PASSION

PASSION
13. Supir Baru Nyonya Muda



Sara duduk bersebelahan dengan tuan Sultan dengan sebuah buku catatan kecil sambil mendengarkan ucapan tuan Sultan dengan seksama.


"Itu yang harus kau lakukan hari ini untuk persiapan bonquet. Sisanya akan diurus oleh Karan dan bibi Mei.". Tuan Sultan mengakhiri penjelasannya.


"Baik, tuan." Sara menutup buku catatannya.


"Dad! Panggil aku Dad, seperti Malik memanggilku." perintah Tuan Sultan.


"Oke, Dad" sahut Sara sambil tersenyum.


Malik keluar dari kamarnya lalu menuruni tangga. Dia bersiap pergi ke kantor.


"Nah, Malik! Kau antar Sara mengurus pesanan dan keperluan untuk acara bonquet kita besok malam,ya." pinta tuan Sultan.


Malik melirik ke arah Sara. Sara menundukkan kepalanya.Tangannya meremas buku catatannya dengan gelisah. Melihat sikap Sara yang nampak trauma karena kelakuannya semalam, Malik segera menjawab,


"Aku ada meeting penting dengan klien baru hari ini, Dad. Aku akan mengirim supir baru khusus untuk Sara."


"Baik, pastikan supir itu datang sebelum jam 11." ucap tuan Sultan.


Malik mendekati Sara dengan ragu-ragu. Mereka harus berakting di depan tuan Sultan sebagai pasangan yang harmonis. Tubuh Sara bergetar dan berkeringat saat Malik mencium keningnya. Malik dengan jelas dapat merasakan getaran itu.


"Aku akan pulang terlambat." kata Malik tanpa menatap Sara


"Oke." jawab Sara pelan.


Malik segera meninggalkan rumah dengan mengendarai mobilnya. Sambil menyetir ia menelepon asistennya.


"Asisten Romi, Carikan supir sebelum jam 11. Segera kirim ke rumah." perintahnya. Sang asisten mengiyakannya.


***


Saat tiba di kantor, Malik duduk di kursi kuasanya di ruangan. Ia memutar-mutar ponselnya dengan cepat sambil melamun memikirkan Sara dan kejadian semalam.


Bagaimana tawa gadis itu, wajah sedihnya, emosinya, tarian sensualnya, ekspresi konyolnya, kepatuhannya, dan juga....penolakannya. Yah, bagian yang paling menyakitkan dari seorang lelaki adalah penolakan.


Selama ini banyak wanita yang dengan senang hati akan menawarkan diri dan kenikmatan sesaat padanya, namun semua ia tolak, karena baginya wanita bukan mainan ataupun pemuas birahi semata. Karena itu ia setia dengan satu wanita saja, Luna. Tapi entah kenapa, ia menjadi sangat mesum dan cabul sejak bertemu dengan Sara. Ia berani mencium dan mencumbu gadis itu karena ia tahu kalau Sara juga mengaguminya. Namun ia sama sekali tidak menyangka dirinya akan ditolak untuk kedua kalinya oleh wanita yang sama.


"Gadis itu berani menolakku! Dia jadi sangat ketakutan padaku. Bagaimana kalau Dad menyadari permainan ini." desahnya seperti frustasi.


Ponsel Malik berbunyi, sebuah pesan masuk. Tertulis nama 'My Baby Luna'.


"Ok, aku percaya padamu kali ini. Jemput aku di bandara sejam lagi." .


Malik segera bangkit dari duduknya dan memakai jas setelah membaca pesan singkat itu.


Ketika Malik menuju pintu keluar, asisten Romi datang sambil membawa map,


"Tuan Malik, supir untuk nyonya Sara sedang menuju rumah. Ini profil dan datanya."


"Letakkan di meja. Aku harus ke bandara sekarang." ucap Malik tanpa menyentuh map tersebut.


"Baik, tuan.". Romi menuruti perintahnya, meletakkan map berisi berkas biodata pegawai barunya.


***


Sementara di kediaman tuan Sultan, bibi Mei berdiri di depan kamar Malik dan mengetuk pintu.


"Nyonya muda, supir yang dikirim tuan Malik sudah datang." ujarnya.


"Tolong beritahu langsung tunggu di mobil, aku akan segera turun.". ucap Sara sambil mempersiapkan tas kecilnya.


"Baik, nyonya.". bibi Mei segera pamit dan kembali ke bawah.


