
Sam memandu Sara, Adhitia, dan Luna menuju private boat yang telah menunggu di pelabuhan untuk menuju pulau Maafushi.
"Kita tidak ke Male?" tanya Luna pada Sam.
"Tidak. Tidak banyak yang bisa dilihat di sana. Male terlalu kecil untuk ukuran sebuah ibukota suatu negara. Di sana hanya tempat transit untuk menuju pulau wisata lain." jelas Sam.
Pemandangan pesisir pantai sangat memanjakan mata ketika kapal mereka melaju dengan perlahan. Warna biru di langit membaur dengan warna laut. Pohon-pohon palemnya menjulang dengan alami. Semilir udara menghempaskan udara panas yang berasal dari sang Surya.
Sara begitu terpukau dengan pemandangan itu. Ia tak beranjak dari pinggiran kapal karenanya.
Melihat itu, Sam yang baru mendapat perintah langsung dari Malik untuk menjaga Sara, langsung mendekat karena takut Sara bisa terjatuh dari kapal.
"Kau bisa berenang?" tanya Sam pada Sara.
Sara menoleh padanya dan menggeleng.
"Seharusnya kau memakai pelampung." Sam memberikan jaket pelampung pada Sara.
Sara menerimanya. Gadis itu mengangkat, lalu membolak-balik jaket pelampung itu karena tidak tahu cara memakainya.
Sam mengerti kesulitan Sara. Pemuda itu lalu menawarkan bantuan.
"Biar aku pasangkan!"
Sam meraih jaket pelampung dari tangan Sara, namun Sara mengelak.
Sara memanggil Adhitia yang berdiri tak jauh darinya.
"Adhitia! Bisa bantu aku?!" panggil Sara.
Adhitia segera mendekat dan mengambil jaket pelampung dari Sara.
Sam mengamati tingkah mereka yang sangat intim, ia semakin yakin kalau hubungan di antara mereka tidak sekedar pengawal dan Nyonya muda. Tapi lebih dari itu. Terlebih lagi sikap Adhitia yang sok protektif untuk selalu dekat dengan Sara.
"Kalian sangat akrab. Aku tak tahu kalau Malik menikahi wanita yang autis." kata Sam pada Adhitia setelah Sara bergeser menjauh dari mereka.
"Jaga mulutmu! Senior tidak autis! Dia hanya seorang introvert. Dia tidak bicara dengan orang yang baru dikenalnya!" Adhitia marah.
"Wow...tenang, bro! Maaf, aku tidak tahu itu." Sam meminta maaf.
"Menyusahkan! Yang satu introvert, yang satunya lagi posesif. Yang memberi perintah untuk mengawasi mereka perfeksionis!"
Sam membatin dan menggerutu.
Karena merasa diacuhkan oleh Sara dan Adhitia, Sam mulai mendekati Luna yang asyik selfi dengan latar pemandangan langit.
"Cantik sekali!!" puji Sam pada Luna.
"Thank you!" sahut Luna sambil tersenyum.
"Kau berasal dari kota B?" tanya Sam.
"Tidak."
"Lalu, dimana kau dan Malik bertemu?" Sam mulai menginterogasi Luna.
"Di Florida." jawab Luna singkat sambil terus ber-swa foto.
"Wow...Florida? Di sana Malik mendirikan perusahaan software berskala kecil bersama teman-teman kuliahnya.!!" Sam berusaha mengingat.
"Benar. Aku memilihnya karena dia CEO di sana. Jika tidak, aku tak akan mendekatinya." jawab Luna tanpa sungkan.
Sam mengangkat alisnya sebelah.
"Metroseksual! Materialistis! Kenapa Malik memilih wanita seperti ini!" pikirnya.
"Sebagian besar lulusan kampus kami menjadi pengusaha mandiri dan sukses sejak dini." Sam mulai menyombongkan diri.
"O ya? Kau dan Malik dulu satu kampus?" tanya Luna tak percaya.
"Betul!!! Aku mengembangkan resort di salah satu pulau di sini." jawab Sam.
Luna menanggapinya dengan senyuman sinis, karena ucapan Sam terdengar seperti sebuah kelakar besar di telinganya.
Perjalanan 45 menit dari pelabuhan menuju pulau Maafushi terasa sangat singkat. Sara, Adhitia, dan Luna sangat menikmatinya, dan mereka sama sekali tidak merasa lelah. Terbukti pada saat mereka sampai di hotel Kaani, mereka tidak beristirahat malah memilih untuk keluar kamar dan langsung berjalan-jalan di sekitar hotel yang langsung berbatasan dengan pantai.
"Ya ampun!! Kalian bersemangat sekali?! Berapa usia kalian?" keluh Sam yang terlihat kelelahan mengiringi mereka.
Sara tertawa kecil sambil melirik ke Sam. Lalu gadis itu berbisik-bisik pada Adhitia.
"Apa katanya?!" tanya Sam yang tak suka dibicarakan dengan berbisik.
Adhitia tertawa.
"Senior menanyakan usiamu yang sebenarnya. Apa kau lebih tua dari Malik?" kata Adhitia.
Sam cemberut. Ia mendengus kesal lalu menghampiri Sara dengan segera.
"Aku bosan dengan caramu! Apa kau bisa berkomunikasi dengan normal pada orang lain?!" Sam memberi komplain pada Sara dan menunjuk-nunjuk wajah Sara.
