
Lebih dari 20 menit Sir Vicky berbicara di depan kelas. Namun pria kurus berpostur tinggi dan berkaca mata itu tidak sedikitpun memberi perhatian pada Sara.
Saat masuk ke sesi tanya-jawab, berkali-kali Sara mengangkat tangan ingin menanyakan sesuatu, namun Sir Vicky tidak pernah memberinya kesempatan sekali pun. Seakan jumlah mahasiswa di kelas itu tidak pernah bertambah setelah kehadiran Sara.
Merasa tidak diacuhkan di dalam kelas, diam-diam Sara mengeluarkan ponselnya dan menyelipkannya di antara buku tulisnya yang ada di atas meja. Ponselnya pun di setel dalam keadaan bergetar saja.
Sara melakukan panggilan singkat ke Adhitia. Lalu gadis itu mengirimkan pesan singkat.
SARA: DIMANA?
ADHI : AKU ADA DI DEKATMU.
ADA APA? APA KAU DALAM MASALAH, SENIOR?
SARA : AKU CUMA BOSAN.
ADHI : MEMANG APA YANG DIKATAKAN PRIA KURUS BERKACA MATA ITU?
SARA : SESUATU YG MENARIK.
TAPI AKU SAMA SEKALI TIDAK DIDENGARNYA
ADHI : OH YA??
Sara menyerngitkan dahinya. Ia menyadari sesuatu.
"Tunggu dulu. Kenapa Adhitia bisa tahu kalau yang didepan kelas ini tubuhnya kurus dan berkacamata?" pikirnya.
SARA : HEY, DIMANA KAU?!
ADHI : (emoticon tertawa)
MASIH CERDAS SEPERTI DULU.
(emoticon kiss)
LIHATLAH KE JENDELA
Sara menoleh ke arah jendela. Ia hanya melihat seorang pria memakai pakaian kebersihan berwarna jingga dengan topi menutupi wajah.
Pria itu membuka topinya, lalu tersenyum pada Sara sambil mengerlingkan sebelah matanya. Pria itu ternyata Adhitia dalam penyamaran.
Senyum Sara mengembang lebar. Dia tidak menyangka kalau Adhitia akan senekat itu, menyamar sebagai petugas kebersihan agar bisa dekat dan mengawasi dirinya. Pemuda itu benar-benar mengerti dan memanjakan dirinya.
Sara lalu kembali menghadap ke arah depan kelas untuk memastikan Sir Vicky masih sibuk dengan mahasiswa lain. Gadis itu kembali menatap ponselnya dan mengetikkan sesuatu.
SARA : KAU GILA!!!
ADHI : SUDAH SEJAK LAMA.
AKU GILA SEJAK MENGENALMU.
(emoticon huge)
Wajah Sara tiba-tiba berubah menjadi merah. Gadis itu tersenyum-senyum sendiri karena merasa malu.
"Bisa Anda ceritakan pada kami, apa yang terjadi sampai anda tersipu sendiri, tuan puteri?"
Tiba-tiba Sir Vicky telah berdiri di depannya dan menangkap basah dirinya bermain ponsel.
Sara mengangkat wajahnya dan tersenyum manis pada Sir Vicky.
"Akhirnya Anda memperhatikanku!" seru Sara senang.
"Aku tidak suka jika ada yang bermain ponsel saat aku sedang berbicara di depan kelas! Kau mendapat peringatan pertama dariku!"
"Maaf, sir! Anda tidak bisa memberi peringatan padaku. Aku tidak bermain ponsel. Aku hanya mencari jawaban dari pertanyaan
yang ingin kutanyakan dari tadi. Karena kulihat Anda sibuk dengan mahasiswa lain, jadi aku bertanya pada Google saja. Aku yakin rekaman CCTV di kelas ini juga melihatnya."
Sara menunjukkan layar ponselnya yang memang menampilkan tampilan pencarian via google.
Wajah Sir Vicky berubah kaku. Seketika mulutnya terkunci.
"Maaf, Sir. Bisa kita lanjutkan lagi?" Sara bertanya dengan pelan setelah melihat wajah dosennya yang tegang.
Sir Vicky berbalik dan melangkah kembali ke depan kelas.
"Aku lihat kelas ini tidak memerlukan dosen lagi. Jadi aku akhiri pengenalan kampus hari ini lebih awal. Untuk pertanyaan berikutnya silahkan kalian tanyakan pada Google. Terima kasih!!"
Sir Vicky membereskan tasnya dan keluar dari kelas dengan muka kesal.
Mahasiswa lain mulai terdengar berbisik-bisik sambil melirik ke arah Sara.
"Sok pintar!". Terdengar celetukan seorang mahasiswa mengatai Sara.
"Sssttt...pelankan suaramu!" yang lain mencoba bersikap diplomatis.
"Memang kenapa kalau dia menantu dari perusahaan S?! Dia bukan anak jendral atau perdana menteri, kan?" terdengar lagi celetukan sinis yang tertuju untuk Sara.