"Ternyata menjadi istri orang kaya sangat merepotkan. Aku bahkan tidak sempat mengurus toko online-ku." keluh Sara sambil menatap layar ponselnya.


Tuan Sultan mengawasi Bibi Mei yang tampak berbicara dengan seorang pria yang disebut sebagai supir baru di rumah itu.


"Nyonya muda memintamu langsung menunggu di mobil. Ini kuncinya, mobil berwarna putih."


"Baiklah" jawab pria itu. Pria itu segera berbalik dan menuju ke parkiran mobil yang disebutkan bibi Mei.


Sara bergegas menuruni tangga. Ia segera mendekati tuan Sultan.


"Dad, aku pergi dulu. aku sudah meminta bibi Mei memasak makanan kesukaanmu untuk siang nanti." Sara pamit.


Sara tersenyum,


"Dad sudah memberiku kepercayaan mengurus hal sepenting ini. Mana mungkin aku bisa santai dan bermain-main." ujarnya lalu menuju pintu keluar.


"Aku akan pulang setelah semua daftar ini selesai. Bibi Mei, tolong jaga Dad." Sara berpesan pada bibi Mei seraya membelai pundak wanita paruh baya itu.


"Baik, nyonya Sara."


Telepon Sara berbunyi, Sara segera melihatnya,


"Nomor tidak dikenal..".


Sara langsung menekan tombol TOLAK, karena ia tak suka meladeni telepon-telepon iseng yang dapat membuang waktunya


Sara berjalan dengan anggun menuju mobil putih yang sudah dihidupkan mesinnya oleh supir baru tadi.


Tuan Sultan segera menelepon Malik saat Sara masuk ke dalam mobil.


"Siapa supir itu? Darimana kau temukan dia?" tanyanya pada Malik begitu hubungan telepon tersambung.


"Asisten Romi yang mengirimnya. Aku belum melihat profil dan datanya. Aku sedang dalam perjalanan meeting penting saat ini, Dad." alasan Malik, yang kenyataannya dia menghindar dari Sara, menuju bandara untuk menjemput pacarnya.


"Pria itu masih muda dan tampan. Apa kau tidak takut dia akan merebut Sara darimu?" tanya tuan Malik


"Dad, aku percaya pada Sara. Lagipula siapa yang berani merebut milikku. Aku kan anak tuan Sultan" jawab Malik yakin.


Malik memutus panggilan telepon ayahnya.


"Apanya yang milikku!!" gerutu Malik.


"Milikku akan tiba di bandara sebentar lagi. Bukan Sara, gadis keturunan Tarzan itu!" oceh Malik sendirian seperti orang yang kehilangan akal.


***


Begitu masuk ke mobil di belakang supir, Sara menerima kembali panggilan ponsel dari nomor tidak dikenal, ia lalu menjawab teleponnya


"Halo..halo...". Tapi tak ada sahutan. Panggilan terputus.


"Selamat siang, nyonya." sapa supir itu.


"Oh, siang" jawab Sara.


"Ini tempat-tempat yang akan kita datang." Sara memberikan catatan kecil pada supir barunya itu.


"Siapa namamu?", tanya Sara pada supirnya yang mengambil catatan itu tanpa menoleh.


"Nyonya bisa memanggilku 'Junior'." jawabnya.


Sara berpikir,


"Junior? Ok, junior. Kita bisa pergi sekarang." Sara memberi perintah.


"Baiklah, nyonya." sahut supir itu


Mobil pun perlahan berjalan meninggalkan halaman luas tuan Sultan.


Sedari awal perjalanan supir baru itu terus mencuri kesempatan untuk memperhatikan Sara lewat kaca spion depan. Sara tidak memperhatikannya. Ia sibuk dengan ponselnya, mengetik sesuatu.


"Ng...boleh aku katakan sesuatu, nyonya?" tanyanya kemudian.


"Ya??" Sara memberinya kesempatan bicara,namun matanya masih asyik di layar ponsel.


"Happy wedding, senior. Selamat menempuh hidup baru." ucap sopir itu.


Sara terkejut. Perlahan ia mengangkat kepalanya . Ia sangat terkejut saat melihat wajah supir barunya itu melalui kaca spion depan.


Supir yang minta dipanggil Junior itu ternyata Adhitia. Adhitia menatap lurus ke jalanan tanpa ekspresi.


********


Adhitia