
Malik menatap Adhitia dengan tajam, sepertinya hanya itu kebiasaan pria yang beralis tebal dan tegas itu. Ia menunggu Adhitia mengucapkan sesuatu yang kedengarannya serius sampai pemuda itu harus meminta maaf terlebih dahulu.
"Maaf jika aku tak sopan, tapi... Benarkah tuan tidak mengambil keuntungan dari nyonya selama kontrak pernikahan ini? Maksudku..." Adhitia tidak meneruskan pertanyaannya. Ia tahu pasti Malik mengerti maksudnya.
Malik menghela nafasnya pelan.
"Jangan khawatir. Semua sesuai kesepakatan yang telah kami buat. Aku orang yang memegang janji dengan kuat. Jika semua tiba waktunya, akan kukembalikan senior tersayangmu seutuh-utuhnya." Malik mencoba meredakan kegusaran Adhitia.
Adhitia tersenyum terpaksa. Jujur, dia belum bisa menerima pernyataan itu.
"Ah, iya! Bulan depan aku akan ke Maldives bersama Sara." kata Malik.
"M-Maldives??" Adhitia terkejut.
Baru saja pria ini bilang akan mengembalikan senior seutuh-utuhnya, bagaimana bisa utuh kalau kalian akan pergi berdua ke sana! . Pikir Adhitia.
Malik mengeluarkan rokok dan menyulut korek ke ujungnya.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan?" Malik mengepulkan asap rokok dari bibirnya.
"Aku ada pertemuan bisnis di sana selama beberapa hari. Tapi Dad menyuruh membawa Sara. Dad malah memikirkan bulan madu kami. Kau akan ikut kami, menemani Seniormu selama aku bekerja." Malik mengutarakan rencananya.
"Seniormu itu tipe orang yang tidak merasa nyaman dengan orang-orang baru di sekitarnya. Jika kau menemaninya, ia tak akan kesepian di sana." lanjutnya.
Adhitia mengangguk.
"Rokok dan alkohol adalah kesalahan fatal untuk kesehatan." Adhitia mencoba mengingatkan Malik akan kelakuannya.
"My God!!! Kau sama bawelnya dengan Seniormu. Kalian akan jadi pasangan serasi." komplain Malik.
Adhitia tertawa kecil.
"Terimakasih, tuan."ucapnya.
"Entah kenapa, setelah berbicara santai denganmu seperti ini, aku merubah pendapatku tentangmu. Kau tidak selemah yang terlihat. Aku merasa...kalau kita sudah saling kenal sejak lama. Seperti teman lama yang bertemu kembali." bicara Malik mulai lemah dan berat. Sepertinya ia mulai mabuk.
"...seperti saudara yang bertemu kembali." sahut Adhitia. Pemuda itu meneguk minumannya lagi.
Malik tertawa lebar. Gigi putihnya berbaris rapi dan garis-garis tegang di wajahnya mengendur.
"Seandainya aku punya saudara...Tapi, tidak mungkin....aku lebih suka sahabat daripada saudara....saudara itu....hanya akan membagi kasih sayang Mom dan Dad dariku." Malik tertawa lagi. Kali ini dipastikan dia benar-benar mabuk.
Adhitia pun menghabiskan minuman keras yang tersisa di botol sendirian, karena Malik sudah kehilangan keseimbangannya. Pria kaya itu tidak bisa menegakkan badannya lagi, namun matanya masih bisa melihat mata Adhitia yang merah dan berbayang buliran air.
*****
Pagi harinya, Sara terbangun dari tidur nyenyaknya. Dilihatnya Malik terbaring di sofa. Rupanya Malik sudah kembali tidur di kamar. Gadis itu pun segera mandi.
Setelah gadis itu mandi dan keluar dari kamar mandi, dilihatnya Malik masih tidur dengan nyenyak dan tidak bergerak sama sekali.
"Malik ?" Panggil Sara. Malik tetap dalam posisi tidurnya.
"Hey!!! Halooo!!! Tuan presiden, kau melewatkan jadwal lari pagimu!! Bangunlah!!" Sara menggoyang-goyangkan tubuh Malik sambil berteriak.
"Ouch...kepalaku sakit sekali. Aku akan ke kantor siang saja. Tolong ambilkan ponselku!!" Malik mengeluhkan kepalanya yang berputar sambil menunjuk ke arah ponselnya disimpan.
