
*****
"Maaf, Sir Vicky. Anda kami berhentikan dari kampus ini." Sir Zafar berkata dengan tegas dan jelas.
Vicky terlihat sangat terkejut. Alisnya berkerut dan menatap Zafar dengan tatapan heran.
Sara yang berada tak jauh dari sana segera mempercepat langkahnya menengahi kedua pria itu.
"Sir Vicky! Akhirnya aku menemukanmu." ucap Sara dengan nafas terengah-engah.
"Sir, maafkan aku. Aku seharusnya tidak menyahuti perkataan anda tadi." tiba-tiba Sara membungkuk dan menundukkan kepala di hadapan Vicky.
Zafar segera menarik lengan Sara.
"Apa yang Anda lakukan?!" bisik Zafar heran.
"Sir, aku yang berbuat tidak sopan. Aku bermain-main dengan ponsel saat Sir Vicky berbicara di depan kelas." jelas Sara.
Zafar menggeleng.
"Semua sudah terekam jelas di sini." Zafar menunjukkan piringan cakram rekaman cctv.
"Ini bukti kalau yang tidak sopan sesungguhnya adalah Sir Vicky." ucap Zafar tegas.
"Kampus ini berhak menyeleksi tenaga pengajar. Saat ini kami tidak bisa menerima perbuatan Sir Vicky."
"Tapi, Sir. Bukankah etika dan moral juga berlaku di kampus ini?" potong Sara.
"Aku melanggar hal itu. Tolong beritahu apa hukumanku." pernyataan Sara yang menekan Zafar membuat pria itu bingung harus menjawab apa.
"Apa aku juga dikeluarkan dari kampus?" tanya Sara.
"Nyonya Sara..."
"Tolong jangan lihat aku sebagai nyonya muda perusahaan S. Lihatlah aku hanya sebagai Sara!" pinta Sara dengan tegas.
Vicky dan Zafar saling berpandangan. Mereka tidak tahu apa maksud gadis itu.
Melihat keduanya terdiam, dengan perlahan Sara mengambil piringan cakram dari tangan Zafar.
"Tidak ada yang perlu dilaporkan. Kita anggap hari ini tidak ada kejadian seperti itu." Sara membuka kotak cakram itu dan mematahkannya menjadi dua bagian.
KKRRAAKK!!!
Gadis itu lalu melempar patahan cakram itu jauh-jauh.
Adhitia yang mengamati kejadian tadi hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat aksi Sara yang terlihat seperti slow motion film drama.
"Sir Zafar, boleh kami kembali ke kelas?!" Sara meminta izin dari Zafar.
Pria itu hanya bisa mengangguk pelan.
Sara tersenyum lebar.
"Ayo kita kembali ke kelas, Sir Vicky." Sara melangkah hendak menuju kelas.
Vicky menatap Zafar. Zafar tersenyum dan menepuk bahu pria kurus itu.
"Siapa dia?" tanya Vicky pelan.
Zafar tidak menjawabnya. Dia hanya mengisyaratkan agar Vicky mengikuti keinginan gadis itu. Hal itu malah membuat Vicky semakin penasaran dan menyisakan kekesalan yang tanpa alasan.
"Hey, Nona! Dilarang membuang sampah sembarangan!" teriak Vicky ke arah Sara tiba-tiba.
Langkah Sara terhenti. Gadis itu memutar badannya dengan perlahan ke arah suara Vicky.
"Ya, Sir?"
"Ambil kembali sampahnu, masukkan ke tempat sampah! Baru kau bisa masuk ke kelas lagi." perintah Vicky.. Ia menunjuk ke patahan cakram rekaman cctv yang dilemparkan Sara tadi.
"Baik, Sir!" sahut Sara bersemangat bahkan memberi hormat.
Adhitia tidak bisa menahan geli melihat kejadian itu. Pemuda itu tertawa geli hingga menarik perhatian Vicky.
"Hei, apa yang kau lakukan di sini!!!". Tanya Vicky sambil berjalan cepat ke arah Adhitia.
Adhitia segera berbalik dan melangkah menjauh dengan terburu-buru. Ia takut penyamarannya terbongkar.
"Sir, aku sudah membuangnya. Apa kita bisa masuk kelas?!" Sara berteriak agar Vicky berhenti mengejar Adhitia.
Tetapi pria itu terus memburu Adhitia.
"Ya ampun. Bagaimana ini.," Sara berbicara sendiri.
"Nyonya, Anda bisa masuk kelas sekarang." tegur Zafar.
"Tapi, Sir. Aku tidak ingat jalan ke kelas. Pemuda bertopi tadi yang mengantarku sampai ke sini." kata Sara pelan dan tertunduk.
Zafar menghela napasnya dengan berat dan panjang.
"Ya Tuhan! Hari pertamanya saja sudah kacau begini. Bagaimana aku mengawasinya sampai 4 tahun ke depan!" keluh Zafar dalam hati.
