PASSION

PASSION
55. Menghilang!



Some spirit has taken over him


Hey doesn't know how to stop


Now what is bad or what is good


Hey doesn't know the difference


Bloody He is standing stubborn


Hey doesn't know how to get go


Ill-mannered heart


Ill-mannered heart


Ill-mannered heart


Doesn't listen...Doesn't listen


Lagu yang dibawakan Adhitia dengan ceria membuat Mike-Daniella dan para tamu lainnya terbawa suasana gembira dan bahagia. Bak seorang rockstar sejati ia melompat dan berlarian kesana-kemari mengajak semuanya mengikuti irama lagu yang ia lantunkan.


Sementara Malik memasang senyum masam pada lirikan mata Sara yang tanpa kedipan menatap pemuda super manis, super keren, super berbakat itu.


Seorang pelayan mendekati Sara dan berbisik, lalu Sara mengikutinya.


Malik menahan tangannya,


"Mau kemana? Tidak ada peta kapal ini di ponselmu jika kau tersesat." cegahnya.


"Aku cuma akan ke kamar mandi sebentar." jawab Sara.


"Ayolah, Malik. Dia bukan anak kecil. Lagipula pihak kepolisian sudah berjaga-jaga di kapal ini." bisik Sam.


Dengan berat hati Malik melepaskan tangannya yang menahan Sara dan mengizinkan gadis bermata bulat itu melangkah mengikuti langkah pelayan ruangan itu.


This condition is question and


It's fantastic


It's doesn't know! It's doesn't know!


Ill-mannered heart, Ill-mannered heart


Doesn't listen


I've seen Havana from the air


I've seen this and that


After eating caltrop of a lion


I've seen the roaring of a lion


After going around the world


I pushed the world back


Adhitia terus bergerak, menjadi pusat perhatian, menari bersama Daniella lalu menghampiri beberapa wanita lain yang tampaknya sudah tersihir pada pesonanya dan membuat heboh ruangan.


"Get da*n!! He's so rocking!!" seru Sam yang tampaknya juga telah tersihir oleh penampilan Adhitia, tanpa mempedulikan wajah kaku Malik yang tegang tanpa senyum.


Bollywood and Hollywood


Both are very Jolly good


On the mountain of black mustard seeds


I've seen a 3 foot liliput


If anyone repeat after me then


I'll punch that rascal in the face


From the one way of ostentatious life


It's doesn't know how to turn


The blanket of Shame for no reason


It's doesn't know how to put it over


Di luar public area, Sara menemui seseorang yang dikabarkan oleh pelayan ingin bertemu dengannya.


"Excuse me."


"Mrs. Sara from B city?" tanya orang misterius itu.


"Yess. How can I help you?" Sara mencoba beramah tamah, meski dia merasa tidak nyaman menemui orang asing itu.


Tiba-tiba pelayan yang semula mengiring Sara, membekap hidung dan mulutnya dengan saputangan yang ditetesi cairan kloroform.


Sara meronta dan mencoba mengelak di detik-detik awal, namun kuatnya bekapan pelayan itu dan efek obat bius yang menyeruak mengisi jaringan syaraf, membuat tubuhnya semakin melemah lalu tak sadarkan diri.


Bagaikan sudah terencana dengan matang, seorang pria berpakaian rapi dengan jas dan kacamata hitam mendekat, membawa kursi roda dan membantu pelayan gadungan tadi mendudukkan Sara di sana.


Seseorang misterius yang berdiri di kegelapan itu lalu mengenakan syal panjang, kacamata hitam, dan topi pada Sara.


"Bawa nyonya ke kabin Tuan." perintahnya pada kedua orang itu. Tanpa menolak, mereka menurutinya.


Sudah lebih dari 15 menit Sara belum muncul dan kembali ke ruangan, itu yang membuat Malik tegang.


"Mau kemana, bro?" cegah Sam saat Malik melangkah hendak keluar ruangan.


"Mencari Sara. Aku yakin gadis itu tersesat di suatu tempat." jawab Malik cemas.


"Cepat kembali, pertunjukkan ini sebentar lagi berakhir!" Sam memberikan senyum meledek, dan Malik membalasnya sekilas tanpa makna. Baginya, lebih baik dia berada di luar ruangan daripada melihat sekumpulan orang yang tergila-gila pada penampilan Adhitia.


"Permisi, di mana toilet?" tanya Malik pada seorang pelayan.


"Toilet ada di sebelah sana, tuan." pelayan itu menunjukkan arah yang berlawanan dengan arah perginya Sara tadi.


"Toilet wanita?" Sekali lagi Malik memastikan perkiraannya salah.


