PASSION

PASSION
51. Banana Reef



***


Matahari masih bersinar terik, belum beranjak terlalu jauh dari tengah hari. Luna berdiri di sebuah batu karang kecil dengan bertelanjang kaki menatap deburan ombak menghempaskan buihnya pada susunan karang lainnya.


Matanya merah, namun tak tampak kesedihan di sana. Rambut ikal kecoklatannya dibiarkan terurai berkibas diterpa angin laut.


Setelah mendapat info dari pelayan hotel yang ditugaskan untuk mengawasi Luna, Sam memberanikan diri untuk mendekati Luna.


"Kau suka pantai?"


Luna terkejut karena tiba-tiba mendengar suara Sam di dekatnya.


"Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau tak ada pekerjaan?" Luna menunjukkan rasa tidak suka saat kesendiriannya diganggu.


"Aku ingin mengajakmu menyelam."


"Aku tak bisa berenang." jawab Luna malas.


Tertawa kecil, Sam makin mendekati Luna.


"Kau yakin? Pemandangan dunia bawah laut dapat menyihirmu dan melupakan kesedihanmu di dunia daratan." bujuknya.


Luna tidak menjawabnya. Matanya lurus menatap wajah Sam yang kemerahan di sengat sinar matahari, mencoba menangkap apa maksud sebenarnya dari tujuan pemuda itu yang terus berusaha mendekatinya.


"Ayolah. Jika hari mulai petang, tak banyak yang dapat kita lihat di bawah sana!" tanpa menunggu jawaban, Tangan Sam menyambar jemari Luna dan menggenggamnya dengan hangat lalu membawanya menuju sebuah kapal cepat berukuran tidak terlalu besar dengan kabin yang berpenutup.


Sam menuntun Luna menaiki kapal cepat itu dengan penuh kehati-hatian. Setelah duduk di kabin, mereka berdua bersama bersama seorang pengemudi dan dua awak kapal menuju ke Banana Reef yang terletak di Kaafu Atol.


Sesampainya di Kaafu Atol, mesin kapal dimatikan. Sam yang sudah siap dengan pakaian selamnya, dibantu seorang awak kapal mengenakan tabung oksigen di punggungnya. Begitu pula dengan Luna. Setelah siap, Sam mengacungkan jempol pada Luna dan bersiap-siap terjun ke dalam air laut.


BYUR!!


Sam terlebih dahulu menjatuhkan diri di beningnya air laut di sana. Lalu Luna mengikuti perbuatannya.


BYUR!!


Sam menuntun Luna untuk menyelam lebih dalam lagi, dimana mereka dibuat takjub dengan keindahan warna-warni pemandangan bawah laut, ikan-ikan yang jarang ditemui, terumbu karang yang terpelihara, juga hewan laut lain yang hidup berdampingan dengan rukun.




*****


Adhitia masih mengenakan kacamata hitam saat membukakan pintu kamar hotelnya untuk Malik. Dan tanpa menunggu undangan masuk, sang tuan masuk ke kamar dengan leluasa lalu duduk pada sebuah kursi dalam kamar dengan 2 ranjang single itu.


"Aku menunggu cerita darimu!" ucapnya tanpa basa-basi.


Terkejut, Adhitia bingung dengan apa yang dimaksudkan Malik.


"Maaf, tuan?"


Malik mengangkat sebelah alisnya, ia tidak suka mengulang-ulang perintah.


Melihat keseriusan sang tuan, Adhitia menghela nafasnya berat.


"Maafkan aku, tuan. Aku tidak berhati-hati." lirih Adhitia seraya membuka kacamatanya.


Sebelah mata indah milik pemuda itu masih tertutup perban dan terekat dengan plester.


"Bagaimana itu bisa terjadi?"


"Tuan, aku tidak tahu darimana datangnya ketiga pria itu. Mereka sengaja menabrak kami dan membuat kekacauan di pasar. Untung saja kami ditolong seorang supir taksi dan segera melarikan diri ke rumah sakit." .


