PASSION

PASSION
40. Merajuk



"Malik..." , panggil Sara dengan suara serak bernada manja.


Malik mengalihkan pandangannya dari Sara ke batu nisan kembali.


"Mom tak usah khawatir. Aku akan membawakan menantumu yang sebenarnya...segera!" ucap Malik yakin.


Sara menyeka air matanya sendiri yang hampir jatuh.


"Nyonya...apa kabar? Namaku Sara." Sara ikut berbicara pada kuburan itu.


"Terima kasih karena telah membesarkan Malik sebagai pria yang bertanggung jawab Dia orang yang pekerja keras. Berbakti pada tuan Sultan. Sopan dan ramah pada orang tua. Tidak ada kekurangan darinya." lanjutnya.


Malik mendengarkan dengan serius sambil tersipu pada pujian Sara tentang dirinya di hadapan ibunya.


"Tapi, ....sungguh dari awal aku merasa tidak pantas untuk putramu. Dia seperti pangeran yang tanpa cela, sedangkan aku hanya anak seorang pelayan yang tanpa pendidikan." alasan Sara.


Malik tersenyum mendengarnya.


"Mom tidak perlu memikirkan apa yang dikatakannya, aku yakin dia berkata seperti itupun tanpa berpikir." celetuk Malik.


Sara membelalakkan matanya. Ia merasa tersinggung dengan ucapan Malik barusan.


"...dia gadis yang ceroboh. Juga sedikit ..." Malik meletakkan jari telunjuk di keningnya dan membuat garis menyilang.


"... nyonya, maafkan aku! Kutarik kata-kataku tentang dia yang seperti pangeran tanpa cela. Pemuda ini sangat nakal dan jahil!" seru Sara karena kesal.


"Mom lihat sendiri, kan?" Malik tertawa kecil.


Sara sudah lelah harus beradu urat mulut dengan Malik. Gadis itu berbalik dan meninggalkan Malik dengan perasaan sebal.


"Tapi dia punya mata yang indah, Mom." bisik Malik di batu nisan itu.


"Aku pergi sekarang. Kalau tidak, gadis itu akan tersesat sendirian di pemakaman ini. Aku tidak menginstal peta pemakaman di ponselnya.".


Malik mengakhiri percakapan satu arahnya dengan kuburan ibunya, lalu bergegas mengejar Sara yang ternyata memang telah salah jalan arah keluar.


Setelah mereka berdua meninggalkan makam Seila, seseorang mendekati makam itu dan meletakkan sebuah kincir angin berwarna-warni di atas bunga-bunga segar yang bertaburan.


*****


Malik memasuki sebuah klub dewasa pada tengah malam karena mendapat info dari detektif sewaannya kalau Adhitia ada di sana.


Hiruk pikuk keramaian sekumpulan orang-orang bebas tertawa dan bercanda seperti tanpa beban membahana.


Suara hentakan musik dengan beat kencang memenuhi telinga para pengunjung.


Beberapa wanita berpakaian minim berlenggak-lenggok dan menari meliuk-liuk di atas sebuah panggung. Mereka akan berebut berlarian menghampiri setiap pria yang memamerkan sejumlah uang tip untuk mereka.


Malik tidak habis pikir bagaimana pemuda yang terlihat lugu dan manis di bawah usia 21 tahun seperti Adhitia bisa lolos masuk ke klub liar seperti ini. Dia mengira mungkin detektif sewaannya salah memberi info.


Perkiraan Malik tidak benar. Ia melihat seorang pemuda berperawakan menyerupai Adhitia duduk sendirian dengan sebotol besar minuman keras beralkohol dan rokok menyala di tangannya.


Seorang wanita berambut cokelat kemerahan dengan pakaian seksi mendekati Adhitia lalu menyentuh dan merayunya. Namun Adhitia menepis tangan wanita itu dengan kasar.


"Dia bersamaku!"


Malik mendekati mereka lalu memberikan beberapa lembar uang pada wanita itu dan menyuruhnya menjauh.


Adhitia terkejut karena Malik ada di hadapannya


Wanita itu memandangnya dengan tatapan sinis.


"Dasar ga*!!!" celetuk wanita itu.


"Apa katamu!!! " Adhitia siap melayangkan tinjunya ke arah wanita itu, tapi Malik menahannya.


"Sudahlah.." lerai Malik.


Wanita tadi segera berlari menjauhi mereka.


Adhitia menjauhkan tangan Malik darinya, lalu duduk membelakangi pria itu.


"Apa ini? Kau merajuk?!" ledek Malik.


Adhitia tidak menjawab.


Malik mendekatinya dan duduk bersebelahan dengannya. Ia memegang botol minuman keras yang berukuran jumbo tersebut dan membaca kadar alkohol di sana. Malik menyerngitkan keningnya.


"33%???!!!" gumamnya heran.


Adhitia merebut botol itu dari tangan Malik dan menuangkan isinya ke dalam gelas lalu meneguknya dalam satu tegukan.


Malik memperhatikan lengan kanan Adhitia yang terbungkus perban saat pemuda itu menghisap rokoknya dalam-dalam.


Seorang pramusaji menghampiri Malik, dan Malik meminta minuman ringan saja.


"Kenapa kau simpan amarahmu dan melampiaskannya pada cermin yang tak bersalah." ucap Malik setelah pramusaji itu pergi.


Adhitia berpura-pura tidak mendengarkan.


