
***
"Maaf, senior. Aku tidak bisa menemanimu berbelanja oleh-oleh hari ini." melalui telepon Adhitia mengungkapkan perasaan sesalnya pada Sara pagi itu.
"Tidak apa. Besok juga bisa. Kondisi matamu yang lebih penting bagiku. Beritahu aku apapun hasilnya." jawab Sara.
"Terima kasih, senior."
"Ng...Adhi?"
"Ya, senior?"
Mendengar suara Sara yang ragu dan bimbang, Adhitia mulai cemas. Apa yang akan diutarakan gadis pujaannya.
"Apapun yang terjadi, aku akan tetap di sisimu. Aku menunggumu, Adhitia. Malik setuju untuk membatalkan pernikahan dan kontrak pertama kami."
Laksana mendapat guyuran hujan di musim kemarau, mata Adhitia terpejam, menikmati dengan penuh syukur setiap kata yang baru ia dengar. Rasanya ia ingin melompat ke dalam genangan air dan menari di bawah rintik hujan, lalu berteriak,
"Senior, aku mencintaimu!".
Sara tertawa kecil dengan wajah memerah saat mendengar suara Adhitia mengecup ponselnya sendiri.
"Aku juga." lirih Sara, juga melakukan hal yang sama.
"Sekarang aku benar-benar yakin kalau ponsel adalah benda dengan bakteri dan kuman terbanyak di dunia." celetuk Malik saat Sara memutuskan panggilan ponselnya.
Sara tidak menyahutinya sama sekali, gadis itu bahkan memberikan senyuman paling manis kepadanya, sambil lalu.
"Jangan terlalu mencintai seseorang, jika tidak kau akan terjebak dan kecewa yang mendalam!" seru Malik.
Menghentikan langkah, Sara berbalik dengan tatapan kesal.
"Apa kau sedang badmood, tuan muda? Kenapa kau punya kebiasaan mengacaukan kegembiraan orang di awal hari?" ketusnya.
Malik tersenyum, ucapan itu pernah ia dengar sebelumnya dari ayahnya, tuan Sultan.
"Apa kau tidak merindukan Luna? Kurasa dia akan sangat marah karena kau tidak tidur bersamanya semalam." lanjut Sara.
Malik terkesiap. Ia melupakan wanitanya. Sejak kemaren siang belum berjumpa dengan Luna.
Mengambil ponselnya yang terletak di meja nakas, Malik menghubungi Luna.
"Selamat pagi, sayang. Kau dimana sepagi ini?" sapa Malik saat teleponnya disambut.
"Selamat pagi juga, sayang! Apa tidurmu nyenyak, beib?"
Malik terkejut. Suara yang didengarnya adalah suara pria.
"Sam? Apa yang kau lakukan dengan ponsel Luna?"
"Astaga, Malik? Kenapa kau mencemaskan ponselnya? Seharusnya pertanyaanmu: 'Apa yang kulakukan dengan Luna?'. Mengerti?" Ketus Sam.
Malik tertawa.
"Apa kau tidak bisa mencari wanita lain sehingga mengganggu milikku? Sejak kapan kau serendah ini?" balas Malik tak kalah ketus.
"Sudahlah...jangan bercanda lagi. Kalian merencanakan apa untuk hari ini?" Malik kembali serius.
"Mungkin berbelanja, membeli pakaian untuk acara nanti malam." Sam menjawab setelah lama terdiam.
"Baiklah. Tolong jaga Luna untukku."
"Hei!! Aku bukan pegawaimu! Juga bukan bodyguard seperti Adhi! Si***n!!"
Tutt...tutt..tuutt.
Panggilan terputus seketika. Malik tersenyum masam menyikapi kelakuan sahabatnya itu.
Di tempat terpisah, Sam meletakkan ponsel yang dinon-aktifkan dengan kesal. Langkahnya perlahan namun pasti mendekati seorang wanita yang sedang tertidur pulas, polos dengan hanya berbalut selimut, pemilik ponsel tersebut.
Disibakkan helaian-helaian rambut halus yang menutupi wajah cantik Luna dengan jari telunjuknya perlahan.
Perlahan bibir tipis nan hangat Sam mengecup puncak kening gadis itu seraya berkata,
"Terima kasih, wanita cantik."
Seorang pria yang merupakan orang kepercayaan Sam mendekati kapal dengan menggunakan speedboat saat Sam keluar dari kabin untuk menghirup udara segar pagi itu.
"Ini sarapan Anda, Sir." pria berkulit hitam itu menyerahkan rantang berisi makanan dan susu segar pada Sam.
Sam menerimanya tanpa berucap apapun, lalu duduk di meja yang ada di dek kapal untuk memulai sarapannya.
"Kau sarapan tanpa mengajakku?" tiba-tiba Luna berdiri di depan pintu.
"Good morning, beauty." sapa Sam, mendekat dan memberikan segelas susu dengan cara meminumkan langsung bibir gadis itu.Dua tegukan saja sudah terasa cukup untuknya.
"Malam ini akan ada pesta di Mayantha Luxury Cruise. Aku ingin mengajakmu sebagai pasanganku, karena itu aku akan menemanimu berbelanja hari ini. Aku akan membuatmu melupakan Malik." ucap Sam dengan penuh percaya diri.
"Pesta pertunangan seorang turis kaya raya. Ada lagu, tarian, minuman. Pesta semacam ini tidak diizinkan di daratan, karena itu banyak turis mengadakan pesta pibadi dengan undangan random di atas kapal yang terapung." terang Sam.