"Iya tuan. Toilet wanita dan pria bersebelahan. Atau Anda ingin menggunakan toilet di kabin atas? Arahnya di sebelah tangga sana." sekali lagi pelayan itu menunjukkan arah semula.


Malik mengerutkan dahinya.


"Apakah anda perlu diantar, Tuan?" pelayan tadi bersikap ramah.


"Tidak perlu! Aku sedang menunggu seseorang yang memakai toilet." jawab Malik seraya tersenyum.


"Baiklah. Permisi, tuan." pelayan tadi meninggalkan Malik.


Malik berjalan menyusuri hallway yang berukuran lebar 2 meter, diterangi cahaya lampu neon yang tertanam di langit-langit kabin.


Langkah kaki jenjangnya terhenti saat menginjak benda keras berukuran kecil. Malik menggeser kakinya dan memungut benda tersebut.


"Cincin ini.." lirih, Malik mencoba mengingat benda yang baru saja dipungutnya. Itu adalah cincin yang dibeli Adhitia untuk dihadiahkan pada Sara beberapa hari lalu. Sara sangat menginginkan dan menjaga benda itu dengan baik, lalu bagaimana cincin bermata sapphire biru itu tergeletak di hallway?


"Sedang apa kau di sini?" tegur Sam, berjalan bersama Ashitia, mendekati Malik yang berdiri mematung sambil mengamati cincin bergagang perak itu.


Melihat cincin Sara ada di tangan Malik, wajah Adhitia berubah tegang dan langsung merebutnya dari tangan Malik.


"Ini milik Sara. Kenapa bisa ada padamu?" Adhitia menatap Malik tajam.


"Aku menemukannya di sini." jawab Malik gugup.


Adhitia menggenggam cincin tersebut dengan erat di depan dadanya seraya memejamkan matanya.


"Ini tidak akan terjatuh begitu saja." geramnya.


"Apa? Kau mencurigai Malik?" tanya Sam.


"Ya!!!" sahut Adhitia keras.


"Dimana Sara? Kemana kau bawa kekasihku?!!" Adhitia menyambar kerah jas Malik dan mengguncangkan tubuh pria itu dengan sekuat tenaga.


"A..aku, bukan aku!" membela diri, wajah Malik pun pucat karena gugup.


"Hei! Tenanglah, Romeo!" Sam berusaha melerai keduanya.


"Malik, aku mengawasi Adhitia sedari tadi. Tapi tidak mengawasimu. Katakan apa yang terjadi?" tanya Sam pada Malik.


Malik mendelik.


"Kau mencurigaiku?! Untuk apa aku menyembunyikan istriku sendiri."


"Kau cemburu!! Kau sudah berjanji akan menyudahi drama pernikahan kalian saat pulang ke kota B nanti, tapi kau berubah pikiran!! Kau tak rela melepaskannya!!!" teriak Adhitia kesal, berulang ia kali ingin meninju Malik, tapi Sam selalu menghalangi.


"Hentikan ocehanmu!" bentak Sam.


Adhitia terdiam.


Sam menarik lengan Malik yang keadaannya seperti shock, baru menyadari kalau Sara menghilang.


"Ayolah, bro. Katakan ini bukan permainanmu, kan?" Sam mencoba bicara pada Malik.


Malik menggeleng pelan. Sam menatapnya ragu.


"Hey!!" terdengar suara teriakan Adhitia, diikuti suara pukulan benda tajam menghantam.


Sam dan Malik menoleh ke arah Adhitia bersamaan karena terkejut.


Seorang pria berbadan tinggi besar memakai masker menodongkan pistol pada keduanya, sementara 2 orang lagi yang memakai kostum sama memapah tubuh Adhitia yang telah terkulai tak berdaya menjauh ke arah berlawanan.


Sam dan Malik berdiri mematung dalam ketidakberdayaan. Sang pemegang pistol berjalan mundur teratur lalu melemparkan semacam bom asap ke arah mereka berdua.


Spontan Malik dan Sam menutup hidung seadanya sambil menjauh dari asap tebal yang terasa sesak jika terhirup. Malik membuka jasnya dan mengibaskannya di kumpulan asap agar dapat melihat ke arah mana para pria bermasker tadi membawa Adhitia.


Sam mengeluarkan ponselnya, dan berteriak,


"Kalian berjaga dimana, bodoh!! Dua orang menghilang di kapal ini!! Jaga jembatan keluar-masuk!! Jangan ada yang turun atau naik tanpa izin dariku!!!"


"Dan kau, tuan Malik, ikut aku!" setelah memarahi petugas kepolisian yang berjaga lewat ponsel, Sam menarik lengan Malik dengan kasar.


*****


****


***


**


*