PASSION

PASSION
11. No Alcohol!!!



Keesokan paginya, masih di dalam kediaman tuan Sultan yang megah, di meja makan yang besar dan mewah, Malik duduk bersebelahan dengan Sara. Mereka asyik sarapan masing-masing sampai tak menyadari kalau tuan Sultan yang duduk di depan mereka mengamati gerak-gerik mereka.


"Bibi Mei, apa kau mendengar suara-suara aneh semalam?" tuan Sultan bertanya pada Bibi Mei yang datang membawakan irisan buah mangga untuk tuan Sultan.


"Iya, tuan Besar. Aku mendengar suara aneh yg menyakitkan telinga. Sampai aku tak bisa tidur nyenyak.", jawab bibi Mei. Mereka berdua melirik ke arah Sara dan Malik bersamaan.


Malik dan Sara berhenti mengunyah sarapan mereka. Mereka merasakan aura negatif dan membuat dingin bulu kuduk.


"Bagaimana denganmu, Sara? Apa kau juga terganggu dengan suara semalam?", Tuan Malik melempar pertanyaan menohok tenggorokan Sara hingga ia terbatuk.


"Uhuk-uhuk!" Sara menutup mulutnya dengan serbet yang tersedia di atas meja makan.


"Tuan, itu...", Ia bingung harus menjawab apa.


"Pertanyaan apa ini, Dad?! " Malik menyela karena sadar kalau Sara tidak akan mau berbohong pada ayahnya.


"Baiklah, jadi kalian tidak mendengarnya." tuan Sultan menyimpulkan.


"Aku semakin tua. Kondisiku tidak sekuat dulu. Penyakit ini menghalangi aktivitasku. Di masa pensiun ini, aku cuma ingin hidup berbahagia sambil bermain dengan cucu-cucuku. Cucu yang nyata, bukan cucu hasil unduhan dari br****r.com." sambung tuan Sultan sambil menyindir Malik.


Kali ini Malik yang tersedak dan terbatuk-batuk.


Bibi Mei menahan tawa geli.


"Maaf, sepertinya perutku bermasalah. Permisi, Tuan." Sara segera minta izin untuk melarikan diri. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana jika tuan Sultan bertanya kembali tentang kejadian semalam.


"No problem. Silahkan.." sahut Sultan sambil tersenyum, namun matanya tidak lepas dari Malik yang mengatur nafas.


"Dasar serigala kecil!! Aku tidak tahu kalau kau belajar menipu orang tua di LN.", Tuan Sultan memarahi Malik ketika Sara sudah pergi.


"Maaf, Dad!", Malik mengakui kesalahannya.


"Aku ingin malam ini kau mengajak Sara keluar. Ajak dia kencan!" perintah tuan Sultan.


"Malam ini aku ada acara reuni dengan teman-teman masa sekolah menengah dulu. Aku bisa mengajaknya ke sana, kan?" tanya Malik


Tuan Sultan mengangguk.


"Pastikan kau tidar terlalu jauh darinya. Jika ia mengeluh bosan dan merasa tidak nyaman, black card-mu aku blokir!!!" ancamnya.


"Aneh, dia yang menantu di rumah ini tapi Ayah memperlakukannya melebihi anak kandungmu sendiri.", gerutu Malik.


****


Malam harinya, Malik dan Sara berjalan memasuki pintu sebuah klub ternama di kota B, setelah mobil mereka diparkirkan oleh petugas klub.


"Apa kau yakin mengajakku ke dalam?" Sara terlihat gugup.


"Aku tak yakin. Tapi Dad menyuruhku mengajakmu." jawab Malik jujur.


"Bagaimana penampilanku?" ia bertanya lagi.


Malik memperhatikan Sara. Gaun merah dengan potongan bahu rendah, beraksen renda di dada. Bawahan rok longgar sebatas lutut dengan karet kecil di pinggang. Benar-benar membuatnya terlihat elegan.


"Lumayan. Aku suka penampilanmu."


"Terima kasih." Sara menunduk menahan rasa malu dan bangga karena mendapat pujian dari pria berkelas papan atas.


Malik menyadari perubahan rona wajah Sara.


"Jangan besar kepala. Jika aku memujimu, itu bukan karena kau yang terhebat atau aku benar-benar menyukainya. Aku hanya tak ingin mood mu rusak. Jangan mudah terbang dengan ucapan manis pria atau kau akan jatuh terjerembab dengan rasa sakit yang amat dalam..", Malik menasehatinya.


