
Sara membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa lemas tanpa tulang dan kepalanya seperti berputar. Ia meraba bagian ranjang di sebelahnya yang kosong. Heran, bagaimana ia bisa ada di sana. Dan yang membuat ia makin panik yaitu bahwa ia polos tanpa sehelai benangpun melekat di tubuhnya.
Dengan sisa tenaga ia berusaha bersandar di ujung ranjang, seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Gadis itu berusaha mengenang kejadian sebelum ini. Samar-samar ia ingat jika ia disuntikkan sesuatu di tangannya. Ia juga mengingat ciuman Adhitia yang sangat menggairahkan juga ucapan Adhitia yang mengatakan jika dirinya telah menjadi miliknya.
Mengenang itu semua membuat wajah Sara merah padam, gadis itu membenamkan wajahnya di gumpalan selimut yang menutupi dadanya karena malu.
"Adhitia?!" lirih Sara, yang baru menyadari ketidakhadiran pemuda itu di sekitarnya.
Pandangannya menoleh ke arah suara pintu yang terbuka di dekat ranjang. Adhitia keluar dari sana dengan mengenakan piyama handuk.
"Senior? Kau bangun?"Adhitia terkejut.
Tak berani menatap wajah Adhitia, Sara kembali menutupi kepalanya dengan selimut dengan segera.
Adhitia tersenyum hangat lalu mendekatinya. Duduk di sebelah, meraih telapak tangannya dan menggenggam erat.
"Maafkan aku, senior! Mereka menyuntikkan kita obat dan aku tak bisa melawannya. Karena kau benar-benar keinginan terbesarku, maka aku membiarkan semuanya terjadi." ucap Adhitia menyesal seraya mengecup punggung tangan Sara.
"Kumohon jangan membenciku.." lirih Adhitia kembali, menyandarkan kepalanya ke bahu Sara dengan manja.
Sara memberanikan diri mengangkat kepala. Wangi aroma tubuh Adhitia terasa segar menyeruak hidung mancungnya.
"Di sana kamar mandi?" tanya Sara menunjuk arah dimana Adhitia keluar tadi.
"Iya. Kau mau membersihkan tubuhmu?"
Sara mengangguk lemah.
Adhitia beranjak dan mengulurkan kedua tangannya pada Sara.
"Aku bantu." Adhitia memberikan senyum dengan lesung pipinya dengan sangat manis.
Sara meraih uluran tangan Adhitia dengan satu tangan sementara tangannya yang lain terus memegangi selimut agar tetap menutupi tubuhnya.
Menyadari kedua kakinya tak berasa menginjak lantai, Sara hilang keseimbangan.
"Hati-hati, senior! Pengaruh obat bius itu mungkin belum hilang." penuh perhatian, Adhitia memeluk tubuh Sara dan menuntunnya ke kamar mandi dengan perlahan.
"Aku bisa sendiri!" tegas Sara saat Adhitia masih memeluknya walau mereka telah sampai di depan pintu kamar mandi.
"Baiklah, senior!" Adhitia melepaskan pelukannya dengan hati-hati lalu membiarkan Sara menutup pintu kamar mandi.
Adhitia membuka piyamanya dan berniat memakai kembali pakaiannya. Niatnya terhenti saat pandangannya melihat noda darah di atas sprei.
"Gadis ini...benar-benar..." gumamnya.
Pemuda yang kini harus memakai kacamata itu segera menuju pintu kamar mandi dan mengetuk beberapa kali.
"Senior! Senior, aku benar-benar menyesal!" panggilnya. Namun Sara tidak menyahut.
"Senior, kumohon jawablah!" berkali-kali Adhitia menggedor pintu namun tidak ada sahutan dari dalam.
Cemas, Adhitia lalu mendobrak pintu kamar mandi itu. Didapatinya Sara berdiri di bawah pancuran air dingin masih berbalut selimut dengan isak tangis tertahan.
