PASSION

PASSION
49. (seperti) Cemburu



Para pelayan hotel hanya menatap tanpa berani bersuara atau menyela saat Malik menarik tangan Sara melintasi lobby hotel menuju lift VIP.


"Itu penerus perusahaan S di kota A. Tuan Malik, teman akrab Sir Sam." bisik seorang resepsionis pada pelayan hotel lain.


"Siapa wanita yang bersamanya?"


"Itu istrinya."


"Kau yakin? Lalu siapa wanita yang selalu berada di kamarnya?"


"Itu kekasihnya."


"Pantas saja..." lirih pelayan hotel itu.


"Pantas kenapa?"


"Kemaren aku disuruh menaruh barang belanjaan tuan Malik, aku letakkan di kamar istrinya, tapi kekasihnya marah-marah."


"Kenapa?"


"Karena Sir Sam cuma bilang, 'Letakkan di kamar tuan Malik'. Aku tidak tahu kalau tuan Malik memesan 2 kamar yang berdekatan."


"Uang berkuasa. Saat ia bosan dengan kekasihnya, ia memaksa dilayani istrinya. Kasihan istrinya." lirih resepsionis itu.


"Kenapa mengasihani wanita seperti itu?" pelayan hotel lain ikut bergabung dalam bisikan gosip mereka.


"Aku rasa tuan Malik marah seperti itu karena istrinya ketahuan selingkuh."


"Maksudmu?"


"Aku pernah memergoki istrinya dalam gendongan pria lain. Kalian kenal pria yang menginap bersama Sir Sam di lantai yang sama dengan mereka? Itu selingkuhan istrinya. Aku melihatnya sendiri. Aku bahkan diberi banyak uang tip untuk menjauhi mereka." cerita pelayan itu.


"Maksudmu, pria tinggi berbadan atletis dengan senyum ramah dan berlesung pipi itu?" teman-temannya memastikan.


Pelayan itu mengangguk dan mencebik.


"Apa kalian bosan bekerja di sini?!" terdengar suara berat yang mengejutkan ketiganya.


"Pak manajer..."


"Hentikan gosip kalian, atau kulaporkan perkataan kalian pada Sir Sam? Kalian tahu kalau 2 turis yang berbicara buruk tentang istri tuan Malik habis dihajar Sir Sam sebelum dipulangkan ke pulau asal mereka?" ancam manajer hotel itu.


Ketiga pegawai hotel itu menelan ludah mereka dengan susah, tertunduk


menyesal.


***


Di dalam lift,


Sara menepis lengan Malik yang mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat hingga terlepas.


"Kenapa kau ini?!" ketusnya, mengusap pergelangan tangannya yang memerah.


Malik menatapnya tajam. Tatapan setajam sembilu dan sedingin es, namun memancarkan aura panas yang membuat ruangan lift yang hanya berisi dua makhluk itu.


Sara mengalihkan pandangannya karena tidak mampu menahan tatapan itu.


Saat pintu lift terbuka, kembali Malik menarik lengan Sara menuju kamarnya. Setelah kamarnya terbuka, ia lepaskan tangan Sara. Sara berusaha keluar lagi, namun ia menghalangi.


"Tetap di sini dan ambil surat Rena!" ucap Malik dengan nada suara tetap sedingin salju namun raut wajahnya semerah magma.


"Aku tidak bisa!" Sara terus mencoba melepaskan diri.


"Aku bilang ambil surat Rena, aku hanya ingin membantumu membelikannya oleh-oleh di pasar yang kau kunjungi bersama Adhitia tadi!" Malik memaksa Sara untuk menurutinya.


"Aku tidak bisa mengambilnya!! Ini bukan kamarku!!"teriak Sara kesal.


Malik melempar pandangannya ke sekeliling kamar hotel. Benar saja, kamar yang ia masuki adalah kamarnya bersama Luna. Bagaimana bisa ia masuk ke kamar Sara dengan mudah, bila ia tidak memiliki kuncinya.


Sara mencibir lalu mendorongnya dan meninggalkannya, menuju kamarnya yang benar.


Ya Tuhan, kenapa tiba-tiba aku menjadi seceroboh ini. Memalukan!!!, batin Malik.


Sadar kalau Sara melarikan diri darinya, Malik segera menyusul.


"Sara...!" Malik mengejar Sara yang telah memasuki kamar hotelnya, lalu kembali menarik pergelangan tangan gadis itu.


"Lepas!!!" Sara mencoba melepaskan cengkeraman tangan Sara.


"Sara, aku tidak suka kau berbohong!" bentak Malik tanpa mendengar rintihan Sara yang merasa sakit di pergelangan tangannya.


"Malik, tolong! Lepaskan tanganku!" Sara meminta.


"Katakan, Darimana kalian tadi?!" Masih mencengkeram pergelangan kecil itu, Malik terus memaksakan jawaban jujur dari Sara.


"..sakit,...tolong, Malik!" menitikkan air mata, Sara memohon pengampunan.


Melihat bulir bening membasahi pipi merah muda yang menahan sakit, Malik melepaskan tangannya.