"Baiklah, terima kasih." ucap Sara sambil tertunduk dan masih dengan senyuman yang sama.


Tak lama kemudian mereka tiba di ruang khusus yang telah dipesan untuk acara reuni teman-teman masa sekolah Malik dahulu. Suara dentuman irama musik dan hiruk pikuk obrolan memenuhi ruangan itu.


Sara risih pada awalnya saat Malik menggandeng tangannya. Namun Malik memaksanya dan memintanya tersenyum atau dia harus pulang berjalan kaki sendirian ke rumah. Mau tak mau Sara menurutinya.


"Hey, Malik. Sini, bro!", seorang pria menyapa Malik. Malik mendekatinya dan mereka saling berpelukan.


"Apa kabarnya pangeran tampan yang baru pulang dari LN?" goda teman Malik itu.


"Biasa saja." jawab Malik dan tersenyum.


"Hey, siapa gadis cantik ini? Teman sekolah kita juga?" teman Malik melirik ke Sara.


"Sebenarnya, ini istriku. Sara." Malik mengenalkan Sara pada temannya.


"Halo.. Aku Shan." Teman Malik mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Aku tak tahu kalau kau sudah menikah. Kapan? Kenapa kau tidak mengundang kami?", protes temannya itu yang tidak mempermasalahkan sikap Sara yang menolak berjabat tangan.


"Kami baru resmi menikah kemarin." jelas Malik.


Lalu teman Malik yang lain menghampiri.


"Hey, Malik? Itu kau kan, bro?"


"Hey, bro Roy. What's up!". Mereka saling rangkul.


"Lihatlah, Malik menikah kemarin, dan dia membawa istrinya kemari." cerita Shan.


"Oh ya??? Kau mau pamer ya, bro?!". Mereka bertiga tertawa.


"Terserah kau saja.".


Shan dan Roy memperhatikan tingkah Malik dan Sara yang berdiri menjaga jarak dan jarang mengobrol.


"Kalian sudah menikah tapi terlihat seperti kalau kalian baru kali pertama pergi bersama. Dulu kalian tidak pernah berkencan ya? Atau sedang marahan?" goda Shan.


"Atau kau menyewa model untuk membuat kami iri?" tambah Roy.


"Ooh, sejak kapan kalian jadi penggosip, ha?" tegur Malik. Kedua temannya tertawa.


"Well, bro. Kau masih ingat Dino dan Abraham? Mereka menunggumu di sana!" Roy menarik Malik menjauh dari Sara ke arah lain menuju arah pemuda yang berdiri dekat dengan meja barista.


"Jangan khawatir, Malik. Aku akan jaga istrimu!" seru Shan.


Malik dan Roy menghampiri 2 temannya yang lain.


"What's up, bro!!"


"Hay, Malik. Aku dengar kau menjabat posisi CEO di perusahaan software LN?"


"Aku resign." jawab Malik enteng.


"No way!!!" seru teman-temannya.


"Dad memaksaku mengurus perusahaan garmennya." lanjut Malik.


"That's cool!!" seru mereka bersorak gembira


Malik menoleh ke arah Sara, dan melihat Sara tengah meneguk minuman.


"S**t!!! Aku lupa mengingatkannya!!". Malik meninggalkan teman-temannya, bergegas menuju tempat Sara berdiri, dan menyambar gelas dari tangan Sara.


"Sara, seberapa banyak toleransimu pada alkohol?" tanya Malik.


"Apa maksudnya?" Sara bingung.


"Berapa banyak yang sudah kau minum?"


"Cuma 2 gelas." jawab Sara. Sara bersendawa,


"Aneh, kenapa aku mual." keluh Sara.


"Aku lupa bilang padamu jangan minum apapun yang diberikan teman-temanku di sini. Mereka orang yang iseng."


"Kita pulang sekarang!!"Malik mengajaknya pergi sebelum sesuatu yang buruk terjadi.


Sara menahan lengan Malik,


"Hot dude, Kau mau mengajakku kemana?"tanya Sara manja, matanya berkedip menggoda.


Seketika Malik merasa merinding.


"Huh, di sini panas sekali!!!" Sara mengibaskan dan melonggarkan atasan pakaiannya.


"My God!!!" Malik berseru panik, sepertinya ia terlambat, Sara mulai mabuk.


******


Sara