PASSION

PASSION
37. Bercukur



*****


Sara mulai menikmati kehidupan di kampusnya di awal-awal bulan. Sebagai gadis yang introvert, dia tidak mudah bergaul dan tidak punya teman yang lebih dari jumlah jari di satu tangannya.


Malik juga ikut menyeleksi pertemanan Sara. Siapa saja yang bisa membawa perubahan positif untuk pribadi dan karir Sara, ia akan mendukungnya. Namun, bila ada yang mungkin membawa perubahan negatif, ia tidak segan akan melarang gadis itu berteman dengan mereka. Bahkan, mereka akan dipindah kelaskan agar tidak bisa berhubungan lagi dengan Sara.


Sir Vicky yang awalnya sinis dan keras padanya, kini mulai "melunak". Pria itu tidak lagi memberikan komentar sinis pada Sara, tapi tidak pula memberikan ucapan yang ramah seperti dosen-dosen yang lain, yang mengetahui status Sara sebagai nyonya muda perusahaan S.


Saat bosan melanda di kampus, Sara masih sering menghubungi Adhitia melalui pesan singkat di ponsel, dan pemuda itu selalu hadir kapan pun dan dimana pun Sara butuhkan. Meski harus menyelinap dan mengendap-endap, menyamar menjadi petugas kebersihan atau karyawan kantin, bahkan sering mencuri kartu identitas mahasiswa lain dan berlagak menjadi mahasiswa tersebut.


Dan tak jarang penyamaran Adhitia ketahuan oleh dosen lain. Alhasil ia pun sering dikejar-kejar dosen atau petugas keamanan kampus. Tapi ia tidak kapok, malah menikmati keseruan kehidupannya itu.


Tentu saja Malik mengetahui semua perbuatannya. Tapi pria itu cuma bisa menggeleng-geleng atau menepuk keningnya sendiri karena melihat ulah Adhitia. Tugasnya pun bertambah dari menjadi babysiter Sara, kini pula harus menutupi ulah nakal Adhitia. Malik membayar seseorang yang bertugas di ruang monitor CCTV untuk menghapus dan mengedit setiap rekaman yang terdapat penampakan Adhitia di kampus agar tidak diketahui tuan Sultan.


Benar-benar dua bulan yang sangat melelahkan bagi Malik.


"Keterlaluan!! Aku akan membalas kalian!" gumamnya geram.


*****


Di taman belakang rumah tuan Sultan.


Sara mengoleskan krim putih pencukur janggut di wajah bagian bawah tuan Sultan dengan hati-hati. Ia telah berjanji pada mertuanya untuk merapikan janggutnya yang mulai berantakan pada hari libur kuliahnya.


Bibi Mei berdiri di samping mereka dengan memegang handuk kecil. Melihat wanita kurus paruh baya itu berdiri di dekatnya dan memperhatikannya, Sara menjadi gugup. Ia berdiri lama sambil memegang pisau cukur model lama, bergerak mendekat dan menjauh dari wajah tuan Sultan.


Sultan mengangkat kedua alis tebalnya, seakan bertanya: "Ada apa?"


"Dad, maafkan aku. Aku sudah lama tidak melakukan ini. Jika aku menggores kulit wajahmu....." Sara menyampaikan alasan kegugupannya.


"Jika wajahku terluka aku hanya akan menempelnya dengan plester." sahut tuan Sultan, lalu pria itu memejamkan kedua matanya.


Sara mengangkat kedua belah tangannya seakan berdoa pada Tuhan agar tidak terjadi kecelakaan saat ia membersihkan janggut tuan Sultan.


Gadis itu pun mendekati wajah tuan Sultan kembali. Tangannya sedikit gugup saat menyentuh rahang pria paruh baya yang telah ia anggap sebagai ayahnya sendiri. Dengan perlahan dan hati-hati tangan kanannya mulai menempelkan pisau cukur di rahang tuan Sultan dan membersihkan krim putih di wajahnya.


"Dulu waktu kau kecil, kau sering melakukan ini." kenang tuan Sultan.


"Iya. Aku ingat itu, Dad." sahut Sara.


"Seingatku kau adalah gadis kecil pemalu yang sering diajak Imran ke rumah ini. Tapi saat kau melihatku, kau tidak ragu menyentuh wajahku dan berani mengatakan kalau aku sangat jelek dengan janggut berantakan." lanjut tuan Sultan.


Bibi Mei tertawa tertahan.


"Maaf, Dad. Itu karena aku mengira kalau Dad hanya sendirian tanpa anggota keluarga yang lain di rumah ini. Dan kupikir tak ada yang mengurus dan memperhatikan anda."


Jawab Sara sambil terus bergerak menggeserkan pisau cukur di bagian rahang lainnya.


