
Semua yang ada di meja makan terdiam setelah mendengar jawaban dari Adhitia.
"Maaf.." ucap ayah Imran merasa tak enak hati.
Adhitia tidak menyahutinya.
"Jika memang tidak ingin menjawab, seharusnya tidak usah dijawab. Kesedihan jangan dibawa ke meja makan saat sedang berkumpul." suara Malik akhirnya terdengar kali itu.
"Ada menu tambahan spesial untuk bro in law!" seru Rena yang baru keluar dari dapur membawa sepiring tempe goreng tepung krispi dan meletakkannya di dekat Malik.
"Sis Sara bilang kalau bro Malik tidak pernah meninggalkan sesuatu yang mengandung kedelai di setiap menu makanannya."
Keceriaan Rena memecah keheningan yang sementara di meja makan.
Sara keluar dari dapur setelah melepas celemeknya. Ia pun menduduki kursi diantara Malik dan Rena, tepat berhadapan dengan Adhitia.
"Mari kita berdoa dulu sebelum makan." ucap ayah Imran.
Seluruh orang yang mengelilingi meja makan pun menunduk dan berdoa di dalam hatinya.
"Ayo, selamat makan!" ayah Imran lalu menggosokkan kedua telapak tangannya dan segera membuka piringnya dengan tidak sabar.
Adhitia memperhatikan Sara yang mengambilkan piring milik Malik dan mengisi makanan ke dalamnya.
"Terima kasih, sayang." ucap Malik pada Sara sambil tersenyum, dan Sara membalas senyuman itu.
Melihat yang lain sibuk dengan piring dan santapan siang mereka, Rena melirik ke arah Adhitia yang memperhatikan Sara tanpa menyentuh piringnya.
"Bro Adhi jangan diam saja. Ambillah yang kau suka, kalau tidak aku dan sis akan menghabiskan semua tanpa sisa." .
Rena meletakkan sayur ke piring Adhitia.
"Aduh, jangan repot. Aku bisa mengambilnya sendiri."
Adhitia menahan tangan Rena saat gadis itu hendak meletakkan lauk di piringnya.
"Baiklah. Yang pasti sis Sara, bro Malik, dan bro Adhitia harus kembali dengan perut yang kenyang." celoteh Rena.
"Sebelum kembali, aku ingin bermain catur bersama nak Malik." ayah Imran menambahi suasana hangat di meja itu.
"Maaf, ayah. Malik harus segera ke kantor setelah makan siang. Hari ini dia belum ke kantor sama sekali." Sara menyahuti perkataan ayahnya.
"Tidak masalah! Aku bisa menemani ayah Imran sebentar." Malik menimpalinya, tanpa canggung memanggil mantan supir ayahnya dengan sebutan 'ayah'.
"Benarkah?" ayah Imran memastikan jawaban Malik dengan penuh semangat.
"Tentu!" jawab Malik pasti.
"Bagus!" seru ayah Imran girang.
"Terima kasih." ucap Sara pada Malik.
"No problem!" sahut Malik seraya tersenyum manis pada Sara.
Lalu mereka berenam menyelesaikan makan siang dengan lahap dan dalam suasana yang akrab.
***
Setelah selesai makan siang, ayah Inran tidak membuang waktu lagi. Ia segera menarik lengan Malik menuju ruang depan untuk bermain catur.
"Ayah, kenapa bersikap seperti itu?" tegur ibu yang merasa enak hati dengan sikap suaminya pada menantu tajir dan berpendidikan mereka.
"Ibu jadi wasit ya. Jadi ibu bisa lihat kemajuan ayah dalam permainan catur." Ayah Imran memutuskan sepihak.
"Tidak bisa, ayah. Ibu masih harus membereskan meja makan dan piring-piring kotor " Ibu menolak.
"Biar aku yang membereskan ini." Adhitia bersigap berdiri dan mengambil piring kotor dari tangan ibu.
Ibu menatap Adhitia dengan lembut dan memberinya senyuman. Ia menyukai pemuda yang ringan tangan seperti pemuda itu.
"Nah, sekarang ibu tidak sibuk kan? Ayo kemari dan awasi permainan kami." Ayah makin memaksa ibu.
"Iya, iya!". Ibu segera menghampiri Ayah Amran dan Malik yang sudah menyusun pion-pion di atas papan catur.
Di dapur, Sara sedang mencuci sebagian piring kotor sementara Rena berdiri di sebelahnya menerima piring yang bersih dari Sara untuk diseka dengan lap bersih.
