PASSION

PASSION
19. Adhitia Lepas Kendali



Music pelan dan romantis yang mengiringi dansa Malik dan Sara telah berhenti mengalun. Para tamu undangan bertepuk tangan meriah. Tak terkecuali Adhitia.


Sara melepas genggaman tangannya dari tangan Malik. Ia kesal dengan ucapan Malik yang terus saja menyinggung perasaannya.


"Tetaplah di sini. Jika wartawan dan paparazi menangkap moment wajah kacaumu, kau akan ada di timeline utama berita gosip besok pagi." Malik berbisik sambil tetap tersenyum pada tamu dan menggenggam tangan Sara makin kuat.


"Senyumlah!" Malik menggertakkan gigi-giginya.


Sara tersenyum sinis.


"Ternyata otakmu yang cacat ya" Sara kembali mengumpat.


"Kera!" Malik membalas umpatan Sara tanpa menatap wajah gadis itu.


Tuan Sultan menghampiri anak dan menantu yang ia kasihi lalu memeluk mereka bersamaan.


"Luar biasa!!! Dad tidak tahu kalau kalian bahkan berlatih dansa untuk malam ini." ucapnya bangga. Sara menundukkan wajahnya karena malu.


"Baiklah. Perhatian semuanya!!!" Tuan Sultan mengeraskan suaranya, menyerukan pada tamu undangan dan wartawan yang datang untuk menaruh perhatian atas apa yang akan dia katakan selanjutnya.


"Acara bonquet malam ini tidak lain adalah untuk....(bla-bla-bla)". yang intinya adalah untuk mengumumkan bahwa Presiden direktur dan pemegang kuasa atas Perusahaan S, yang bergerak di industri textile dan garmen mulai saat itu adalah Malik. Dan juga diumumkannya kebahagiaan atas pernikahan Malik dan Sara, yang disebutkan sebagai anak sahabat baiknya, Amran. Keluarga Sara pun terharu. Bagaimana tidak dari seorang pegawai rendahan/supir, diangkat menjadi sahabat dan besan keluarga terpandang.


****


Acara banquett pun selesai sebelum tengah malam. Semua tamu undangan berguyur pulang. Para karyawan kantor pun pamit undur diri setelah mengutarakan maksud dan misi mereka.Tuan Sultan yang merasa kelelahan pun kembali ke kamarnya ditemani bibi Mei. Saat pegawai lain membereskan sisa-sisa kehebohan acara.


Adhitia mengajak Sara berjalan-jalan di taman rumah itu.Taman itu terletak di depan kamar Adhitia, yang bisa dilihat dari balkon kamar atas milik Malik dan Sara.


Adhitia meraih tangan Sara dan menggenggamnya.


"Senior, aku tak tahu kalau kau pandai berdansa Waltz." pujinya pada Sara. Sara tertunduk, tersipu dengan pujian Adhitia.


"Apa kau percaya kalau aku bilang, itu kali pertama aku menari Waltz?" tanyanya.


"Benarkah?" Adhitia terkejut dan Sara mengangguk.


Mata Adhitia menatap Sara dalam.


"Bisa ajari aku, senior?"tanyanya.


"Apa? Waltz? Jangan gila ya!"


Tangan Adhitia menarik tubuh Sara mendekat lalu merangkul pinggangnya.


"Di sini tidak ada orang. Tidak akan ada yang melihat jika kita salah melangkah." bisik Adhitia pelan.


Sara begitu gugup karena berada sangat dekat dengan Adhitia. Jantungnya berdetak sangat kencang. Pelukan Adhitia menghangatkan tubuhnya dari hembusan dingin angin malam.


"Tak ada musik..." Sara mencoba memberi alasan untuk menolak.


"Sssttt...tenanglah, senior. Biarkan angin yang melantunkan musik itu untuk kita." bisik Adhitia mencoba menenangkan Sara.


Sesaat setelah detakan jantung Sara teratur kembali, Adhitia lalu melangkahkan kakinya maju, Sara mengimbanginya dengan mundur selangkah.


Mereka melakukan gerakan box beberapa kali, lalu Sara berputar melakukan gerakan box with under arm turn. Adhitia menuntunnya melangkah hingga ia bergerak melakukan Turning twinkle with under head loop. Adhitia tidak membiarkan Sara menyelesaikan gerakan itu. Saat posisi tubuh Sara membelakanginya, ia mengunci silang lengan Sara, sehingga ia bisa memeluk Sara dari belakang. Aroma keharuman rambut Sara menyeruak di hidungnya, ia menyelami rasa itu dalam-dalam.