Terkejut, bagaimana ia bisa hilang kendali emosinya. Bagaimana bisa ia menjadi kasar dan gelap mata hanya karena menginginkan jawaban jujur dari gadis yang bukan siapa-siapa baginya. Bagaimana ia jadi penasaran dan ingin terjun dalam masalah pribadi Sara.


Sara mengusap kembali pergelangan tangannya yang kini merah semerah darah. Dan tanpa sengaja pula Malik melirik ke cincin perak bermahkota sapphire biru telah melingkar di jari manis gadis itu.


"Apa yang terjadi padaku? Aku telah tertular kegilaannya. Aku sudah mirip dengan Adhitia! Sejak kapan gadis ini meracuniku!!".


Malik menunduk, menumpu keningnya pada satu tangan, menyadari kekhilafannya.


Sara mencari surat beramplop ungu tua di tas besar yang dibawanya dari rumah orang tuanya. Setelah menemukannya, ia pun berani mendekati Malik.


"Ayo kita ke pasar tadi!!" ajak Sara dengan suara parau.


Malik mengangkat kepalanya, menatap wajah Sara yang bersimbah air mata namun masih berusaha tegar tanpa rengekan.


"Sara..." panggilnya seraya beranjak dari duduk.


"A-aku...aku..." tiba-tiba menjadi gagap, Malik seperti kehilangan jati dirinya sebagai seorang pemimpin ribuan karyawan dan pegawai.


Ada satu kata yang tabu untuk dikatakan olehnya untuk seorang wanita. Dan kata itu terasa besar dan berat mengganjal di kerongkongan keringnya.


Sara menatapnya dengan penuh amarah dengan bibir terkatup rapat.


"...maaf." lirih Malik, tertunduk.


Akhirnya kata tabu itu dapat menyeruak keluar dari bibirnya.


"Sia**n! Aku tidak pernah meminta maaf pada wanita! Aku juga tidak pernah mengejar wanita sampai begini!" makinya dalam hati.


Seketika nyala amarah di mata Sara mereda. Tatapan panas itu berubah menjadi teduh.


Sosok Malik yang ia kenal dalam dua bulan ini adalah sosok yang kuat, pemikir yang dalam, dingin, arogan, keras, bertolak belakang dengan sosok pemuda yang berada di hadapannya saat ini.


"Aku tidak tahan lagi terus menerus bermain seperti ini." Malik membalikkan badannya, membelakangi Sara. Ia tidak mau wajah konyolnya dilihat.


"Sepertinya aku tidak bisa memisahkan antara urusan pribadimu sebagai kekasihnya dengan status palsumu sebagai istriku. Ada baiknya kita sudahi saja kesepakatan kita lebih awal." Malik memutuskan.


"Kau yakin?" Sara bertanya.


"Hmh, iya!" jawab Malik tegas, berusaha menahan rasa sesak yang menekan dadanya membawa genangan air di pelupuk mata dengan kepala tetap terangkat.


"Bagaimana dengan hutang keluargaku?"


"Tidak ada hutang lagi." jawab Malik mantap.


"Bagaimana dengan kuliahku?"


"Itu kontrak yang berbeda. Kau masih bisa belajar di kampus AA seperti biasa."


"Kau melepaskanku begitu saja?" tanya gadis itu kembali dengan suara manjanya.


"Iya!! Aku ingin lepas darimu, kera bodoh!!" teriak Malik kesal dengan pertanyaan-pertanyaan Sara.


"Mulai saat ini lupakan kesepakatan itu. Anggap hubungan kita sebagai teman saja." Malik baru bisa membalikkan badannya setelah berhasil menguasai emosinya untuk tidak cengeng.


"Terima kasih, Malik!" bergegas mendekati Malik, Sara langsung memeluk tubuh tegap pemuda itu dan menyusupkan kepala di dada bidangnya.


Diserang dengan pelukan Sara yang tiba-tiba, Malik tidak dapat menghindar. Ia pun balas memeluk tubuh mungil gadis bermata bulat itu. Perasaan aneh menggelitik saat kepala gadis itu bersandar di dadanya.


"Boleh aku tanya sesuatu?" Malik mulai bertanya.


Sara mengangguk, tanpa melepas pelukannya.


"Darimana saja kalian tadi?" tanya Malik yang telah kembali menjadi dirinya yang dulu, pemuda santai dengan nada bicara datar.


"Kami dari rumah sakit." jawab Sara manja.


"Bukan rumah keong?"


Tertawa kecil, Sara melepas pelukannya dari tubuh Malik seraya menghapus jejak air mata di wajah merah mudanya.


"Adhitia yang memintaku untuk tidak menceritakan itu." jawab Sara.


Menyaksikan dengan kepala matanya sendiri bagaimana akrab dan dekatnya Malik dan Sara, Luna yang entah sejak kapan mengamati mereka dari depan pintu kamar Sara yang tidak tertutup, segera berbalik badan dan kembali ke lift.


Di dalam lift, dengan kepala terdongak, gadis cantik itu berusaha tersenyum, melawan rasa hangat yang membayangi kelopak matanya. Menerima dengan tabah apa yang baru saja ia lihat, dan yang akan terjadi selanjutnya.


Foreigner, my friend...


keep your promises.


Remember me,


Don't forget me somehow


*****


****


***


**


*