Adhitia segera berlari kearahnya dan memeluk erat tubuh gadis itu.
"Jangan sentuh aku..." tangis Sara pecah.
"Maaf. Aku sungguh-sungguh minta maaf, senior!" berulang kali Adhitia mengatakan penyesalannya.
"Aku sangat mencintaimu, senior! Saat kita kembali ke kota B, kita akan segera menikah." ucap Adhitia sambil mematikan keran pancuran.
"Kau bisa kedinginan jika seperti ini." Adhitia membuka piyamanya dan memakaikannya di tubuh Sara. Ia juga melepaskan selimut basah yang membalut tubuh wanitanya.
Jemari kekar Adhitia mengusap linangan air mata hangat yang menetes di pipi mulus Sara.
"Tahukah kau, senior? Matamu begitu indah, aku sangat menyukainya." ucap Adhitia pelan.
"Bibirmu juga menggoda, aku begitu menyukai caramu menciumku!" Adhitia langsung mengecup bibir gadis itu dengan lembut.
Rupanya pengaruh obat perangsang yang ada dalam tubuh mereka masih bekerja. Seperti mendapat jelly dingin yang kenyal, Adhitia terus mengulum bibir Sara lagi dan lagi. Sementara Sara pun tidak menolak sensasi hebat itu. Tangannya memeluk erat Adhitia dengan jari-jari meremas kulit punggung pemuda itu.
Adhitia mengerang pelan, menikmat goresan kuku wanitanya yang mencakar dengan lembut bagian tubuh belakangnya, sementara bagian tubuh bawahnya tidak dapat lagi menahan rangsangan itu.
Tubuh mungil Sara diputar dengan perlahan, lalu piyama yang semula ia kenakan pada gadis itu kini dibukanya kembali. Sara menempelkan tubuhnya ke dinding karena ia masih merasa lemah. Adhitia menggerayangi bagian depan tubuh Sara sementara bibirnya menjelajah pundak putih yang hangat. Kehalusan kulit Sara membuatnya gila, sekali lagi ia membuat kiss mark di sana.
"Aakhh.!!" jerit tertahan gadis itu menahan rasa sakit di pundaknya yang ditandai Adhitia.
"Suaramu..hmm.." Adhitia berbisik lalu memberikan ciuman panas di bibirnya kembali.
"Hmmmph!!!!" kembali Sara menjerit tertahan saat ia merasakan junior Adhitia yang telah keras dan menegang menerobos bagian miliknya diikuti dengan desahan kuat Adhitia yang buta karena gairah.
Adhitia memundurkan tubuh Sara selangkah dan mendorong bagian atas hingga membungkuk.Hentakan demi hentakan yang ia berikan membuat tubuh gadis itu berguncang hebat dan melenguh merasa kenikmatan yang luar biasa.
Selang beberapa menit kemudian, Adhitia kembali merasakan pelepasan yang bagai setruman kuat menjalar ke syaraf kepalanya, sementara lengan kekarnya masih memeluk tubuh Sara dengan penuh nafsu. Setelah Adhitia melepaskan juniornya dari milik Sara, Sara menjatuhkan kepalanya di dada bidang nan empuk milik Adhitia dengan nafas tersengal-sengal.
"Terima kasih, sayang! Aku mencintaimu!" bisik Adhitia dengan nafas yang juga memburu, menciumi puncak kening Sara berkali-kali.
***
Malik menatap laut malam dengan tatapan nanar, menyaksikan puluhan personil kepolisian menuruni Mayantha Luxury Cruise dengan hati-hati ke sekoci dan meninggalkannya bersama Sam di sana.
"Kau kecewa?" tanya Sam, juga melakukan hal yang sama dengannya.
"Aku tidak bisa merasakan emosi apapun saat ini." jawab Malik pelan.
"Ayolah, ini akan seru sekali." Sam memukul pelan bahu Sam sambil tersenyum tipis, memberi semangat pada sahabatnya.