"Hubungan dibangun atas dasar kepercayaan. Jika kau percaya pada Sara sepenuhnya, kau tak perlu semarah ini. Aku hanya ingin menguji seberapa kuat hubungan perasaan kalian karena besok kita akan berangkat ke Maldives. Dan Sara lulus ujian itu." . Malik meneruskan ceramahnya.


Adhitia menatapnya dengan mata terpicing.


"Perasaannya padamu sangat kuat. Hingga harta dan perhatian lebihku tak bisa menyingkirkanmu dari hatinya." Malik mencurahkan isi hatinya yang terdengar pahit.


"Kau yang pernah bilang kalau alkohol dan rokok adalah paduan yang berbahaya untuk kesehatan, kenapa kau malah lakukan ini?" tanya Malik seraya mengambil rokok dari tangan Adhitia dan membuangnya.


Adhitia masih tidak mau berbicara padanya.


"Aku cuma mengingatkan, pesawat kita berangkat jam 10 besok pagi. Jadi persiapkan dirimu."


Malik menghela napasnya dengan berat dan mengeluhkan sikap Adhitia.


"Apa yang terjadi pada Sara jika kau terus bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Sepertinya aku akan terus berada dekat kalian untuk jadi penengah setelah kalian menikah nanti."


Adhitia dengan sigap berdiri dan menarik leher baju Malik dengan kuat.


"Tidak akan kubiarkan kau menampakkan diri dihadapannya setelah kami menikah!!" sumpah Adhitia dengan bersungguh-sungguh.


Malik tertegun akan keberanian dan keyakinan Adhitia yang sangat besar.


"Kekuatan apa ini? Kekuatan cinta atau amarah? Baru kali ini kulihat Adhitia bersikap seperti ini." batin Malik.


Malik menepis tangan Adhitia dari kerah bajunya.


"Pria tidak berbicara, tetapi berbuat!! Jika kau berani menghilang dan membuat Sara khawatir seperti siang tadi, kau akan lihat apa yang akan kuperbuat padanya!!" ancam Malik dengan nada suara datar.


Pria itu berdiri saat pramusaji tadi membawakan pesanan minumannya.


Malik membayar minuman itu tanpa menyentuhnya, lalu ia meninggalkan Adhitia sendirian yang menyepi dalam keramaian.


*****


Sara duduk menyandar pada kursi tunggu di bandara internasional kota B dengan wajah manyun. Sebentar lagi ia akan melakukan wisata luar negeri pertamanya dalam sepanjang hidupnya, namun ia terlihat lesu dan tidak bersemangat.


Sepanjang pagi tadi ia terus melirik dan mengintip ke arah kamar Adhitia. Ia merindukan sosok pemuda itu. Hingga sampai ia tiba di bandara internasional tadi bersama Malik dan asisten Romi, Adhitia belum menampakkan batang hidungnya.


Hatinya seakan semakin tertekan saat ia melihat Luna datang dengan koper bernuansa vintage dan menghambur di pelukan Malik.


"Honey, tolong jangan menciumku. Ada para wartawan di antara kita." bisik Malik pada Luna.


Setelah berbisik, Malik langsung menjabat tangan Luna dan mempersilahkan Luna duduk di sebelah Sara yang duduk dengan pandangan lurus tanpa fokus bagai patung hidup.


Luna memperhatikan Sara dengan tatapan aneh.


"Kenapa dia?!" tanya Luna pada Malik.


"Dia kurang sehat. Jangan ganggu dia." jawab Malik sambil tersenyum.


Kemudian terdengar suara pengumuman pesawat sewaan atas nama Malik menuju Maldives telah siap untuk terbang.


"Laporkan setiap hal yang ada di perusahaan padaku sesegera mungkin." Malik berpesan pada asisten Romi.


"Siap, tuan muda Malik!" jawab Romi.


Bola mata Sara berputar. Tampak kecemasan menghampirinya.


"Dimana dia?!" hatinya terus menanyakan Adhitia.


"Ayo, Sara."


Malik mengulurkan tangannya pada Sara yang masih celingukan mencari sosok Adhitia di tengah keramaian pengunjung bandara itu.


Melihat Sara tidak merespon ajakannya, akhirnya Malik mengalihkan uluran tangannya pada Luna. Dan dengan senang hati Luna meraih dan menggenggam tangan Malik. Mereka berdua berjalan lebih dahulu.


"Nyonya Sara,..." Romi memanggil Sara yang seperti orang kebingungan.


Sara lalu berdiri dan mengikuti langkah Malik dan Luna dengan terpaksa.


Di dalam pesawat , Malik duduk bersebelahan dengan Luna. Sara melangkah melewati mereka dengan muka masam dan sedih.


"Jangan khawatir. Kita akan menunggunya sebentar lagi." kata Malik pada Sara saat gadis itu melintasi kursinya.


Sara duduk di kursi yang tak jauh di depan Malik. Ia jelas terlihat sangat gusar ketika mesin pesawat menyala dan bergetar.


"Siapa yang kita tunggu?" tanya Luna penasaran.


Malik tidak menjawab. Pria itu memejamkan matanya dan kedua tangannya memangku kepalanya seakan ia berdoa dan mengharapkan sesuatu.


Setelah beberapa lama kemudian seorang pramugari menghampiri Malik dan berkata,


"Pilot sudah siap, tuan. Kita akan segera lepas landas."


Malik membuka matanya. Sontak Sara menoleh dan menggelengkan kepalanya pada Malik dengan raut wajah pucat.


*****


****


***


**


*


Sara - 20 tahun