"Itu memang benar. Aku tidak punya keluarga lain kecuali Malik. Dan tidak ada satu pun pegawai di sini yang berani berkomentar tentang penampilanku seberani kau, termasuk Bibi Mei." Tuan Sultan membenarkannya.


"Saat itu adalah tahun pertama Malik bersekolah di luar negeri, dan ia tidak pernah pulang sampai saat ini. Aku sebagai orang tua yang harus mengunjunginya di sana setiap aku merindukannya." keluhnya.


"Kenapa dia tidak sopan seperti itu?" tanya Sara heran.


"Entahlah. Dia memutuskan untuk kuliah di luar negeri sehari setelah upacara pemakaman Seila. Mungkin ia tidak mau memperlihatkan kesedihan dan kerapuhannya di hadapanku. Mungkin juga ia tidak suka dengan sikap diktatorku. Kau tanyakan saja sendiri nanti."


"Kurasa Malik adalah orang yang sangat beruntung. Dia memiliki ayah yang sangat baik dan perhatian seperti Anda." Sara memuji dan membesarkan hati ayah mertuanya.


"Aku bertahan hidup hingga saat ini hanya karena ingin memberikan yang terbaik untuknya. Termasuk memilihmu sebagai istrinya." tuan Malik mengatakan hal itu dengan membuka kedua matanya dan menatap wajah Sara.


Sara terkejut melihat tatapan dingin tuan Sultan. Angin dingin seakan memasuki setiap rongga di paru-parunya. Ia menarik tangannya dari wajah pria itu.


"Hei, apa yang kalian lakukan di sini!" tiba-tiba Malik mengejutkan mereka.


Malik datang dari arah dalam rumah mengenakan kaus tanpa lengan dan celana longgar selutut dengan membawa botol milkshake-nya.


"Kau jangan merusak kesenanganku pagi ini. Aku yang meminta Sara mencukur janggutku begini." sahut tuan Sultan dengan nada kesal.


"Ayo lanjutkan, nak!" pintanya pada Sara.


Tanpa berkata apa pun Sara menurutinya. Ia melanjutkan untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Bagaimana? Apa kalian ada kabar bagus untukku?" tanya Sultan kemudian.


"Kabar yang mana? perusahaan atau apa?" Malik balik bertanya.


"Kabar yang 'atau apa' itu sepertinya menarik." jawab tuan Sultan berlagak konyol.


"Apa?!" Malik bertanya lagi.


"Pura-pura bodoh kau, ya?! Aku menunggu kabar dua garis biru!!" tegas tuan Sultan.


Malik terdiam. Sara menarik tangannya kembali dari wajah Sultan sambil menunduk. Ia lalu meminta handuk kecil dari Bibi Mei dan mengelap sisa-sisa krim cukur di rahang tuan Sultan tanpa bicara apa-apa.


"Duduklah di sini!" Tuan Sultan berdiri dan menyuruh Malik duduk di kursi tempat ia tadi berada.


Malik menurutinya.


"Sara, kau cukur juga janggutnya. Aku tak suka melihat gayanya itu." perintah Sultan pada Sara.


"No way!! Aku baru merapikannya tadi." Malik menolak keras dan hendak berdiri lagi.


"Tetaplah di sini!" Tuan Sultan menahan bahu Malik agar tetap duduk di tempatnya.


Sara menatap Malik karena tidak tahu harus menuruti siapa. Malik mengangguk pelan padanya, tanda agar dia menuruti perintah tuan Sultan.


Dengan perlahan Sara mengoleskan krim cukur di rahang Malik. Malik memejamkan matanya saat sensasi dingin krim itu menyentuh kulitnya.


"Aku akan mengambil handuk yang baru." Bibi Mei pergi meninggalkan mereka.


"Ingat, nak. Tubuhku tidak lagi muda maka kalian tidak boleh terus menolak memberikanku cucu." kata tuan Sultan kemudian.


Malik dan Sara tidak menyahutinya. Kedua pasangan itu saling diam.


Tuan Sultan menyadari kalau Sara tidak pernah berlama-lama dekat dengan Malik saat ia melihat gelagat canggung Sara dan gadis itu tidak berani melihat ke wajah Malik, tidak seperti yang ia lakukan sebelumnya pada dirinya.


"Kapan terakhir kalian tidur bersama?" tanya tuan Sultan langsung.


Malik membuka matanya lebar-lebar.


"Wow, Dad! Istriku ini orang yang sangat sensitif. Tolong jangan bertanya hal seperti itu." kilah Malik.


"Maka jangan selalu pulang lewat tengah malam, dan buanglah semua kond*


m dari laci meja dan saku bajumu!" sahut tuan Sultan.


Sara terbelalak, mulutnya menganga lebar.


*****


****


***


**


*