PASSION

PASSION
62. Undholi



Malik meyakinkan Salma dan Amar agar dirinya yang merawat Sara secara pribadi. Amar menyetujuinya, karena ia melihat ketulusan dan rasa sayang besar Malik untuk Sara sejak awal mereka bertemu. Bagaimana ia berhati-hati menggendong Sara di pundaknya, juga menjaga tubuh gadis itu dari dinginnya angin laut malam dengan memberikan jasnya sementara ia sendiri kedinginan hingga pingsan.


Amar merelakan pondok tempat beristirahat mereka yang kini menjadi tempat perawatan Sara sebagai tempat kediaman Malik sementara.


Sesekali Sam menelepon Malik melalui ponsel bertombol fisik dengan layar hitam putih milik Amar. Menanyakan kabar dan kondisinya juga. Malik mengungkapkan kekhawatirannya tentang Sara yang tak kunjung sadar dari tidur panjangnya dan menanyakan pada bagaimana kondisi Sara saat Sam menemukannya, tapi Sam malah mengelak. Tidak mau menjawab. Sahabatnya itu malah memberi saran agar tidak menghubungi siapapun sebelum ia mengizinkannya, lalu memutuskan panggilan telepon tersebut.


Salma membersihkan tubuh Sara dan mengganti pakaiannya. Selalu ada alasan bagi Malik untuk menghindar dan menjauh di saat itu. Ia selalu memilih keluar ruangan dan berpura-pura belajar cara memperbaiki jala yang rusak dengan Azis, hingga Salma meragukan statusnya sebagai suami dari Sara.


Setelah lima hari tak sadarkan diri, Sara terbangun dengan tiba-tiba. Nafasnya memburu hebat dan wajahnya berkeringat, seperti baru mengalami mimpi buruk. Ia teringat suara ledakan saat di kapal, juga api yang mengelilingi Adhitia yang tergeletak tak berdaya. Seketika ia berteriak memanggil nama pemuda itu:


"Adhitia!!!"


Malik yang sedang membuat Undholi (ayunan khas penduduk Maldives) bersama Azis terkejut mendengar teriakan itu.


"Sara!" serunya panik, segera ia berlari menuju pondok, meninggalkan Azis bersama potongan kayu-kayu untuk membuat Undholi.


Malik memasuki pintu pondok dengan tergesa-gesa hingga ia lupa jika tinggi tubuhnya melebihi ukuran pintu, dan ia terantuk di sana.


"Aduh, sialan!" umpat Malik kesal.


Mendengar suara Malik mengaduh dan mengumpat, Sara menoleh ke arahnya. Gadis itu berusaha berdiri, namun kondisinya tidak mendukung. Melihat itu Malik segera menghampirinya.


"Syukurlah kau sudah sadar! Apa kau baik-baik saja?" Malik menyentuh kedua pundak Sara.


Ada rasa hangat menyelimuti hati, bahkan saat mata bulat Sara menatap mata tajam Malik, kini mata itu berubah berbayang air mata dengan pancaran kekhawatiran.


"Malik? Kau menangis karena terantuk pintu?" tanya Sara pelan.


Malik menahan senyumnya. Ia memeluk gadis itu dengan penuh kebahagiaan.


"Dasar Kera! Aku mengkhawatirkanmu, bodoh!" gumam Malik.


Sara mendengar gumaman itu dengan jelas lalu tersenyum. Perasaannya menghangat mendengar pengakuan Malik yang mengkhawatirkannya.


Azis menyusul Malik memasuki pondok. Melihat Azis, Sara lalu melepaskan pelukan Malik dan memanggil Malik lirih.


"Malik? Siapa orang ini?" tanyanya.


Malik melihat ke arah Azis.


"Dia Azis. Anak pemilik tempat ini. Ayahnya yang menyelamatkan kita dari ledakan kapal malam itu." jelas Malik.


Mendengar kata 'ledakan', ingatan Sara kembali ke malam itu. Saat ia melihat tubuh Adhitia terkapar tak berdaya bersimbah darah di antara nyala api yang membara. Wajahnya tegang, penuh kepanikan.


"Adhitia? Dimana Adhitia? Malik, apa Adhitia selamat?" racaunya, mencengkeram lengan Malik dengan kuat.


"Tenanglah! Aku tidak tahu dimana Adhitia. Tapi mungkin Sam tahu." Malik mencoba menenangkan Sara tanpa ingin memberi harapan palsu untuk sekedar menenangkan gadis itu. Ia mengatakan hal yang sebenarnya diketahuinya saja.


"Sam? Dimana Sam?" Sara menepis lengan Malik dan mencoba bangkit untuk mencari Sam. Namun tubuh lemahnya terlalu ringkih. Ia terjatuh kembali, dan Malik segera menahannya.


"Lebih baik kau kendalikan dirimu! Kau harus sehat jika ingin mencari Sam! Tidak ada yang baik-baik saja setelah kejadian di kapal itu, mengerti?!" Malik menceramahi Sara. Sara menatapnya dengan meminta rasa iba.


"Aku pingsan selama 2 hari. Kau tak sadarkan diri selama 5 hari. Entah apa yang terjadi Adhitia dan Sam? Kita harus memulihkan tubuh di sini hingga benar-benar sehat, baru kita kembali ke Maafushi." Malik mencoba menjelaskan keadaan mereka sekarang.


Mata Sara benar-benar basah. Titik bening hangat mengalir di sudut mata bulatnya. Ia menangis tanpa ada ratapan, mencoba tegar mendengar ucapan Malik.


Malik tak kuasa melihat wajah itu. Pemuda yang kini berambut lebih panjang dengan cambang memenuhi dagunya itu mulai beranjak dari tepi ranjang, mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Aku akan memberitahukan ibu kalau nyonya sudah sadar." Azis segera mengundurkan diri dari ruangan itu untuk mencari Salma.