"Aku akan mengantarmu ke kelas....lagi." Zafar melangkahkan kakinya mendahului Sara. Dan Sara mengikutinya sambil mengucapkan terima kasih.
***
"Hey, kau tidak seharusnya ada di gedung ini! Mana tanda pengenalmu?" tanya Vicky sambil mengulurkan tangannya untuk meminta tanda pengenal dari Adhitia.
Adhitia berbalik perlahan lalu merogoh kartu identitas dari saku jumper kebersihannya.
Vicky mengambil kartu itu dan membacanya.
"Ini kartu identitas pak Hari." Vicky mengenali foto di kartu itu.
"Katakan, siapa kau? Bagaimana kau bisa menyusup ke sini?!" Vicky mencengkeram kerah jumper Adhitia.
Saat Adhitia melepaskan topinya, Vicky sontak melepaskan cengkeramannya.
Mata pria itu terlihat jelas bergerak tak menentu meski dibalik kacamatanya.
"Anda..." suara Vicky tercekat.
Adhitia menatapnya lurus sambil tersenyum tipis.
***
Malik kembali dari kantor saat malam sudah sangat larut. Pemuda berusia 33 tahun itu memasuki kamarnya dengan wajah tegang dan kusut. Matanya terlihat sangat letih. Menunjukkan beban berat dari pekerjaannya di kantor sepanjang hari tadi.
Sesampainya di kamar, Malik melonggarkan pakaiannya dan menyalakan laptop yang ia bawa di tas kerjanya. Setelah laptop menyala, ia berjalan mendekati tempat tidur Sara.
Pemuda itu memasang tangannya di kedua sisi pinggangnya sambil menatap gundukan selimut tebal yang menutupi tubuh Sara yang telah terbuai mimpi.
Dengan tidak sabar, Malik membuka dan membuang selimut itu.
"Hey, Ratu Kera! Bangun!" panggilnya dengan nada kesal.
Karena begitu lelap, Sara tidak mendengarnya dan tidak bergerak sedikitpun.
Malik semakin kesal.
"Ayo, cepat bangun!" Malik mendekatinya dan menggoyangkan tubuh Sara dengan keras.
Sara menggeliat manja, namun matanya tetap tertutup. Tangannya merenggang lebar hingga menonjolkan dadanya yang menyembul dan menampakkan garis jelas belahannya di pakaian tidur baby doll-nya.
Sebagai lelaki, mata Malik langsung tertuju ke arah situ. Dan ia segera membalikkan badannya agar tidak terpesona pada tubuh Sara.
"Dimana ponselmu?!" Malik bertanya dengan nada kesal.
Sara mengambil ponselnya dari bawah bantalnya, masih dengan mata tertutup. Malik segera mengambilnya dari tangan Sara.
Karena Malik mengambil ponselnya dengan buru-buru, tangan Sara ikut tertarik dan gadis itu berteriak.
"Ouch...!!!" kali ini gadis itu benar-benar terbangun dan mata bulatnya sudah terbuka lebar.
"Kenapa kau ini?! Mau apa kau dengan ponselku?!" omel Sara sambil memegangi tangannya yang sakit.
Malik tidak menanggapinya. Ia segera menyalakan ponsel Sara dan menyambungkannya pada laptop yang sudah menyala tadi menggunakan kabel data.
Matanya fokus menatap layar laptop, lalu ia sesekali mengetik tombol Enter. Kemudian ia menoleh ke layar ponsel dan layar laptop bergantian.
Sara mendekatinya dan menatapnya tajam.
"Bagaimana kau tahu kunci layar ponselku?!"tanyanya heran.
"Itu masalah kecil." jawab Malik singkat tanpa menoleh ke arah Sara.
"Yang jadi masalah besar saat ini adalah...kebiasaanmu yang tidak bisa jauh dari Adhitia." kata Malik dingin.
Sara memiringkan kepalanya, tanda ia berpikir karena bingung.
"Di gedung kampus Mart sudah dipasang CCTV oleh Dad di setiap sudut. Dan Minggu ini giliran kampus loop yang akan dipasang." terang Malik.
Sara melongo.
"Gedung sebesar itu? Di setiap sudut?" desisnya kagum.
"Dan hari ini kau tertangkap kamera berjalan bersama Adhitia di setiap langkahmu. Mungkin Dad tidak mengenalinya, tapi aku tahu kalau itu dia, dari bahasa tubuhmu saat berdekatan dengannya." lanjut Malik.
"Kenapa terdengar seperti sangat tidak adil! Kegiatanku di kampus diawasi sampai seketat itu? Dimana kebebasanku dalam bergaul?" protes Sara.
Malik menatapnya tajam.
"Kau ingat isi kontrak ke-2 kita? Syarat kuliahmu?" tanya Malik.
Sara menggeleng.
"Sudah kuduga!!" seru Malik tertahan sambil tersenyum menyeringai.
*****
****
***
**
*