PASSION

PASSION
27. Ratu Kera Yang Nakal



Luna amat terkejut saat Malik meneriakinya di depan Sara. Terlebih lagi saat Sara tertawa, ia merasa jika dirinyalah yang ditertawakan oleh gadis itu.


"Halo, Luna." Sara bermaksud menyapanya. Luna tidak menjawab. Ia malah bergegas keluar dari ruangan itu dengan kesal.


BAAMM!!


Pintu dibantingnya.


"Wow, dia bersemangat sekali." ucap Sara karena kaget dengan suara pintu.


"Kau gila! Dia sedang kesal, bukan bersemangat!" celetuk Malik.


Sara mengangkat kedua bahunya,


"Tak ada bedanya bagiku." katanya.


"Katakan, apa maumu?" tanya Malik tanpa berbasa-basi.


"Bicaramu ketus sekali. Aku cuma mengantar makan siangmu." Sara meletakkan kotak makan siang di meja kerja Malik.


"Aku tidak minta diantarkan makan siang!" lagi-lagi Malik berbicara dengan nada menjengkelkan. Tangannya perlahan membuka kotak makan siang yang dibawa Sara.


"Malik, Don't be too harsh!!! Dad yang memintaku." Lama-lama Sara menjadi sebal dengan gaya sok cuek Malik.


Malik duduk di kursi kuasanya dan bersiap melahap bekal yang dibawa Sara.


"Dad bertanya, kenapa akhir-akhir ini kau sering pulang larut malam dan lebih sering tidur di ruang perpustakaan." Sara menceritakan percakapannya dengan tuan Sultan tadi pagi.


"Lalu, apa jawabmu?" Malik bertanya lalu memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.


"Aku bilang, kau sedang marah padaku karena toko online-ku." jawab Sara.


Malik menggeleng,


"Hmm..... Jangan besar kepala. Aku hanya sibuk mempersiapkan bisnis baruku selain perusahaan ini." Malik menyangkal kalau ia memang sedikit kesal dengan gadis yang berdiri di hadapannya kini.


Sara tersenyum. Ia lega karena ternyata Malik bukan menghindarinya, tapi karena kesibukan pekerjaannya. Dan ia mempercayai ucapan Malik begitu saja. Malik sangat menikmati makan siangnya hingga lupa menawarkan Sara untuk makan bersama.


"Apakah enak?" tanya Sara penasaran.


Malik mengangguk.


"Dad yang minta dibuatkan masakan itu."


Malik berhenti mengunyah. Ia menatap Sara tajam.


"Apa kau yang memasak?" tebaknya.


Giliran Sara yang mengangguk.


Malik lanjut menikmati makan siangnya.


"Apa lukamu sudah sembuh?" Malik bertanya lagi.


"100% sembuh total!" jawab Sara bersemangat.


"Apa...kau mau melihatnya.." Sara menurunkan atasan pakaiannya untuk memperlihatkan bahwa tak ada bekas luka di bahu dan pundaknya. Namun yang terlihat di mata Malik malah buah dada Sara yang menyembul di balik bra hitam.


Malik tersedak. Makanan di mulutnya berhamburan berlompatan di atas meja kerjanya .


"SARA!!!" bentak Malik seraya terbatuk-batuk


"APA KAU INGIN MEMBUATKU MATI TERSEDAK!!!"


Sara malah tertawa terpingkal-pingkal walau dibentak Malik. Tawanya lepas memenuhi ruangan. Ia membetulkan pakaiannya kembali.


Malik menyeka mulutnya. Wajahnya sangat merah. Entah karena terlalu marah pada kelakuan Sara yang berani menggodanya atau karena baru kali ini ia melihat bagian tubuh atas Sara secara utuh. Ia melihat di tangannya ada bercak darah.


"nose bleeding?" pikirnya. Ia tidak percaya kalau ia mimisan hanya gara-gara melihat Sara.


Malik memandang ke arah Sara yang masih tertawa geli, menertawakan dirinya.


"Kenapa gadis ini jadi sangat nakal? Apakah Adhitia mengajarinya sesuatu? Tampaknya Adhitia membawa pengaruh buruk padanya."


Malik terus berpikir


Sara mendekat dan membersihkan kekacauan di meja kerja Malik.


"Adhitia yang mengantarmu?" tanya Malik.


"Iya. Dia menunggu di parkiran." Sara menjawab sambil sibuk membersihkan sisa makan siang Malik.