"Sis, apakah Bro Malik tahu siapa bro Adhitia?" tanya Rena dengan suara pelan.
"Hem-mhh!" jawab Sara mengiyakan.
Mata Rena dan mulutnya terbuka membulat.
"Bro Malik tahu kalau bro Adhitia adalah mantan kekasih sis?"
"Iya!"
"Sis, kau jahat sekali! Kau tidak memikirkan perasaan bro Malik saat kau dan bro Adhitia bersama. Aku kasihan pada bro Malik." lirih Rena.
"Gadis polos, semua tidak seperti yang kau bayangkan."
"Tapi, sis..." ucapan Rena terhenti saat Adhitia datang membawa piring dan perabot kotor dari atas meja makan.
"Dimana harus kuletakkan ini?" tanya Adhitia.
"Kemarilah. Bawa ke sini." Sara memintanya untuk mendekat.
"Kedua orang ini tampak santai, seperti sudah biasa bersama. Apakah mereka menjalin kisah mereka kembali? Apa sis Sara berselingkuh dengan bro Adhitia di belakang bro Malik?" pikir Rena.
Adhitia mendekat dan merapat ke sisi lain tubuh Sara.
"Thank you." bisiknya pelan.
"Untuk apa?" tanya Sara dengan tidak melepaskan pekerjaannya.
"Untuk kebersamaan seperti ini."
"Untuk masakanmu yang lezat tadi."
Adhitia menyenggol pundaknya ke pundak Sara.
Sara tersipu malu.
"Ya Tuhan, mereka benar-benar selingkuh." Rena berpikiran yang tidak-tidak.
"Sis Sara memasak untuk bro Malik, bukan untuk bro Adhitia!" Rena memotong percakapan bisik-bisik mereka dengan ketus.
Sara terkejut dan menoleh ke arahnya.
"Sama saja. Mereka punya selera makan yang sama." terang Sara dengan pelan.
"Sebenarnya, saat sis memasak tadi, niatnya untuk menyenangkan bro Malik atau bro Adhitia?!" Rena langsung bertanya.
"Tenang, tenang! Jangan salah paham." Adhitia mencoba menenangkan Rena yang penuh dengan keingintahuan.
" Rena, apa kau tahu kampus A?" tiba-tiba Sara menanyakan sesuatu yang tidak ada hubungan dengan pertanyaan yang diajukan adik perempuannya duluan.
Dia melakukan itu untuk mengalihkan pembicaraan penting yang bisa di dengar oleh Ibu dan ayahnya.
"Kampus elite itu?" Rena berhasil teralihkan.
Sara mengangguk, sambil terus membersihkan tumpukan piring kotor.
"Apa kau tahu kalau aku akan mulai belajar di sana Minggu depan?" tanya Sara kembali.
"No Way!!!! Bagaimana mungkin??!!" Wajah Rena yang tadinya ketus berubah menjadi ekspresi takjub.
"Dan...aku di jurusan Fashion Design.". Sara bercerita sambil mencuci tangannya.
"Impian sis untuk menjadi designer benar-benar akan terwujud?!!" seru Rena girang.
Sara mengangguk dan tersenyum.
Rena melompat kegirangan.
"Ayah!! Ibu!!! Ada berita bagus dari Sis Sara!!" teriak Rena sambil berlarian ke ruang depan.
"Senior, kau pintar memanipulasi keadaan." Adhitia tiba-tiba memeluk Sara dari arah belakang.
"Aku harus lebih hati-hati denganmu." sambungnya.
"Lepaskan tanganmu.! Jika Ibu dan Ayah melihat, aku harus bilang apa." Sara berusaha melepaskan pelukan Adhitia dengan perlahan.
Adhitia menghela nafasnya dengan berat.
"Haaahhh,.....seandainya mereka tau kalau menantu mereka sebenarnya adalah aku." keluhnya.
Sara tertawa kecil.
"Sejak kapan?"
Adhitia menatap tajam pada mata Sara, lalu berkata,
"Sejak kau menerimaku menjadi milikmu seutuhnya." Adhitia lalu mencium Sara di bibir. Dan Sara menerimanya dengan pasrah.
Rena berlarian menuju ruangan depan tempat ayahnya melawan Malik dalam papan catur.
"Ada apa, Rena?" tanya Ibu yang melihat Rena berlarian.
"Sis Sara membawa kabar baik!" kata Rena dengan begitu bersemangat
Ayah mengangkat kepalanya dan menatap Malik, lalu berkata,
"Apa aku akan mendapat cucu secepat ini?"
*****
****
***
**
*
Sara