"Dimana ponselku?" tanya Sara tiba-tiba.


Malik menoleh ke arahnya dengan tatapan geli.


"Saat begini kau masih ingat ponsel? Aku yang dari kemarin-kemarin sadar bahkan tidak ingat dengan benda itu!" Malik berbohong.


"Apa ponsel kita hilang?" tanya Sara memastikan.


Malik mengangguk pelan.


Sara menghela nafas berat. Rasa kecewa mulai merayapi jantungnya.


"Apa ada hal buruk lain yang belum aku ketahui?" kembali Sara bertanya.


Malik segera menghampirinya. Meraih kepala Sara dan menyandarkannya di dadanya lalu mengusapnya perlahan.


"Selama ada aku di sisimu, tak kan ada hal buruk yang berani mendekatimu." ucap Malik lirih.


"Maaf! Maafkan aku!" isak tangisnya, meraung di dalam relung dada bidang Malik, melepas segala kesal dan sesalnya.


"Sssttt! Sudahlah, lupakan semua." kembali Malik mencoba menenangkan Sara.


"Tidak! Aku yang bodoh! Aku sangat bodoh, kan?"


"Hentikan, Sara! Ini semua hanya kecelakaan. Siapa pun bisa menjadi korban." Tegas Malik, mulai merasa kesal dengan ratapan Sara yang terus menyalahkan diri sendiri.


Azis dan Salma memberi salam sebelum masuk ke pondok. Azis meletakkan nampan berisi makanan dan minuman hangat di meja dekat ranjang, sementara Salma serta merta menghampiri Sara dan meraba kening gadis itu tanpa izin terlebih dahulu.


"Alhamdulillah, demammu sudah reda." ucapnya ramah dengan senyum penuh ketulusan.


Sara menghentikan tangisannya dan segera melepaskan pelukan Malik. Ia heran melihat wanita gempal berkerudung itu seakan mengenalnya sudah lama. Menyentuh dan tersenyum dengan penuh kehangatan. Sara segera menoleh ke wajah Malik, mempertanyakan identitas wanita itu dengan isyarat mata.


Malik tersenyum dan berkata,


"Ini ibu Salma. Istri dari nelayan yang menyelamatkan kita. Ibu Salma yang menjaga dan mengurusmu sebelum aku tersadar."


Sara kembali menatap Salma. Wanita itu tersenyum lali segera mengambilkan beberapa pakaian wanita dari dalam lemari yang ada di sana.


"Setelah makan dan tenang, istrimu bisa mandi dan berganti pakaian." Salma meletakkan pakaian yang bersih di pinggiran ranjang.


"Jangan cuma memandanginya, cepat ucapkan terima kasih pada malaikat penyelamat kita." perintah Malik pada Sara.


"Terima kasih." Sara dengan cepat menuruti Malik.


Salma tertawa kecil melihat pasangan itu.


"Sudahlah, aku bukan malaikat! Ini semua sudah dituliskan Allah, hingga kita bertemu dan menjadi dekat." Salma menyahut dengan bijak.


Malik menarik sebuah kursi dan duduk di dekat ranjang Sara. Ia memberikan gelas berisi minuman hangat kepada Sara.


"Minumlah! Air ini akan memberimu semangat hidup yang luar biasa." Malik memberikan ucapan pembangkit semangat.


Sara menerimanya dan menyeruputnya perlahan. Rasa hangat menyelimuti tenggorokan dan mengalir perlahan ke dadanya. Aroma jahe dan rempah lainnya mengirimkan sinyal ke kepalanya hingga matanya terbuka dan tersenyum lebar.


"Benar, kan? Minuman ini ajaib!" seru Malik, melirik pada Salma, membuat wanita paruh baya itu tersipu malu.


"Sekarang kau coba cicipi sup khas pulau ini." Malik mengambil mangkok berisi sup yang dibawa Azis dan menyuapkannya ke bibir Sara.


"Ouch, panas!" teriak tertahan Sara saat sendok berisi kuah sup yang masih berasap itu menyentuh bibirnya.


"Maaf!" Malik segera menyeka bibir Sara dengan jemarinya dengan lembut.


Suapan berikutnya diberikan Malik dengan hati-hati, tak lupa ia tiup uap panas itu sebelum diberikan pada Sara.


Melihat kedekatan antara Sara dan Malik membuat hati Salma terharu. Wanita paruh baya itu segera keluar dari pondok bersama Azis untuk memberi ruang bagi mereka berduaan.


"Apa kau berpikir untuk menikah, Azis? Kau tidak ingin seperti mereka?" tanya Salma pada Azis saat mereka di luar pondok.


Azis tertawa kecil, ada nada kehampaan di tawanya.


"Jika aku menikah, apa Ayah dan ibu akan menghidupi janda dan anak yatimku?" Azis balik bertanya, menahan rasa sesak di dadanya.


Salma mengusap kepala putra tertuanya dengan tatapan haru dan iba.


"Tak ada yang bisa menentukan umur seseorang kecuali Allah, nak. Mungkin saja hari ini kau sakit, tapi bisa jadi ibumu ini yang meninggal terlebih dahulu. Kita tak pernah tahu.Tugas kita hanya berusaha, berdoa, dan bersabar." nasehat Salma.


Azis tersenyum,


"Maaf, ibu. Saat ini aku hanya meminta ibu untuk tetap bersabar, ya." ucapnya sambil lalu, menuju ke pekerjaannya sebelumnya yaitu membuat Undholi, ayunan untuk bersantai mereka.


*****


****


***


BERSAMBUNG



Undholi, ayunan khas penduduk Maldives