"Anak perdana menteri atau jenderal tidak akan kuliah di kampus ini. Mereka lebih memilih belajar di kampus elite D yang ada di kota A." sahut gadis bermata cokelat yang duduk dekat jendela.
"Tapi tidak seharusnya juga ia membantah dosen seperti itu." suara mahasiswa lain yang kontra dengan sikap Sara.
"Mungkin karena kalian duduk di bagian depan jadi kalian tidak tahu bagaimana seringnya gadis ini mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan, tapi Sir tadi tidak menanggapinya." Gadis bermata cokelat tadi melanjutkan.
"OOO...kurasa Sir tadi bukan marah karena gadis itu bermain ponsel, tapi karena gadis itu menyebutkan CCTV di kelas ini. Mungkin saat ini dia sedang di ruang pengawas dan menghilangkan rekamannya." mulai terdengar suara-suara lain berasumsi.
"Apa kalian tau dimana ruangan Sir Vicky?" tanya Sara pada mahasiswa lain.
Mereka semua menggelengkan kepala.
"Itulah masalahnya! Kalian sibuk dan fokus pada gedung, tata tertib, dan sistem belajar di kampus ini. Tapi kalian tidak menyadari pentingnya peran seorang pengajar bagi kelangsungan kegiatan belajar kita." Sara mulai membuka suara.
"Sir Vicky tadi bilang kalau kita dituntut untuk belajar mandiri dan aktif, kan? Bagaimana kalau kita perlu sesuatu yang harus ditanyakan saat bukan jam pelajaran Sir tadi? Dari tadi aku cuma ingin bertanya tentang itu!" jelas Sara.
"Dan kau bertanya pada Google ?" gadis bermata cokelat tadi balik bertanya sambil tertawa kecil menertawakan argumen Sara.
"Aku cuma ingin menarik perhatiannya." sahut Sara.
"Yaaahh, kau berhasil. Kau bukan hanya menarik perhatian Sir tadi, tapi kau jadi pusat perhatian kami sekarang." yang lain ikut menyahuti.
"Kurasa kau harus mengikuti Sir tadi kalau kau ingin tahu dimana ruangannya." gadis bermata cokelat tadi memberikan saran.
"Kau benar. Terima kasih." ucap Sara padanya. Sara segera berdiri dari tempatnya dan beranjak keluar kelas untuk mengikuti Sir Vicky.
Setelah keluar dari ruangan, Sara bingung harus kemana. Gadis itu celingukan kanan-kiri menatap koridor kampus yang lengang
"Adhitia, aku membutuhkan pertolonganmu." Sara menelepon Adhitia.
"Siap, senior!!! Aku akan ke sana." jawab Adhitia.
Tak lama kemudian, Adhitia datang menghampiri Sara yang berdiri di koridor kelas menantikannya.
"Ada apa, senior?" tanyanya langsung saat Sara melihatnya.
"Sir tadi....aku rasa aku menyinggung perasaannya hingga ia pergi meninggalkan kelas. Aku harus meminta maaf padanya, tapi aku tidak tahu dimana ruangannya." Sara menyingkat ceritanya.
"Kau sudah bertanya pada seseorang di sini?" Adhitia kembali bertanya.
"Tidak ada siapapun di sini. Di kelas tadi pun tak ada yang tahu. Aku bingung harus kemana. Aku takut tersesat." Sara mulai terlihat cemas.
"Ssshhhh....tenanglah." Adhitia merangkul Sara, mencoba menenangkannya.
"Kita akan mencarinya bersama-sama." katanya dengan lembut dan memberi harapan.
Sara mengangguk.
Adhitia lalu meraih lengan Sara dan menuntunnya melewati salah satu koridor.
Entah mengapa saat Adhitia di dekatnya, atau saat pemuda itu menggenggam tangannya, Sara merasakan ketenangan yang dalam hingga merasuk ke dalam hatinya. Kemanapun pemuda ini melangkah membawanya, ia ikuti dengan sukarela.
Setelah beberapa belokan koridor, Adhitia menghentikan langkahnya.
"Apakah itu dia?" tanyanya pada Sara.
Sara melihat Sir Vicky sedang berdiri berhadapan dengan Sir Zafar di depan sebuah ruangan. Tampak air muka sir Zafar tegang dengan mulut berkomat-kamit dan mata melotot sambil sesekali mengayunkan tangannya yang memegang sebuah kotak tipis berisi cakram disc berwarna platinum.
"Benar! Itu Sir Vicky dan Sir Zafar!" seru Sara pelan.
Gadis itu bergegas melangkah mendahului Adhitia. Beberapa langkah lagi saat Sara hendak sampai pada mereka, terdengar suara tegas Sir Zafar berkata,
"Maaf, Vicky.! Kau dipecat!"
Langkah Sara terhenti karena terkejut.
Wajah Sir Vicky pun tak kalah terkejutnya.
*****
****
***
**
*