Sara melangkah mundur dengan wajah panik karena Sam terus mendekatinya.
"Aku tak tahu apa yang Malik lihat darimu, tapi kau sama sekali tidak asyik untuk diajak berteman!!" lanjut Sam.
'Senior!!" . Adhitia berteriak saat kaki Sara membentur sebuah cangkang kerang besar.
Adhitia menangkap tubuh Sara yang hampir terjatuh terjerembab ke belakang. Wajah gadis itu menjadi pucat pasi.
"Kau!!" Adhitia meneriaki Sam.
"Apa masalahmu, tuan?! Dia istri temanmu! Bukan berarti dia bisa menjadi temanmu!" Adhitia memarahi Sam.
"Itu hanya masalah waktu! Nyatanya, dia bisa dekat denganmu, kan? Apa kau tak suka jika ia berteman dengan pria lain?" sahut Sam tak kalah sengit.
"Itu masalah lain!! Dan iya!!! Aku tidak suka jika senior berteman dengan pria lain, karena aku tidak percaya adanya persahabatan antara pria dan wanita, kecuali ada niat terselubung di dalamnya!!!" jawab Adhitia.
"Sebagai pengawal, pemuda ini melebihi batasannya.!!!" pikir Sam.
"Maaf!" ucap Sam kemudian.
"Oh..Great!!! Jalan-jalanku sore ini jadi berantakan gara-gara kalian!" kesal Luna.
Wanita itu langsung melangkah kembali ke hotel, meninggalkan ketiga orang itu.
"Maafkan aku.." Sara berkata pelan pada Sam.
Sam dan Adhitia menoleh ke arahnya bersamaan.
"Mungkin aku perlu istirahat." lanjut Sara.
Tanpa menunggu perintah, Adhitia langsung merangkul pundak Sara dan menuntunnya untuk kembali ke Hotel.
Lalu setelah mereka berdua berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Sam berteriak,
"Aku baru 34 tahun!! Kalian juga merasakan letih, jadi aku belum terlalu tua, kan?!!!!"
Sara dan Adhitia menoleh.
Sara memberikannya senyuman manis sambil mengacungkan jempolnya ke atas.
Seketika angin laut berhembus kencang di sekitar mereka.
"Astaga!!" lirih Sam.
Dia baru menyadari, alasan Malik untuk memintanya menjaga Sara bukan karena hanya statusnya sebagai istri direktur utama perusahaan besar. Namun ada sesuatu dalam senyum Sara yang terlihat manja dan menarik.
Sam berdiri kaku di pinggiran pantai yang berombak kecil dengan angin berhembus kencang, memandangi kepergian Sara dan Adhitia menuju hotel Kaani. Ia menyimpan senyuman yang diberikan Sara tadi dalam pikirannya rapat-rapat.
*****
Di hotel Kaani, malam harinya.
Sara dan Luna tidur di kamar masing-masing yang terpisah, sedangkan Adhitia satu kamar dengan Sam.
"Banana reef?"
Sam mengajukan ide untuk rencana mereka besok di pantai kepada Adhitia.
"Entahlah. Apa itu aman? Senior tidak bisa berenang!" sahut Adhitia datar.
"Ayolah, kita di dekat pantai. Tidak mungkin kita hanya jalan-jalan mengitari pulau ini. Kesenangan dan keseruan ada di atas air!!" keluh Sam.
"Mungkin gundik tuan Malik menyukainya, tapi seniorku tidak akan mengambil resiko itu." Adhitia menyebut Luna sebagai gundik Malik.
"Okay, Mr. Bodyguard!!! Sangat asyik sekali berbagi ide denganmu!" Sam terlihat kesal, berbeda dengan yang diucapkannya.
Sam beranjak dari tempatnya menuju pintu.
"Mau kemana?" tanya Adhitia.
"Mencari teman ngobrol yang asyik." jawab Sam singkat.
"Dimana kita bisa mendapatkan minuman?" tanya Adhitia dengan pelan.
Senyum nakal Sam mengembang.
"Maksudmu...wine?" tanyanya memastikan.
"Bagaimana dengan absinthe?" Adhitia ikut tersenyum nakal.
"Woooww, Broo!!! Aku suka seleramu!!" teriak Sam takjub.
"Tapi sulit mendapatkan itu di sini. Kecuali kita berada di pesta para orang besar." lanjut Sam dengan nada kecewa.
"Wine pun tak apalah!" Adhitia mengambil jaketnya dan berjalan mengekor Sam menuju keluar kamar.
Adhitia berhenti di depan kamar Sara.
"Hey, Sam. Tunggu sebentar!" panggil Adhitia. Sam menurutinya.
Adhitia mengetuk pintu kamar Sara. Namun tidak ada respon dari dalam.
"Apa kau akan mengajaknya?" tanya Sam penasaran.
Adhitia tidak menjawab. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Sara.
"Sepertinya ia sudah tidur." lirih Adhitia.
Sam melihat jam tangannya.
"Baru jam 22.00." katanya.
Adhitia lalu mengirim pesan singkat berisi kalau ia keluar bersama Sam malam itu.
"Ayo!!" Adhitia lalu mengajak Sam melanjutkan langkahnya.
*****
****
***
**
*