Tanpa bergeming, Malik mendengarkan cerita yang dilontarkan Adhitia. Ia tidak merasakan ada kebohongan di sana. Dan juga mata kanan pemuda itu benar-benar terluka.


"Apa lukamu parah?" tanyanya peduli, namun masih dengan ekspresi datar.


"Besok aku harus kembali ke rumah sakit untuk memeriksakannya lagi." Adhitia kembali memakai kacamatanya.


"Telepon aku untuk tagihan biaya rumah sakitmu. Dan...kau kubebastugaskan sementara dari mengawal Sara. Fokus saja dulu pada penglihatanmu!" bangkit dari kursi, Malik memberi perintah.


"Tapi, tuan..." Adhitia mencoba menyela.


Pikirnya jika ia dibebastugaskan, ia tak akan bisa berdekatan dengan Sara. Dan tak ada alasan untuknya untuk pergi bersama.


"Apa ini Adhitia? Kecelakaan saat bertugas atau kecerobohan? Jika masih kau paksaan bekerja dengan mata terganggu seperti itu, apa kau yakin bisa mengawasi Sara dengan baik? Kau berani menjamin tidak akan ada kesalahan lagi?" Malik menyerangnya dengan berbagai pertanyaan yang menohok.q


Adhitia tidak bisa memastikannya, ia terdiam.


"Beristirahatlah! Biar aku dan Sam yang akan mengurusnya ke kantor polisi." setelah berkata seperti itu, Malik meninggalkan Adhitia sendirian di kamarnya kembali.


*****


Setelah puas menyelami keindahan bawah laut Banana Reef, Sam dan Luna kembali ke permukaan dan disambut oleh awak kapal yang telah mempersiapkan handuk dan piyama kering. Begitu menerima handuk, Luna segera masuk ke kamar kabin untuk berganti pakaian.


"Thank you." ucap Sam pada awak kapal.


Baru selesai memakai handuk piyamanya, ponsel Sam berbunyi. Ia segera meraih ponsel yang ada di


meja kecil di dek kapal tersebut.


"Ya Malik?"


"Darimana saja kau?! Sudah hampir satu jam aku menghubungimu! Kukira kau sudah mati!" terdengar suara gerutuan Malik.


"Well, aku baru pulang dari kantor polisi." jawab Sam berbohong.


"Bagaimana perkembangannya?"


"Kau yakin?"


"Kau meragukanku? Sia***!!" umpat Sam terang-terangan, lalu memutuskan panggilan dari Malik itu.


Sam menatap indahnya sinar sang Surya yang makin condong ke ufuk barat, saat Luna kembali dari berganti pakaian.


"Sangat indah." Luna ikut mengagumi keindahan panorama yang disaksikan Sam.


Sam menoleh ke arahnya, lalu tersenyum.


"Terima kasih." Luna membalas senyum Sam.


Seorang awak kapal datang menyuguhkan minuman segar dan camilan di atas meja.


Sam menuntun langkah Luna untuk duduk di meja sambil menikmati suguhan dari awak kapal.


"Apa ini rangkaian dari tur wisata kita hari ini?" seru Luna yang menampakan keceriaannya kembali, mengagumi pelayanan dan fasilitas di kapal cepat yang mengapung, memanjakannya.


"Ini karena mereka melihatku membawa seorang gadis cantik." Jawaban Sam terselip rayuan.


Luna tersipu, lalu meneguk minuman yang disajikan untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering akibat terlalu lama di bawah air.


"Sudah lama kau bersama Malik?" Sam melontarkan pertanyaan yang membuat wanita itu teringat pada pemuda itu lagi.


"Apa kau sedang menginterogasiku?" jawab Luna sambil mengambil beberapa camilan dan mulai melahap tanpa mempedulikan tatapan Sam.


Sam tersenyum lebar.


"Sudah kuduga!! Kau terlalu cerdas untuk Malik!" seru Sam yang gembira dengan kebenaran dugaannya.


