
Ponsel Sara berbunyi, sebuah panggilan masuk dengan keterangan pemanggil Adhitia.
Sara menunjukkannya pada Rena.
"Bicaralah!" Rena menganjurkan untuk menerima panggilan itu.
Sara menarik nafas panjang dan menghembuskanya perlahan. Ia mengatur suaranya agar tidak terdengar serak.
"Senior!!" Adhitia langsung berteriak memanggil segera setelah Sara menekan tombol terima.
"Ya?", Sara menjawab pelan, mengatur nafas sesak dan beratnya setelah menangis tadi.
"Ng...bisa kita bertemu...besok siang?" ajak Adhitia.
Sara berbisik kegirangan pada Rena,
"Dia mengajak bertemu besok."
"Say yes! Yes!" Rena ikut merasa girang.
"Oke. Dimana?" tanya Sara pada Adhitia.
"Great!!! Aku tunggu besok di Taman Selatan jam 2." Adhitia berseru senang.
"Baiklah." jawab Sara singkat seraya menggigit bibir bawahnya .
"Okay, bye!". Tuuuutttt. Adhitia memutuskan panggilannya.
"Byeeee", lirih Sara dengan tatapan penuh cintanya pada ponsel yang dipegang.
"Bro Adhitia benar-benar manissss!!!". Rena geregetan mencoba menahan tangannya untuk mencubit pipi kakaknya.
Sara tersenyum malu namun bahagia. Melihat senyuman kembali menghiasi wajah bening kakak perempuannya, Rena merasa lega.
Jika Sis menerima ajakan Adhitia bertemu di taman Selatan besok siang, maka sis tidak mungkin akan berpikiran untuk bunuh diri lagi.
Pikir Rena.
"Kurasa sekarang Sis harus beristirahat. Fokuskan hanya pada Bro Adhitia. Jangan berpikiran yg aneh-aneh lagi ya." saran Rena.
"Terima kasih.". Sara memeluk Rena erat.
Setelah Rena pergi dari kamarnya, Sara berbaring, mencoba memejamkan matanya.
Sebelum tidur dia berdoa;
"Tuhan, yang kuinginkan hanya sesuatu yang sederhana. Bukan pemuda kaya dengan kemewahannya. Percintaan yang normal, kehidupan yang sederhana, pekerjaan yang standar. Aku hanya ingin menikah dengan pemuda yang kukenal dan dia pun mengenaliku, bukan dengan pemuda yang aku bahkan tidak tahu namanya. Aamiin..."
Lalu ia pun menarik selimutnya setinggi bahu dan mencoba memejamkan mata. Beristirahat untuk bersiap menyambut hari esok yang akan dihiasi dengan kehadiran sang pencuri ketenangan hidup dan penghapus duka.
***
Siang itu di taman Selatan, matahari bersinar terang, warna biru di langit begitu indah dengan awan-awan halus terurai. Pepohonan melindungi makhluk-makhluk lain dengan dedaunannya yang rimbun. Bunga-bunga warna-warni pun bermekaran dengan harumnya yang khas..
Di taman itu, Adhitia berjalan berdua dengan Sara, bergandengan tangan. Keduanya banyak diam karena masih bingung bagaimana caranya berpacaran di taman. Saling curi-curi pandang, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain sambil tertawa kecil saat mata mereka bertemu, tanpa percakapan berarti, hanya itu yang mereka lakukan.
"Senior..", Adhitia memanggil Sara pelan.
"Ya?".
Ya ampun, Adhitia masih memanggilku senior! Apa dia pikir ini sekolahan?? Batin Sara.
Adhitia menghentikan langkahnya. Menarik tangan Sara agar ia mendekat. Matanya tidak lepas menatap wajah polos Sara. Mata bulat besar nan jernih dengan pancaran lembut. Hidung mungil yang mancung. Bibir yang seksi dengan warna merah alami tanpa sentuhan pewarna buatan. Benar-benar sosok gadis polos yang baik hati, pikir Adhitia.
Tanpa terasa jemarinya telah membelai pipi Sara yang berseri dengan lembut. Ia mendekatkan wajahnya hingga terdengar tarikan nafas keduanya. Mata Sara terpejam, menikmati getaran aneh yang dibawa Adhitia melalui sentuhan ajaibnya. Adhitia meraih dagu Sara dengan perlahan dan mencium bibir tersegel Sara dengan lembut.
Mata Sara terbelalak. Ia tersentak.
