
Keesokan paginya, saat udara masih terasa sejuk dan segar, sahutan burung-burung kecil terdengar merdu, Malik memulai harinya dengan berolahraga.
Tubuh kekar nan tingginya terlihat jelas dibalik kaos spandek tanpa lengan yang membentuk lekukan otot-otot keras di dadanya. Kilauan cahaya matahari terpantul di tetesan keringatnya, laksana logam mulia dalam cahaya vintage, menambah kesan seksi dan eksotisme.
Malik kembali ke rumah saat Sara dan tuan Malik akan memulai sarapannya. Seperti biasa, tuan Malik sarapan dengan potongan buah segar, dan Sara menikmati roti lapis menteganya.
"Morning, Dad." Sapa Malik pada tuan Sultan.
"Wah, wah! Semangat sekali kau hari ini!" tuan Sultan menyambut kehadiran Malik di meja makan.
"Ini harus!! Aku ingin hidup tanpa menu sarapan obat seperti Dad sekarang ini." jawab Malik.
Sara menatapnya sambil melotot menandakan ia tak suka dengan jawaban Malik. Malik menyadarinya.
"Kenapa? Apa kau mulai jatuh cinta padaku?!" tanya Malik dengan percaya dirinya. Tuan Sultan merasa aneh dengan sikap dan bahasa Malik yang berubah sedikit norak.
"Aku rasa ia menabrak pohon saat lari pagi tadi." Sara berbisik pada tuan Sultan. Dan pria paruh baya itu tertawa.
Malik tidak mengindahkan mereka berdua. Ia memulai sarapannya dengan meneguk yogurt. Sara pun melanjutkan sarapannya sambil menatap layar ponsel. Malik mengamatinya yang lebih banyak memencet keyboard ponsel daripada mengunyah roti.
"Sayang, ada peraturan di rumah ini: Saat duduk di meja makan, no gadget! no pubing!" tegurnya.
"Aku hanya merespon customerku yang kuabaikan 2 hari ini." jawab Sara cuek namun ia mengerti maksud Malik. Ia melepas ponsel itu dari tangannya.
"Kau owner , kan? Walaupun hanya toko online, kau harus bisa mengatur jadwal jam buka dan tutup, termasuk respon dan mengatur orderan. Jangan buka toko 24 jam!" nasehat Malik.
Baru saja Malik menutup mulutnya, ponsel Sara berbunyi kembali. Gadis itu melirik ke Malik dan ponselnya bergantian. Tuan Sultan memahami situasi itu.
"Untuk hari ini tidak masalah. Customer-mu sudah menunggu 2 hari karena kau sibuk mengurus persiapan acara tadi malam. Itu bukan salahmu." tuan Malik membela Sara.
"Tidak, Dad. Malik benar. Aku akan mengurusnya setelah selesai sarapan." ucap Sara.
Ponselnya berbunyi kembali. Kali ini bunyinya lebih ramai bersahutan dari yang tadi. Sara mengunyah rotinya dengan cepat. Malik menggelengkan kepalanya pelan, memberikan isyarat pada Sara agar menghentikan perbuatannya.
"Lihat, Dad. Kita ada di headline halaman utama!! " Malik berseru saat membuka koran pagi hari ini.
"Itu bagus." sahut tuan Sultan.
"Dad, menurutmu apakah..." belum selesai Malik berucap, Sara berdiri dari kursinya.
"Sarapanku sudah selesai. Permisi." pamit Sara sambil membawa ponselnya, lalu meninggalkan meja makan.
Malik menghempaskan koran yang dipegangnya.
"Dasar Kera!" umpat Malik. Tuan Sultan tersenyum.
"Dad, dari sudut mana kalau dia seperti Mom? Apa Dad tidak menyakiti hati Mom dengan menyamakan Mom dan dia?" Malik memprotes ucapan tuan Sultan pada saat hari pertama ia menikahi Sara.
Tuan Sultan terdiam. Matanya menatap lurus arah meja makan. Menahan rasa aneh yang mengalir di jantungnya.
" Malik...apa kau ingat bagaimana ibumu?" tanyanya.
Malik terdiam. Sejujurnya ia merindukan ibunya. Ia begitu merasa kehilangan saat mendapat kabar kematian ibunya beberapa tahun lalu. Tapi ia benar-benar melupakan sosok nyata ibunya.