"Kenapa kau bertahan dengannya? Aku tahu kau tidak mencintainya." Sam ikut mengambil camilan dan menyantapnya dengan santai.


Mulut Luna yang sedang mengunyah tiba-tiba berhenti.


"Aku benar lagi! Hahaha..!" seru Sam seraya tergelak keras.


"Seperti yang pernah aku katakan, aku mendekatinya karena dia dulu seorang CEO. Dan saat aku tahu kalau dia putra pemilik perusahaan S di kota B, aku tak akan dengan mudah melepaskannya. Dia menyukaiku, aku membutuhkannya. Hubungan yang setimpal, bukan?" jawab Luna menjelaskan.


Lagi-lagi Sam tersenyum lebar.


"Kau tahu? Tujuh tahun di kepolisian bagian kriminal Maldives membuatku mampu melihat kebohongan dari pernyataan seseorang." ujarnya.


Mata Luna terbelalak. Camilan yang telah ia kunyah sampai halus, tak mampu masuk di tenggorokannya.


"Apa kau seorang polisi?" tanya Luna dengan suara sedikit bergetar.


"Tidak lagi. Aku mengundurkan diri 5 tahun lalu. Aku bosan melihat kebenaran menjadi tersangka dalam bui. Memberi perlindungan pada yang berkuasa dalam kezaliman. Mengatasnamakan rakyat walau akhirnya mengorbankan rakyat itu sendiri. Aku memang suka memerangi kejahatan, tapi aku tidak sejalan dengan lembaga itu." Sam membuka dirinya.


Luna tertegun, lalu bertanya,


"Jika kau tidak bekerja, darimana kau bisa hidup? Bagaimana dengan orang tuamu yang kini menjadi tanggung jawabmu? Bagaimana kau akan menghidupi istri dan anak-anakmu nanti?"


Mendengar pertanyaan kolot seperti itu, Sam tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha...kalian dengar itu?!" Hampir mengeluarkan air mata karena rasa geli yang tak tertahankan, Sam melontarkan tanya pada awak kapal yang berdiri tak jauh dari meja mereka beristirahat.


"Nona tidak tahu siapa sebenarnya Sir Sam? Dia adalah..." belum selesai awak kapal itu berkata, Sam melemparnya dengan camilan yang ada di meja dengan kuat.


"Diam kau!!! Aku tidak perlu dipromosikan olehmu!" ketus Sam.


Dipandangi oleh Luna dengan tatapan mengerikan, Sam menghentikan bicara ketusnya.


"Apa status dan kuasa sangat penting bagimu?" tanya Sam.


"Status membuatku nyaman, dan kuasa membuatku aman." jawab Luna singkat.


Sam mengangguk.


"Benar juga!" sahutnya.


"Lalu apakah kau nyaman dengan status sebagai gundik Malik?" Sam menyindirnya.


Luna menghembuskan nafasnya dengan berat dan perlahan. Ia tersenyum getir lalu berdiri dan pergi meninggalkan Sam.


"Apa? Bukan aku yang mengatakan itu! Adhitia yang menyebutmu begitu!" kilah Sam.


Menuju ke dalam kabin kapal dengan perasaan kesal, Luna terkejut saat Sam mengikutinya hingga ke dalam.


"Tolong jangan marah. Aku minta maaf.." ucap Sam dengan penuh penyesalan.


"Aku tidak marah. Terima kasih sudah mengingatkanku kembali pada statusku yang sesungguhnya." Tetap tersenyum getir, Luna menjawab dengan kepala terangkat, seperti sudah terbiasa menerima sindiran yang semacam itu.


"Tahukah kau, status bisa diubah dengan sangat mudah." setelah mengatakan hal itu, Sam mengecup bibir hangat Luna dengan lembut.


Melihat Luna terpaku dengan keberaniannya, Sam tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mengulangi kecupan itu beberapa kali, seraya memeluk tubuh kekasih teman baiknya itu.


*****


****


***


**


*