"Baik, tuan muda!" Sara mengambilkan ponsel Malik dan menyerahkan padanya.
"Apa yang terjadi? Apa kau sakit??" tanya Sara yang prihatin melihat keadaan Malik. Pria itu bahkan tidak bisa menerima ponsel dengan benar.
"Aku hanya minum-minum sedikit dengan Adhitia semalam." jawab Malik lemah.
"Apanya yang polos??! Dia malah menghabiskan sebotol minuman itu tanpa mabuk. Dan dia yang membawaku ke kamar ini." Malik tidak mau dituduh Sara yang tidak-tidak.
"Benarkah?!" Sara tidak mempercayainya.
"Oh, tidak!!!!" tiba-tiba Sara berteriak histeris.
"Jadi dia masuk ke kamar ini semalam? Dia melihatku tidur? Apa aku dalam posisi yang buruk semalam? " gadis itu panik.
"Mana aku tahu. Aku tidak mengurusi posisi tidurmu." jawab Malik cuek. Ia mulai membuka ponselnya dan menelepon Asisten Romi.
"Romi, aku akan ke kantor setelah jam makan siang. Dan, jangan lupa.... pesankan 4 tiket perjalanan ke Maldives untuk bulan depan " Malik memberi pesan dan perintah pada asisten Romi dan Romi mengiyakan.
"Kau akan pergi ke Maldives?" tanya Sara sambil memberikan Malik segelas air minum hangat.
Malik menerimanya dan langsung menghabiskan air tersebut.
"Iya. Dad mengatur bulan madu kita." jawab Malik, setengah mempermainkan Sara.
"Aku tak mau!!!!!" Sara kembali berteriak histeris.
"Kau pikir aku mau??!!" Malik tak mau kalah histeris.
"Karena itu aku memesan 4 tiket. Aku, kau, Adhitia, dan Luna." lanjut Malik.
"Berempat?...Di Maldives?... Seperti kencan ganda?. . " . Sara mulai berpikir yang macam-macam. Wajahnya bersemu kemerahan dan mata bulatnya bercahaya.
Malik tidak mau melepas pandangannya saat Sara dalam ekspresi seperti itu. Sudah lama ia tidak melihat Sara seperti itu. Baginya gadis akan sangat menggemaskan dan menarik jika sedang seperti itu.
Malik beranjak dari sofa, ia harus segera membersihkan diri dan pikirannya. Terlalu lama memandangi gadis itu akan membuatnya jadi gila. Dan itu sudah terbukti pada Adhitia dan tuan Sultan. Ia pun berjalan menuju kamar mandinya.
Sara mengambil ponselnya dan membuka aplikasi YouTube music di situ. Pagi ini dia tidak ingin menonton drama. Hatinya sedang senang, karena itu dia tak akan merusak moodnya dengan menonton drama yang sedih dan melow. Dia lebih memilih mendengarkan musik dan berjoget bebas.
Di dalam kamar mandi, Malik menyikat gigi membasuh mukanya. Rasa segar merasuki pori-pori wajah dan lehernya. Ia mengamati wajah tampannya di cermin. Alis yang tegas dan tebal, mata yang besar, rahang yang kuat, gigi yang rapi dan bersih, kulit yang mulus tanpa cela. Kenapa Sara tidak melihat semua kesempurnaan ini?
Malik juga membalik-balikkan wajahnya ke kanan dan ke kiri sambil tersenyum.
"Bahkan aku juga memiliki lesung pipi, sama seperti Adhitia. Apa istimewanya pemuda itu?" Malik mulai berpikir tidak waras. Dia membandingkan penampilannya dengan pemuda yang baru beranjak dewasa dan baru memulai untuk hidup.
"Sara! Bagaimana kalau kita makan siang di rumah orang tuamu hari ini?" teriak Malik dari kamar mandi.
Sara tidak menyahutinya.
Malik segera keluar dari kamar mandi karena itu. Dia bersandar di kusen pintu kamar mandi sambil sambil mengamati gadis itu yang sedang asyik menari mengikuti irama dari ponselnya.
"Pantas dia tidak mendengar. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri." batinnya.
Sandaran Malik goyah dan dia hampir tersungkur saat melihat gerakan Sara berikutnya.
*****
****
***
**
*