malik menyukai perhatian yang diberikan oleh gadis itu. Entah sejak kapan ia mulai suka memperhatikan wajah Sara sambil tersenyum kecil. Merasa mungkin ia mulai menyukai gadis itu.


"Baiklah. Aku akan naik ke kamar. Jika makanan sudah siap, panggil aku!" katanya kemudian.


"Siap, bos! Bibi Ela yang akan membawakan kopi ke atas." sahut Sara.


"Terima kasih.", ucap Malik sambil menyentuh pundak kanan Sara.


"Sshhh.." Sara meringis kesakitan karena Malik menekan pundaknya.


"Ada apa?" Malik bertanya karena cemas melihat wajah Sara yang menahan rasa sakit.


"Tidak ada! Hanya minyak panas memercik di tanganku." Sara berbohong.


"Jangan terlalu dekat dengan kompor! Biarkan bibi Ela yang menggorengnya.!" perintah Malik.


Bibi Ela dengan sigap tanpa diperintah segera mendekati Sara dan menggantikannya menggoreng ikan.


Di kamar mandi ruangan Malik, Malik membersihkan diri dengan mandi air hangat dari pancuran. Rasa penat dan beban pikirannya terasa berkurang, menggelincir terbawa air yang mengaliri seluruh bagian tubuh berototnya.


Setelah puas membersihkan diri, Malik membalut dirinya dengan handuk besar. Matanya tak sengaja melirik ke arah tumpukan keranjang pakaian kotor. Malik melihat noda kotor di tumpukan paling atas, dan mengambilnya


"Ini...pakaian Sara tadi siang. Kenapa kotor sekali?" pikirnya.


Malik melebarkan pakaian itu. Ia mengamati noda kotor itu ada di bagian bahu dan pundak. Seketika ia mengingat raut wajah Sara yang menahan sakit saat ia menyentuh pundaknya di dapur tadi.


Wajah Malik berubah tak senang. Ia menghempaskan pakaian kotor itu, lalu mendorong pintu kamar mandi dengan kasar. Ia segera mengambil ponselnya.


"ADHITIA!!! KE KAMARKU, SEKARANG!!!!!" teriaknya.


*****


Malik berjalan mondar-mandir dengan wajah cemas menantikan kedatangan Adhitia. Jarum panjang jam di dinding baru bergerak 5 menit, tapi bagi Malik rasanya lebih lama dari 5 tahun.


Adhitia memasuki kamar Malik yang pintunya sengaja tidak tertutup.


"Selamat sore, tuan muda." Adhitia memberi salam. Malik tidak menjawabnya.


"Apa yang terjadi pada Sara tadi siang? Bagaimana kau menemukannya? Apa lagi yang kau lakukan padanya?" Malik langsung menghujani Adhitia dengan pertanyaan.


"Lalu apa saja kerjamu??? Apa kau tidak bisa melindunginya?" Malik tidak dapat menahan kekesalannya.


BUGH!!!


Malik meninju wajah Adhitia dengan sangat kuat hingga pemuda itu terhuyung ke samping.


"Dengar, Adhi!!! Aku tahu betul apa hubunganmu dan bagaimana perasaanmu pada Sara. Tapi saat ini kau adalah pegawainya!! Dan dia istriku!! ISTRIKU!!!" Malik menegaskan kata terakhirnya tepat di depan wajah Adhitia.


Adhitia terkejut. Di tatapnya mata Malik yang tajam bagai mata elang itu ke dalam. Ia mengerti maksud ucapan Malik. Ada nada curiga, posesif, dan cemburu di situ.


"Kau pikir kau pantas bersamanya? Saat ini kau tidak dapat melindunginya padahal kau dibayar, kan? Bagaimana nanti kau akan melindunginya saat tak ada yang membayarmu lagi?" Malik menyindirnya.


"Maka jangan pernah membayarku sedikitpun. Aku tidak butuh uangmu!!!", jawab Adhitia dengan penuh berani dan menahan amarahnya.


"Aku benar-benar tulus menjaganya, melindunginya, bahkan belajar berkelahi hanya untuk Sara. Jangan khawatir, aku tidak akan menerima uangmu satu sen pun." Lanjut Adhitia mantap.


"Kau mungkin memang suaminya, tapi kalian tidak saling memiliki. Pernikahan ini palsu, hanya sebuah kontrak kerjasama!" Adhitia balas menyindirnya tanpa ada rasa penghormatan lagi.


"Diam kau!!!" kemarahan Malik tersulut. Dengan enteng tangannya kembali melayangkan tinju di wajah Adhitia. Kali ini Adhitia tidak dapat bertahan. Ia jatuh tersungkur karena kuatnya pukulan Malik.


Mendengar suara ribut-ribut dari kamarnya, Sara segera masuk. Ia melihat Adhitia tersungkur dengan bibir pecah dan berdarah karena pukulan Malik.


"Adhitia!". Sara langsung berlari mendekatinya.


Malik membuang mukanya saat Sara membantu Adhitia berdiri. Ia melihat gadis itu begitu peduli pada pemuda ceroboh itu. Dan dia tidak menyukai itu.


****


Sara memberikan antiseptic pada bibir Adhitia yang luka saat mereka di kamar Adhitia.


"Ouch!!" desis Adhitia saat lukanya tersentuh larutan antiseptik.


"Kenapa pria itu jadi gila?! Seenaknya memukuli orang yang sama sekali tidak melawan. Kurasa dia benar-benar cacat di otaknya!" gerutu Sara mengutuk Malik.


Adhitia menatap Sara.


"Senior... aku rasa Malik menyukaimu." ucapnya.


"Mustahil!!" Sara menyangkal pasti.


"Dia membalas perbuatanku padamu. Dia memberi luka yang sama dengan yang kuberikan padamu malam kemarin." Adhitia mengutarakan pendapatnya.


"Dia cuma takut kalau Dad mengetahui lukaku, makanya dia menyalahkanmu." sahut Sara


Sara mengoleskan krim yang sama ia pakai untuk luka di bahunya pada luka di bibir Adhitia. Adhitia mendesis menahan rasa sakit.


"Apa terasa sakit sekali?" Sara menatapnya dengan penuh kasih.


"Yang terasa sangat sakit itu di sini " Adhitia meraih tangan Sara dan meletakkannya di dada kirinya.


"Hatiku sangat sakit saat Malik mengatakan kalau aku tak pantas untuk senior." lanjutnya.


Wajah Sara bersemu merah. Ia tersenyum malu.


"Senior, aku berjanji akan lebih menjaga dan memperhatikanmu." Adhitia membuat janji.


"Aku percaya padamu." Sara memeluk Adhitia dan menyandarkan kepalanya di dada Adhitia yang kini terasa lebih padat.


Dari luar kamar Adhitia, Malik menunggui Sara di depan pintu dalam diam.


*******


*****


***


*