"Seru bagimu, karena hasratmu memang di aksi seperti ini. Tapi tidak denganku! Aku lebih suka menggunakan otakku."
"Kalau begitu gunakanlah otakmu sekarang!! Seperti kau punya otak saja!!" sindiran Sam kembali terdengar, dan itu membuat Malik merasa tenang. Ia tersenyum pada sahabatnya yang 'gila' itu lalu merangkulnya.
"Ayolah..kita tidak akan mati semudah ini. Kita pasti akan menemukan Sara." hibur Sam seraya melepaskan rangkulan Malik.
"Dan juga Adhitia. Adhitia adalah janjiku pada Sara." sahut Malik, berbalik dan melangkah memasuki bagian kapal kembali.
"Astaga! Kenapa tidak kau biarkan pemuda itu mati di sini. Jika pemuda itu tidak ada kau bisa hidup tenang bersama Sara." Sam mengiringi langkahnya.
"Aku sudah berjanji pada Sara."
"Ya..ya..! Dan Sara adalah cintamu. Bahagianya adalah bahagiamu! Bullsh*t!!!" ledek Sam sambil terkekeh-kekeh.
Hanya kedua pemuda itu yang tahu kalau kapal ini akan meledak dalam waktu beberapa menit lagi, namun mereka masih bisa tertawa dan bercanda. melangkah dengan santai dan dengan obrolan tak jelas hingga mereka sampai di lantai 3 yang dimaksud anak buah Nanda.
"Berhenti! Kalian tidak boleh ada di sini! Tempat ini hanya untuk staf!" mereka dihentikan oleh dua pria.
"Maaf, temanku mabuk! Dia lupa dimana kabinnya." jawab Malik sambil tersenyum-senyum.
"Kau yang mabuk! Aku masih sadar!" sanggah Sam, memulai sandiwara mereka.
"Tidak! Tidak! Kau mabuk, bro!" tegas Malik.
"Apa katamu?! Aku masih bisa minum beberapa gelas lagi!" kelakarnya, dengan akting berjalan terhuyung, Sam mendekati kedua pemuda tadi.
"Lihat, aku masih bisa berjalan gagah!"
Lalu tiba-tiba Sam menghajar muka salah satu pria yang mencegat mereka dengan siku lengan bajanya hingga jatuh terkapar tak sadarkan diri.
"Aku masih bisa memukul!" teriak Sam girang.
Melihat temannya jatuh, pria satunya lagi mencoba mengeluarkan senjata dari balik pakaiannya, namun sebelum senjatanya keluar, Malik telah lebih dahulu memutar kepalanya hingga berbunyi,
KREKK!
Sam terbelalak dengan mulut menganga.
"Kau?! Kau membunuhnya! Itu tindak kriminal!" seru Sam terkejut, namun ia menyunggingkan senyum kegirangan.
"Itu tadi pembelaan diri." sahut Malik santai lalu mulai berjalan lagi.
"Aku yang dicoba diserang, bukan kau!" sanggah Sam sambil mengambil senjata yang ada di balik pakaian kedua pria yang terkapar tak berdaya.
"Lalu untuk apa aku memeliharamu sebagai temanku." sahut Malik kembali dengan lebih ketus.
"Astaga! Mulutmu kasar sekali!" seru Sam, mengejar langkah Malik yang meninggalkannya.
"Ini, kau perlu ini." Sam memberikan sebuah pistol kepada Malik.
"Aku tidak bisa menggunakan ini!" ucap Malik, namun ia menerima pistol itu dan memeriksa isi pelurunya.
"Jangan membuatku menangis!!" Sam tergelak kencang. Sudut matanya menitikkan air mata bahagia. Ia merindukan masa remaja dengan aksi seperti saat ini. Berjalan dengan seorang anak Sultan yang bertemparen dingin, yang nyaris tanpa ekspresi.
*****
****
***
**
*
MALIK