"Aku tak suka pesta semacam itu." lirih Luna dengan pandangan lurus ke arah burung-burung camar yang melayang di atas permukaan air laut.
"Benarkah?" Sam terkejut.
Luna tertawa kecil dengan nada kecewa.
"Aku memang menyukai kemewahan, tapi tidak dengan pesta semacam itu. Aku tidak seliar itu, Sam." ujarnya.
"Lalu, apa rencanamu hari ini?"
"Entahlah. Aku rasa tidak ada alasan lagi aku berlama-lama di sini. Satu-satunya alasan aku bertahan di sini sudah bukan menjadi hal utama bagiku. Aku ingin kembali ke kota B, kembali ke Florida." sambil terus menatap burung-burung camar terbang bebas, seolah ia pun ingin merasakan kebebasan itu, gadis itu tersenyum penuh semangat.
"Aku akan mengantarmu ke bandara." tanpa melarang wanitanya pergi, Sam malah memberi dukungan penuh.
"Terima kasih."
***
Malik sedang menemani Sara berjalan-jalan dan berbelanja sovenir untuk oleh-oleh yang dituliskan Rena di dalam surat. Sementara Adhitia memeriksakan matanya yang terkena serpihan kaca, dan Luna ditemani Sam membereskan pakaiannya yang tertinggal di kamar hotel.
Luna menatap nanar ke arah ranjang kamar hotel itu, beberapa malam yang singkat bersama pria dingin yang selalu memanjakannya. Hatinya bertambah pilu saat melihat peraduan itu masih rapi tanda tidak ditiduri oleh Malik semalam. Mengingat terakhir kali melihat Malik memeluk Sara dengan ekspresi cinta, ia pun berpikir Malik menghabiskan malam bersama gadis naif itu.
Kaki jenjangnya melangkah pasti meninggalkan ruangan itu saat Sam meraih pegangan tas kopernya, siap melepaskan ikatan yang sulit untuk dilepaskan. Dengan private boat mereka menuju bandara internasional Velana, di pulau Hulhule.
Sementara di rumah sakit, dokter mengatakan mata Adhitia tidak perlu dioperasi, hanya trauma yang mengharuskan pemuda tampan itu memakai kacamata untuk melindungi bola matanya selama beberapa Minggu ke depan.
Dengan penuh kegembiraan dan hasrat menggebu, ia ingin segera bertemu dengan gadis tercinta dan memeluknya.
"Senior.." Adhitia melakukan panggilan video di ponselnya.
"Haa..Oh my God, Adhi! Matamu baik-baik saja!" seru Sara girang saat Adhitia memamerkan penampilan barunya dengan kacamata di layar ponsel.
"Iya.. dokter mengatakan hanya trauma dan aku harus memakai kacamata konyol ini." tersipu, Adhitia melepaskan kacamatanya.
"Jangan! Jangan dilepas. Jika dokter mengatakan kau harus memakainya, maka kau harus menurutinya. Bagiku kau jauh lebih tampan dan berwibawa dengan kacamata itu." sergah Sara.
Adhitia tersenyum lebar dan merasa terharu mendengar pujian tulus dan perhatian dari Sara. Senyumannya seketika pudar saat melihat Malik mendekati Sara dan memasangkan selendang di kepala Sara.
"Senior, kau dimana?" tanyanya lemah.
"Aku di pasar pusat sovenir bersama Malik. Kau tahu kan Rena menuliskan list oleh-oleh yang sangat panjang." jawab Sara menunjukkan kertas berisi tulisan Rena.
Wajah Adhitia bertambah kaku saat Malik kembali mendekati Sara dan mencoba mencocokkan sebuah anting di telinga Sara.
"Selendang dan anting ini cocok untukmu. Kau mau?" terdengar suara Malik mencoba menarik perhatian Sara.
"Terserah tuan muda saja. Kau yang memegang kartu kreditnya." Sara menyahuti Malik dan selanjutnya terdengar suara tawa lepas Malik.
Rahang Adhitia bergetar menahan gigi-gerigi Adhitia yang mengatup rapat dan kencang. Wajahnya merah karena cemburu. Diputuskannya panggilan video itu tanpa salam.
"Adhi? Adhi...halo?" Sara mencoba memanggilnya, namun pemuda itu berada dalam panggilan lain.
"Masih ada yang ingin dibeli?" tanya Malik dengan tangan menunjuk ke seorang kuli yang dibayar untuk membawakan belanjaan mereka yang sangat banyak.
Sara terkejut.
"Sebanyak ini?!" serunya tak percaya.
"Sepertinya Rena berusaha merampokmu." celetuk Malik.
Sara melihat kertas surat yang ditulis Rena telah ditandai dengan check list yang berarti barang pesanannya telah dibeli, kemudian ia membalik halaman kertas sebelah yang belum ditandai. Ia tertarik dengan kalimat terakhir di halaman itu
Kembalilah dengan membawa kebenaran.
Bro Malik dan Adhitia seperti dua mata koin yang bertolak belakang.
Jangan mengkhawatirkanku.
Aku sangat menyayangimu, sis!
Sara terdiam, mencoba memahami maksud yang tertulis dalam surat itu.
"Sara..." Suara Malik membuyarkan lamunannya
"Kita masih harus bersiap untuk undangan nanti malam." Malik meraih lengan Sara.
"Undangan?" masih dalam kebingungan, Sara bertanya.
"Benar! Makan malam gratis di kapal berkelas."
Sara menunjukkan antusias lalu menyimpan kembali surat Rena di tas kecilnya.
*****