"Sebentar saja. Biarkan waktu berhenti sebentar saja." bisik Adhitia. Tangannya makin mencengkram lengan Sara dengan kuat.


"Aw..sakit" rintih gadis itu.


Spontan Adhitia melepaskan cengkramannya.


"Maaf...maafkan aku, senior!" Adhitia panik, ia terlihat sangat menyesal.


Sara mengelus pergelangan tangannya yang merah berbekas jari-jemari Adhitia.


Adhitia segera meraih pergelangan tangan Sara dan menciuminya bertubi-tubi. Darah Sara mengalir ke kepala saat mendapat perlakuan seperti itu dari Adhitia.


"Senior, aku..aku sangat mencintaimu." tiba-tiba Adhitia mengungkapkan isi hatinya.


"Adhi... tapi, aku.." perlahan Sara menarik pergelangan tangannya dari bibir hangat pemuda itu.


"Aku tak peduli! Aku akan menunggumu hingga tahun depan. Aku tak bisa jauh darimu." Seketika Adhitia memeluk Sara kembali.


"Setelah kontrak ini selesai, maukah kau menikah denganku??"


DEG!


Sara tidak menyangka kalau Adhitia akan mengatakan hal itu. Dia tidak bisa menjawab lamaran pemuda yang berdiri di depannya atau berkata sesuatu, karena dia baru menikah dengan Malik, dan itu belum genap satu Minggu. Walaupun pernikahan itu hanya sebuah kesepakatan.


"Diammu kuanggap IYA." ucap Adhitia setengah memaksa. Pemuda itu tak mau menunggu lama, bibirnya langsung mendarat di bibir Sara dengan lembut. Melihat Sara memejamkan mata dan menikmati kecupan lembutnya, hasrat Adhitia menggila. Dia bertindak lebih agresif lagi. Jemarinya mencengkeram rambut bagian belakang kepala Sara, sehingga kepala gadis itu terdongak. Dan dengan leluasa ia melu**t bibir merah yang ia gilai sejak lama. Ciuman itu terasa panas dan menggila, hingga akhirnya Sara menjerit tertahan karena bibirnya digigit Adhitia hingga berdarah.


Seluruh tubuh Sara bergetar. Tangannya membekap mulutnya sendiri yang terasa terbakar dan perih. Matanya berlinang air mata. Ia memang menyukai pemuda yang bernafas tersengal-sengal yang berdiri di depannya. Tapi ia sama sekali tidak menyangka kalau Adhitia akan memperlakukannya dengan kasar.


Ia segera berbalik dan berlari sekuat-kuatnya meninggalkan Adhitia sendirian.


Ponsel Adhitia berbunyi. Segera diambil ponsel dari saku celananya. Tertulis nama Malik di situ. Baru saja ia menekan tombol 'jawab' dan hendak membuka mulut, tiba-tiba terdengar suara bentakan dari speaker ponsel,


"DIMANA ISTRIKU!!! BAWA DIA KESINI SEKARANG!!!!".


Telinga Adhitia terasa berdenging akibat suara Malik yang sangat kuat. Tak sempat lagi Adhitia menjawab, panggilan ponsel terlah terputus.


Adhitia terlihat tertekan dan kebingungan. Berkali-kali ia mengusap wajah dengan kasar dan mengumpat.


Malam itu seharusnya menjadi malam yang indah yang bisa menjadi kenangan bagi Malik. Namun setelah apa yang dilihat barusan dari atas teras balkon kamarnya, ia menjadi muram.


Tangannya mengepal kuat, menahan emosi yang memuncak hingga ke kepalanya. Dia menyaksikan segalanya. Entah perasaan apa yang berkecamuk di dadanya, dan ia belum cukup puas melampiaskan emosi itu hanya dengan membentak Adhitia.


Ia ingin sekali meninju dan menendang pemuda yang ia tatap dengan tatapan kebencian, yang berjalan mondar-mandir mencari Sara. Tapi ia hanya bisa menahan perasaan itu karena sesuai kesepakatan, dia tidak bisa mencampuri urusan pribadi Sara.


Pintu kamar Malik terbuka. Sara masuk berhambur sambil menutupi mulutnya dan segera menuju kamar mandi tanpa melihat Malik yang berdiri mengamatinya dengan tatapan mata elang.


Lama ia menunggui Sara di depan pintu kamar mandi. Tak terdengar suara apa pun. Ia lalu mengetuk pintu itu karena penasaran.


"Sara..." , panggilnya.


Sara keluar dari sana dengan telah berganti pakaian piyama, tampak mata merah dan bibir yang bengkak dan berbekas gigitan. Malik merasa prihatin melihatnya.


*****