"Keluguan gadis itu, semangat dan kegigihannya, penghormatannya terhadap orang tua dan keluarga...itu yang benar-benar mirip dengan ibumu." tuan Sultan melanjutkan.
"Selebihnya kau akan tahu sendiri nanti.". Tuan Malik menyeka air mata yang hampir jatuh di pipinya.
"Inilah yang kubenci darimu! Kau selalu tahu cara merusak pagiku!" geram tuan Sultan.
"Bukan itu maksudku, Dad." Malik mengusap punggung ayahnya dengan penuh kasih. Ia menyesal telah menanyakan hal tadi. Ia paham betul bagaimana terpukulnya kondisi ayahnya di tahun pertama setelah kematian ibunya.
"Sudahlah. kita lanjutkan sarapan kita." Tuan Sultan melepaskan rangkulan Malik. Malik bergeser, meraih gelas berisi yogurt-nya.
"Katakan, kapan kau akan ke kampus AA untuk mendaftarkan kuliah Sara?" tanya tuan Sultan.
Malik terkejut. Yogurt yang belum sempat ditelan, muncrat berhamburan di depan wajahnya.
"Dad...kau tau darimana? Apa kau memasang penyadap dan CCTV di kamarku?" Malik menyeka sisa hamburan yogurt di wajahnya.
"Aku tak perlu CCTV atau penyadap untuk mengetahui isi pikiranmu. Sultan tahu segalanya. " tuan Sultan membanggakan diri di depan Malik
"Iya.. iya... terserahlah." gumam Malik. Ia tak mau melanjutkan bahasan itu lagi.
****
Malik memasuki kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap ke kantor. Didapatinya Sara tengah sibuk dengan ponsel sambil bersantai di atas ranjang. Ia merasa jengkel dengan kebiasaan Sara yang tak bisa lepas dari ponsel.
"Boleh aku tahu, berapa banyak uang yang kau hasilkan selama sebulan dari toko online-mu??? Kau terlihat sibuk sekali." Malik bertanya sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Penghasilan ya...kurasa itu masuk di kategori 'urusan pribadi'. " jawab Sara tanpa menoleh ke Malik sedikitpun.
"Tapi kau mengabaikan sarapanmu!"
"Lalu?" Sara masih bersikap acuh tak acuh.
"Jika kau jatuh sakit karena kurang sarapan dan mal-nutrisi, itu bisa merepotkanku! Itu menyangkut nama baik keluarga ini." alasan Malik.
Sara menurunkan layar ponsel yang awalnya tepat di depan wajahnya. Ia menoleh ke arah Malik sambil tersenyum menggoda.
"Kenapa malah tersenyum?? Apa kau sudah gila?" Malik jadi salah tingkah diberi senyuman manis oleh Sara.
Sara tidak menyahutinya. Malahan ia memperlebar senyumannya.
"Terserah kau! Aku mau mandi dan bersiap ke kantor!! Malik berbalik arah dan menuju kamar mandi.
"Silahkan..." Sara tertawa. Taktiknya untuk mengusir pria dengan cara halus yaitu dengan memberi senyuman lebar sambil menatap lawannya, hingga lawannya merasa canggung dan pergi. Seperti yang dialami Malik barusan.
Sekitar setelah 20 menit Malik menghabiskan waktu di kamar mandi, ia keluar dengan menggunakan handuk piyama . Ia terkejut saat melihat Sara menangis pelan, terisak di atas ranjang. Hatinya menjadi sangat kacau bilamana melihat gadis itu bertabir air mata. Sara membersihkan air yang mengalir di hidungnya. Matanya pun merah.
"S-Sara.??....Ada apa??" Malik segera mendekat. Sara menyeka air matanya.
"Apa kau masih mengingat hal buruk semalam?" tanya Malik penuh perhatian. Sara menggeleng.
"Apa ada kabar buruk dari keluargamu? " Malik terus bertanya.. Dan sekali lagi Sara menggeleng
'Lalu???" Malik tak bisa menebaknya.
" Aku.. Aku sedang membaca novel Nestapa karya Natalia Dennoupa ini. Ceritanya sangat menyedihkan", jawab Sara seraya menunjukkan barisan kalimat puisi sarat makna menyayat hati dari layar ponselnya.
"Oh my God!!!" Kaki Malik terasa lemas. Ia shock mendengar jawaban Sara yang sangat konyol.
*******