"Bagus!! Suruh Adhitia pulang sekarang! Kau tetap tinggal disini bersamaku sampai nanti malam!" perintah Malik.


"Jika kau menolak, kita akan menginap di sini!!" Malik mengancam dengan tatapan tajamnya.


Sara menelan air ludahnya yang membasahi tenggorokannya. Entah kenapa setiap kali Malik menatapnya dengan tatapan seperti itu, ia seperti tersihir untuk menurutinya.


Melihat Sara yang diam tak bersuara, Malik tersenyum menang. Ia tidak terima dikerjai Sara, jadi ia akan membalas mengerjai gadis itu.


"Adhitia, Seniormu tidak akan pulang bersamamu. Kau pulanglah duluan!" Malik memerintahkan Adhitia untuk pulang melalui ponselnya.


"Tapi aku belum makan.." Ucap Sara lirih sambil memegangi perutnya yang berbunyi keroncongan.


Malik menelepon kembali,


"Asisten Romi, bawakan 2 porsi menu makan siang dari resto di sebelah gedung." kali ini Asisten Romi pun mendapat perintah dari Malik untuk urusan sepele.


Sara duduk di sofa tamu yang ada di sisi meja kerja Malik. Ia mulai menyibukkan diri dengan ponselnya agar tidak mengganggu kerja Malik.


Saat makan siang datang diantarkan oleh asisten Romi, mereka berdua langsung makan bersama dan menikmati makan siang sambil bercanda dan tertawa kecil.


Setelah makan siang, Malik segera menuju ruang rapat. Sara tertidur di sofa. Malik meninggalkannya sendirian di ruangan karena tidak mau mengganggu istirahatnya.


****


"Tuan Sultan, mereka pulang sambil berpegangan tangan!" Bibi Mei berseru tertahan pada tuan Sultan setelah mengintip kepulangan Malik dan Sara dari kantor sore itu.


Tuan Sultan pun mendekat ke jendela untuk melihat mereka dengan mata kepalanya sendiri.


"Dasar anak muda! " ucapnya pelan diselingi senyuman.


Saat masuk ke dalam rumah, Sara dan Malik terkejut melihat tuan Sultan dan bibi Mei berdiri di depan pintu.


"See! Mereka berdua memang berniat mempersatukan aku dan Sara!" batin Malik.


"Dad, kau menungguku?" tanyanya seolah-olah kaget melihat Tuan Sultan di sana.


"Tidak!! Aku menunggu menantuku." jawab tuan Sultan.


"Aku?" Sara tampak kebingungan.


"Ya! Mengapa kau baru pulang sekarang? Aku hanya memintamu mengantar makan siang Malik, bukan menungguinya." tuan Sultan berpura-pura kecewa.


"Dad, itu..." Sara menunjuk pada Malik.


"Malik menahanku di ruangannya. Dia mengunci ruangannya dari luar saat aku tertidur siang tadi dan dia baru kembali saat sore." Sara mengadukan perbuatan Malik tadi siang.


"Itu karena matamu lelah menatap layar ponsel, jadi kau tertidur seperti kera yang kekenyangan!!" Malik membela diri.


"Kau mengataiku kera lagi?!" Sara meninggikan suaranya dan memasang tangannya di pinggang, bersiap menantang Malik.


"Iya!! Kenapa?? Apa harus kubilang Ratu Kera?!!!!" Malik mengikuti gayanya.


"Hentikan!!!" teriak tuan Sultan. Seketika semua terdiam.


"Kalian seperti anak kecil yang baru mengalami first crush! Benar-benar konyol!!!" ejek pria paruh baya itu.


HMMPHH!!


Keduanya membuang muka.


Tuan Sultan memegangi kepalanya, bertingkah seolah-olah pusing.


"Sara, kau boleh naik ke kamar dan beristirahat." katanya dengan lembut pada Sara.


"Terima kasih, Dad." ucap Sara girang. Gadis itu melangkah dengan santai dan riang, mengejek Malik dengan memasang wajah jelek dan menjulurkan lidahnya.


"Well, sepertinya aku memang menunggumu, tuan muda!" Tuan Sultan menatap lurus ke arah Malik. Malik menghela napasnya dengan berat. Aura mistis penuh investigasi menyelimuti ruang kosong di sekeliling ayah-anak itu.


"Dad tak akan puas mencari tahu jika belum menanyakan langsung padaku. Tuan besar ini selalu menguji kejujuranku." gerutu Malik dalam pikirannya.


*****


****


***


**


*



Adhitia dan Sara