"Ciuman pertamaku!!" teriaknya dalam hati.
"Maaf... itu...ciuman pertamaku." . Sara menunduk malu.
Adhitia terkejut mendengar pengakuan polos Sara.
"Aku, aku yang harus minta maaf!", seru Adhitia.
"Tapi aku sangat menyukai senior. Aku begitu merasa hangat dan nyaman berada di dekat dengan senior." lanjutnya, membuat Sara makin tersipu dan merasa melayang
"Kemana saja kau selama ini? Bagaimana ujian kelulusanmu?". Sara mencoba mengganti topik pembicaraan.
"Kau tahu, Rena juga bersekolah di sana. Tapi dia tidak pernah melihatmu" sambungnya.
"Sebenarnya itu...sangat panjang ceritanya." Adhitia menjawab sekenanya. Tampak ia gugup dari caranya menggaruk-garuk hidung mancungnya yang tak gatal.
"Kau mau bercerita sekarang?" Sara bertanya dengan penuh rasa penasaran.
"Itu...aku.." Adhitia sulit menemukan kata yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya.
"Apa senior percaya kalau aku bilang aku mencarimu? Setelah hari dimana senior selamat dari gangguan para begundal itu, setelah hari kelulusan itu, setelah aku menyadari tidak ada alasan lain untuk ke sekolah lagi, setelah aku tahu tak ada hal indah yang bisa kulihat lagi, semua hanya satu alasan, kau, seniorku." ucapan yang terdengar gombal di akal sehat itu terdengar begitu manis bak tetesan madu yang segar membasahi tenggorokan yang kering merindukan kesegaran.
Sara menatap mata teduh Adhitia, mencoba mencari kesalahan di tiap kata yang terlontar dari bibir pemuda itu barusan agar ia bisa menyangkal semua dan dapat lari dari jerat rayuan seorang pria. Namun ia tidak menemukan itu. Ia hanya melihat mata yang polos dan menenangkan saat di pandang, yang memancarkan ketulusan dalam tiap baris kalimat yang didengarnya.
Adhitia meraih jemari Sara dan menggenggamnya erat ke arah dada bidangnya.
"Aku suka menggenggam tangan ini, menggenggam jemari ini bagiku seperti aku menggenggam seluruh dunia." tambah Adhitia.
Kali ini Sara benar-benar serasa dibawa terbang dalam sayap cinta pemuda yang berdiri di hadapannya. Sayap itu terasa hangat dan empuk, semakin tinggi mengajaknya menikmati atmosfer kebahagiaan.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan Rena,
"Sis!!!! Ini Gawat!!!!"
Rena menahan sakit di perutnya karena ia habis berlarian mendekati Sara. Napasnya ngos-ngosan.
"Tuan Sultan... tuan Sultan tetap akan menikahkan putranya denganmu. Hari Jumat, ...besok."
"Besok??!!!"
"Apa??!!!"
Seketika sayap cinta khayalan Sara terburai dan ia jatuh dengan gaya bebas hingga membentur tanah kenyataan yang tak bisa dihindari.
"Maaf, Sis. Aku sudah berusaha meyakinkan dan membujuk mereka." Rena merasa menyesal.
"Senior, ..kau akan menikah besok??!". Adhitia shock. Dilepaskannya genggaman tangannya dari tangan Sara.
Sara menatapnya dengan perasaan bersalah. Ia menggeleng lemah, takut Adhitia berpikiran buruk tentangnya.
"Adhi..A-aku..."
"Sorry, bro Adhitia. Sis tidak tahu dan tidak menginginkan pernikahan ini. Semua sudah diatur oleh orang tua kami. Maafkan Sis Sara." Rena memohon maaf atas nama kakaknya.
Mata Adhitia memerah. Rahangnya mengencang. Giginya beradu, tangannya mengepal keras. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan dua bersaudari itu tanpa bicara apa pun dengan langkah cepat
"Bro!! Sis Sara tidak mencintai pemuda itu. Sis hanya mencintaimu!", Rena berseru agar Adhitia tidak salah paham dan tidak membenci Sara. Namun Adhitia seakan tidak mendengar. Ia tetap berjalan menjauh dalam kehampaan.
"Hhhhaaaaa!!!!!!!.", Sara berteriak dan menangis sekuatnya, melampiaskan kekesalannya.
Rena memeluknya, berusaha menenangkan kakak tersayangnya. Ia pun dapat merasakan perasaan yang dialami olehnya.
******
Sara dan Adhitia